
Terdengar ketukan pintu kamar Gita dan
Fara yang sangat nyaring. Gita meregangkan kedua tangannya saat sayup-sayup
mendengar ketukan.
“Far, siapa tuh pagi-pagi udah
ketuk-ketuk pintu.” Kata Gita sembari membalikan tubuhnya sembari memeluk
gulingnya.
“Nggak tahu, biarin aja.” Kata Fara. Dia
juga males beranjak karena masih sangat pagi. Matahari saja baru siap-siap saja
belum rencana mau nongol. Selesai berdiskusi mereka meneruskan tidurnya lagi.
Deeerrrttzzz.....deeerrrrrttzzzz....
ponsel Gita dan Fara berbunyi bersamaan mana terdengar sangat nyaring membuat
mereka berdua langsung duduk.
“Ya Tuhan, ini kenapa pada berisik sih.”
Kata Gita sambil mengangkat telpon.
“Halo, Mas Win ada apa pagi-pagi udah
tidur.” Kata Gita tanpa di sadari.
“Kok tidur sih.” Fara menyenggol tubuh
Gita lalu mengusap telponnya untuk mengangkat panggilan dari Ina.
“Eh..maksud Gita udah bangunin.” Gita
membenarkan ucapannya.
“Kalian berdua buruan bangun, udah di
tungguin nih kita kan mau jogging bareng.” Kata Win.
“Mas, boleh nggak kalau nggak ikut.”
“Semua harus ikut, buruan turun atau
gaji kalian mau di potong.” Ancam Win.
“Iya..iyaa.. ok lima menit lagi kita
turun.” Kata Gita langsung mematikkan sambungan telponnya.
“Kita ini kan kerja ya, kenapa kelihatanya
kayak lagi sekolah dan berkemah mana ada jogging bareng lagi.” Keluh Gita.
“Nggak tahu lagi deh, mana ngancam
potong jagi lagi.” Fara juga ikut mengeluh.
Gita dan Fara adalah orang yang paling
malas kalau disuruh bangun pagi, apalagi harus jogging atau kegiatan apalah.
Mereka berdua memilih rebahan dan bangun di jam yang sangat mepet.
Fara dan Gita masih memakai piyama,
sendah hotel dan juga jaket. Mereka berdua benar-benar nggak ada niatan untuk
ikutan.
“Kalian ini kenapa masih pakai piyama
sih, kita mau jogging.” Kata Win, dia geleng kepaka melihat kelakuan Gita dan
Fara.
“Yang penting kan kita sudah ikut Mas
Win.” Kata Gita malas.
“Ikut ya ikut, tapi baju kalian itu
nggak sesuai mana nggak pakai sepatu lagi.” Omel. Ina seperti emak di dalam
team Win, selalu saja ngomel kalau ada anaknya yang tidak sesuai aturan. “Ini lagi
sama saja.” Ina menggelng kepala saat Vian datang juga masih pakai piyama.
“Seaneh ini kah tim lo Mas Win, kalau
gue jadi lo udah loncat ke tebing.” Catrin berjalan melewati Win dan yang lain
dengan tatapan menghina.
__ADS_1
“Ayo-ayo buruan nanti kesiangan!” teriak
Lila yang baru saja datang bersama Gilang.
Mereka pun langsung berlari, Gita, Fara
dan Vian paling belakang karena ogah-ogahan. Mata mereka bertiga masih sangat lengket.
“Ayo buruan, katanya tadi malam kalian
mau melihat sunrise.” Kata Gilang yang memperlambat larinya hingga bersejajar
dengan Gita, Fara dan Vian.
“Iya, Gita msih malas. Gendong.” Kata
Gita sambil melebarkan kedua tangannya.
“Heh...heh... gendong emang lo siapa
minta gendong bos Gilang.” Catrin berbalik badan. Dia tidak akan membiyarkan
Gita menggoda Gilang.
“Gue itu calon istrinya.” Kata Gita sambil menauh kedua tangannya di
dada.
“Sadar lo! Mabok ya.” Catrin sedikit
mendorong Gita, dan Gilang langung melangkahkan kakinya ke belakang takut dia
jatuh.
“Catrin kamu kenapa kasar banget sih,
biarin saja dia mau berkata apa toh saya nggak keberatan.” Kata Gilang.
“Tapi bos, itu bikin dia ngelunjak.”
