
“Ngapain lo kesini?” Tanya Gilang sewot.
“Ya jagain lo lah, takutnya lo patah hati terus lompat ke jembatan, atau nggak lo pasang badan di tengah jalan kan ngeri. Tiba-tiba ada berita seorang anak SMA mati tertabrak truk karena patah hati. Nggak lucu kan.” Goda Raka sambil tertawa puas.
“Nggak lucu sama sekali, pergi lo sono.” Kata Gilang.
“Ok gue pergi, sebenarnya gue lebih suka Gita sama lo dari pada Devan. Tapi ya
sudahlah..” Raka beranjak pergi meninggalkan tempat sesuai permintaan Gilang.
“Raka tunggu, maksud lo apa?”
“Yah, gue kesini mau dukung lo untuk deketin Gita. Tapi karena lo nggak suka ya udah
gue balik aja. Nggak jadi.” Raka meruskan jalannya.
“Raka..Raka.. tunggu.” Gilang menghalangi jalan Raka.
“Apa?”
“Lo nggak ngerjain gue kan?” Gilang menatap Raka penuh curiga.
“Ya sudah kalau lo nggak percaya.”
“Tapi kenapa lo dulu nggak bolehin gue deket sama dia,”
“Ya karena gue belum tahu siapa lo, gue nggak akan sembarangan melepaskan kesayangan gue sama orang.” Kata Raka.
“Lo nggak cemburu.”
“Nggak sama sekali.” Katanya.
“Ka, jadi boleh gue deket sama dia dan lo mau bantuin gue?” tanya Gilang seakan
semua betenya hilang. Dia seperti mendapat pendukung dari orang dalam.
“Ok, tapi gue hanya bisa memberikan bantuan cara mendekati bukan menjodohkan kalian. Dan gue mau lo sama Devan bersaing sehat.” Kata Raka.
“Iya, gue setuju. Gue minta kontak ponsel lo.” Kata Gilang Girang.
...◇◇◇◇◇...
Gita duduk di depan kaca rias sambil senyam-senyum, dia memainkan rambutnya yang di atas bahu. Pipinya rasanya kaku karena terus tersenyum.
“Kenapa lo Ta senyum-senyum kayak orang gila gitu?” tanya Qila.
“Kak ingat Devan nggak?” tanya Gita sambil berjalan untuk duduk di sebelah Qila di
atas kasur.
“Ya, kenapa?”
“Dia tuh manis banget, tadi dia perlakukan Gita seperti pacarnya. Sepertinya sebantar lagi gue nggak akan jomblo deh.” Gita berguling ke kasur saking girangnya.
“Nggak usah gr dulu lo Ta, siapa tahu dia cuma ngetes lo doang.” Raka mendorong pintu
masuk ke kamar dan langsung loncak ke kasur.
“Brisik, lo irikan gue di perhatikan Devan kayak gitu.”
“Ih..kenapa gue iri. Lagian kalau lo emang beneran punya pacar gue senang beban gue
ilang.” Kata Raka sambil menarik bantal guling yang di pegang Gita.
“Jadi maksud lo gue ini beban buat lo?” Gita memukul Raka.
__ADS_1
“Iya.” Kata Raka keras-keras.
“Udah jangan pada berantem, buruan kalian belajar minggu depan udah ulangan semesterkan.” Nasehat Qila.
“Kan masih minggu depan Ka, lagian bentar lagi kita libur buat ujian kakak.” Gita membantah untuk belajar.
“Iya, belajar itu membuat otak gue mau pecah.”
“Kebiasaan kalian ya kalau di suruh belajar ada aja alasannya, nanti gue bilangin mama loh.” Ancam Qila ketika kedua adiknya itu nggak mau belajar.
“Iya..iya kita belajar.” Gita mengambil buku sedangkan Raka kabur kembali ke habitatnya yaitu kamarnya tercinta. Tapi tak selang lama Gita menyusul Raka dengan alasan ada yang nggak tahu dan di tanyakan sama Raka. Dan akhirnya mereka berdua rebahan di kamar sambil main ponsel masing-masing.
Ting!
Pesan masuk dari Devan
...Devan...
...Hai, Git lagi apa?...
...Gita...
...Lagi main hp aja sambil rebahan sama Raka...
...Devan...
...Em.. apa kabar keluarga?...
