
Setelah mencari ke seluruh tasnya Gita akhirnya pasrah kalau dia harus di hukum, dia kehilangan dasinya.
"Ck! kenapa selalu menghilang di saat gue butuh. Ngeselin, dasar dasi tukang goshting." omel Gita.
"Eheem." Gilang berdehem.
Gita mengangkat kepalanya,"Eh.. Kak Gilang, sejak kapan disini?"
"Hampir dua tahun disini." jawab Gilang sambil tersenyum.
"Bercanda aja." Gita memukul lengan Gilang. Gilang hanya membalas dengan senyuman lalu memegang kedua lengan Gita agar dia berhadapan lurus dengan dirinya.
Jantung Gita seprti rolerkoster, naik turun tidak karuan bikin jantung tidak aman. Gilang mengambil dasi di sakunya lalu memakaikan ke Gita.
"Diam jangan banyak gerak nanti tidak rapi." Kata Gilang.
"Lo kok tahu kalau gue nggak pakai dasi?" tanya Gita.
"Memangnya apa yang gue nggak tahu tentang lo. Sudah rapi, buruan ke lapangan sebelum Pak Rudi menemukan lo disini." Gita mengajak Gita ke lapangan. Namun Gita masih bengong, dia bingung kenapa Gilang bisa berlaku perhatian begitu sedangkan dia juga berlaku baik dengan kakaknya.
"Kenapa masih diam disitu?"
"Ah.. nggak." Gita berjalan menyusul Gilang.
Gita diantar Gilang sampai ke barisan kelasnya. Setelah itu dia kembali patroli.
"Ciee... sweet banget sih." Bisik Fara.
"Seneng banget ya punya pacar kayak Kak Gilang, udah ganteng perhatiannya itu loh tiada tara." Bisik Anita.
"Iya, tapi model kayak Kak Gilang tuh suka mendua nggak ya?" Bisik Gita lebih pelan agar teman-teman yang laim tidak mendengar.
"Apa gue nggak dengar." Fara geser dari barisan agar lebih dekat dengan Gita.
"Kak Gilang itu orang yang suka istri banyak nggak ya."
Mendengar bisikan Gita, reflek Fara tertawa tapi langsung di tutup dengan tangan Gita.
"Jangan tertawa nanti kita bisa kena hukuman." Gita mendelik.
"Ok."
"Tapi Ta, katanya sih kalau punya pacar atau suami ganteng, pinter hampir sempurna kayak cowok-cowok di novel sama drama tuh makan hati terus. Soalnya banyak yang suka, dan pelakor ada dimana-mana." Bisik Anita sambil geser ke arah Gita juga.
"Ya itu lah yang gue takutkan, mending yang standar aja kan. Orang standar aja sering banyak tingkah apalagi yang ganteng nya banget gitu. Takut gue." Tambah Gita.
__ADS_1
"Makanya lo pacaran aja sama Ucup, si kutu buku yang nggak pinter-pinter juga." Fara menunjuk Yusup yang sering di panggil Ucup. Cowok yang kutu buku namun tetap saja nilainya di bawah rata-rata.
Plak!
"Lo aja sonoh."
"Idih, ogah."
"Ehem!" Pak Rudi berdehem di samping Anita. Gita, Fara dan Anita menoleh ke arah Pak Rudi bersamaan.
"Kalian sejak tadi ngobrol saja, nggak memperhatikan upacaranya." Pak Rudi memukul kepala mereka bertiga dengan tongkat yang di bawanya.
Mereka bertiga meringis sambil mengusap kepalanya, meskipun tidak keras namun lumayan juga rasanya.
"Kalian bertiga keluar barisan dan ikut saya." Kata Pak Rudi.
"Kemana Pak?" tanya Gita.
"Ke hatimu, udah ikut aja nggak usah banyak tanya."
"Saya kira beneran Pak, mau saya jawab jangan karena saya hati saya udah ada yang menempatin." jawab Gita yang membuat beberapa orang di sampingnya ikut tertawa.
"Diam, atau kalian juga mau saya hukum. Ini lagi ngejawab aja, buruan!" seru Pak Rudi.
