Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pagi


__ADS_3

Terdengar ketukan pintu kamar Gita dan


Fara yang sangat nyaring. Gita meregangkan kedua tangannya saat sayup-sayup


mendengar ketukan.


“Far, siapa tuh pagi-pagi udah


ketuk-ketuk pintu.” Kata Gita sembari membalikan tubuhnya sembari memeluk


gulingnya.


“Nggak tahu, biarin aja.” Kata Fara. Dia


juga males beranjak karena masih sangat pagi. Matahari saja baru siap-siap saja


belum rencana mau nongol. Selesai berdiskusi mereka meneruskan tidurnya lagi.


Deeerrrttzzz.....deeerrrrrttzzzz....


ponsel Gita dan Fara berbunyi bersamaan mana terdengar sangat nyaring membuat


mereka berdua langsung duduk.


“Ya Tuhan, ini kenapa pada berisik sih.”


Kata Gita sambil mengangkat telpon.


“Halo, Mas Win ada apa pagi-pagi udah


tidur.” Kata Gita tanpa di sadari.


“Kok tidur sih.” Fara menyenggol tubuh


Gita lalu mengusap telponnya untuk mengangkat panggilan dari Ina.


“Eh..maksud Gita udah bangunin.” Gita


membenarkan ucapannya.


“Kalian berdua buruan bangun, udah di


tungguin nih kita kan mau jogging bareng.” Kata Win.


“Mas, boleh nggak kalau nggak ikut.”


“Semua harus ikut, buruan turun atau


gaji kalian mau di potong.” Ancam Win.


“Iya..iyaa.. ok lima menit lagi kita


turun.” Kata Gita langsung mematikkan sambungan telponnya.


“Kita ini kan kerja ya, kenapa kelihatanya


kayak lagi sekolah dan berkemah mana ada jogging bareng lagi.” Keluh Gita.


“Nggak tahu lagi deh, mana ngancam


potong jagi lagi.” Fara juga ikut mengeluh.


Gita dan Fara adalah orang yang paling


malas kalau disuruh bangun pagi, apalagi harus jogging atau kegiatan apalah.


Mereka berdua memilih rebahan dan bangun di jam yang sangat mepet.


Fara dan Gita masih memakai piyama,


sendah hotel dan juga jaket. Mereka berdua benar-benar nggak ada niatan untuk


ikutan.


“Kalian ini kenapa masih pakai piyama


sih, kita mau jogging.” Kata Win, dia geleng kepaka melihat kelakuan Gita dan


Fara.


“Yang penting kan kita sudah ikut Mas


Win.” Kata Gita malas.


“Ikut ya ikut, tapi baju kalian itu


nggak sesuai mana nggak pakai sepatu lagi.” Omel. Ina seperti emak di dalam


team Win, selalu saja ngomel kalau ada anaknya yang tidak sesuai aturan. “Ini lagi


sama saja.” Ina menggelng kepala saat Vian datang juga masih pakai piyama.


“Seaneh ini kah tim lo Mas Win, kalau


gue jadi lo udah loncat ke tebing.” Catrin berjalan melewati Win dan yang lain


dengan tatapan menghina.

__ADS_1


“Ayo-ayo buruan nanti kesiangan!” teriak


Lila yang baru saja datang bersama Gilang.


Mereka pun langsung berlari, Gita, Fara


dan Vian paling belakang karena ogah-ogahan. Mata mereka bertiga masih sangat lengket.


“Ayo buruan, katanya tadi malam kalian


mau melihat sunrise.” Kata Gilang yang memperlambat larinya hingga bersejajar


dengan Gita, Fara dan Vian.


“Iya, Gita msih malas. Gendong.” Kata


Gita sambil melebarkan kedua tangannya.


“Heh...heh... gendong emang lo siapa


minta gendong bos Gilang.” Catrin berbalik badan. Dia tidak akan membiyarkan


Gita menggoda Gilang.


“Gue itu calon istrinya.”  Kata Gita sambil menauh kedua tangannya di


dada.


“Sadar lo! Mabok ya.” Catrin sedikit


mendorong Gita, dan Gilang langung melangkahkan kakinya ke belakang takut dia


jatuh.


“Catrin kamu kenapa kasar banget sih,


biarin saja dia mau berkata apa toh saya nggak keberatan.” Kata Gilang.


“Tapi bos, itu bikin dia ngelunjak.”


