Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pesta Qila


__ADS_3

Gita duduk di kursi menghadap ke halaman yang sedang di hias dengan pernak-pernih ulang tahun.


"Makasih Ta." Qila memeluk Gita dari belakang.


"Makasih untuk apa?" Gita menoleh.


"Karena lo mau membujuk Gilang agar mau berdansa dengan gue. Ayoo.. gue tunjukin baju pesta yang akan gue pakai malam nanti." Qila menarik tangan Gita, dia membawanya di kamar.


"Taaaraaaa, bagus kan?" Qila memutarkan tubuhnya beserta baju berwarna pink.


"Iya bagus, kakak mah mau pakai apa juga bagus,catik. Udah ah gue mau turun." Gita memutar tubuhnya.


"Eh mau kemana sih?" Qila menarik tangan Gita.


"Mau turun bantu-bantu yang di bawah. Siapa tahu bapak-bapak yang dekorasi butuh bantuan gue megangin lampu atau bawa galon." Gita menyengir lalu terkekeh.


"Dasar, ya udah gih ganti semua galon milik tetangga juga sana."


"Laksanakan momandan, eits.. jangan lupa upahnya di taruh di atas kulkas." Kata Gita sambil keluar kamar.


"Ada-ada aja sih lo Ta." Qila menggeleng kepala lalu kembali menatap cermin.


Gita kembali melihat dekorasi yang sudah delapan puluh persen jadi. Dia memanyunkan bibirnya lalu tersenyum dengan tingkahnya sendiri.


"Pingin ya lo?" Raka datang dari belakang lalu merangkul Gita.


"B aja gue." jawabnya datar.


"Masa, lo udah persiapin diri belum?"


"Untuk?" Gita menatap Raka dengan tatapan heran.


"Buat melihat Kak Qila dansa sama Gilang."


"Apaan sih lo, lagian apaan yang harus gue persiapkan. Orang gue juga bukan apa-apanya dia." Gita menurunkan tangan Raka lalu pindah tempat.


"Emang sekarang bukan apa-apa, tapi sebentar lagi kan jadi apa-apa." Raka ngikutin Gita. Gita hanya melirik sambil berdecak kesal karena terus di panasin sama Raka. Gita teringat obrolan dengan Fara dan Anita tentang ciuman di pesta ulang tahun. Dia jadi ingin tahu pendapat versi cowoknya.


"Oiya Ka, gue mau tanya." Gita memutar badanya berhadapan dengan Raka.


"Tanya saja, selama gue masih hidup lo bolej tanya sepusnya dengan jawaban yang sangat memuaskan juga." Ujar Raka sambil menggerakan kedua aliasnya.


"Alay lo. Em.. kalau orang SMA kayak kita gini.."


"Orang SMA, orang apaan tuh?" Raka memotong pembicaraan Gita.


"Maksud gue anak SMA kayak kita." Gita menabok Raka.


"Iya, gitu aja ngegas."


"Dengerin makanya jengan motong mulu." Omel Gita.

__ADS_1


"Ok, gue dengerin." Raka duduk memperhatikan Gita dengan serius.


"Masa SMA kayak kita gini, kalau pas ulang tahun dan ada pesta dansanya apa mereka akan gitu..." Gita bingung meneruskan ucapanya.


"Gitu apa?"


"Gitu itu loh..." Gita memainkan jari telunjuk.


"Oh.. itu." Raka tersenyum jahil lalu menggerakan kedua alisnya. "Ya.. biasanya sih begitu. Awalnya mereka masih sungkan, lalu semakin mengikuti irama, suasana mulai nyaman. Mata saling beradu, tubuhnya mengikuti irama. Dan pada akhirnya mereka mendekat, semakin dekat dan..."


"Cukup!" Gita berdiri lalu pergi meninggalkan Raka. Melihat Gita yang menjadi kesal Raka tertawa. Dia hanya mengarang saja namun Gita terlalu menganggap serius.


Gita pergi ke kamarnya lalu mengunci pintu. Dia bersender di pintu dan membayangkan Gilang dan Qila ciuman.


