
Gita mengetuk
pintu rumah Gilang, meskipun pintunya terbuka namun dia tidak akan masuk
sebelum di persilahkan. Tak selang lama Bik Siti membukakan pintu.
“Mbak Gita,
nggak langsung masuk saja toh.” Bik Siti mempersilahkan masuk.
“Takutnya nggak
ada orang bik, masa ya main masuk-masuk saja di rumah orang.” Kata Gita.
“Eh.. Mbak Gita
kan menantu rumah ini jadi kan ya pasti sudah bisa anggap rumah sendiri kan.”
‘Belum boleh
dong, kan Gita masih belum resmi jadi menantu disini.” Gita duduk di sofa.
“Mbak Gita
cantik banget pakai gaun ih, sering-sering saja pakai gaun.” Puji Bik Siti.
“Bik Siti bisa
saja, mama dimana?”
“Mama disini
sayang.” Sahut Rima yang baru menuruni tangga. Gita berdiri menyambut Rima,
dengan mencium tangannya lalu mencium kedua pipinya.
“Kamu cantik
banget deh.” Rima menyentuh dagu Gita.
“Ih.. mama bisa
saja. Mama nih lebih cantik selalu terlihat muda.” Gita membalas pujian Rima
yang memang sangat awet muda.
“Ayo berangkat.”
Ajak Rima.
“Kak Gilang
nggak ikut tante?” Gita kaget dia pikir waktu Gilang bilang mau di ajak mamanya
pergi itu bersama Gilang juga, ternyata hanya dia.
“Nggak lah, kan
Cuma mama sama kamu doang.” Kata Rima.
Gita yang
awalnya percaya diri tiba-tiba menjadi gugup, dia bisa mati kutu nanti disana
karena tidak tahu harus apa.
“Tenang saja,
kamu akan baik-baik saja sama mama.” Rima memegang tangannya Gita dan
memberikan senyuman lembut yang mengisyaratkan kalau dia bisa mempercayainya.
Gita mengangguk, meskipun sebenarnya dia belum bisa menenangkan hatinya.
Sepanjang perjalanan
Gita tidak banyak bicara hanya diam memandangi telponya karena dia chat gilang
namun tak kunjung di balasnya.
“Kata Gilang
kamu orangnya cerewet, kenapa sama mama jadi pendiem begini?” tanya Rima.
“Hehehe..” Gita
tersenyum lalu garuk-garuk kepalanya.
“Kamu nggak
perlu jaga image gitu kalau sama mama, toh mama juga akan terima apapun kamu.”
Kata Rima. Gita langsung menyandarkan kepalanya di bahu Rima, dia memegangi
lengan Rima.
Pesta yang
sangat megah, disana banyak kumpulan orang-orang kaya yang datang. Dan sudah
tradisi mereka akan membawa anak perempuannya atau menantunya untuk di pamerkan
di depan teman-temannya. Tahun-tahun sebelumnya Rima hanya datang seorang diri
karena anak perempuannya susah sekali kalau di ajak ke acara-acara miliknya. Di
tambah Gilang yang pasti dengan seribu alaasan saat disuruh nagnterin atau
jemput mamanya jika datang ke pesta.
“Ma, Gita kok
deg-degan ya.” Tangan Gita keringetan.
“Sini gandeng
tangan mama.” Rima menggandeng menantunya itu dan mengajaknya jalan bertemu
dengan para teman-temannya.
“Hai.. Rima
__ADS_1
makin cantik saja kamu ini.” Puji Alya teman Rima.
“Iya, makin
tajir melintir awet muda pula.” Tambah Fania.
“Makasih, kalian
terlalu berlebihan memujinya.”
“Hai..hai....
semua apa kabar.” Voni teman yang sering banget heboh dan pamer dengan apa yang
dia miliki. Seperti biasa dia datang cepika-cepiki.
“Baik Von kamu
sendiri bagaimana?” tanya Rima.
“Baik dong,
kenalin ini anak gadis aku namanya Velania dia baru saja menyelesaikan studinya
di Amerika. Sayang kenalin ini tante Rima, dan itu tante Alya dan tante Vania.”
“Halo tante.”
Valenia menyalami semua teman-teman mamanya.
“Rima dia siapa?
Asisten baru, udah di ganti yang dulu?” tanya Voni.
“Oiya, kenalkan
ini menantu aku namanya Gita.” Rima memperkenalkan Gita dengan sangat bangga.
“Ya ampun Rima,
kamu nggak salah gitu pilih menantu kayak pembantu gitu, nggak mau berubah
pikiran di depan kamu kan adayang lebih anggun, pinter mana lulusan luar negeri
lagi.” Voni mulai menjelek-jelekan Gita dan membandingkan dengan ananknya.
“Em, kalau di
lihat-lihat juga dadannya kenapa aneh ya. Kan acara resmi kok pakai sneakers
sih.” Kata Valenia.
Gita melihat
cara pakaian dia, menurutnya dia pakaiannya bagus saja dan tidak ada yang aneh.
“Memangnya
kenapa ddengan pakaian Gita, bukannya fashion sekarang memang sangat bervariasi
dengan memadu padankan pakaian dengan resmi dengan santai. Dan terlihat sangat
santai tapi masih terlihat anggun.” Rima membela Gita, mau di pamerin seribu
menggantinya. Karena baginya Gita lebih baik dari siapapun baginya.
