
Gita melihat ke arah langit, pagi yang
begitu cerah tiba-tiba berubah mendung saat menjelang siang. Angin dingin
berhembus dengan kencang, membawa banyak awan untuk berkumpul dan menjadikan awan hitam. Matahari yang tampak gagah memamerkan pancaranya kini menhilang tertelan langit yang sangat pekat.
“Tadi panas sekarang mendung banget.”
Keluah Gita.
“Benar, cuaca sekarang itu nggak jelas
kayak perasaan cewek suka nggak jelas. Kadang sejuk, kadang panas kadang
mendung. Lebih parah lagi kalau seperti petir yang meledak-ledak.” Celoteh
Vian, dia menatap Gita lalu Fara sembari mengeluarkan semua unek-uneknya selama
ini saat menghadapi Gita dan Fara. Fara tanpa berkata-kata langsung menabok
punggung Vian.
“Fara, lo benar-benar ya nggak dimana
tempat main tabok-tabok saja. Gue ini, eh.. hujan.” Vian tidak meneruskan
mengomel sama Fara. Dia mengangkat menadahan tanganya untuk memastikan hujan beneran atau Cuma perasaannya.
Saat rintik hujan semakin banyak, Vian
menarik tangan Fara, tangan yang satunya hendak menarik Gita namun Gita sudah
lebih dulu di tarik sama Farhan untuk berteduh.
Farhan membawa Gita meneduh di satu
rumah yang sedang tidak ada penghuninya, jadi mereka berdua hanya bisa berada
di teras depan.
Gita mengusap rambutnya yang basah,
kemudian dia mengusap tangan dan bajunya yang lumayan basah. Angin yang bertiup
semakin kencang membuat tubuhnya menggigil, di tambah bajunya yang basah
membuat dingin semakin menusuk-nusuk tulang. Farhan melepaskan kemejanya, lalu
memakainkan ke tubuh Gita.
“Gita nggak apa-apa kok Kak.” Gita
hendak melepaskan kemejanya namun di tahan sama Farhan.
“Pakai saja, lo kelihatan kedinginan
begitu. Kita duduk di situ yuk” Kata Farhan menunjuk kursi panjang yang terbuat
dari bambu.
Gita memejamkan matanya saat petir
menyambar dengan suara yang sangat keras, dia terus memainkan tangannya karena cemas. Andai saja dia bersama Gilang pasti dia akan sembunyi di balik pelukan Gilang.
“Lo takut ya?” tanya Farhan sambil
memegang tangan Gita, dia mencoba menenangkan Gita yang terlihat pucat karena ketakutan.
“Gita nggak apa-apa.” Katanya sambil
__ADS_1
menarik tangannya agar terlepas dari Farhan.
Farhan masih tidak kehilangan akal untuk
tetap bisa dekat dengan Gita, dia mencoba memberi kehangatan dengan mengusap
kedua telapak tangannya lalu menaruh di pipi Gita.
“Dengan begini akan mengurangi dingin.”
Kata Farhan.
“Biar Gita coba sendiri.” Gita menurun
kan tangan Farhan dari pipinya. Dia menggosokkan tangannya lalu menaruh di
pipinya.
Gita memejamkan matanya saat melihat
kilat, dia berusaha untuk tidak teriak agar tidak menarik perhatian Farhan. Seperti
yang sering di katakan Gilang dia tidak boleh menciptakan hal romantis dan
kesempatan seseorang untuk dekat dengannya.
“Gita..” panggil Farhan.
“Ya.” Jawab Gita pelan dengan mengelus
tangannya yang masih saja dingin.
“Gue mau bicara sama lo.” Kata Farhan
sambil membalikan dirinya hingga melihat kearah Gita. Gita sedikit menggeserkan
“Bicara saja, ada masalah apa?”
“Ada masalah besar dalam diri gue.” Kata
Farhan dengan sangat serius.
“Masalah apa?” Gita was-was.
“Masalah perasaan gue sama lo, gue nggak
bisa menahan lagi kalau sebenarnya gue itu suka sama lo.” Farhan menatap Gita
dengan sangat lekat.
Wanita yang di hadapannya itu hanya diam, antara membeku karena kedinginan dan juga kaget dengan pernyataan cintanya.
Meskipun dia pernah di tolak Gita, namun Farhan masih berharap penolakannya itu karena mereka berdua belum saling mengenal, dan Gita masih memikirkan mantan pacarnya.
