Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
skors II


__ADS_3

Gita mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, kepalanya menunduk dengan kedua tangan memeluk kakinya.


Dia menangis sesenggukan, "Apa yang harus gue lakukan sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.


"Menangis tidak menyelesaikan masalah."


Gita mengangkat kepalanya, lalu menundukan lagi. Dia sedang malas jika harus dimarahi ataupun debat dengan Gilang.


Gilang duduk di sebelah Gita lalu memeluknya, "Jangan menangis lagi, ceritakan semua sama gue." Gilang mengusap kepala Gita lembut.


Gita menurunkan kedua kakinya lalu membalas pelukan Gilang. Dia memeluk dengan erat.


"Semua itu salah gue, jadi runyam seperti ini. Gue emang tidak berguna." katanya sambil menangis semakin keras.


"Ngomong apa lo itu, jangan membuly diri sendiri." Gilang tidak suka kalau Gita mengatai dirinya sendiri.


"Coba lihat sini." Gilang memegang dagu Gita. Dia mengusap air matanya yang terus menetes.


"Cantik-cantik kok nangis sih, nanti luntur lagi cantiknya." Setelah selesai mengusap air matanya lalu menarik Gita dalam pelukannya lagi.


"Kak.." panggil Gita pelan.


"Hem." Jawab Gilang sambil terus mengusap kepala Gita.


"Apa Kak Gilang sudah nggak marah lagi sama Gita." Tanya Gita dengan nada yang masih terisak.


"Marah.. kenapa marah." Gilang mengerutkan keningnya.


"Habis telpon nggak di angkat, chat nggak di bales." Gita kembali terisak.


"Nggak marah, gue ketiduran jadi nggak tahu." Gilang ngeles.


"Bohong, orang Gita kemarin ke rumah tapi kak Gilang nggak ada di rumah." Kata Gita.


"Ah.. itu lagi jemput Kak Andini. Udah nggak usah di bahas lagi. Ke kantin yuk mumpung masih ada waktu untuk istirahat." Gilang tidak ingin membahasnya.


"Nggak ah.. Gita mau disini aja." Gita geleng kepala dia nggak nafsu makan.


"Lo belum makan, ayo buruan." Gilang menarik tangan Gita.


...♡♤♤♤♡...


"Gita." Devan nyamperin ke kursi Gita.

__ADS_1


"Mau apa lagi lo biang masakah." Ujar Fara dengan nada kesal.


"Diem lo, gue nggak ada urusannya sama lo." Kata Devan dengan nada tinggi.


Gita tidak mendengarkan Devan, dia sibuk bebenah dan siap untuk pulang.


"Git.."


"Gita nggak mau ngomong sama lo." Fara lagi yang menjawab.


"Bisa diem nggak sih lo, minggir sana." Devan menarik tangan Fara sampai dia berdiri dan dia yang menduduki kursinya.


"Gita."


"Hem.." jawab Gita tanpa melihat ke arah Devan.


"Gue minta maaf soal kejadian Raka, gue bakal bantu agar dia tidak kena skors." kata Devan.


"Memangnya apa yang akan lo lakuin?"


"Gue akan ngomong sama Pak Rudi." Devan membujuk Gita.


"Apa bayarannya?" tanya Gilang dari ambang pintu.


"Gue nggak minta bayaran apa-apa, kenapa lo bisa berpikiran sepicik itu tentang gue." Devan beranjak dari kursi. Dia kesal karena Gilang mengganggu usahanya untuk mendapatkan sumpatik dari Gita.


"Kalau memang lo tulus membantu, sejak awal lo tidak akan melaporkan masalah ini dan Raka tidak akan mendapatkan skors." Kata Gilang sambil menatap tajam Devan.


"Jangan berlagak sok jadi korban, gue tahu lo itu pelakunya." tambah Gilang.


"Benar juga, kalau kalian memang bersahabat. Seberapa ributnya kalian tidak akan mungkin saling menjatuhkan." Kata Vian.


