Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Gita bergegas turun untuk bertanya


kepada mamanya tentang penampilanya pertama ke kantor.


“Ma..ma.. gimana kalau pakai ini?” Gita


memakai celana panjang warna kuning mustrad dengan atasan warna putih di atas


siku.


“Wah anak mama anggun banget.” Wanda takjub


dengan putrinya yang semakin cantik saja. Gita adalah tipikal orang yang di


make up sedikit sudah menjadi sangat cantik, tapi dia saja yang malas dandan


dan suka seadanya saja karena malas ribet.


“Beneran Ma?” tanya Gita.


“Iya masa mama bohong, cantik kan Kak


adinya?”


“Iya, lo keren banget. Tapi ingat ini


baru awal masuk lo jangan bikin ulah.” Qila mewanti-wanti Gita.


“Iya..iya. Gita pasti hati-hati kok.


Tenang saja.” Jelas Gita.


“Karena ini pertama kali kamu kerja biar


mama yang anterin ya.” Wanda ingin mengantar putrinya ke tempat kerjanya.


“Nggak usah Ma, nanti mama telat lagi.


Gita bisa naik angkot.”  Gita menolak


diantara mamanya. Dia lebih suka pergi-pergi sendiri.


“Nggak apa-apa, lagian kalau emang telat


juga mama yang punya kantornya. Siapa yang mau marahin mama coba? Mama pokoknya


mau tahu seperti apa tempat kerja putri mama.” Wanda kekeh ingin mengantar


Gita.


“Benar juga, mama kan bosnya. Baiklah.”


Gita tidak bisa menolak lagi.


Wanda seperti mengantar putrinya pertama


kali ke sekolah, banyak banget wejangan yang dia berikan. Sepanjang perjalanan


Wanda terus memberitahu Gita kalau dia memang tidak kuat bekerja ditempat


Gilang, atau ada yang menyakiti disana harus mengadu mamanya. Dan Wanda akan


membawa Gita ke perusahaanya.


“Ma, jangan manjain Gita seperti ini


nanti Gita nggak ada tanggung jawabnya dan terlalu keenakan.” Sudah sering


Wanda ingin memberikan fasilitas lebih kepada Gita namun Gita terus saja


menolak. Dia selalu ingin bekerja dengan caranya sendiri.


“Memangnya salah kalau mama mau manjain


anak sendiri, kamu dari dulu susah banget dimanjain.” Omel Wanda.


“Ya kan Gita ssudah besar.”


“Mama tahu, meskipun kamu sudah besar


kamu akan tetap menjadi putri kecil mama. Mengerti.” Jelas Wanda.


“Iya Ma. Kenapa mama sama papa nggak


punya anak lagi saja. Biar bisa manjain adik kecil Gita.” Gita mulai


mengusulkan ide yang sangat konyol.


“Mama ini sudah tua mana bisa punya bayi


lagi, harusnya itu anak-anak mama yang memberikan cucu jadi mama bisa bermain


dengan cucu mama. Jadi nggak manjain ibuknya lagi.”


“Ya sudah suruh saja itu Kak Maurin


buruan hamil. Biar nanti Gita bilang sama kak Genta.”  Gita meringis.


“Kamu itu ya.”


“Udah sampai, Gita turun dulu ya ma udah


mepet banget jamnya.” Gita mencium tangan Wanda dan bergegas turun.  “Da..mama hati-hati.”


“Eh..Ta..Gita..” Wanda turun


memanggil-manggil mamanya.


“Ada apa Ma?” Gita balik lagi.

__ADS_1


“Kamu lupa belum cium mama kan.”


“Ah iya.” Gita mencium pipi mamanya


kanan kira lalu dia bergegas lari lagi.


Gilang yang sedang datang meminta sopir


menurunkan di dekat mobil Wanda, dan menyuruh sopirnya pergi dulu.


“Tante.” Panggil Gilang dan langsung


mencium tangan Wanda.


“Eh..Gilang.”


“Masuk dulu tante.” Gilang mengajak


Wanda untuk masuk ke kantornya.


“Nggak usah tante sudah telat mau ke


kantor. Oiya Gilang, makasih ya karena sudah mau memasukan Gita ke kantor kamu.


Meskipun dia sembrono tapi bisa di perhitungkan juga kerjanya. Dan tolong jaga


Gita ya.”


“Iya tante. Gilang pasti akan jaga Gita.


Tapi untuk soal memasukan Gita ke perusahaan Gilang itu semua usaha Gita


sendiri bukan karena bantuan Gilang.


“Oiya, bukannya Gita sudah tidak


mendapatkan tempat disini kenapa tiba-tiba dia bisa mendapatkan panggilan.”


Wanda heran.


“Kalau untuk panggilan itu memang Gilang


yang mengatur, jadi Gilang sengaja meminta pekerja Gilang untuk memberi tahu


Gita pagi hari saja.”


“Kamu jahilin anak tante ya, kasian


sampai dia sedih lo kalau nggak bisa masuk ke perusahaan kamu.”


