
Beberapa hari kemudian sampailah mereka ke pelajaran matematika setelah beberapa kali menawar pelajaran yang lain dulu.
"Eh.. kita udah bahasa ingris belum sih?" tanya Fara.
"Belum kayaknya sama ipa." jawab Gita.
"Pasti mau beralih lagi nih yang di pelajarannya." Kata Anita.
"Matematika itu sulit." jawab Fara.
"Lebih sulit lagi memahami hati lo." Sahut Raka.
"Cieee... uhuuy..." Sorak Gita, Anita dan Vian.
"Idiih.. sinting nih orang." Fara bergidik.
"Ok, sekarang mau belajar apa?" tanya Gilang waktu datang.
"Matematika." Jawab Anita.
"Kan masih ada bahasa ingris, biologi dan kawannya. Itu aja dulu kali ya." Kata Fara.
"Ok, sekarang matematika." Gilang memutuskan untuk mengajar matematika.
"Yah.. matematika lagi." jawab Vian.
"Bisa nggak sih matematika di hilangkan dari muka persekolahan ini." kata Gita.
"Kalau nggak mau pelajaran matematika terus mau di ganti pelajaran apa?" tanya Gilang sambil membuka buku paket.
"Pelajaranan mencintaimu, memahamimu dan menjadi milikmu." celetuk Gita sambil tertawa, yang lain pun ikut tertawa.
"Pasangan bucin, mulai." kata Fara.
Gilang hanya geleng-gelang, "Bagian mana yang kalian tidak paham?" Gilang mulai serius.
"Semua." jawab mereka serentak.
"Semua?" tanya Gilang kaget.
"Iya." Jawab mereka serentak lagi.
"Wah.. harusnya kalian ini tidak boleh belajar bareng." kata Gilang.
"Kenapa emang?" tanya Anita.
"Kalian tidak akan fokus, mulai besok kita akan belajar satu anak satu mentor." kata Gilang.
"Yah.. gimana dong. Nggak ada yang bakal ngajarin kita." kata Fara.
"Begini saja, gue akan mengajari kalian bergantian. Setiap satu orang belajar satu jam. Gimana?" Gilang memberikan solusi.
"Ok, gue setuju." Kata Raka.
"Gue juga." jawab Gita di susul yang lain.
"Siapa yang akan mulai duluan?"
"Raka." seru Fara.
"Kenapa gue, lo aja dulu." Raka tidak mau urutan nomor satu.
"Kan yang setuju pertama lo." Alasan Fara tidak masuk akal.
"Biar gue putuskan, hari ini belajar bersama dulu. Dan mulai besok kalian akan belajar sendiri."
"Ok." jawab mereka berlima.
__ADS_1
Gilang kembali mengajari ke empat sahabat dan pacarnya matematika benar-benar dari awal. Mereka sama sekali tidak paham. Gilang mencoba memberikan soal setelah menyampaikan materinya.
"Kerjakan turunan fungsi ini." Gilang menulis di whiteboard. Dia kemudian duduk mengawasi
"Kepala gue tiba-tiba migren." Bisik Gita.
"Iya, ini puyeng banget kepala gue." Jawab Fara.
"Kalian buruan kerjakan jangan ngomong aja." Kata Anita mulai menuliskan jawabannya.
"Ngerjain gimana, pusing nih kepala. Mana perut jadi lapar banget begini." kata Gita.
"Gita, Fara apa sudah selesai?" tegur Gilang.
"Belum." Jawab Gita sama Fara barengan.
"Kalau belum kenapa ngobrol saja."
"Iya maaf." kata Gita.
"Kenapa sekarang Kak Gilang berubah kayak guru. Mana tampangnya sangar lagi." Bisik Fara di telinga Gita.
"Gak tahu, gue juga serem." kata Gita.
...♡◇◇◇♡...
Selesai belajar, mereka langsung kabur pulang untuk segera rebahan dan mengistirahatkan otaknya.
"Raka, lo mau kemana buru-buru?" tanya Gita.
"Jemput ibu negara!" teriak Raka sambil lari.
"Lah.. gue pulang sama siapa?" katanya sambil garuk kepala.
"Lo lupa punya pacar?" kata Gilang dari belakang sambil merangkul Gita.
"Bisa-bisanya lupa."Gilang merengut.