"Kenapa kalian menyerang gue, memangnya salah gue membela diri."


"Berhenti omong kosong lo Devan, semenjak ke datangan lo di sekolah ini apalagi di kelas ini lo itu hanya biang masalah."


"Git.. lo sahabat gue kan lo pasti percaya dan paham kan dengan apa yang gue lakuin." Devan meminta dukungan Gita. Dia merasa Gita masih mencintainya maka dia dengan mudah memasang wajah sedih hati Gita akan luluh dan mau membelanya.


Gita dia tidak menjawabnya, justru dia bangkit lalu meninggalkan kursinya. Devan yang merasa di abaikan menarik tangan Gita. Gilang langsung menepisnya.


"Jangan pernah pegang-pegang pacar gue." Gilang mengambil alih tangan Gita. Kemudian dia merangkul dan membawa pergi Gita dari ruangan untuk menjauhkan Gita dari bujukan Devan.


"Sial."

__ADS_1


...♡♤♤♤♡...


"Ingat ya Git, lo jangan dekat-dekat sama manusia satu itu. Dia tuh kalau dekat sama lo pasti ada maunya." Fara mewanti-wanti Gita.


"Benar Git, dia itu orangnya nggak bisa di percaya." tambah Anita.


"Kalian nggak usah dekat-dekat dan jangan pernah ikut campur urusan dia. Dia berbahaya." Kata Gilang mewanti-wanti agar Gita cs tidak mencari masalah dengan Devan.


"Lo tuh Far, mulutnya di jaga jangan nyerocos aja. Kalau lo di apa-apain sama dia gimana. Dia itu nggak pandang bulu, psikopat."


"Emangnya mulut gue kenapa?"


"Yee nggak sadar diri, mulut lo itu kalau udah nyerocos pedes banget kek cabe setan." kata Vian.


"Sembaragan lo ya kalau ngomong." Fara memukul Vian dengan tasnya.


"Udah ah.. jangan pada ribut, mau pulang nggak sih." kata menerobos Fara dan Vian yang masih saja berdebat.


"Tapi Git gue cuma heran sama lo, lo juga suka banget nyerocos sampai bikin telinga orang panas. Tapi lo diem aja saat Devan dekat sama lo. Jangan-jangan lo belum..."


Buugh!


Anita memukul Vian pakai tas dan langsung melototin dia.


"Apa-apaan sih kalian, seneng banget pukulin gue. Heran." Vian cengar-cengir menahan sakit.


"Habisnya mulut lo juga sama lancar banget nggak lihat situasi dan kondisi kalau ngomong nggak pakai rem." Kata Anita.


Gita menatap Gilang, dia takut Gilang akan salahpaham. Gilang membalas tatapan Gita dengan senyum tipis, dia juga paham apa yang di katakan Vian. Tapi dia juga sadar tidak bisa semudah itu untuk melupakan orang yang dulu sangat dia cintai.


"Yah.. anggap saja dia beruntung karena nggak di judesin Gita." Gilang menggandeng tangan Gita untuk mengisaratkan kalau dia baik-baik saja dengan sikap Gita kepada Devan.


"Dan perlu lo tahu juga Vian, orang yang tukang nyerocos itu kalau dia diem bukan berarti dia masih belum move on, tapi udah males dan nggak peduli lagi sama orang itu." Jelas Fara.


"Berarti lo peduli banget nih sama gue." Vian menggerak-gerakkan kedua alisnya.


"Idihh.. ogah gue peduli sama lo. Kayak nggak ada yg lain aja." Fara bergidik.


"Udah yuk pulang." Ajak Anita. Gilang menggandeng tangan Gita ke parkiran.


"Mau nyeberang pak, buk gandengan mulu dari tadi." Fara nyinyir.


"Iri bilang bos." Kata Gita sambil melet.

__ADS_1


"Ihh.."


__ADS_2