“Maafin Gilang tante.”


“Kalau Gitu, tante pergi dulu ya Gilang.”


“Iya tante.”


++


di tempatkan di bagian apa di perusahaannya itu.


“Permisi Buk.”


“Iya, ada yang bisa saya bantu?”


“Saya, Gita Saquena yang tadi pagi


mendapat panggilan dari perusahaan ini.”  Kata Gita sambil berjalan masuk.


“Oh kamu ya, sebentar ya kamu duduk


dulu.”


“Halo, sekertaris Lila karyawan baru


yang baru tadi pagi sudah datang.”  HRd


itu menelpon Lila sekertarisnya Gilang.


Kreeekk!


Pintu terbuka sedikit kasar, “Gita


Saquena ayo ikut saya.” Kata Lila di ambang pintu.


“Baik.” Gita hari ini menjadi anak yang


sangat penurut, dan tidak ngedumel dalam hati melihat orang yang judes.


Dia berjalan sedikit cepat mengimbangi


Lila, Gita lumayan kagum dengan Lila. Dia suka sekali melihat cewek-cewek


pekerja yang elegan seperti Qila kakaknya dan juga Andini calon iparnya.


“Kamu harus sungguh-sungguh bekerja di


sini, tak hanya itu kamu juga harus loyal. Kamu itu sudah sangat beruntuk masih


bisa masuk kalau saja tidak ada yang mengundurkan diri kamu juga nggak bakalan


masuk.” Kata Lila.


“Iya Mbak.”


“Kamu masuk ke dalam, bertemu dengan bos


dulu. Kamu terlalu istimewa katanya jadi harus masuk sini dulu. Aku saranin sih


kamu jangan terlalu banyak menjawab sesuatu yang tidak penting atau basa-basi karena

__ADS_1


bisa langsung di keluarkan hari ini juga. Yang kedua di larang naksir bos, itu


akan sangat lebih bahaya. Mengerti.” Jelas Lila.


“Iya Mbak.”


Gita menghela napas panjang, dia sedikit


ngeri juga mendengar penjelasan dari Lila. Dari cerita Lila, bos disini sangat


seram.


“Permisi.” Kata Gilang.


“Masuk.” Gilang memutar kursinya. Gita


langsung tersenyum lebar, dan berjalan mendekatinya.


“Aku kira siapa bos yang sangat garang disini.”


Gita menarik kursi lalu duduk.


“Garang?”


“Iya. Tadi sekertaris Kak Gilang bilang


kalau bos sangat galak dan nggak suka basa-basi.”


Gilang tersenyum, dia meraih tangan


Gilang lalu mencium tangannya.


“Apa yang harus Gita kerjakan sekarang,


kenapa Gita harus kesini?”


“Tidak ada kerja, karena aku hanya ingin


melihat kamu saja.” Kata Gilang dengan santainya.


“Tadi Mbak Lila bilang kalau aku itu


istimewa harus menghadap kamu, tapi kenapa nggak di kasih pekerjaan.”


“Ya memang kamu istimewa, jadi setiap


pagi kamu harus masuk ke ruangan ku dulu baru bisa bekerja bareng tim kamu


nanti.”


“Ah.. aku kita karena aku sangat nyaris


tidak masuk jadi istimewa. Baiklah, oiya Kak Gilang jangan terlalu


mengistimewakan Gita ya. Gita nggak mau mereka iri sama Gita. Masa karyawan


yang baru msauk langsung di sayang bos.”


“Ya biarkan saja, memang bosnya suka


sama karyawan barunya.”


“Pokoknya, selama di kantor Gita bukan


pacarnya Kak Gilang. Jadi kita harus profesional, aku nggak mau karyawan yang


lain tahu dan bersikap sok baik sama aku.”


“Baiklah, cintaku kamu sekarang akan aku


antar kamu ke tim kerja kamu.”


Gilang mendorong pintu ruanganya, dan


Gita keluar lebih dulu.


“Sudah Pak, biar saya yang mengantar di


ke tim kerjanya.”


“Kita sana bersama, saya juga akan


menyapa tim yang baru disana.”


“Baik Pak.”


Gita tersenyum, dia tahu Gilang mau


menyapa karyawan baru itu hanyalah modus saja. Dia sebenarnya mau nganterin


Gita.Selain itu dia mau ngecek tempat untuk Gita itu layak atau tidak untuk


Gita.


“Selamat pagi semua, mohon perhatiannya


sebentar Bos datang akan memberikan sambutan sedikit buat kalian.”  Kata Lila. Gita yang tahu disitu ada Vian dan


Fara langsung giranng.


“Selamat pagi semua,  selamat datang untuk para karyawan baru di GG


entertaiment semoga kalian betah. Untuk semua anak baru silahkan belajar dari


para senior.”


“Baik Pak.”


“Kamu bisa gabung kesana.”

__ADS_1


“Baik Pak terima kasih.”


__ADS_2