
Gita membuka pintu kamar Qila lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ada apa?" tanya Qila. Dia paham kalau adiknya datang ke kamarnya pasti menginginkan sesuatu darinya.
"Nggak apa-apa." Gita cengar-cengir.
"Lo sama Gilang ada hubungan apa?" tanya Qila sambil menoleh ke arah Gita.
"Nggak ada. Hanya..." Gita menggigit bibir bawahnya bingung menjelaskannya.
"Hanya apa?" tanya Qila penasaran. Dia bangkit dari kursinya lalu duduk di samping Gita.
"Em.. kita pelatihan pacaran." Jawab Gita jujur. Gita sering menceritakan semua hal yang membahagiakan dirinya kepada kakak-kakaknya. Namun dia selalu menyimpan semua masalah yang dia hadapi karena dia tidak mau menyusahkan keluarganya.
"Pelatihan pacaran?" Qila melebarkan kedua matanya.
"Ya, kalau semua lancar dan saling suka kita akan melanjutkan ke jenjang pacaran. Tapi kalau tidak kita akan berteman." Jawab Gita.
"Oh. Lalu apa cinta sudah mulai tubuh di hati lo?" tanya Qila dengan nada kecewa.
"Em.. nggak tahu." jawab Gita. Qila mengngangguk lalu meninggalkan Gita dengan wajah kecewa.
"Kak, kenapa ekspresi Kakak seperti itu? apa lo cemburu?" Gita bangun lalu mendekati Qila yang sedang belajar.
"Ngomong apaan sih, lagian kenapa gue harus cemburu. Kita itu sebatas teman nggak lebih." Qila pergi keluar kamarnya untuk menghindari pertanyaan Gita yang akan terus di berikan sebelum dia puas dengan jawabannya.
"Kakak pasti cemburu, kalau tidak kenapa kabur dari gue." Kata Gita sambil duduk di kursi bekas Qila.
Dia membalik-balikan buku pelajaran milik Gita, kemudian dia berdiri lagi karena bosan. Saat berdiri tangannya tidak sengaja menjatuhkan tumpukan buku. Gita langsung merapikan, dia melihat satu buku diary kecil berwarna pink.
Gita menoleh ke arah pintu lalu membaca isi diary kakaknya. Awalnya dia tersenyum membaca curhatan Qila tentang kenakalan dirinya dan Raka. Namun beberapa lembar terakhir Gita membuat Gita terpaku.
...Dear Diary...
...Aku bingung bagaimana menyatakan perasaan ini...
...Sudah lama aku menaruh hati sama Gilang, namun dia terlalu cuek...
...Perhatianku selama ini tak pernah dia anggap...
...Dan sekarang dia justru memilih Gita, adikku yang jelas-jelas baru dia kenal...
...Dan bahkan Gita tak cinta sama dirinya...
...Kenapa harus Gita......
...Bagaimana bisa bersaing dengan adikku sendiri...
...Tapi jika tidak bersaing, hatiku sakit.....
__ADS_1
...Aku tidak kuat melihat mereka berdua bersama...
..."Jadi Kak Qila beneran suka sama Kak Gilang." Gumam Gita pelan. Dia menutup Diary, lalu meninggalkan kamar Qila. Dia masuk ke kamar lalu mengunci pintu rapat-rapat....
Gita menjadi dilema, di bilang belum cinta tapi dia juga tidak rela menjodohkan Qila dengan Gilang. Tapi dia merasa kalau Qila lebih cocok sama Gilang daripada dirinya.
"Gue harus gimana?" katanya sambil merebahkan tubuhnya lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Ddrrrzzzt...derrrtzzz.... ponsel Gita bergetar. Dia meraih dengan tangannya tanpa melepas bantal di wajahnya.
"Halo." jawabnya malas dia kira yang menelpon Raka karena Raka sebelum pergi akan telpon dirinya. Jadi dia tidak melihat layar.
"Halo juga, lo lagi bete ya?" tanya Gilang.
"Eh.." Gita bangun lalu melihat ke layar. "Sorry Kak, gue kira Raka." Gita menjelaskan.
"Iya nggak apa-apa, lagi marahan sama Raka?"
"Ah.. nggak kok. Ada apa ya?"
"Memangnya telepon lo harus ada apa dulu gitu. Kita kan sedang pelatihan pacaran jadi kita harus membiasakan diri saling memberi kabar dimanapun kita berada." Gilang menerapkan satu pelatihan lagi.
