Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menemani Camer II


__ADS_3

Gita mengetuk


pintu rumah Gilang, meskipun pintunya terbuka namun dia tidak akan masuk


sebelum di persilahkan. Tak selang lama Bik Siti membukakan pintu.


“Mbak Gita,


nggak langsung masuk saja toh.” Bik Siti mempersilahkan masuk.


“Takutnya nggak


ada orang bik, masa ya main masuk-masuk saja di rumah orang.” Kata Gita.


“Eh.. Mbak Gita


kan menantu rumah ini jadi kan ya pasti sudah bisa anggap rumah sendiri kan.”


‘Belum boleh


dong, kan Gita masih belum resmi jadi menantu disini.” Gita duduk di sofa.


“Mbak Gita


cantik banget pakai gaun ih, sering-sering saja pakai gaun.” Puji Bik Siti.


“Bik Siti bisa


saja, mama dimana?”


“Mama disini


sayang.” Sahut Rima yang baru menuruni tangga. Gita berdiri menyambut Rima,


dengan mencium tangannya lalu mencium kedua pipinya.


“Kamu cantik


banget deh.” Rima menyentuh dagu Gita.


“Ih.. mama bisa


saja. Mama nih lebih cantik selalu terlihat muda.” Gita membalas pujian Rima


yang memang sangat awet muda.


“Ayo berangkat.”


Ajak Rima.


“Kak Gilang


nggak ikut tante?” Gita kaget dia pikir waktu Gilang bilang mau di ajak mamanya


pergi itu bersama Gilang juga, ternyata hanya dia.


“Nggak lah, kan


Cuma mama sama kamu doang.” Kata Rima.


Gita yang


awalnya percaya diri tiba-tiba menjadi gugup, dia bisa mati kutu nanti disana


karena tidak tahu harus apa.


“Tenang saja,


kamu akan baik-baik saja sama mama.” Rima memegang tangannya Gita dan


memberikan senyuman lembut yang mengisyaratkan kalau dia bisa mempercayainya.


Gita mengangguk, meskipun sebenarnya dia belum bisa menenangkan hatinya.


Sepanjang perjalanan


Gita tidak banyak bicara hanya diam memandangi telponya karena dia chat gilang


namun tak kunjung di balasnya.


“Kata Gilang


kamu orangnya cerewet, kenapa sama mama jadi pendiem begini?” tanya Rima.


“Hehehe..” Gita


tersenyum lalu garuk-garuk kepalanya.


“Kamu nggak


perlu jaga image gitu kalau sama mama, toh mama juga akan terima apapun kamu.”


Kata Rima. Gita langsung menyandarkan kepalanya di bahu Rima, dia memegangi


lengan Rima.


Pesta yang


sangat megah, disana banyak kumpulan orang-orang kaya yang datang. Dan sudah


tradisi mereka akan membawa anak perempuannya atau menantunya untuk di pamerkan


di depan teman-temannya. Tahun-tahun sebelumnya Rima hanya datang seorang diri


karena anak perempuannya susah sekali kalau di ajak ke acara-acara miliknya. Di


tambah Gilang yang pasti dengan seribu alaasan saat disuruh nagnterin atau


jemput mamanya jika datang ke pesta.


“Ma, Gita kok


deg-degan ya.” Tangan Gita keringetan.


“Sini gandeng


tangan mama.” Rima menggandeng menantunya itu dan mengajaknya jalan bertemu


dengan para teman-temannya.


“Hai.. Rima

__ADS_1


makin cantik saja kamu ini.” Puji Alya teman Rima.


“Iya, makin


tajir melintir awet muda pula.” Tambah Fania.


“Makasih, kalian


terlalu berlebihan memujinya.”


“Hai..hai....


semua apa kabar.” Voni teman yang sering banget heboh dan pamer dengan apa yang


dia miliki. Seperti biasa dia datang cepika-cepiki.


“Baik Von kamu


sendiri bagaimana?” tanya Rima.


“Baik dong,


kenalin ini anak gadis aku namanya Velania dia baru saja menyelesaikan studinya


di Amerika. Sayang kenalin ini tante Rima, dan itu tante Alya dan tante Vania.”


“Halo tante.”


Valenia menyalami semua teman-teman mamanya.


“Rima dia siapa?


Asisten baru, udah di ganti yang dulu?” tanya Voni.


“Oiya, kenalkan


ini menantu aku namanya Gita.” Rima memperkenalkan Gita dengan sangat bangga.


“Ya ampun Rima,


kamu nggak salah gitu pilih menantu kayak pembantu gitu, nggak mau berubah


pikiran di depan kamu kan adayang lebih anggun, pinter mana lulusan luar negeri


lagi.” Voni mulai menjelek-jelekan Gita dan membandingkan dengan ananknya.


“Em, kalau di


lihat-lihat juga dadannya kenapa aneh ya. Kan acara resmi kok pakai sneakers


sih.” Kata Valenia.


Gita melihat


cara pakaian dia, menurutnya dia pakaiannya bagus saja dan tidak ada yang aneh.


“Memangnya


kenapa ddengan pakaian Gita, bukannya fashion sekarang memang sangat bervariasi


dengan memadu padankan pakaian dengan resmi dengan santai. Dan terlihat sangat


santai tapi masih terlihat anggun.” Rima membela Gita, mau di pamerin seribu


menggantinya. Karena baginya Gita lebih baik dari siapapun baginya.


