
Gita perlahan membuka
matanya, dia melihat ada mamanya yang setia menemaninya sembari mengkompres
kepalanya.
“Mama..” panggil Gita.
“Iya sayang, kamu mau
apa?’ tanya Wanda.
“Gita nggak mau
apa-apa, Gita Cuma mau mama peluk Gita.” Katanya. Wanda pun memeluk Gita. Wanda
berubah panik ketika memegang kening Gita yang sanagt panas. Dia melepas
pelukannya lalu mencari Raka untuk membawa Gita ke rumah sakit.
“Raka, bawa adik kamu
ke rumah sakit. Badanya panas sekali.” Kata Wanda.
“Iya Ma.” Raka langsung
menyiapkan mobilnya, kemudian dia menggendong Gita ke dakam mobilnya.
Gita perlahan membuka
kedua matanya, dia melihat kearah mamanya lalu ke Raka. Dia mengembangkan
bibirnya yang masih sangat berat.
“Mama, Gita tidak di
rumah ya?” tanya Gita saat melihat semua ruangan yang sangat asing.
“Iya sayang, kita ada
di rumah sakit sekarang.” Kata Wanda.
“Pulang saja yuk Ma,
Gita nggak mau di rumah sakit.” Gita meminta untuk pulang, dia tidak suka kalau
di rawat di rumah sakit.
“Kalau kamu tidak mau
di rawat di rumah sakit makanya kamu cepat sembuh, jangan mikirin sesuatu yang
berat yang buat kamu jadi drop.” Wanda menasehati Gita.
“Benar Ta, lo harus
bisa santai jangan setres, masalah kemarin itu bukan lo yang salah.” Kata Raka.
“Benar sayang, kamu
jangan merasa bersalah, takut ataupun yang lainya yang bikin kamu stres.” Wanda
mengusap rambut Gita.
“Ma, Gita kangen sama
papa.” Kata Gita sambil bangun memeluk Wanda.
“Iya, bentar lagi papa
pulang.” Kata Wanda.
Gilang baru saja
memulai rapatnya, dia langung meminta Lila untuk melanjutkannya dan memberi
tahu hasil dari rapat pagi ini. Dia bergegas ke rumah sakit saat mendapatkan
kabar dari Raka. Semalam Gita meminta Raka agar tidak menghubungi Gilang karena
takut kalau Gilang panik, namun Raka tidak bisa diam saja.
“Tante gimana keadaan Gita?” tanya Gilang
dengan wajah cemas.
“Gita sudah membaik,
panasnya sudah turun. Kamu siapa yang ngasih tahu?” tanya Wanda.
“Aku ma yang kasih
tahu, Gilang berhak tahu kalau ada apa-apa sama Gita.” Kata Raka.
“Nanti adik kamu
ngambek lagi.”
“Tenang Ma, eh..tante..
__ADS_1
Gita nggak akan ngambek kok.” Kata Gilang.
“Panggil Mama juga
nggak apa-apa, lebih enak di dengar juga.” Wanda memegang pundak Gilang.
“Boleh?”
“Boleh dong, Gita saja
sudah memanggil Mama kamu dengan sebutan Mama, lalu kenapa kamu nggak boleh.”
Kata Wanda.
“Makasih Ma.” Gilang
memeluk Wanda.
“Iya sama-sama. Kamu sudah
sarapan belum?” tanya Wanda.
“Sudah Ma. Ma Gilang
boleh ngomong sesuatu?” tanya Gilang.
“Ngomong saja.” Wanda
mengajak Gilang duduk di kursi panjang di depan ruangan Gita.
“Gilang mau melamar
Gita putri Mama sekarang juga, Gilang mau Gita menjadi istri Gilang.” Kata
Gilang. Gilang tidak mau kecolongan dengan Gita di dekati sama cowok lain.
Apalagi sampai di lamar dengan hal-hal romantis, Gilang takut Gita akan
tergoda. Jadi malam itu Gilang memilih meminta ijin langsung untuk melamar Gita
sama mamanya.
“Gilang akan selalu menjaga
Gita, dan membahagiakan dia semampu Gilang. Gita juga janji akan selalu
menyayangi Gita dalam keadaan apa pun.” Kata Gilang dengan sangat serius.
