
Pengumuman kelulusan kelas XII sudah keluar, Gita ikut was-was dengan hasil milik Qila.
“Raka, gue kok jadi deg-degan gini ya.” Gita memegangi dadanya.
“Kalau lo nggak deg-degan gue yang takut.” Jawab Raka santai. Gita langsung menggaplok Raka. Raka nyengir sambil memegangi lengannya yang terasa pedas.
“Mamangnya gue salah?” Raka mengangkat dua tangannya.
“Mama mana sih nggak keluar-keluar semakin penasaran tahu.” Kata Gita.
Baru saja Gita selesai bicara Mamanya bersama Qila keluar kelas dan berjalan menuju Gita dan Raka.
“Kak, gimana hasilnya?” Gita kepo.
“Gue lulus!” teriak Qila sambil memeluk erat Gita. Gita pun langsung teriak bahagia.
“Selamat Kak, akhirnya mau jadi anak kuliahan.” Kata Gita.
“Iya dong.” Katanya dengan bangga.
“Selamat ya Kak, wah nggak bisa lagi nih minta jajan sama Kak Qila lagi kalau uang saku habis.” Kata Raka sambil peluk Raka.
“Dasar lo,”
“Dan ini paling penting, Kak Qila dapat peringkat satu satu sekolah.” Kata Wanda.
“Beneran Ma?”
“Iya, masa mama bohong.”
“Wah.. keren.” Kata Gita sama Raka barengan meskipun dia tahu persis kalau memang Qila pintar dan selalu saja peringkat pertama.Namun mereka berdua selalu histeris kalau kakaknya itu peringkah satu.
“Kalian berdua harus contoh Kak Qila, jangan peringkat satu dari belakang terus.”
“Iya Ma.” Jawab Raka dan Gita bareng. Raka sekarang ikutan memanggil mama kepada Wanda yang lebih tepatnya kakak dari mamanya.
“Ma, Raka mau lihat hasil kinerja Raka dulu ya.” Raka mengkode Gita agar mereka
tidak di ceramahi lebih lama sama Wanda.
“Iya Ma. Gita juga.” Mereka berdua kabur bersamaan.
“Gitu tuh kalau lagi di nasehatin main kabur saja.” Ujar Wanda.
“Biarin saja Ma, jangan paksain mereka seperti Qila. Kasihan, nanti tertekan sakit kan malah mama yang repot.” Jelas Qila sama mamanya.
“Iya, mama juga tahu.”
...♡◇◇◇♡...
Gita dan Raka berlari ke mading untuk melihat peringkat masing-masing. Namun yang pertama dia cari bukan peringkatnya melainkan milik Gilang. Dia menggeser
tubuhnya lalu menyusup dianatar orang-orang yang ada di depan.
“Misi..permisi.” Kata Gita. Dia melihat barisan pertama , Gita langsung senyum-senyum bahagia. Kemudian dia mundur lagi perlahan.
“Woi.. kenapa senyum-senyum?” Tanya Fara.
“Peringkat Kak Gilang nomor satu.” Katanya heboh.
“Jangan terlalu bahagia dulu, lihat peringkat lo.” Raka menarik tas Gita dan untuk melihat peringkatnya. Dan lagi dia tidak masuk ke lima puluh besar.
“Siap-siap nih nanti mama ngomel kata Raka.”
“Seenggaknya gue naik peringkat, kemarin delapan puluh sekarang lima puluh satu.” Kata Gita sambil merenges.
__ADS_1
“Dan kenapa gue selalu di bawah kalian.” Fara jengkel dengan dirinya sendiri.
“Ya lo emang nggak boleh diatas kita.” Kata Raka sambil tersenyum mengejek. Fara
manyun lalu menabok Raka karena kesal.
“Anita, lo hebat.” Gita mengacungkan jempolnya saat Anita masuk di dua puluh besar satu sekolah.
“Thanks, gue juga nggak nyangka peringkat gue naik.” Anita sangat heboh.
“Vian lo peringkat berapa?” Tanya Fara.
“Tujuh puluh.” Katanya dengan sedih.
“Tidak usah sedih, besok kita belajar lebih giat lagi.” Gita sok bijak.
“Sok rajin lo suruh yang lain belajar lebih giat lonya saja malas.” Raka menyentil
kening Gita, Gita nyengir.
“Ke kantin yuk, untuk merayakan keberhasilan kita yang masuk seratus besar nih.” Kata Raka.
“Ok, siap.” Kata Vian.