“Ya kabarin aja
deh kalau nanti kamu menyesal bisa hubungin aku, Valenia juga tidak akan
keberatan kok menungu.” Kata Voni.
‘Maaf ya tante,
kan Valenia putri tante itu sangat pintar, cantik anggun dan pastinya tahu
fashion kan.”
“Tentu saja,
kamu kalauh jauh kalau sama putriku ini.” Voni menegang tangan putrinya.
“Kalau begitu
kenapa tante mengajarkan dia menjadi anak yang bodoh dan tidak memiliki
kesopanan, dengan merebut milik orang bahkan berani menunggu milik orang lain,
apakah disana di ajarkan seperti itu.” Kata Gita dengan sangat jelas dan tegas.
Rima tersenyum senang dan juga kaget saat Gita memberikan jawaban yang pedas
kepada Voni.
“Hati-hati kamu
ya, siapa juga yang mau merebutnya. Lagian ya aku hanya memberikan saran sama
tante Rima.”
“Itu bukan
saran, tapi membujuk. Aku rasa kamu nggak akan bisa mendapatkan anak dari mama
Rima.”
‘Terserah deh.”
Voni mengajak Velania pergi saat acara sudah mau di mulai.
Rima mengangkat
kedua jempolnya untuk Gita yang mau berbicara agar tidak di injak-injak oleh
orang lain. Gita menghela napas panjang, dia benar-benar menyiapkan mentalnya
tadi.
Acara selesai
Gita langsung mencari tempat makanan, dia selalu saja tidak tahan melihat
__ADS_1
makanan yang banyak dan bervariasi. Gita langsung mengambil piring dan mulai
mencicipi satu persatu makanan di sana.
“Yang benar saja
mau jadi menantu orang kaya kok masih rakus sama makanan seperti ini.
Malu-maluin.” Kata Valenia.Gita hanya melirik saja, dan meneruskan makannya.
Dia bodo amat Valenia mau ngomong apa saja, lagian dia juga tidak kenal.
Merasa di
abaikan membuat Valenia kesal, dia mengambil makanan yang berkuah dan dengan
sengaja di menabrakkan tubuhnya dan menumpahkan makanan ke tubuh Gita.
“Aduh.. sorry
nggak sengaja.” Kata Valenia dan seketika semua orang menatap ke arah Gita dan
Valenia. Gita langsung mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan yang
menempel di bajunya.
Gilang masuk ke
tempat acara sembari dan langsung melepas jas yang di pakainya ke tubuh Gita.
Setelah itu dia mengambil minuman di depannya dan menyiram ke tubuh Valenia.
“Ahh..!” teriak
Valenia.
“Kamu nggak
apa-apa sayang.” Kata Gilang. Gita menggelengkan kepalanya,sambil tersenyum.
“Heh! Kamu siapa
datang-datang tidak sopan menyiram ku.” Kata Velania memegang tangan Gilang
namun langsung di tepisnya.
“Siapa yang
nggak sopan lebih dulu, kamu pikir saya nggak tahu kamu menyiram calon istri
aku dengan makanan itu.” Kata Gilang dengan tegas.
“Jangan asal tuduh
ya kamu,anak saya tidak mungkin melakukan semua itu.” Voni berjalan dengan
cepat mendekati anaknya.
“Kalau tante
tidak percaya, tanya saja sama orang-orang yang ada disini benar atau tidak
kalau putri kesayangan tante ini menyiram calon istri saya.” Kata Gilang sambil
merangkul Gita.
“Kalian pasti
sengaja kan mau mempermalukan anak saya, semoga saja aku tidak punya mantu
kurang ajar seperti kamu jangan sampai kita bertemu lagi.”
“Itu juga
keinginan saya, kalau perlu semua kontak terhadap keluarga tante di hapus kan.
Ma, apa mama bermasalah jika kehilangan satu teman mama ini?” tanya Gilang.
“Tentu saja
tidak, mama tidak ingin memiliki teman yang seperti ini. Selalu saja
merendahkan orang. Lebih baik sekarang kita pergi saja.” Ajak Rima.
“Kamu nggak
apa-apa kan sayang?” tanya Gilang.
“Iya nggak
apa-apa kok.’
“Maafin mama ya
sayang, tadi mama sedang ngobrol jadi nggak tahu kalau mereka membuly kamu.”
Rima mengusap rambut gita.
“Gita nggak
apa-apa kok Ma, kamu sih keburu datang padahal Gita belum memberikan balasan
kepada dia.” Kata Gita sambil nyengir.
“kamu tenang
saja, mama sudah batalkan semua kerjasama dengan peruhaan keluarga mereka jadi
menurut mama itu sudah menjadi pembelajaran yang luar biasa.”
“Keputusan yang
tepat, besok lagi jangan bawa anak sama menantu mama ke acara seperti ini.
Menyebalkan banget tahu ma.” Kata Gilang.
“Iya sayang,
kamu anterin Gita ya mama mau jemput kak andini dulu.”
“Iya ma.” Gilang
__ADS_1
membukakan pintu mobil untuk Gita.