Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Gita Sakit


__ADS_3

Gita perlahan membuka


matanya, dia melihat ada mamanya yang setia menemaninya sembari mengkompres


kepalanya.


“Mama..” panggil Gita.


“Iya sayang, kamu mau


apa?’ tanya Wanda.


“Gita nggak mau


apa-apa, Gita Cuma mau mama peluk Gita.” Katanya. Wanda pun memeluk Gita. Wanda


berubah panik ketika memegang kening Gita yang sanagt panas. Dia melepas


pelukannya lalu mencari Raka untuk membawa Gita ke rumah sakit.


“Raka, bawa adik kamu


ke rumah sakit. Badanya panas sekali.” Kata Wanda.


“Iya Ma.” Raka langsung


menyiapkan mobilnya, kemudian dia menggendong Gita ke dakam mobilnya.


Gita perlahan membuka


kedua matanya, dia melihat kearah mamanya lalu ke Raka. Dia mengembangkan


bibirnya yang masih sangat berat.


“Mama, Gita tidak di


rumah ya?” tanya Gita saat melihat semua ruangan yang sangat asing.


“Iya sayang, kita ada


di rumah sakit sekarang.” Kata Wanda.


“Pulang saja yuk Ma,


Gita nggak mau di rumah sakit.” Gita meminta untuk pulang, dia tidak suka kalau


di rawat di rumah sakit.


“Kalau kamu tidak mau


di rawat di rumah sakit makanya kamu cepat sembuh, jangan mikirin sesuatu yang


berat yang buat kamu jadi drop.” Wanda  menasehati Gita.


“Benar Ta, lo harus


bisa santai jangan setres, masalah kemarin itu bukan lo yang salah.” Kata Raka.


“Benar sayang, kamu


jangan merasa bersalah, takut ataupun yang lainya yang bikin kamu stres.” Wanda


mengusap rambut Gita.


“Ma, Gita kangen sama


papa.” Kata Gita sambil bangun memeluk Wanda.


“Iya, bentar lagi papa


pulang.” Kata Wanda.


Gilang baru saja


memulai rapatnya, dia langung meminta Lila untuk melanjutkannya dan memberi


tahu hasil dari rapat pagi ini. Dia bergegas ke rumah sakit saat mendapatkan


kabar dari Raka. Semalam Gita meminta Raka agar tidak menghubungi Gilang karena


takut kalau Gilang panik, namun Raka tidak bisa diam saja.


“Tante gimana keadaan Gita?” tanya Gilang


dengan wajah cemas.


“Gita sudah membaik,


panasnya sudah turun. Kamu siapa yang ngasih tahu?” tanya Wanda.


“Aku ma yang kasih


tahu, Gilang berhak tahu kalau ada apa-apa sama Gita.” Kata Raka.


“Nanti adik kamu


ngambek lagi.”


“Tenang Ma, eh..tante..

__ADS_1


Gita nggak akan ngambek kok.” Kata Gilang.


“Panggil Mama juga


nggak apa-apa, lebih enak di dengar juga.” Wanda memegang pundak Gilang.


“Boleh?”


“Boleh dong, Gita saja


sudah memanggil Mama kamu dengan sebutan Mama, lalu kenapa kamu nggak boleh.”


Kata Wanda.


“Makasih Ma.” Gilang


memeluk Wanda.


“Iya sama-sama. Kamu sudah


sarapan belum?” tanya Wanda.


“Sudah Ma. Ma Gilang


boleh ngomong sesuatu?” tanya Gilang.


“Ngomong saja.” Wanda


mengajak Gilang duduk di kursi panjang di depan ruangan Gita.


“Gilang mau melamar


Gita putri Mama sekarang juga, Gilang mau Gita menjadi istri Gilang.” Kata


Gilang. Gilang tidak mau kecolongan dengan Gita di dekati sama cowok lain.


Apalagi sampai di lamar dengan hal-hal romantis, Gilang takut Gita akan


tergoda. Jadi malam itu Gilang memilih meminta ijin langsung untuk melamar Gita


sama mamanya.


“Gilang akan selalu menjaga


Gita, dan membahagiakan dia semampu Gilang. Gita juga janji akan selalu


menyayangi Gita dalam keadaan apa pun.” Kata Gilang dengan sangat serius.