“Kalian ke kantin dulu nanti gue susul, gue mau cari Kak Gilang dulu.” Gita pergi
mencari Gilang.
Gita menuju kelas Gilang, seperti biasa
Gita mengintip dari jendela. Dia mengambil ponselnya saat melihat Gilang sedang
membaca buku di kelas.
...Gita...
Gilang membuka pesandari Gita langsung menoleh ke jendela seperti intruksi Gita.
Gilang menaruh bukunya lalu beranjak keluar.
“Sedang belajarkah?” tanya Gita.
“Tidak, hanya sekedar membaca menunggu jam pulang.” Kata Gita.
“Ah.. sekedar membaca. Orang jenius mah membaca pelajaran saja hanya sekedar.
Terdengar sangat sombong di depan murid kayak gue ya.” Gumam Gita pelan namun
Gilang masih bisa mendengar gerutuan Gita.
“Ada Apa kesini?” tanya Gilang.
“Em, nggak ada apa-apa cuma mau memberikan selamat saja karena juara pertama.” Kata Gita sambil mengulurkan tangannya. Gilang menerima uluran tangan Gita lalu menggenggam tangan Gita.
“Apa cuma selamat saja?”
“Ah.. kita sedang makan di kantin kak Gilang mau ikut. Kali ini biar Gita yang
traktir karena Kak Gilang dapat peringkat pertama.” Gita antusias.
“Baik.” Gilang dan Gita pergi ke kantin menyusul yang lain.
Sesampai di kantin mereka berdua dapat sambutan meriah dari sahabat-sahabatnya.
“Cuople terbuncin sudah datang.”Kata Fara.
__ADS_1
“Orang paling iri baru saja berbicara.” Jawab Gita sambil duduk di sebelah Fara. Fara menpuk punggung tanga Gita sambil manyun.
“Kalian pesan makanan banyak sekali?” Tanya Gilang.
“Iya, ini sebagai perayakan peningkatan hasil kita belajar.” Jawab Anita.
“Oiya, berapa peringkat lo?”
“Tujuh belas.”
“Bagus, kalian?” Gilang melihat bergantian kearah teman-temannya.
“Lima puluh dua.” Jawab Raka.
“Lima puluh tiga.” Jawab Fara.
“Gita?”
“Lima puluh satu.”
“Kalian bertiga saling mencontek ya?” Tuduh Gilang.
“Tidak, tempat kita jauh.” Jawab Fara.
“Gue tujuh puluh.” Kata Vian terdengar sudah pede dari tadi saat pertama kali
melihat.
Gilang mengehela napas panjang mendengar peringkat sahabat-sahabatnya.
“Nggak usah kaget gitu Lang, lagian ini pencapaian kita yang sangat luar biasa. Kita bisa masuk ke seratus besar berkat lo.” Kata Raka.
“Iya, maaf kalau mengecewakan Kak Gilang.” Tambah Gita.
Gilang mengangkat kepalanya sambil tersenyum, “Gue nggak kecewa, baguslah kalau ada peningkatan. Kalian harus lebih giat lagi belajar agar bisa masuk lima puluh
besar. Meskipun nggak mudah tapi gue yakin kalau kalian ada kemauan pasti ada
jalan bukan.”
“Iya, gue saja yang awalnya di lima puluh besar sekarang masuk dua puluh besar.” Kata Anita.
“Contoh dia.” Gilang meminta agar yang lain bisa seperti Anita.
“Gimana mau mencontoh, dia aja pelit.”
“Mencontoh belajarnya bukan mencontek jawaban saat ujian.” Kata Gilang sambil menyolek
hidung Gita.
“Oh.. ngobrol dong.” Gita terkekeh.
“Makan-makan yuk, keburu dingin ini semua pesanan kita.” Kata Raka.
“Selamat makan.” Seru Gita.
Gilang tersenyum, dia tidak kecewa dengan hasil belajat sahabat-sahabatnya itu. Dia
juga paham tidak ada yang instan baru belajar satu minggu langsung bisa menjadi
peringkat pertama.
Gilang juga sangat senang dengan mereka yang tak patah semangat untuk menghasilkan nilai yang maksimal. Yang terpenting orang seperti mereka yang di kagumi Gilang karena sangat solit. Mereka tidak memandang apapun saat berteman, mereka sangat tulus.
“kak, kenapa bengong?” tanya Gita.
__ADS_1
“Nggak.” Gilang menarik mangkok berisikan bakso agar lebih dekat dengannya.