Catrin semakin nggak terima Gilang membela Gita.


Gilang berjongkok siap menggendong Gita,


Gita dengan wajah tersenyum mengejek ke arah Catrin. Gilang mengangkat Gita


lalu berjalan segera mengejar sunrice seperti yang Gita mau.


“Di bilangin nggak percaya, kalau aku


kepalanya di punggung Gilang. Dia kembali tertidur nyenyak dalam gendongan


Gilang.


“Kamu sebenarnya ngigau apa mabuk,


bisa-bisanya nggak sadar mengaku di depan orang.” Gilang tersenyum.


“Vian gendong gue.” Fara juga melebarkan


tangannya.


“Ogah.” Vian langsung lari.


“Vian...” Fara berlari mengejar Vian.


“Nggak bisa di biarin ini mah, gue harus


segera menyiingkirkan Gita sebelum bos Gilang di gaet sama Gita.


Semua mata terpana, sampai mulut bengong


saat melihat Gita dalam gendongan Gilang. Win mulai ketar-ketir lagi dengan


anak buahnya itu.


“Bikin ulah apa lagi itu anak.” Kata


Win.


“Gue juga nggak tahu, kenapa dia bisa


bersama bos.” Ina ikut panik.


“Berani banget emang satu anak itu, mana


bos biasa aja lagi mukanya. Win buruan ambil dia nanti bisa-bisa kehilangan


satu anggota lagi.” Suruh Nino.


“Bos..bos..” Panggil Win.


“Ada apa?” tanya Gilang datar.


“Biar saya saja yang gendong Gita.”


Pinta Win. Gilang menghentikan langkahnya, dan menatap Win tajam.

__ADS_1


“Kenapa memang, kamu meragukan kekuatan


saja menggendong dia?” tanya Gilang.


“Bukan begitu, maksud saya..”


“Ina.. sini kamu.” Panggil Gilang.


“Iya Bos, ada apa ya?” Ina panik.


“Naik ke punggung Win.” Suruh Gilang.


“Saya?” Ina menunjuk dirinya dengan muka


panik. Bagaimana bisa Gilang menyuruhnya naik kepunggung Win.


“Iya kamu, buruan. Win, kita lomba


sampai atas jangan sepelakan saya.” Kata Gilang.


“Iya Bos.” Win mengkode agar Ina naik ke


atas punggungnya. Dan mereka pun berlomba menggendong cewek.


Fara berdesis sambil geleng kepala, “Bos


kita menag rada-rada ya.” Gita menoleh ke arah Nino.


“Sungguh keajaiban nih buat Ina.” Sahut


Nino.


Sesampai di tempat Gilang langsung


membangunkan Gita, “Sayang bangun.” Bisik Gilang dengan terengah-engah karena


cepek. Gita membuka matanya perlahan dan dengan kaget dia langsung turun dari


punggung Gilang.


“Nggak usah berlagak sok kaget, lo emang


sengaja kan minta gendong bos. Perempuan nggak tahu diri.” Catrin kesal.


“Ih..nyinyir saja kalau emang sengaja


kenapa. Lo irikan.”


“Aaaaaaah....” seru Gita saat telinganya


di jewer sama Lila.


“Lihat gara-gara lo bos jadi capek, lo


ya sebentar saja nggak bikin masalah bisa nggak sih.” Lila memarahi Gita.


“Udah Lila, sekarang kalian bebas mau jalan-jalan


sambil ambil foto jangan hiraukan saya. Kamu juga Lila nikmatin sama yang lain.”


Kata Gilang.


“Baik Bos.”


Mereka semua langsung menyebar, untuk


mendapatkan moment yang sangat epik. Gilang duduk menselonjorkan kakinya dia


memang sangat capek.


“Bos, ini minum dulu.” Catrin membawakan


minuman untuk Gilang.


“Makasih.”


“Iya Bos, em..boleh minta foto sama bos?”


Catrin mulai modus.


“Nanti kita akan foto bersama, lo gabung


saja sama yang lain.” Kata Gilang.


“Baik bos.”


Saat orang-orang berbaik badan mencari


tempat yang bagus buat foto, Gita berjalan mendekati Gilang dia memberikan


ciuman di pipi Gilang dengan cepat.


“Makasih sayang, I love you.” Bisik Gita


lalu berlari bergabung bersama yang lain.


“I love you too.” Jawab Gilang.

__ADS_1


__ADS_2