
“Raka, dimana Gita sama teman-teman kamu?” tanya Marina.
“Sudah pulang Ma.” Kata Raka dengan malas.
“Padahal mama masih pingin ngobrol, kamu nggak sekalian pamitan sama mereka.” Kata
Marina. Raka hanya terdiam malas menangapi ucapan mamanya. Berpamitan dengan orang-orang yang di sayang itu tidak semudah membalikan tangan. Apalagi jangka yang lama dan kemungkinan terbesarnya dia tidak akan kembali lagi.
“Raka, mama sudah siapkan pasport dan perlengkapan yang lain. Kamu segera beberes ya.” Marina mengelus pundak Raka.
“Iya Ma.” Jawab Raka sembari bangun dari kasur.
Raka membuka kopernya, dia segera mengemasi pakaian untuk ikut pergi ke luar negeri untuk tinggal bersama mamanya.
“Sebenarnya ini sangat menyebalkan, tapi..” Raka menghela napas panjang. Dia bingung harus mengungkapkan dengan apa lagi perasaannya. Dia sudah tidak mampu berkata-kata.
“Sayang, ayo makan dulu.” Panggil mamanya.
“Iya ma.” Raka bergegas turun.
Raka menarik kursi lalu mengambil piring, mamanya mengambilkan nasi untuk Raka.
Sudah lama dia menginginkan seperti ini, di perhatikan sama mamanya. Makan bersama, diantar sekolah dan cerita berbagai hal. Bahkan dia iri saat melihat anak-anak di marahin ibunya karena kenakalan anaknya.
“Mau makan sama apa?” tanya Marina.
“Em, ayam.” Kata Raka.
“Dari dulu kamu suka banget ya makan ayam, tante Wanda bilang kamu tuh kalau nggak ada ayam nggak mau makan. Makanya mama masak ayam untuk kamu.” Marina mengambilkan ayam.
“Mama telpon Mama Wanda?”
“Iya, mama menanyakan menu yang setiap hari tante wanda masak buat kamu. Kan mama nggak tahu apa makanan kesukaan kamu.”
“Benar juga, selama ini mama sibuk dengan diri mama sendiri sampai nggak ngurusin
anaknya sendiri. Atau mungkin lupa punya anak." Kata Raka sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Rasanya sakit banget mendengarnya, justru orang lain yang lebih mengerti dirinya daripada orang tuanya sendiri.
Marina mendekati Raka, “Maafin mama sayang, mama datang kesini untuk menebus
semuannya. Makanya mama akan membawa kamu pergi tinggal bersama mama. Biar kita bisa bersama-sama bareng papa, dan adik kamu.”
“Adik?” Raka kaget. Dia tidak pernah tahu mamanya mengandung bahkan memiliki adik.
Sudah lama banget mereka tak saling berhubungan.
“Iya kamu punya adik perempuan namanya Serena, dia ingin bertemu dengan kamu.”
Cerita Marina.
Tok....Tok....Tok....
Suara ketokan pintu sangat keras dari luar, sedikit mengganggu mereka berdua yang
__ADS_1
sedang bercerita melepaskan kerinduan. Entah itu kerinduan atau rasa apa yang
muncul di hati Raka.
“Kamu lanjut makannya, mama buka pintu dulu ya.” Kata Marina.
“Iya Ma.” Raka mengangguk.
Raka pergi menyusul mamanya yang tak kunjung datang setelah menerima tamu. Raka berenti di ambang pintu melihat sosok lelaki separuh baya yang sangat gagah memakai jas warna hitam. Dengan kulit putih dan parasnya mirip dengan dirinya.
“Mungkinkah itu bokap gue.” Kata Raka pelan. Raka samapi lupa wajah papanya itu. Teringat terakhir dia bertemu papanya saat masih kelas tiga SD. Papanya memberikan mainan dan pergi tanpa pelukan dan berpamitan.
“Faisal ngapain lagi kamu kesini.” Marina melipat kedua tangannya di dada.
“Marina, ini rumah aku juga terserah dong aku mau pulang kesini kapanpun.” Kata Faisal tak mau kalah. “Bahkan kamu itu masih istri aku, kita belum cerai. Berani bicara seperti itu.”
“Sejak kamu meninggalkan aku dan juga Raka untuk memilih perempuan itu. Kamu bukan suami aku lagi. Kamu nggak panta menjadi suami dan juga papa untuk Raka." Ujar Marina.
“Jangan sok suci kamu, aku seperti ini karena kamu tidak bisa meninggalkan bos kamu yang ganjen itu. Kamu itu perempuan nggak benar sudah memiliki suami masih
memacari bos sendiri. Wanita macam apa kamu itu tidak pecus mengurus suami dan anak. Bahkan tega-teganya seorang ibu meninggalkan anaknya yang masih kecil.
Raka menggelengkan kepala lalu kembali ke meja makan untuk menerruskan makan, selama ini yang dia ingin kan keluarga yang untuh dan penuh kasih sayang. Bukan
keluarga yang terus ribut seperti ini.