“Gilang kamu kan mau


melamar Gita, kenapa kamu tanya mama harusnya kamu tanya Gita mau atau tidak


“Kalau Gita pasti tidak


menolak Ma, tapi Gilang mau meminta restu orang yang telah melahirkan dan juga


merawat sampai sekarang dulu. Karena restu mama sangat penting buat Gilang.


“Kalau Mama mah


terserah Gita, kalau Gita memang menerima kamu ya Mama pasti restui.” Jawab


Wanda.


“Raka apa lo juga


merestui adik lo jadi istri gue?” tanya Gilang.


“Tentu saja gue


restuin, apa lo lupa orang yang mendekatikan lo sama Gita itu gue.” Kata Raka


mengingatkan Gilang kalau yang membuat Gita akhirnya mau menerimanya adalah


dirinya.


“Ah benar juga.” Gilang


terkekeh.


“Gilang, boleh mama


tahu apa alasan kamu mencintai putri tante. Dia bukan perempuan yang bisa


melakukan hal-hal yang perempuan lain lakukan. Seperti masak, mencuci bahkan


dia tidak bisa berdandan.


“Gilang mencintai putri


mama karena dia sangat baik, bahkan dia bisa di bilang terlalu baik. Dia bisa


memafkan orang-orang yang menyakitinya. Dan yang terpenting Gita sangat


menyeyangi Gilang beserta dengan keluarga Gilang.” Jawab Gilang dengan penuh


keyakinan, dia tidak peduli kalau Gita tidak bisa seperti cewek di luaran. Gita


itu unlimited, tidak ada duanya di dunia bagi Gilang.

__ADS_1


“Baiklah, kamu bisa


datang melamar Gita di rumah bertemu dengan papa Gita dan juga kakak-kakaknya


yang lain.” Kata Wanda.


“Siap Ma. Kalau Gilang


boleh meminta lagi apa boleh Gilang dan Gita menikah dahulu dari Qila?” tanya


Gilang.


“Mama tidak bisa


menjawab kalau masalah ini, kamu tanya saja sama Om Seno nanti.”


“Baik Ma, malam minggu


besok Gilang akan datang bersama keluarga Gilang.”


“Iya.”


“Mama kalau mau pulang


saja istirahat, biar Gita Gilang yang jaga. Lo juga Raka pasti lo capek dan


butuh istirahat kan.”


“Nggak apa-apa, mama


pulang nggak ngerepotin kamu.”


“Nggak Ma, masa calon


istri sendiri di bilang ngerepotin sih.” Gilang tersenyum.


“Ya sudah mama sama


Raka pulang ya, nanti kalau ada apa-apa hubungi mama jangan lupa.”


Gilang masuk dan duduk


di samping Gita yang masih tertidur, dia mengusap kepalanya dengan lembut.


“Harusnya aku tidak


perlu menutupinya kan, pasti kamu tidak akan sakit seperti ini.” Gilang mencium


kening Gita.


Gita perlahan membuka


matanya saat merasa ada yang mencium keningnya, samar-samar dia melihat orang


yang ada di depannya namun masih tidak jelas karena kunang-kunang. Dia mengucek


kedua matanya pelan.


“Kak Gilang..” katanya


lemah.


“Iya sayang.” Jawab


Gilang sambil membantu Gita duduk.


“Kamu ngapain kesini?”


“Kok ngapain ya jagain


kamu lah, lagian kenapa kamu melarang Raka memberi tahu aku kalau kamu masuk


rumah sakit?”


“Sayang, aku nggak mau


kamu cemas dan repot. Kamu kan banyak kerja, dan jadwal kamu pasti padat


meeting juga full. Gita nggak mau membuat kacau jadwal Kak Gilang.” Jelas Gita,


dia tidak mau menyusahkan Gilang.


“Ngomong apaan sih


kamu.” Gilang menyentuh hidung Gita. “Dengerin ya, nggak ada yang lebih penting


di dunia ini selain kamu.


“Dasar gombal, masih


pagi juga udah merayu.” Gita mencubit pipi Gilang.


“Kok gombal sih, aku


mengatakan yang sebenarnya. Ingat ya kalau kamu sedang dalam masalah kamu harus


selalu kasih tahu aku. Kalau nggak aku ngambek sama kamu.”


“Iya sayangku,” Gita

__ADS_1


memajukan tubuhnya lalu memeluk Gilang.


__ADS_2