Catrin semakin nggak terima Gilang membela Gita.
Gilang berjongkok siap menggendong Gita,
Gita dengan wajah tersenyum mengejek ke arah Catrin. Gilang mengangkat Gita
lalu berjalan segera mengejar sunrice seperti yang Gita mau.
“Di bilangin nggak percaya, kalau aku
kepalanya di punggung Gilang. Dia kembali tertidur nyenyak dalam gendongan
Gilang.
“Kamu sebenarnya ngigau apa mabuk,
bisa-bisanya nggak sadar mengaku di depan orang.” Gilang tersenyum.
“Vian gendong gue.” Fara juga melebarkan
tangannya.
“Ogah.” Vian langsung lari.
“Vian...” Fara berlari mengejar Vian.
“Nggak bisa di biarin ini mah, gue harus
segera menyiingkirkan Gita sebelum bos Gilang di gaet sama Gita.
Semua mata terpana, sampai mulut bengong
saat melihat Gita dalam gendongan Gilang. Win mulai ketar-ketir lagi dengan
anak buahnya itu.
“Bikin ulah apa lagi itu anak.” Kata
Win.
“Gue juga nggak tahu, kenapa dia bisa
bersama bos.” Ina ikut panik.
“Berani banget emang satu anak itu, mana
bos biasa aja lagi mukanya. Win buruan ambil dia nanti bisa-bisa kehilangan
satu anggota lagi.” Suruh Nino.
“Bos..bos..” Panggil Win.
“Ada apa?” tanya Gilang datar.
“Biar saya saja yang gendong Gita.”
Pinta Win. Gilang menghentikan langkahnya, dan menatap Win tajam.
__ADS_1
“Kenapa memang, kamu meragukan kekuatan
saja menggendong dia?” tanya Gilang.
“Bukan begitu, maksud saya..”
“Ina.. sini kamu.” Panggil Gilang.
“Iya Bos, ada apa ya?” Ina panik.
“Naik ke punggung Win.” Suruh Gilang.
“Saya?” Ina menunjuk dirinya dengan muka
panik. Bagaimana bisa Gilang menyuruhnya naik kepunggung Win.
“Iya kamu, buruan. Win, kita lomba
sampai atas jangan sepelakan saya.” Kata Gilang.
“Iya Bos.” Win mengkode agar Ina naik ke
atas punggungnya. Dan mereka pun berlomba menggendong cewek.
Fara berdesis sambil geleng kepala, “Bos
kita menag rada-rada ya.” Gita menoleh ke arah Nino.
“Sungguh keajaiban nih buat Ina.” Sahut
Nino.
Sesampai di tempat Gilang langsung
membangunkan Gita, “Sayang bangun.” Bisik Gilang dengan terengah-engah karena
cepek. Gita membuka matanya perlahan dan dengan kaget dia langsung turun dari
punggung Gilang.
“Nggak usah berlagak sok kaget, lo emang
sengaja kan minta gendong bos. Perempuan nggak tahu diri.” Catrin kesal.
“Ih..nyinyir saja kalau emang sengaja
kenapa. Lo irikan.”
“Aaaaaaah....” seru Gita saat telinganya
di jewer sama Lila.
“Lihat gara-gara lo bos jadi capek, lo
ya sebentar saja nggak bikin masalah bisa nggak sih.” Lila memarahi Gita.
“Udah Lila, sekarang kalian bebas mau jalan-jalan
sambil ambil foto jangan hiraukan saya. Kamu juga Lila nikmatin sama yang lain.”
Kata Gilang.
“Baik Bos.”
Mereka semua langsung menyebar, untuk
mendapatkan moment yang sangat epik. Gilang duduk menselonjorkan kakinya dia
memang sangat capek.
“Bos, ini minum dulu.” Catrin membawakan
minuman untuk Gilang.
“Makasih.”
“Iya Bos, em..boleh minta foto sama bos?”
Catrin mulai modus.
“Nanti kita akan foto bersama, lo gabung
saja sama yang lain.” Kata Gilang.
“Baik bos.”
Saat orang-orang berbaik badan mencari
tempat yang bagus buat foto, Gita berjalan mendekati Gilang dia memberikan
ciuman di pipi Gilang dengan cepat.
“Makasih sayang, I love you.” Bisik Gita
lalu berlari bergabung bersama yang lain.
“I love you too.” Jawab Gilang.
__ADS_1