"Harus seperti itu?"
"Ya, nggak harus sering banget. Cuman yang namanya hubungan itu komunikasi yang lancar biar nggak salahpaham dan saling percaya. Kalau kita kasih kabar sedang apa dan sama siapa akan membuat pasangan tidak curiga. Ini salah satu agar langgeng hubungan." Jelas Gilang.
"Oh.. seperti itu."
"Ya."
"Em.. besok mau nggak temani gue latihan basket?" tanya Gilang.
"Di sekolah?"
"Nggak, team basket kita akan latihan di luar sekolah."
"Ok, jam berapa?"
"Setelah pulang sekolah,"
"Ok."
Tiba-tiba mereka berdua saling diam, Gilang sudah kehabisan kata-kata karena Gita yang jawab terlalu singkat.
"Em.. Kak." Gita membuka topik lebih dulu.
"Ah.. ya."
"Menurut lo, Kak Qila itu seperti apa?" tanya Gita.
__ADS_1
"Qila?"
"Iya, Kak Qila." Gita penasaran dengan jawaban Gilang.
"Baik, pinter dan juga cantik. Kenapa lo menanyakan ini sama gue?" Gilang merasa ada yang tidak beres. "Jangan bilang lo bandingkan diri lo sama Kakak lo."
"Ah.. nggak, cuman mau tahu aja."
"Lo lebih cantik dari siapapun, dan di hati gue cuma ada lo. Jangan berpikir untuk menjodohkan gue sama kakak lo." Gilang tahu arah pembicaraan Gita.
"Gr, siapa yang mau jodohin." Gita mengelak.
"Baguslah. Ingat ya sampai kapanpun yang gue suka itu lo bukan Qila ataupun yang lain."
"Kalau gue nggak suka sama lo gimana?"
"Gue akan buat jatuh cinta sama gue."
"Kalau takdir tidak merestui, kita tidak berjodoh?"
"Gue akan merubah takdir itu sampai kita berjodoh." kata Gilang.
Gita tersenyum, "Sepertinya lo sudah gila."
"Ya, gue memang sudah gila sejak kenal lo. Sudah jangan pikir yang aneh-aneh lagi. Sekarang tidur biar nggak kesiangan besok."
"Iya, lo juga tidur."
"Hhmm, gue jemput lo besok pagi. Good night."
"Good night."
Gita meletakkan ponselnya, tapi dia belum mematikan ponselnya begitu pula dengan Gilang.
"Gimana ini, kak Qila pasti akan sedih kalau tahu gue dekat sama Gilang."
"Dia juga tahu kalau gue mau jodohin dia lagi. Ah.. kenapa dia genius banget sih bisa baca pikiran gue. Kalau pelatihan ini berhasil terus sampai menikah pasti kak Qila akan semakin sedih, dan dia bisa jauhi gue." Gita berpikir semakin tidak jelas.
"Gue harus gimana, apa perlu gue buat Gilang amnesia. Gue getok kepalanya biar nggak ingat gue." Celoteh Gita sambil membolak-balikan badannya.
"Gita, gue dengar. Lo tega mau bunuh gue." Jawab Gilang.
"Ih.. kenapa gue dengar suara Gilang. Kenapa dia jadi menghantui gue apa benar gue jodohnya. Sampai-sampai dia mendengar dan tahu rencana gue." Gita melihat ke semua sudut kamarnya.
"Ya kita berjodoh, ini suara gue dari masa depan." Gilang mengerjai Gita.
"Masa depan?" Gita mengerutkan keningnya.
"Ya, gue suami masa depan lo. Jadi lo baik-baik dengan gue. Atau lo akan menyesal karena tidak menyayangiku dari muda." Kata Gilang sambil menahan tawa karena Gita terdengar mempercayainya.
__ADS_1
"Pasti ini halusinasi gue saja, mana mungkin ada masa depan datang ke masa lalu. Memangnya doraemon, tapi gimana kalau itu hantu yang menyerupai Gilang." Gita bangun lalu pergi meninggalkan kamar. Dia jadi ketakutan.
"Gita...Ta.. Gita.." Panggil Gilang. Gilang akhirnya tertawa saat panggilannya tak terjawab dia geli dengan tingkah Gita yang konyol.