Gita, Fara dan Anita dibawa ke barisan yang berbeda. Diaman barisan paling ujung dekat barisan guru ditambah panas lagi.
"Lo itu yang sejak tadi ribut, coba kalau kita ngobrol biasa pasti nggak akan ketahuan Pak Rudi." Fara nggak mau di salahin.
"Ya udah nikmatin aja kali, berjemur pagi-pagi ginikan dapat vitamin D." ujar Gita sambil melirik ke arah Fara kemudian Anita.
"Vitamin D kalau dikit, ini bisa-bisa gosong tahu." Protes Fara.
"Gaya lo, lagian emang lo udah item."Goda Gita.
"Sembarangan kalau..."
"Ssst! bisa diem nggak kalian. Nggak ada kapoknya ya kalian." kata Pak Rudi.
"Maaf Pak." Gita Gita meringis.
"Udah jangan pada brisik." Kata Anita ketika Pak Rudi sudah pergi dari dekat mereka.
"Fara tuh yang mulai." Gita memulai percakapan yang memicu keributan lagi.
"Kok gue lagi, lo yang dari tadi ngajakin ngobrol juga."
__ADS_1
"Ehem!" Pak Rudi tiba-tiba sudah ada di samping mereka lagi. kali ini Pak Rudi bersama Gilang. Pak Rudi meminta Gilang untuk mengawasi mereka bertiga.
"Gilang jaga mereka, kalau mereka ribut lagi nanti tambah hukumannya." kata Pak Rudi sambil pergi untuk patroli lagi.
"Baik Pak."
Gilang menatap Gita tajam, Gita pun langsung menunduk untuk menghindari tatapan Gilang.
Fara berjalan mundur lalu pindah berdiri di samping Anita. Dia memberiakan kesempatan agar Gita dan Gilang dekat.
Gita semakin deg-degan karena Gilang berdiri tepat di samping Gita. Gilang melangkah mundur satu langkah kecil saat melihat keringat yang bercucuran di wajah Gita. Dia berusaha menghalang sinar matahari agar tidak langsung terena tubuh Gita.
Gita menoleh ke belakang, namun langsung di putar sama Gilang agar dia fokus lagi ke depan.
"Kak Gilang masih perhatian terus sama gue, kira-kira dia mau pacarin gue sama Kak Qila bersamaan nggak ya." pikiran Gita mulai nggak jelas.
...◇◇◇◇◇...
Upacara selesai semua murid berhamburan ke kanti sebelum pelajaran pertama di mulai. Namun itu tak berlaku untuk Gita, Fara dan Anita. Mereka harus ke perpustakaan untuk membantu pekerjaan di sana sampai istirahat pertama.
"Eh.. tumben ini hukumannya enak." kata Anita sambil menata buku ke rak.
"Iya, mana adem lagi." Tambah Gita.
"Boleh puter musik nggak sih, kayaknya bakalan lebih asoy lagi." Fara makin aneh-aneh.
"Yang benar aja lo, ini tuh lerpustakaan bukan tempat tongkrongan." Anita menggeleng kepala.
"Beli minum sama cemilan apa gitu, tenggorokan gue kering nih. Perut gue juga udah dangdutan nih." Gita mengusap tenggoroan kemudian perutnya.
"Benar, sama Far lo beli ke kantin." Anita menyuruh Fara.
"Ih.. kok gue. Lo aja gih, capek gue." Fara menolak.
"Hai.. kalian pasti haus kan. Nih gue bawain minuman." Bayu tiba-tiba membawakan minuman disaat mereka berdebat siapa yang akan ke kantin.
"Makasih Kak." Jawab mereka bertiga bersamaan.
"Kalau gitu gue pergi dulu, oiya ini juga ada sarapan buat lo." Bayu memberikan bekal. Dengan ragu Gita menerima bekal dari Bayu.
"Ini amankan dimakan?" Tanya Fara dengan wajah curiga.
"Aman kok."
"Yakin, nanti lo kerjain kita lagi. Kembaliin aja Git." kata Anita. Mereka berdua takut kalau Bayu akan mengerjai Gita.
__ADS_1
"Jangan Git, ini benar-benar aman. Bibik gue yang masak san gue juga sudah makan dan nggak apa-apa."
"Iya Kak makasih."