
Gita menggaruk-garuk kepalanya saat mendengar ponselnya berdering, dia mematikan alarm yang dia setting sendiri sebelum tidur. Namun pada akhirnya hanya dia abaikan dan lebih memilik kembali menarik selimutnya lagi, matanya belum mau terbuka.Jiwanya masih ingin berkeliaran di dunia mimpi.
Deeerrrttzzzz.....Deeerrrrtzzzz..... Deeerrrrtzzzz....
Ponselnya berdering tanda panggilan masuk, Gita mengambil bantal gulingnya lalu menutup rapat wajahnya.
“Jangan ganggu, gue masih mau tidur.” Katanya sambil menunjuk sembarangan.
Gita mengabaikan semua panggilan dan pesan masuk ke ponselnya, hari ini dia lelah
banget karena nonton drama korea sampai pagi. Dia sudah tidak kenal waktu kalau
sudah menonton, bahkan dia bisa lupa membalas pesan Gilang.
Deerrtzz...deeerrttt...deeerrrzzz....
Ponsel Gita tak berhenti berbunyi, membuat Gita kesal dan harus membuka matanya untuk melihatnya. Gita menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya di
telingannya.
“Haloo.. iya gue bangun Raka. Tapi sebentar lagi, lima menit lagi. Atau kalu nggak lo
boleh berangkat duluan.” Katanya dengan suaranya yang masih serak-serak.
“Sayang..” panggil Gilang lembut.
Panggilan halus itu seketika membuat kedua mata Gita terbuka lebar, lalu menarik
ponselnya dari telinga. Dia melihat layar ponselnya, dan bodohnya lagi ternyata
Gilang video call tapi dia menempelkannya di telinga.
“Kak Gilang.” Gita merenges sambil merapikan rambutnya. Sekalian dia mengecek takut ada belek dan jigong di wajahnya.
“Selamat pagi sayangnya aku.” Gilang menyapa Gita.
“Pagi juga sayang.” Gita malu-malu karena dirinya baru bangun sedangkan Gilang sudah
berdandan rapi dengan jasnya.
“Buruan bangun terus mandi, sebentar lagi aku jemput kamu.”
“Aku-kamu?” Gita menahan senyumnya. Di telingannya masih terasa asing dengan sebutan aku kamu, karena selama ini mereka berdua hanya memamnggil lo gue saja meskipun pacaran.
“Iya, biar kita seperti yang lain romantis. Apa kamu nggak suka?” tanya Gilang.
“Suka kok.” Katanya dengan cepat takut Gilang berubah pikiran.
“Baiklah sayangku, sekarang buruan mandi nanti takut kamu terlambat kuliahnya.”
“Iya sayang.” Gita mematikan ponselnya lalu bergegas pergi mandi.
Gita berdiri di depan cermin sambil menggosok giginya, dia senyum-senyum nggak jelas. Dia merasa masih seperti mimpi bisa telponan bersama Gilang lagi . Bahkan dia semakin romantis dibandingkan semasa SMA. Sebelumnya dia menyangka kalau bakalan berhenti sampai di situ saja kisah cintanya bersama Gilang.
Plaak...plaak....
Gita menepuk pipinya lumayan keras untuk mengecek dirinya benar-benar sadar apa
__ADS_1
masih bermimpi.
“Ah.. sepertinya ini nyata. Gita bangun...” Dia mencoba mencubit pipinya lagi untuk semakin meyakinkan dirinya benar-benar sadar.
“Sakit juga, berarti ini beneran nggak berada di mimpi dalam mimpi kan.” Katanya lalu berkumur.
Gita mengeluarkan baju yang kemarin di beli bareng Fara. Gita memakai kemeja warna biru muda di padu dengan rok jeans pendek. Tidak lupa dia mengoleskan lipstik dengan warna kecoklatan hingga dia seperti tidak memakainya.
“Mbak Gita, sudah di tungguin Mas Gilang.” Panggil Bik Nana.
“Iya Bik.” Gita menyemprotkan parfun ke seluruh tubuhnya lalu bergegas keluar.
“Selamat pagi.” Sapa Gita sampai di teras.
“Pagi.” Jawab Gilang dengan mata yang sedikit lebar, pagi ini kekasih hatinya itu
terlihat sangat cantik dan lumayan dewasa. Dia berbeda dengan Gita yang masih seperti biasanya.