Faisal masuk lalu menghampiri Raka, “Raka, kamu ikut papa saja tinggal di rumah yang
mewah. Papa akan kasih semua keperluan kamu. Kamu bebas membeli apapun.” Faisal
“Jadi ini memang bokap gue.” Batin Raka sambil melahap masakan mamanya, lebih
tepatnya masakan yang mamanya beli untuk dirinya.
“Enak saja kamu, dia anak akau adi harus ikut aku.” Marina tidak terima jika putranya itu ikut Faisal.
“Anak kamu juga anak aku, jadi aku berhak membawa dia.”
“Cukup!” bentak Raka sambil mengebrak meja. "Bisa tidak kalian berdua ini nggak ribut, pusing kepala Raka.” Raka pergi meninggalkan mama dan papanya. Dan setelah kepergian Raka mereka berdua kembali ribut.
Raka mengunci pintu kamarnya lalu merebahkan tubuhnya, keluarga yang dia impikan itu bukan keluarga kaya raya tapi terus saja ada pertengkaran di dalamnya.
“Hey.. anak ganteng makan yu.” Ajak Wanda.
“Iya Mam.. tante.” Katanya dengan nada sedih.
“Kenapa panggil tante, ini kan mama.” Kata Gita.
“Iya, panggil saja mama. Mama Wanda Wanda mengelus kepala Raka.
“Tapi kan tante bukan mama Raka.”
“Apa bedanya, mama kamu itu kakaknya tante jadi sama saja. Mulai sekarang panggil mama Wanda.” Wanda mengecup kening Raka.
__ADS_1
Masa kecil Raka yang kelam berubah berwarna setelah tinggal di rumah Gita.
Sebelumnya Raka seperti anak terlantar yang selalu saja di tinggal kedua orang
tuannya yang sibuk bekerja. Semenjak umur setahun Raka di perlakukan seperti
itu,dia hanya tinggal bersama pembantunya, sampai akhirnya Wanda tidak tega dan membawanya untuk mengasuhnya.
Raka mengusap wajahnya, “Apa jadinya kalau Mama Wanda tidak mengajakku tinggal di rumahnya. Apa mungkin gue sudah bunuh diri.” Katanya setelah mengenang pertama kami dia memanggil Wanda dengan sebutan mama.
Raka mengerutkan keningnya mengingat nama Serena yang di perkenalkan adik oleh
mamanya. Raka berpikir itu adik dari mana, bukankah orang tuanya terus bertengkar dan tak pernah bersama.
“Apa mama?” Raka menghentikan omongannya. Dia berpikir terlalu jauh, kalau-kalau mamamnya menikah lagi tanpa memberi tahunya.
“Raka..” Panggil mamanya sambil mengetuk pintu.
Raka menaikkan kakinya lalu pura-pura tidur, dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa. Kepalanya sedang pusing banyak pikiran, tak hanya tentang
keluarganya tapi juga pacar dan sahabatnya.
Malam ini Raka sangat kacau, dia tidak tahu harus berbuat apa. Kepalanya rasanya mau
pecah. Marina mendorong pintu, dia masuk lalu mendekati Raka. Marina duduk di
samping Raka lalu mengelus rambutnya.
“Kamu sudah tumbuh dewasa dan ganteng, kalau boleh mama meminta ingin sekali
mengulang masa-masa kecil kamu.” Kata Marina.
Marina mulai menyesalinya dengan apa yang sudah terlewatkan. Marina menyesal kenapa dulu dia tidak membawa putranya ikut bersama, hingga dia tidak bisa melihat tumbuh kembang dari putranya itu.
“Wanda memang orang yang sangat baik, telah mendidik putraku menjadi anak yang kuat dan hebat. Aku akan memberikan imbalan untuk semua ini adikku sayang.” Ucap Marina.
Marina memberikan kecuan di kening Raka, kemudian kembali ke kamarnya. Raka meneteskan air matanya. Perasaan ini yang dia inginkan, medengar seorang mama membanggakan putranya atau mengumpat karena putranya.
Ting!
Pesan masuk dari ponselnya. Raka kembali menghidupkan data setelah beberapa
hari menonativkan ponselnya.
...Mama Wanda...
...Raka anak mama, kamu baik-baik saja kan?Mama tidak akan tanya kamu dimana,pesan mama dimanapun kamu berada selalu jaga...
...kesehatan ya, jangan lupa makan. Mama merindukan kamu nak. Cepat pulang ya Nak....
Robohlah pertahanan air mata Raka, rasanya lebih sakit mendengar ucapan Wanda daripada mama kandungya sendiri.
“Raka sedang tidak baik-baik saja Ma. Tapi Raka tidak bisa datang sama mama. Raka
__ADS_1
takut mama jadi kepikiran.” Kata Raka menutup ponselnya tanpa memberikan membalas pesan Wanda.