
Gita bergegas turun untuk bertanya
kepada mamanya tentang penampilanya pertama ke kantor.
“Ma..ma.. gimana kalau pakai ini?” Gita
memakai celana panjang warna kuning mustrad dengan atasan warna putih di atas
siku.
“Wah anak mama anggun banget.” Wanda takjub
dengan putrinya yang semakin cantik saja. Gita adalah tipikal orang yang di
make up sedikit sudah menjadi sangat cantik, tapi dia saja yang malas dandan
dan suka seadanya saja karena malas ribet.
“Beneran Ma?” tanya Gita.
“Iya masa mama bohong, cantik kan Kak
adinya?”
“Iya, lo keren banget. Tapi ingat ini
baru awal masuk lo jangan bikin ulah.” Qila mewanti-wanti Gita.
“Iya..iya. Gita pasti hati-hati kok.
Tenang saja.” Jelas Gita.
“Karena ini pertama kali kamu kerja biar
mama yang anterin ya.” Wanda ingin mengantar putrinya ke tempat kerjanya.
“Nggak usah Ma, nanti mama telat lagi.
Gita bisa naik angkot.” Gita menolak
diantara mamanya. Dia lebih suka pergi-pergi sendiri.
“Nggak apa-apa, lagian kalau emang telat
juga mama yang punya kantornya. Siapa yang mau marahin mama coba? Mama pokoknya
mau tahu seperti apa tempat kerja putri mama.” Wanda kekeh ingin mengantar
Gita.
“Benar juga, mama kan bosnya. Baiklah.”
Gita tidak bisa menolak lagi.
Wanda seperti mengantar putrinya pertama
kali ke sekolah, banyak banget wejangan yang dia berikan. Sepanjang perjalanan
Wanda terus memberitahu Gita kalau dia memang tidak kuat bekerja ditempat
Gilang, atau ada yang menyakiti disana harus mengadu mamanya. Dan Wanda akan
membawa Gita ke perusahaanya.
“Ma, jangan manjain Gita seperti ini
nanti Gita nggak ada tanggung jawabnya dan terlalu keenakan.” Sudah sering
Wanda ingin memberikan fasilitas lebih kepada Gita namun Gita terus saja
menolak. Dia selalu ingin bekerja dengan caranya sendiri.
“Memangnya salah kalau mama mau manjain
anak sendiri, kamu dari dulu susah banget dimanjain.” Omel Wanda.
“Ya kan Gita ssudah besar.”
“Mama tahu, meskipun kamu sudah besar
kamu akan tetap menjadi putri kecil mama. Mengerti.” Jelas Wanda.
“Iya Ma. Kenapa mama sama papa nggak
punya anak lagi saja. Biar bisa manjain adik kecil Gita.” Gita mulai
mengusulkan ide yang sangat konyol.
“Mama ini sudah tua mana bisa punya bayi
lagi, harusnya itu anak-anak mama yang memberikan cucu jadi mama bisa bermain
dengan cucu mama. Jadi nggak manjain ibuknya lagi.”
“Ya sudah suruh saja itu Kak Maurin
buruan hamil. Biar nanti Gita bilang sama kak Genta.” Gita meringis.
“Kamu itu ya.”
“Udah sampai, Gita turun dulu ya ma udah
mepet banget jamnya.” Gita mencium tangan Wanda dan bergegas turun. “Da..mama hati-hati.”
“Eh..Ta..Gita..” Wanda turun
memanggil-manggil mamanya.
“Ada apa Ma?” Gita balik lagi.
__ADS_1
“Kamu lupa belum cium mama kan.”
“Ah iya.” Gita mencium pipi mamanya
kanan kira lalu dia bergegas lari lagi.
Gilang yang sedang datang meminta sopir
menurunkan di dekat mobil Wanda, dan menyuruh sopirnya pergi dulu.
“Tante.” Panggil Gilang dan langsung
mencium tangan Wanda.
“Eh..Gilang.”
“Masuk dulu tante.” Gilang mengajak
Wanda untuk masuk ke kantornya.
“Nggak usah tante sudah telat mau ke
kantor. Oiya Gilang, makasih ya karena sudah mau memasukan Gita ke kantor kamu.
Meskipun dia sembrono tapi bisa di perhitungkan juga kerjanya. Dan tolong jaga
Gita ya.”
“Iya tante. Gilang pasti akan jaga Gita.
Tapi untuk soal memasukan Gita ke perusahaan Gilang itu semua usaha Gita
sendiri bukan karena bantuan Gilang.
“Oiya, bukannya Gita sudah tidak
mendapatkan tempat disini kenapa tiba-tiba dia bisa mendapatkan panggilan.”
Wanda heran.
“Kalau untuk panggilan itu memang Gilang
yang mengatur, jadi Gilang sengaja meminta pekerja Gilang untuk memberi tahu
Gita pagi hari saja.”