...Oiya.. Kak Qila satu sekolah juga ya sama kita...
...Gita...
...Baik.bIya, baru tahu lo ya...
...Devan...
...Gita...
...Iya, kaka gue mah emang gitu semakin dewasa semakin canti. Kaya gue wkwkkw...
...Devan...
...Hahah iya, lo sama kakak lo sama-sama cantik....
...Malam ini besok apa ada acara?...
...Gita...
...Nggak, gimana?...
...Devan...
...Jalan yuk....
“Aaaaaaaaaaa!” Gita menaruh ponselnya lalu teriak heboh.
“Apaan sih lo Ta. Brisik!” Raka memakai earphone.
“Ka..ka... dengar Devan ngajak gue kencan.” Gita menggoyangkan tubuh Raka.
“Kencan?” Raka menatap Gita dengan malas lalu ke ponselnya lagi.
Gita langsung cabut ke kamar Qila untuk meminjam pakaian untuk di kenangkan nanti malam jalan sama Devan.
“Ngapain lo Ta.?”
__ADS_1
“Ka pinjem baju buat pergi nanti malam.” Gita memilih-milih baju milik Qila. Qila hanya diem saja karena sebantar lagi dia akan balik lagi ke kamarnya. Karena dia sok-sokan mau pinjam padahal tubuhnya sama kakanya beda jauh.
“Ih... ini bagus banget pingin pakai ini. Ah.. tapi kenapa kecil banget.” Gita merengut lalu duduk di sebelah Qila.
“Ya lo juga udah tahu badan lo gede gini mau pinjam punya gue, makanya diet sedikit
biar kita bisa gantian.” Kata Gita.
“Gita diet juga buat apa, orang Devan aja bilang kalau Gita nggak perlu diet.” Kata
Gita dengan pede.
“Ta, diet itu bukan hanya untuk orang tapi kesehatan lo juga.” Qila menasehati Gita.
“Iya..iya..” Gita keluar kamar Qila sebelum di nasehati semakin banyak. Dia paling nggak suka jika membahas tentang diet. Dia percaya dengan fisiknya. Dia orangnya tidak terlalu ementingkan fisik dan juga tidak baperan jadi kalau di katain ya biasa aja.
Dia membongkar lemarinya, mencari baju yang bagus untuk ketemua sama Devan.
“Mana yang bagus ya...” Gita memilih-milih bajunya.
“Raka!” teriak Gita dari kamarnya sampai ke kamar Raka.
“Apa sih lo senang banget teriak-teriak.” Kata Raka kesel.
“Bagus yang mana?” Gita menunjukan rok kotak-kotak di atas lutut sama celana pendek di atas lutut juga.
“Nggak ada yang bagus, gue pilihin sih.” Raka menarik tangan Gita.
Raka mulai mencari baju yang pas buat Gita, dia nggak mau kalau Gita jalan sama
Devan pakai baju yang pendek.
“Nih aja.” Raka mengambilkan celana jeans panjang sama kaos panjang.
“Kok kaya gue main sama lo?” Gita nggak suka.
“Udah deh nggak usah pakai yang sexy-sexy lo jalan nggak sama gue.” Kata Raka.
“Raka, gue kan pingin tampil cantik di depan Devan masa ya gue harus pakai baju main
sama kalau pergi sama lo.” Protes Gita.
“Gini aja lo cantik kok mau kayak gimana lagi.”
“Ihh... udah sana pergi. Percuma tahu minta pendapat lo itu.” Gita mengusir Raka keluar
dari kamarnya.
“Ta, gue kasih tahu sama lo ya. Cowok itu kalau benar-benar suka sama lo dia akan
terima apa adanya. Dia nggak akan protes sama dandanan lo yang sederhana tanpa
harus pura-pura cantik.” Kata Raka saat dia di dorong Gita keluar kamarnya.
“Ya seenggaknya gue kasih kesan awal yang bagus kan masa ya yang blangsak nanti yang ada dia nggak jadi suka sama gue.” Omel Gita.
“Dikasih tahu ngeyel ya sudah terserah lo.”
“Lo mau apa adik lo yang biasa aja ini punya
pacar.” Gita manyun.
“Lebih baik jomblo bahagia daripada punya pacar bikin sakit hati doang.” Jawab Raka
sambil meninggalkan kamar Gita.
__ADS_1