Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Radit vs Fajar


__ADS_3

Bus yang di tumpangi Gita bersama teamnya sampai di depan pabrik, Radit yang sudah menunggu sejak pagi langsung bergegas di pintu.


"Selamat pagi Gita." Sapa Radit dengan senyuman yamg super manis di buatnya. Namun Gita hanya membalas dengan senyuman yang seadanya. Dia bingung kenapa ada Radit di pabriknya.


"Ngapain lagi ini manusia satu pagi-pagi udah nongol disini, kayak nggak punya kerjaan saja. Ah atau emang prngangguran.." Ejek Fajar.


"Diam mulut lo ya, kepo banget banget sama urusan orang. Kerja yang benar sono boar cepat kaya." kata Radit.


"Ya emang kepo, karena dengam adanya lo itu memgganggu kenyamanan dan ketenangan kita semua." Kata Fajar.


"Brisik sana pergi lo!" Radit mendorong Fajar pergi.


"Lo sudah sarapan?" tanya Radit.


"Sudah Gita sudah sarapan." Fajar datang lagi.


Gita capek melihat Radit dan Fajar yang berantem terus. Dia pergi tanpa sepemgetahuan mereka berdua. Fara berjalan sedikit mendekat dengan Gita.


"Mereka berdua kenapa tuh heboh di depan?tanya Fara.


"Mana gue tahu, gue kesana udah pada ribut aja." jawab Gita sambil mengontrol pekerja di pabrik.


"Mereka itu berebut buat deketin lo Gita." kata Bella.


"Yang benar lo?" tanya Fara.


"Iya, sebenarnya kepindahan Fajar kesini tidak sepenuhnya karena di tindas di kelompok Mbak Ratna. Tapi karena ada kamu di sini jadi pingin dekat sama kamu." Jelas Bella.


"Lo jangan sembaranga ngomong ah, nanti nih kalau Aura dengar bisa berabe. Dia pasti ngamuk-ngamuk dan gue lagi yang di salahin." Kata Gita dia tidak mau ada urusan dengan orang-orang yang tidak penting.


"Tapi beneran, lo perhatikan saja sikap Fajar pasti beda sama yang lain." Jelas Bella.


Gita pun akhirnya memcoba memperhatikan tingkah laku Fajar terhadap dirinya. Karena biasanya dia hanya menganggap Fajar ya teman kerja biasa tidak lebih


"Gita..Gita..." panggil Fajar.


"Ya ada apa?"

__ADS_1


"Nanti malam ada acara nggak?" tanya Fajar.


"Nggak ada sih, ada apa?"


"Nanti gue anterin ya pulangnya, terus kita makan malam dulu." kata Fajar berharap cemas Gita mau menerimanya.


"Benar, sepertinya memang Fajar ada rasa sama gue." batin Gita.


"Jangan mau Gita, lagian nih ya kalau sama dia paling-paling di ajak makan di emperan, kaki lima. Lebih baik sama gue deh." Radit sudah nyelonong masuk ke pabrik.


"Eh lo selalu saja nyamber kenapa sih, lagian ya ini pabrik bos Gilang dan lo bukan siapa-siapa kok berani-beraninya masuk." Cerocos Fajar.


"Memangnya kenapa, gue masih di bawah naungan bos lo jadi bebas saa gue mau ngapain aja disini." Radit nggak mau kalah.


"Cukup!" kalian ngapain sih ribut mulu. sebenrnya kalian itu ngeributinapa?" Gita smpai gedek dengan tingkah mereka berdua.


"Gita nanti lo pulang sama gue saja ya, gue bakalan ajakin lo makan ke tempat yang enak. Gue belanjain juga deh. Ya."


"Maaf ya, gue nggak akan pergi sama kalian berdua. Kalau kalian mau pergi-pergi saja sendiri."


"Bukan gue, tapi memang Gita yang nggam mau pergi sama lelaki miskin kayak lo." ejem Radit.


Win yang sejak pagi sudah geregetan sama mereka berdua datang langsung menjewer mereka berdua.


"Kalian kalau mau bikin keributan jangan disini, ini tempat kerja kalau sampai bos Gilang tahu masalah ini. Kalian bisa di pecat, Fajar lo itu baru pindah ke team ini. Kalau sampai bikin ulah gue bakal keluarin lo dari team." Kata Win dengan tegas.


"Maaf Mas Win." Fajar menunduk dia tidak mau keluar dari team Win.


"Buruan lo kerja yang benar." Kata Win dengan sedikit keras.


"Iya Mas." Fajar bergegas pergi.


"Syukurin lo, makanya kalau jadi karyawan kerja yang benar jangan banyak tingkah." seru Radit, dia sangat senang dan puas melihat dia di marahi sama Win.


"Lo juga, ngapain disini coba. Lo nggak ada urusan kan disini pergi sana." Win mengusir Radit.


"Mas Win, jangan sembarangan lo ngusir gue. Gue itu artis terkenal gue bisa tuntut lo."

__ADS_1


Tuntut saja sana, gue nggak takut." Wajah Win serius. "Lo sekarang pergi atau gue telpon Bos Gilang." Ancam Win.


"Ok-ok, gue cabut. Tapi ingat gue bakalan balik lagi." Radit akhirnya pergi karena takut kalau sampai Gilang tahu yang ada dia benar-benar di tendang dari GG entertaiment.


"Makasih Mas Win, untung saja mereka mau pergi. Gita sampai bingung sama tingkah mereka." kata Gita.


"Makanya lo tuh jangan beri harapan sama mereka, bisa ngasih tahu gue tapi lo sendiri yang ngelakuinya." Win menyentil kening Gita.


"Memangnya Gita memberi harapan apaan, Gita tidak merespon juga sama mereka." Gita tidak mau di salahkan.


"Ya sudah lah, jangan pikirkan lagi sekaramg kembali kerja." Suruh Win.


"Siap Mas."


Jam pulang kerja sudah berdering, mereka bergegas untuk naik bus dan segera ke kantor dulu.


"Hai Gita bareng gue yuk." Radit menarik tangan Gita.


"Eh apa-apaan, Gita bareng gue. Kita sudah janjian mau makan bareng." Fajar menarik tangan kiri Gita.


"Oo nggak bisa Gita harus sama gue." Radit kembali menarik tangan Gita hingga dia berada di sisinnya, dan Fajar pun tidak mau kalah.


"Kalian berdua lepasin nggak?!" Vian datang berkacak pinggang dengan mata melotot.


"Nggak usah ikut campur!" seru Radit dan Fajar bersamaan.


"Dia sangat boleh ikut campur." Gita melepaskan diri dari Radit dan Fajar lalu berlari ke sisi Vian, Gita juga mengagndeng tangan Vian.


"Gita.. kenapa lo malah sama dia sih dia cuma karyawan biasa nggak akan bahagiain kamu?" tanya Radit.


"Memangnya kenapa? Vian sahabat gue." jawab Gita.


"Hey, sadar diri lo itu siapa enak-enakan ngatain Vian karyawan biasa. Memang duit lo berapa?" Fara tidak terima sahabatnya di hina.


"Radit, lo cari masalah lagi capek gue sama lo. Kalian semua naik ke bus sekarang! Tidak ada yang boleh pulang sendiri berangkat bareng pulang juga harus bareng." seru Win.


"Iya Mas." jawab serentak.

__ADS_1


__ADS_2