
Gita mendorong pintu ruangan Gilang, dia mengecek ruangan Gilang dan dia belum pulang. Gita masuk ke lalu duduk di kursi milik Gilang.
Dia menunggu Gilang, untuk memberikan penjelasan tentang makan siang dengan Radit.
Gita mencoba menelpon Gilang namun tak di jawab juga.
"Ih.. kebiasaan deh kalau ngambek nggak mau angkat telpon." Kata Gita sambil menghela napas panjang.
Gita mulai bosan menunggu Gita, dari dia duduk di kursi sembari memutar-mutar kursi. Setelah itu dia pindah ke sofa, rebahan dan Gilang masih tak kunjung datang juga.
"Ya Tuhan, kemana sih Kak Gilang. Kan gue jadinya ngantuk." Gita menguap. Dia merebahkan tubuhnya di sofa.
Kreeeekkk! terdengar pintu terbuka, Gita langsung bangun dengan mempersiapkan senyum lebar di wajahnya.
Senyumnya langsung pudar saat tahu kalau yang masuk ke ruangan tak hanya Gilang. Dia langsung buru-buru ke meja kerja Gilang dan sembunyi di kolong meja.
"Ujian apa lagi ini." Gita menghela napas panjang sedikit menyesal karena harus karena tidak bergegas pergi dari ruangan justru memilih rebahan dan dia akhirnya terjebak disana.
Obrolan yang panjang dan tak ada habisnya, membuat Gita kembali mengantuk. Dia beberapa kali menguap lalu matanya yang berat itu terpejam.
"Astag!" Gilang kaget lalu mengelus dadanya saat melihat Gita. Dia mengambil sampel untuk cliennya.
Setelah memberikanya, Gilang langsung pada inti dan segera mengakhiri meetingnya. Dia sudah kasihan sama Gita yang merengkuk di bawah meja.
"Terima kasih Pak Gilang, kami telah di sambut dengan sangat baik di sini."
"Sama-sama Pak, semoga kerja sama kita ini lancar dan panjang sampai nanti." Gilang mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Setelah mengantar sampai depan pintu, Gilang kembali ke ruangannya.
"Lila, kamu boleh kembali kerja. Ingat kalau ada yang ingin menemui saya kamu telpon dulu. Saya sedang mau menyendiri." Kata Gilang.
"Baik Pak." kata Lila sambil pergi.
Gilang jongkok lalu menarik Gita dan menggendomgnya. Dia menidurkan Gita di sofa.
"Kenapa hobi banget sih tidur di kolong meja." Gilang membenarkan posisi tidur Gita.
Gilang melepas jasnya lalu menyelimuti Gita, setelah itu dia kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Dasar kayak kebo kalau tidur, sudah berapa jam coba?" Gilang mengelengkan kepala.
Gilang duduk di samping Gita sembari mengusap rambut Gita. Gita pun perlahan membuka matanya, dia tersenyum menyambut senyuman Gilang kepadanya.
"Selamat pagi." Ucap Gita.
"Selamat pagi, masih sore sayang." Gilang mencubit hidung Gita.
__ADS_1
"Eh sore." Gita langsung duduk. "Ini masih di kantor?" Gita melihat ke arah Gilang sambil mendelik. Dan Gilang hanya membalas dengan anggukan.
"Ini Gimana?" Gita panik, pasti teman-temannya mencari dirinya. Dia pergi tanpa mengatakan apa-apa sama yang lain.
"Ya nggak gimana-gimana." Kata Gilang dengan santai sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Kamu mah.." Gita menaruh jas Gilang dan beranjak untuk kembali kerja.
Sebelum Gita meninggalkan dirinya Gilang menarik tangan Gita hingga berada di pangkuannya.
"Kenapa sih buru-buru." Kata Gilang.
"Sayang, aku sudah pergi terlalu lama. Pasti mereka mencari aku." Gita berusaha melepaskan diri dari Gilang.
"Mereka siapa? Radit maksud kamu." Gilang langsung melepaskan pelukannya. Wajah Gilang langsung masam. Gilang berdiri lalu pergi ke kursi kerjanya.
"Kok Radit sih," Gita menyusul Gilang. Tapi Gilang mengabaikan Gita dengan sok sibuk dengan pekerjaannya.