Gita menggelengkan kepalanya cepat,"Nggak-nggak, Lebih baik gue tidur dari sekarang, biar nanti malam gue nggak lihat Kak Gilang sama Kak Qila." Gita menjatuhkan tubuh. Dia memakai earphone memutar musik keras-keras, lalu menyelimuti tubuhnya sampai kepala.


...♡♤♤♤♡...


"Ta.. bangun. Ini udah jam berapa?" Raka membangunkan Gita. Gita hanya menggeliat belum membuka matanya.


Gita menguap lalu membalikan tubuhnya ke kiri, "Apa sudah pagi?" tanya Gita dengan suara malas.


"Bangun, pesta kakak lo mau mulai." Raka menarik tangan Gita supaya bangun.


"Pesta?!" Gita kaget.


"Lo amnesia, hari ini kan ulang tahun Kak Qila."


"Buruan bangun, lo mau kakak Qila ngambek."


"Biasanya kan gue juga nggak datang." Gita menaikan selimutnya lagi.


"Ta, ini kan ulang tahun gue yang paling spesial masa lo nggak mau datang. Ini ulang tahun terakhir gue semasa SMA." Qila masuk dan memohon Gita agar mau ikut merayakannya.


Gita terdiam lalu menatap Raka. Raka mengkode agar Gita mau ikut merayakannya.


Gita menghela napas panjang, "Iya..iya. Gita ikut turun." Gita bangun lalu menarik handuk yang dia taruh di kursi.


"Makasih Gita, lo emang adik terbaik gue." Qila lari memeluk Gita.


"Iya, buruan deh dandan yang cantik sana. Gue mau mandi dulu." Gita pergi ke kamar mandi.


"Eits, kado buat gue mana?"


"Ya nanti!" teriak Gita dari dalam kamar mandi.


"Lo nggak siap-siap Raka?" tanya Qila.


"Gue mah gampang, tinggal mandi udah kelar nggak perlu bikin alis dan sejenisnya." Jawab Raka sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Ok deh, pokoknya jam tujuh kalian berdua sudah harus sudah turun."

__ADS_1


"Iya, kakak gue yang cantik jelita."


Setelah mandi depan cermin, dia bingung mau merias wajahnya.


"Udahlah gini aja." Gita berdiri lalu membuka lemari untuk memilih pakaian.


Tok...tok...tok...


"Gita, gue Fara sama Anita boleh masuk nggak?"


"Ya masuk aja."


"Eh.. lo kok belum dandan, acaranya kan sebentar lagi mau di mulai."


"Iya Nit, gue bingung gimana dandanya. Lo tahu sendiri kan gue nggak bisa dandan." Gita berhenti mencari pakaian dan memilih duduk bersama kedua sahabatnya.


"Git, buruan deh duduk sini." Anita meminta Gita duduk di depan cermin.


"Ngapain?" tanya Gita.


"Gue bakal buat semua orang terpana sama lo malam ini." Anita mengeluarkan peralatan make upnya.


"Biar gue yang pilihin bajunya." Fara langsung mengeluarkan semua baju dari lemari.


"Lo yang benar dandananin guenya, jangan kayak badut."


"Iya Gita Saquena, lo diem aja biarkan tangan gue membuat keajaiban buat lo."


Gita memejamkan matanya, dia ngantuk Anita nggak selesai-selesai mendandaninya.


"Ini bocah, di dandani malah tidur." Fara menggelengkan kepala.


"Biarin aja, anteng jadinya kalau dia nggak tidur ribut nggak mau pakai ini nggak pakai itu."


"Iya juga, gimana baju ini bagus nggak?" Fara mengangkat gaun warna hitam."


"Kekecilan nggak sih itu, Gita kan belum langsing banget." Anita nyengir.


"Ini aja gimana warna putih, nanti kasih sabuk." Fara menunjukan gaun warna putih dengan pita hitam di lengan sama sabuk warna hitam.


"Ok, boleh." Anita melanjutkan merias Gita.


"Udah kelar belum? udah mau mulai tuh."


"Bentar, kurang rapiin rambutnya." Anita menyisir rambut di atas bahu Gita.


"Git bangun." Anita membangunkan Gita.


"Ehm.. lima menit lagi ya." Gita berasa di bangunkan saat pagi untuk mandi.


"Ini anak, kalau udah tidur kebo banget sih." omel Fara.

__ADS_1


__ADS_2