“Ya kabarin aja


deh kalau nanti kamu menyesal bisa hubungin aku, Valenia juga tidak akan


keberatan kok  menungu.”  Kata Voni.


‘Maaf ya tante,


kan Valenia putri tante itu sangat pintar, cantik anggun dan pastinya tahu


fashion kan.”


“Tentu saja,


kamu kalauh jauh kalau sama putriku ini.” Voni menegang tangan putrinya.


“Kalau begitu


kenapa tante mengajarkan dia menjadi anak yang bodoh dan tidak memiliki


kesopanan, dengan merebut milik orang bahkan berani menunggu milik orang lain,


apakah disana di ajarkan seperti itu.” Kata Gita dengan sangat jelas dan tegas.


Rima tersenyum senang dan juga kaget saat Gita memberikan jawaban yang pedas


kepada Voni.


“Hati-hati kamu


ya, siapa juga yang mau merebutnya. Lagian ya aku hanya memberikan saran sama


tante Rima.”


“Itu bukan


saran, tapi membujuk. Aku rasa kamu nggak akan bisa mendapatkan anak dari mama


Rima.”


‘Terserah deh.”


Voni mengajak Velania pergi saat acara sudah mau di mulai.


Rima mengangkat


kedua jempolnya untuk Gita yang mau berbicara agar tidak di injak-injak oleh


orang lain. Gita menghela napas panjang, dia benar-benar menyiapkan mentalnya


tadi.


Acara selesai


Gita langsung mencari tempat makanan, dia selalu saja tidak tahan melihat

__ADS_1


makanan yang banyak dan bervariasi. Gita langsung mengambil piring dan mulai


mencicipi satu persatu makanan di sana.


“Yang benar saja


mau jadi menantu orang kaya kok masih rakus sama makanan seperti ini.


Malu-maluin.” Kata Valenia.Gita hanya melirik saja, dan meneruskan makannya.


Dia bodo amat Valenia mau ngomong apa saja, lagian dia juga tidak kenal.


Merasa di


abaikan membuat Valenia kesal, dia mengambil makanan yang berkuah dan dengan


sengaja di menabrakkan tubuhnya dan menumpahkan makanan ke tubuh Gita.


“Aduh.. sorry


nggak sengaja.” Kata Valenia dan seketika semua orang menatap ke arah Gita dan


Valenia. Gita langsung mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan yang


menempel di bajunya.


Gilang masuk ke


tempat acara sembari dan langsung melepas jas yang di pakainya ke tubuh Gita.


Setelah itu dia mengambil minuman di depannya dan menyiram ke tubuh Valenia.


“Ahh..!” teriak


Valenia.


“Kamu nggak


apa-apa sayang.” Kata Gilang. Gita menggelengkan kepalanya,sambil tersenyum.


“Heh! Kamu siapa


datang-datang tidak sopan menyiram ku.” Kata Velania memegang tangan Gilang


namun langsung di tepisnya.


“Siapa yang


nggak sopan lebih dulu, kamu pikir saya nggak tahu kamu menyiram calon istri


aku dengan makanan itu.” Kata Gilang dengan tegas.


“Jangan asal tuduh


ya kamu,anak saya tidak mungkin melakukan semua itu.” Voni berjalan dengan


cepat mendekati anaknya.


“Kalau tante


tidak percaya, tanya saja sama orang-orang yang ada disini benar atau tidak


kalau putri kesayangan tante ini menyiram calon istri saya.” Kata Gilang sambil


merangkul Gita.


“Kalian pasti


sengaja kan mau mempermalukan anak saya, semoga saja aku tidak punya mantu


kurang ajar seperti kamu jangan sampai kita bertemu lagi.”


“Itu juga


keinginan saya, kalau perlu semua kontak terhadap keluarga tante di hapus kan.


Ma, apa mama bermasalah jika kehilangan satu teman mama ini?” tanya Gilang.


“Tentu saja


tidak, mama tidak ingin memiliki teman yang seperti ini. Selalu saja


merendahkan orang. Lebih baik sekarang kita pergi saja.” Ajak Rima.


“Kamu nggak


apa-apa kan sayang?” tanya Gilang.


“Iya nggak


apa-apa kok.’


“Maafin mama ya


sayang, tadi mama sedang ngobrol jadi nggak tahu kalau mereka membuly kamu.”


Rima mengusap rambut gita.


“Gita nggak


apa-apa kok Ma, kamu sih keburu datang padahal Gita belum memberikan balasan


kepada dia.” Kata Gita sambil nyengir.


“kamu tenang


saja, mama sudah batalkan semua kerjasama dengan peruhaan keluarga mereka jadi


menurut mama itu sudah menjadi pembelajaran yang luar biasa.”


“Keputusan yang


tepat, besok lagi jangan bawa anak sama menantu mama ke acara seperti ini.


Menyebalkan banget tahu ma.” Kata Gilang.


“Iya sayang,


kamu anterin Gita ya mama mau jemput kak andini dulu.”


“Iya ma.” Gilang

__ADS_1


membukakan pintu mobil untuk Gita.


__ADS_2