"Sayang.. aku sama dia nggak ada apa-apa, kamu juga tahu kan aku makannya bareng-bareng nggak cuma sama dia doang." Gita mencoba memberikan pengertian sama Gilang.
"Ya." Jawab Gilang dengan malas, dia tidak mau tahu penjelasan Gita. Mau alasan apapun tetap dia mau di ajak pergi sama Radit.
Gita memejamkan mata sebentar lalu mengatur napasnya. Dia menarik ujung bibirnya, lalu merangkul Gilang dari belakang. Gita menyenderkan kepalanya di bahu Gilang sembari menatap Gilang.
"Sayang, jangan marah. Beneran Gita nggak ngapain. Perasan Gita, cinta, sayang semua itu milik Kak Gilang."Gita memberikan ciuman kecil di pipi kiri Gilang.
Gilang mebalikan badanya lalu mencium bibir Gita cepat, setelah itu dia kembali dengan pekerjaannya.
Gita tersenyum, dia kembali merangkul Gilang.
"Sayang, duduk sana gih aku mau meneruskan kerjaan aku dulu." Pinta Gilang.
"Nggak mau." Kata Gita.
"Ini di kantor loh." Kata Gilang.
"Udah tahu." jawab Gita belum mau melepaskan Gilang.
"Ah.. kamu ya yang mulai jangan salahkan aku kalau ada yang melihat." kata Gilang sambil mengangkat telponnya.
"Biarin saja, siapa takut." Gita sok berani.
"Suruh masuk." Kata Gilang.
Terdengar pintu terbuka, Gita langsung panik dan bersembunyi di kolong meja. Tangan Gilang memegangi tepi meja supaya Gita tidak terbentur.
"Sore Pak."
__ADS_1
"Iya Fajar, ada apa?" tanya Gilang.
"Apa bapak sudah mempertimbangkan saya bisa pindah atau tidak?" tanya Fajar.
"Untuk itu saya belum bisa memutuskan, kamu tunggu besok." Kata Gilang.
"Baik Pak, terima kasih." Fajar keluar dengan wajah lemas karena Gilang belum memutuskan juga.
"Apa sudah keluar?" tanya Gita. Gilang mengangguk, Gita baru saja menongolkan kepalanya kembali masuk saat mendengar pintu terbuka.
"Bos..Bos..." kata Win dengan napas terengah-engah.
"Ada apa Win? tenang dulu baru ngomong." kata Gilang, dia menyuruh Win untuk mengatur napasnya dulu agar bisa bercerita dengan jelas.
"Begini Bos apa Gita kesini?"
"Kenapa kamu berpikir dia disini?"
"Benar juga, kenapa bisa-bisanya malah kesini? tapi Gita nggak ada Bos sejak makan siang tadi."
"Sudah coba telpon dia?" tanya Gilang.
Gita di kolong meja langsung panik, dia mengambil ponselnya di kantong untuk mematikan sebelum Win telpon.
Namun terlambat, ponsel Gita sudah berdering. Win langsung melotot dan mencari sumber suara.
Dengan gugup Gita menekan silent di ponselnya, dia mencubit kaki Gilang. Dia tahu kalau Gilang sengaja mengerjainya.
Gilang tersenyum, dia pura-pura mengangkat telpon agar Win tidak curiga.
"Iya halo Ma, sebentar lagi Gilang pulang. Gilang sedang jagain kucing nih." Kata Gilang asal-asalan.
"Bos.."
"Ada apa Win." Gilang menaruh ponselnya ketika dia pura-pura sudah selesai telpon padahal sama sekali tidak telepon.
"Bos kenapa bohong sama orang tua, orang lagi di kantor kok jagain kucing."
"Emang lagi jagain kucing manis, imut dan bikin gemes." Gilang tersenyum sambil melirik ke bawah meja. Gita mendelik dan kembali mencubit Gilang.
"Memangnya kucingnya dimana bos, saya punya kucing jantan keren loh bos. Kalau mau kita kawinin saja yuk bos biar kita besanan." Kata Win penuh semangat.
Gilang tertawa renyah, mendengarkan ucapan Win karena di berpikir kalau Gilang benar-benar membahas kucing sungguhan.
"Tidak, kucing gue tidak akan aku kawin kan sama siapa-siapa. Kamu bisa keluar, Gita tadi ijin pulang karena dia ada urusan." Jelas Gilang
"Ah... baik. Permisi bos."
__ADS_1