
Dua minggu setelah kedatangan Gilang ke rumah Gita, mereka langung menggelar acara pertunangan buat Gita dan Gilang. Gita sedang sibuk mempersiapkan diri untuk
malam pertunangannya. Dia ikut mengecek makanan, dekorasi.
“Sayang, kamu ngapain disini bukannya tidur ini udah malam loh.” Kata Genta yang masih sibuk mengontrol orang yang mendekorasi tempat acara.
“Gita nggak bisa tidur, jadi mau lihat hasilnya bagaimana.” jawabnya sambil memperhatikan orang-orang yang bekerja.
“Udah serahin saja semua sama Kakak, lagian kamu mau apa mata kamu itu hitam kayak mata panda.” Genta menunjuk area mata Gita.
“Nggak mau lah.” jawab Gita cepat.
“Ya makannya sana tidur.”
“Iye.” Gita berjalan pergi meninggalkan kakaknya. Namun dia tidak langsung pergi ke kamar melainkan ke dapur melihat persiapan untuk besok.
“Sayang, ngapain disini?” Wanda kaget melihat putrinya belum tidur.
“Gita nggak bisa tidur.” Gita duduk di samping mamanya.
“Mau gue bacain dongeng sebelum tidur?” Goda Qila sambil tertawa.
“Memangnya Gita anak kecil, Ma kenapa nggak catering aja sih lebih simpel daripada masak sendiri mana banyak begini.” Kata Gita.
“Ya mama mau aja di acara penting ini menyiapkan makanan sendiri meskipun banyak di bantu sama yang lain.” Kata Wanda.
“Nanti kalau mama capek, Kak Qila capek gimana?” Gita merasa kasihan sama keluarganya yang begitu terlihat capek karena antusias menyiapkan acara pertunangannya.
“Kamu tenang saja, mama akan baik-baik saja. Sudah sana tidur nanti wajah kamu
terlihat lesu loh pas acara.”
“Iya, besok ngantuk susah di bangunin. Masa ya aku yang suruh gantiin kamu.” Goda Qila kembali.
“Mana bisa. Awas saja kak Qila berani merebut Kak Gilang dari aku. Bakalan terjadi perang dunia ke lima belas.” Ancam Gita lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Gita mengambil ponselnya lalu video call sama Gilang, karena dia tidak bisa tidur
mau di paksa kaya apapun dia tidak bisa tidur.
“Halo sayang, kenapa belum tidur?” tanya Gilang.
“Kenapa semua orang menyuruh aku tidur?” Gita manyun sembari menghela napas panjang.
“Ini kan sudah malam, pastinya semua orang mau kamu tidur.”
“Kamu sendiri kenapa belum tidur?” Gita tanya balik.
“Aku masih ada kerjaan, dan harus selesai malam. Jadi selama acara aku bisa tenang
kan.” Kata Gilang sambil tersenyum.
“Terus aku ngapain sekarang?” tanya Gita. Dia tidak tahu harus ngapain, Fara sudah
pamit tidur saat dia telpon pertama sebelum dia turun menemui orang-orang dibawah. Sekarang telpon Gilang dia sedang sibuk lembur. Mau nonton drama korea tidak ada yang baru.
__ADS_1
“Temani saja aku lembur, kamu biarkan telponnya menyala dan kamu boleh ngapain aja.” Kata Gilang.
“Nanti kamu terganggu kalau aku ajak ngobrol.” Kata Gita.
“Nggak akan, kamu akan jadi semangat aku mana bisa kamu jadi pengganggu aku.” Gombal Gilang.
“Dasar tukang gombal, bisa saja nyenengin hati aku.” Gita merenges.
“Sayang, aku masih nggak menyangka ya kita besok mau tunangan.” Kata Gita lagi. Gilang menghentikan aktivitasnya sebentar, dia menoleh ke ponselnya untuk melihat ke
arah Gita.
“Iya, rasanya seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah.” Jawab Gilang.
“Tapi ini beneran kan bukan mimpi, aku takut kalau aku tidur dan bangun semuanya
kembali seperti hari-hari biasa.” Kata Gita.
“Ini bukan mimpi sayang, kita beneran akan tunangan dan menikah.” Kata Gilang.
“Kak Gilang, kalau kita sudah menikah apa Gita masih bisa kerja di perusahaan kak
Gilang.” Kata Gita hati-hati.