“Gilang kamu kan mau
melamar Gita, kenapa kamu tanya mama harusnya kamu tanya Gita mau atau tidak
“Kalau Gita pasti tidak
menolak Ma, tapi Gilang mau meminta restu orang yang telah melahirkan dan juga
merawat sampai sekarang dulu. Karena restu mama sangat penting buat Gilang.
“Kalau Mama mah
terserah Gita, kalau Gita memang menerima kamu ya Mama pasti restui.” Jawab
Wanda.
“Raka apa lo juga
merestui adik lo jadi istri gue?” tanya Gilang.
“Tentu saja gue
restuin, apa lo lupa orang yang mendekatikan lo sama Gita itu gue.” Kata Raka
mengingatkan Gilang kalau yang membuat Gita akhirnya mau menerimanya adalah
dirinya.
“Ah benar juga.” Gilang
terkekeh.
“Gilang, boleh mama
tahu apa alasan kamu mencintai putri tante. Dia bukan perempuan yang bisa
melakukan hal-hal yang perempuan lain lakukan. Seperti masak, mencuci bahkan
dia tidak bisa berdandan.
“Gilang mencintai putri
mama karena dia sangat baik, bahkan dia bisa di bilang terlalu baik. Dia bisa
memafkan orang-orang yang menyakitinya. Dan yang terpenting Gita sangat
menyeyangi Gilang beserta dengan keluarga Gilang.” Jawab Gilang dengan penuh
keyakinan, dia tidak peduli kalau Gita tidak bisa seperti cewek di luaran. Gita
itu unlimited, tidak ada duanya di dunia bagi Gilang.
__ADS_1
“Baiklah, kamu bisa
datang melamar Gita di rumah bertemu dengan papa Gita dan juga kakak-kakaknya
yang lain.” Kata Wanda.
“Siap Ma. Kalau Gilang
boleh meminta lagi apa boleh Gilang dan Gita menikah dahulu dari Qila?” tanya
Gilang.
“Mama tidak bisa
menjawab kalau masalah ini, kamu tanya saja sama Om Seno nanti.”
“Baik Ma, malam minggu
besok Gilang akan datang bersama keluarga Gilang.”
“Iya.”
“Mama kalau mau pulang
saja istirahat, biar Gita Gilang yang jaga. Lo juga Raka pasti lo capek dan
butuh istirahat kan.”
“Nggak apa-apa, mama
pulang nggak ngerepotin kamu.”
“Nggak Ma, masa calon
istri sendiri di bilang ngerepotin sih.” Gilang tersenyum.
“Ya sudah mama sama
Raka pulang ya, nanti kalau ada apa-apa hubungi mama jangan lupa.”
Gilang masuk dan duduk
di samping Gita yang masih tertidur, dia mengusap kepalanya dengan lembut.
“Harusnya aku tidak
perlu menutupinya kan, pasti kamu tidak akan sakit seperti ini.” Gilang mencium
kening Gita.
Gita perlahan membuka
matanya saat merasa ada yang mencium keningnya, samar-samar dia melihat orang
yang ada di depannya namun masih tidak jelas karena kunang-kunang. Dia mengucek
kedua matanya pelan.
“Kak Gilang..” katanya
lemah.
“Iya sayang.” Jawab
Gilang sambil membantu Gita duduk.
“Kamu ngapain kesini?”
“Kok ngapain ya jagain
kamu lah, lagian kenapa kamu melarang Raka memberi tahu aku kalau kamu masuk
rumah sakit?”
“Sayang, aku nggak mau
kamu cemas dan repot. Kamu kan banyak kerja, dan jadwal kamu pasti padat
meeting juga full. Gita nggak mau membuat kacau jadwal Kak Gilang.” Jelas Gita,
dia tidak mau menyusahkan Gilang.
“Ngomong apaan sih
kamu.” Gilang menyentuh hidung Gita. “Dengerin ya, nggak ada yang lebih penting
di dunia ini selain kamu.
“Dasar gombal, masih
pagi juga udah merayu.” Gita mencubit pipi Gilang.
“Kok gombal sih, aku
mengatakan yang sebenarnya. Ingat ya kalau kamu sedang dalam masalah kamu harus
selalu kasih tahu aku. Kalau nggak aku ngambek sama kamu.”
“Iya sayangku,” Gita
__ADS_1
memajukan tubuhnya lalu memeluk Gilang.