“Sejak pertama lo masuk ke kampus, hati
gue sudah terpaut sama lo. Lo yang selalu terlihat sedih dan tak punya semangat
itu membuat gue ingin masuk ke dunia lo dan menghibur lo.” Jelas Farhan.
“Kak, Gita sangat berterima kasih kalau
Kak Farhan selama ini ternyata memperhatikan Gita bahkan me!miliki perasaan lebih. Tapi maaf Gita tidak bisa.” Gita memberikan penolakan secara halus untuk kedua kalinya.
“Kenapa tidak bisa?” Farhan merasa kecewa kembali di tolak.
“Gita sudah punya pacar.” Gita jawab dengan jujur.
“Pacar masa lalu lo itu, yang entah
__ADS_1
kemana nggak tahu tempatnya. Gita kenapa lo nggak bisa membuka hati lo untuk
orang yang selalu ada di dekat lo. Dan membiarkan hati lo untuk terluka.” Ujar Farhan mulai terpancing emosi karena penolakan Gita.
“Pacar Gita itu sungguhan, dia bukan
kisah masa lalu yang telah hilang. Pacar Gita itu selalu ada dimanapun Gita
pergi. Bagiamana bisa Kak Farhan bilang pacar Gita itu hanya sekedar masa lalu.” Gita kesal dengan penilaian Farhan, menurutnya dia sok tahu tentang hidupnya.
“Gita, lo nggak usah berpura-pura lagi.
Cowok yang lo bawa kemarin itu hanya pra-pura kan.” Farhan memegang tangan
Gita.
“Gita nggak pura-pura itu memang pacar
Gita.” Gita mencoba melepas tangan Farhan. Namun Farhan semakin mempererat genggaman tangannya.
“Pasti lo bohong, gue kurang apa sih
sampai lo begitu tidak tertarik sama gue. Lo menolak gue terus menerus.” Farhan menarik tangan Gita hingga dia mendekat. Kesabarannya mulai habis.
Farhan berubah menjadi kesetanan, dia
tidak bisa mengontrol diri karena penolakan Gita. Dia menarik Gita semakin dekat dia mengincar bibir Gita yang mulai membiru karena tubuhnya semakin dingin.
Farhan semakin brutal, mendekat tubuhnya lalu mendorong hingga Gita posisi tubuhnya tertidur di kursi, Gita memalingakan wajahnya saat wajah Farhan mulai berusahan semakin mendekatinya. Gita mencoba berontak namun Farhan masih sangat kuat.
Hujan semakin deras, tempat semakin sepi
Farhan yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, ingin sekali memilik Gita
seutuhnya dengan bisa dengan melakukan hal yang tidak pantas itu. Dengan begitu Gita pasti tidak akan menolaknya.
“Kak Farhan sadar.” Ucapnya dengan
ketakutan. Tangannya menahan agar Farhan tidak menyentuh dirinya. Namun lama-lama melemah juga.
“Gue sangat sadar, tapi di dekat lo
membuat gue mabuk. Lo sangat candu biarkan gue memiliki lo seutuhnya." Farhan masih berusaha untuk merenggut Gita.
Gita akhirny melepaskan tangannya tang tidak kuat menahan Farhan, air matanya menetes sangat deras.
Farhan mengusap rambut Gita, dia siap menempelkan bibirnya. Gita memejamkan matamya lalu mendorong tubuh Farhan dengan sisa tenaga yang dia punya.
Dan doronga itu berhasil membuat Farhan menjauh darinya. Farhan lumayan kualahan dengan gebrakan Gita dia sedikit terjengkang kebelakang.
“Kak, jaga kesopanan kakak. Lo itu
mahasiswa teladan dan juga ketua di sini. Jangan berperilaku yang tidak senonoh. Dan yang perlu Kak Farhan ingat Gita sudah punya pacar, jadi sekuat
apapun Kak Farhan berusaha mendekati Gita. Maka Gita memiliki dua kali lipat
kekuatan untuk tidak menerima.” Gita yang hendak berlari lalu menoleh sebentar, dia memberikan kemeja yang di berikan kepadanya tadi.
"Gita kecewa sama Kak Farhan."
Gita lalu berlari meninggalkan Farhan
yang masih terdiam, dia merasa seperti manusia yang tidak berguna. Dia menutup
wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian mengusap wajah dia menyesal dengan apa yang dia perbuat.
Dia sama sekali tidak sadarr dengan apa
yang baru saja dia perbuat, obsesinya memiliki Gita membuat dia kehilangan akal.
__ADS_1