“Kamu jahilin anak tante ya, kasian
sampai dia sedih lo kalau nggak bisa masuk ke perusahaan kamu.”
“Maafin Gilang tante.”
“Kalau Gitu, tante pergi dulu ya Gilang.”
“Iya tante.”
++
di tempatkan di bagian apa di perusahaannya itu.
“Permisi Buk.”
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya, Gita Saquena yang tadi pagi
mendapat panggilan dari perusahaan ini.” Kata Gita sambil berjalan masuk.
“Oh kamu ya, sebentar ya kamu duduk
dulu.”
“Halo, sekertaris Lila karyawan baru
yang baru tadi pagi sudah datang.” HRd
itu menelpon Lila sekertarisnya Gilang.
Kreeekk!
Pintu terbuka sedikit kasar, “Gita
Saquena ayo ikut saya.” Kata Lila di ambang pintu.
“Baik.” Gita hari ini menjadi anak yang
sangat penurut, dan tidak ngedumel dalam hati melihat orang yang judes.
Dia berjalan sedikit cepat mengimbangi
Lila, Gita lumayan kagum dengan Lila. Dia suka sekali melihat cewek-cewek
pekerja yang elegan seperti Qila kakaknya dan juga Andini calon iparnya.
“Kamu harus sungguh-sungguh bekerja di
sini, tak hanya itu kamu juga harus loyal. Kamu itu sudah sangat beruntuk masih
bisa masuk kalau saja tidak ada yang mengundurkan diri kamu juga nggak bakalan
masuk.” Kata Lila.
“Iya Mbak.”
“Kamu masuk ke dalam, bertemu dengan bos
dulu. Kamu terlalu istimewa katanya jadi harus masuk sini dulu. Aku saranin sih
kamu jangan terlalu banyak menjawab sesuatu yang tidak penting atau basa-basi karena
__ADS_1
bisa langsung di keluarkan hari ini juga. Yang kedua di larang naksir bos, itu
akan sangat lebih bahaya. Mengerti.” Jelas Lila.
“Iya Mbak.”
Gita menghela napas panjang, dia sedikit
ngeri juga mendengar penjelasan dari Lila. Dari cerita Lila, bos disini sangat
seram.
“Permisi.” Kata Gilang.
“Masuk.” Gilang memutar kursinya. Gita
langsung tersenyum lebar, dan berjalan mendekatinya.
“Aku kira siapa bos yang sangat garang disini.”
Gita menarik kursi lalu duduk.
“Garang?”
“Iya. Tadi sekertaris Kak Gilang bilang
kalau bos sangat galak dan nggak suka basa-basi.”
Gilang tersenyum, dia meraih tangan
Gilang lalu mencium tangannya.
“Apa yang harus Gita kerjakan sekarang,
kenapa Gita harus kesini?”
“Tidak ada kerja, karena aku hanya ingin
melihat kamu saja.” Kata Gilang dengan santainya.
“Tadi Mbak Lila bilang kalau aku itu
istimewa harus menghadap kamu, tapi kenapa nggak di kasih pekerjaan.”
“Ya memang kamu istimewa, jadi setiap
pagi kamu harus masuk ke ruangan ku dulu baru bisa bekerja bareng tim kamu
nanti.”
“Ah.. aku kita karena aku sangat nyaris
tidak masuk jadi istimewa. Baiklah, oiya Kak Gilang jangan terlalu
mengistimewakan Gita ya. Gita nggak mau mereka iri sama Gita. Masa karyawan
yang baru msauk langsung di sayang bos.”
“Ya biarkan saja, memang bosnya suka
sama karyawan barunya.”
“Pokoknya, selama di kantor Gita bukan
pacarnya Kak Gilang. Jadi kita harus profesional, aku nggak mau karyawan yang
lain tahu dan bersikap sok baik sama aku.”
“Baiklah, cintaku kamu sekarang akan aku
antar kamu ke tim kerja kamu.”
Gilang mendorong pintu ruanganya, dan
Gita keluar lebih dulu.
“Sudah Pak, biar saya yang mengantar di
ke tim kerjanya.”
“Kita sana bersama, saya juga akan
menyapa tim yang baru disana.”
“Baik Pak.”
Gita tersenyum, dia tahu Gilang mau
menyapa karyawan baru itu hanyalah modus saja. Dia sebenarnya mau nganterin
Gita.Selain itu dia mau ngecek tempat untuk Gita itu layak atau tidak untuk
Gita.
“Selamat pagi semua, mohon perhatiannya
sebentar Bos datang akan memberikan sambutan sedikit buat kalian.” Kata Lila. Gita yang tahu disitu ada Vian dan
Fara langsung giranng.
“Selamat pagi semua, selamat datang untuk para karyawan baru di GG
entertaiment semoga kalian betah. Untuk semua anak baru silahkan belajar dari
para senior.”
“Baik Pak.”
“Kamu bisa gabung kesana.”
__ADS_1
“Baik Pak terima kasih.”