“Tentu saja boleh, kita akan merintis semuanya bareng-bareng. Oiya.. kamu jangan bilang perusahaan aku. Itu perusahaan kita berdua, karena apa yang aku punya itu milik kamu juga.” Kata Gilang.
“Sayang, kenapa kamu gampang banget ngomong semua milik berdua. Gimana kalau nanti semua itu aku hak milik sendiri kamu tidak punya apa-apa lagi. Dan bagaimaa kalau aku hanya memanfaatkannya dan meninggalkan kamu.” Kata Gita saat mendengar perkataan Gilang yang dengan mudahnya memberikan apa yang dia punya kepada dirinya.
“Memangnya kamu mau meninggalkan aku?” Gilang memelototkan kedua matanya.
“Nggak..sayang nggak. Tapi apa kamu nggak takut gitu kalau ada oppa-oppa yang bawa aku dan aku tidak bisa menolak bagaimana? Kamu nggak takut kayak di film-film uang kamu aku bawa kabur.” Gita merenges.
Ada-ada saja kamu. Dengar ya kalau ada yang berani bawa kamu kabur dari aku.
Sampai ujung dunia pun aku kejar. Dan jangan harap masih bisa bernapas dengan santai.” Kata Gilang mengancam Gita. Mendengar ancaman Gilang bukanya takut malah Gita tertawa dengan sangat puas.
...♡◇◇◇♡...
Gita membuka kedua matanya, sembari beberapa kali mengkedip-kedipkan matanya. Gita duduk lalu menggaruk-garuk kepalanya sembari menguap. Gita menarik ponselnya di
sampingnya. Dia melihat jam yang baru menunjukan pukul lima pagi.
“Ah.. kenapa gue bangun sepagi ini sih.” Gita menjatuhkan tubuhnya lagi.
“Eh.. gue kan mau tunangan sama Kak Gilang hari ini.” Gita kembali bangun dan berlari keluar kamarnya. Dia berlari dengan cepat menuruni tangga.
“Gita..Gita.. hati-hati kenapa kamu lari-lari?” Seno cemas melihat Gita lari-lari takut putrinya itu jatuh.
“Kamu kenapa sih kebiasaan banget lari-lari.” Wanda menjewer putrinya.
“Gita cuma ngecek aja.” Kata Gita sambil nyengir ternyata semua itu memang bukan
mimpi.
“Ngecek apa?” Wanda menggeleng kepala sambil kembali meneruskan pekerjaannya.
__ADS_1
“Pa..” Bisik Gita.
“Hem..”
“Gita beneran nih ya mau tunangan.” Katanya sambil memeluk papanya.
“Ya beneran, apa mau di batalin?” goda papanya.
“Ih.. jangan masa dibatalin sih Pa.” Gita merengek.
“Ya kamu pertanyaannya aneh. Memangnya kenapa?”
Gita menggelengkan kepala, “Masih nggak percaya aja, takut Gitanya masih mimpi.”
Kata Gita.
“Mau gue bangunin?” kata Raka yang sedang menuruni tangga.
“Ck.. perusak suasana saja lo.” Kata Gita.
“Katanya takut masih mimpi makanya gue bangunin, bener nggak pa?” Raka menggerakkan kedua alisnya.
“Jangan gangguin adeknya, nanti nangis loh.”
“Ih..papa, kapan coba Gita nangis?”
“Waktu bayi.” Seno menyubit hidung Gita. “Dah.. papa mau beberes dulu, kamu buruan
mandi siap-siap nanti mama ngomel loh.” kata Seno.
“Iya Pa.”
“Ta..”
“Apa?”
“Ikut gue yuk.”
“Kemana?”
“Gue mau kasih hadiah buat lo.”
“Mana? Apaan?” Gita menadahkan kedua tangannya dengan mata berbinar dan senyum lebar.
“Lo ikut gue dulu.” Raka menggandeng Gita mengajak keluar, dia kemudian mengeluarkan sepeda.
“Mau kemana sih pakai sepeda segala, nanti kalau di cariin mama gimana?”
“Bentaran doang, makanya buruan biar nggak kesiangan.”
“Tapi..” Gita menoleh ke dalam rumah.
“Udah buruan naik, mau hadiah nggak?”
“Iya mau.” Katanya sambil naik sepeda di bonceng sama Raka. “Tapi kalau nanti mama
__ADS_1
marah lo tanggung jawab ya.”
“Iya.. nanti gue tanggung jawab.” Kata Raka. Gita pun nurut sama Raka, dia membonceng Raka.