"Hehe maaf lupa, makan yuk Kak lapar nih."
"Ok, mau makan apa?"
"Bakso sebelah situ saja." Tunjuk Gita.
"Boleh, kasian pacar gue sampai kelaperan gara-gara mikirin matematika." Kata Gilang sambil mengajak Gita jalan.
"Gilang..Gilang.. tolong." seseorang minta tolong.
"Aurel ada apa?"
"I..tu.. Monika pingsan di ruang osis."
"Pingsan?"
"Iya, ayo buruan tidak ada orang di sana." Aurel menarik tangan Gilang dan berlari cepat. Gita pun ikut berlari mengikuti Aurel dan Gilang.
Sesampai di ruang osis Gilang langsung menggendong Monika dan membawa ke mobilnya. Dia akan membawa ke rumah sakit karena petugas uks sudah pulang.
"Buruan kalian naik." pinta Gilang.
Gilang mengemudi mobilnya cepat, sesekali dia melihat ke belakang untuk mengecek kondisi Monika.
"Kak Gilang sangat baik, pantes saja semua orang suka sama dia. Dia tidak memilih-milih menolong orang."batin Gita. Gita menatap Gilang tak berkedip.
Gilang memarkirkan mobilnya, dia turun lalu menggendong Monika, "Aurel, lo urus administrasinya." Kata Gilang.
"Ok."
__ADS_1
Gita berlari di belakang Gilang, "Apa mereka pernah memiliki hubunga spesial?" pikiran buruk mulai menyeruak di otaknya.
"Aurel, lo sudah hubungi keluarganya?" tanya Gilang.
"Sudah, mereka sedang menuju ke sini."
"Bagaimana dia bisa pingsan?"
"Dia sedang diet, jadi mengurangi porsi makannya sangat banyak. Dia hanya makan buah dan sayur saja setiap hari. Dan tadi katanya pusing dan pingsan lah dia." jelas Aurel.
"Dia kan sudah kurus kenapa diet lagi, ya sudah Aurel gue pulang dulu ya. Salam untuk keluarga Monika.
"Lo nggak mau nunguin Monika sampai siuman?"
"Gue harus ngatrin pacar gue pulang." Gilang mnggenggam tangan Gita.
"Pacar?"
"Iya, pacar gue." Gilang mengangkat tangan kirinya yang sedang menggenggam tangan Gita.
"Kalian sudah pacaran?" Aurel shock.
"Ya, kita sudah pacaran. Gue balik dulu."
Gilang pamit dan membawa Gita ke parkian.
"Kenapa diam saja?" tanya Gilang saat mereka naik mobil.
"Boleh Gita tanya?"
"Tentu boleh, apa?"
"Apa Kak Gilang pernah ada hubungan spesial dengan Kak Monika?"
"Nggak pernah, kenapa lo bisa berpikiran seperti itu?" Gilang tidak jadi menghidupkan mobilnya.
"Nggak, Gita cuman tanya aja kok." Gita menarik bibirnya hingga tesenyum lebar.
"Apa lo cemburu" Gilang mendekatkan wajahnya dengan wajah Gita.
"Nggak, siapa juga yang cemburu." Gita mendorong Gilang agar dusuk lagi.
"Masa sih, kenapa terlihat kesal seperti itu?" Gilang mencolek dagu Gita.
"Gita nggak kesal, cuma lapar saja."
"Ah.. iya. Kita kan tadi mau makan. Sekarang mau makan apa?" tanya Gilang.
"Gue mau pulang aja, sudah nggak mood Makan." katanya.
"Ngambek kak, katanya nggak cemburu." Gilang menghidupkan mobilnya lalu perlahan menjalankannya.
"Siapa yang cemburu, orang nggak."
"Terus kenapa manyun gitu, nggak mau makan."
"Udah kenyang di bilang juga."
"Coba sini cium kalau nggak cemburu." Gilang menunjuk pipi kirinya, dia meminta Gita menciun pipinya.
"Nggak mau." jawabnya.
"Kok gitu?"
"Ya emang nggak mau."
"Ok,.sekaeang gue harus bagaimana buat kembaliin mood lo?" Gilang bingung dengan sikap Gita.
__ADS_1
"Nggak tahu." Jawab Gita ketus.