“Kak, nanti Gita mau ijin pergi sama Kak Farhan.” Gita menggigit bibir bawahnya takut dia tidak di ijinkan. “Kak Gilang jangan marah dulu, jadi dulu sebelum Kak
Gilang pulang Gita janji mau mengantar Kak Farhan ke toko buku. Gita tidak mau
punya hutang jadi kali ini aku sempartkan pergi biar cepat kelar.” Gita menjelaskan lebih detail.
“Jadi kamu dandan seperti ini karena mau pergi sama dia?” Gilang melipat kedua
tangannya.
“Memang dandanan Gita kenapa?” Gita bingung. Dia merasa tidak ada yang salah dalam berdandan.
“Buruan ganti baju, kalau tidak aku tidak akan megijinkan kamu pergi sama dia.” Kata
“Tapi Kak, memangnya kenapa dengan dandanan Gita.” Gita masih meminta alasan sama Gilang.
“Sudah nggak usah banyak tanya, sekarang pakai kaos sama celana panjang saja.” Kata
Gilang. Dia tidak mau Gita terlihat cantik saat tidak bersamannya.Dia juga
tidak suka melihat Gita memakai pakaian yang pendek. Gita belum juga bergegas
berganti, dia masih bingung dengan permintaan Gilang.
“Buruan ganti baju atau kamu nggak boleh pergi.” Ujar Gilang.
“Iya..iya...” Gta langsung bergegas berganti baju.
Gita menarik pintu mobil Gilang dan langsung masuk, saat Gita selesai memakai sabuk pengaman Gilang menyodorkan bekal sarapan.
“Sarapan dulu.”
Gita tersenyum sambil menerima kotak bekal, dia membukanya lalu memakan satu
sandwich kesukaanya. Sudah lama sekali dia tidak memanaka sadwich yang di bawakan sama Gilang.
“Hhhmmm,enak banget.” Katanya.
“Syukurlah,kalau kamu masih suka.”
__ADS_1
“Tentu saja masih suka, tapi harusnya kan aku yang buat sarapan untuk Kak Gilang. Tapi kenapa ini kebalikannya. Apa jiwa kita tertukar ya?” Pertanyan konyol mulai
keluar dari mulut Gita.
Gilang terkekeh, “ Tertukar bagaimana?”
“Ya kan harusnya hal-hal kecil itu di lakukan perempuan. Membuat sarapan,
membangunkan tidur, mengingatkan tidur, nggak boleh begadang, dan jangan lupa
belajar begitu. Tapi ini..ah.. dasar aku memang cewek aneh dan tak berguna.”
Gita kembali menggerutu kepada dirinya sendiri.
“Heh.. ngomong apa sih. Kamu itu sangat berguna bagiku. Lagian aku juga nggak
keberatan melakukan semua itu.” Gilang mengusap rambut Gita lembut.
Gita dan Gilang saling bertatapan sebentar kemudian mereka fokus ke depan lagi. Gita
merasa sangat beruntung kembali di pertemukan dengan Gilang lagi. Perhatian
Gilang yang dulu benar-benar tidak pernah hilang. Meskipun dia sudah lama pergi
namun dia tetap Gilang yang sama hanya berubah menjadi sangat tampan dan
pintar.
Dan sejenak keheningan itu mengantarkan Gita kembali ke dunia mimpinya. Dia masih sangat mengantuk, meskipun sudah mandi masih saja dia tak bisa menahan rasa kantuknya.
"Sayang bangun." Bisik Gilang. Gita meregangkan kedua tangannya.
"Udah sampai ya?" tanyanya sambil menguap.
"Tidur jam berapa?" tanya Gilang.
"Jam setengah dua." Jawab Gita dengan lancarnya. Dia tidar sadar kalau yang bertanya itu Gilang dan pastinya dia akan dapat masalah.
"Ooo... jadi gitu." Gilang menjewer telinga Gita.
“Hehe.. khilaf, kakau gitu aku pergi dulu ya Kak.” Kata Gita hendak melarikan diri.
Gilang mengangguk, “Belajar yang benar, nanti telpon atau whatsapp aku jemput
pulangnya.”
“Siap komandan.” Gita melepas sabuk pengamannya.
“Gita tunggu..” Panggil Gilang lagi.
“Apa?”
“Ingat ya, nggak boleh dekat-dekat sama itu siapa teman kamu, jangan pegang tangan jarak satu meter. Jangan menciptakan suasana romantis. Mengerti.”
Gita bengong dulu dengan permintaan Gilang yang menurutnya terlalu berlebihan.
“Dimengerti komandan.” Gita melambaikan tangan lalu menutup pintu mobinya.
__ADS_1
“Menciptakan suasana romantis, apa itu?” Gumam Gita masih sambil berpikir.