Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Part Bella -Vian


__ADS_3

Vian mengantar pulang Bella, dia menurunkan barang-barang yang di bawanya dari camping kemarin.


“Manis banget ya Mbak Ina sama Mas Win.” Kata Bella.


“Iya, kita aja yang belum manis.” Jawab Vian sembari membawakan koper mendekati pintu rumah Bella. Gita hanya tersenyum.


“Gimana jawabanya?” tanya Vian.


“Bella..” seseorang keluar dari dalam rumah berlari dan memeluknya erat.


“Ya ampun, gue kangen banget sama lo.” Katanya sambil mengecup kening Bella.


“Kak Edo, kapan pulang Bella juga kangen banget.” Bella membalas pelukan Edo.


“Kakak pulang tadi sore, nunggui kamu sampai lumutan di rumah.” Edo mengacak-acak rambut Bella.


“Kenapa nggak bilang sih mau pulang, kan aku bisa menyiapkan makanan yang banyak.” Kata Bella.


Mereka berdua asyik ngobrol sampai lupa kalau ada Vian disitu. Vian mulai kesal, dia


kemudian berdehem. Bella pun langsung melepas pelukan dari Edo.


“Oh iya sampai lupa, Kak kenalin ini teman kerja Bella.” Bela memperkenalkan Vian.


“Vian.” Vian mengulurkan tangannya.


“Edo, tunangan Bella.” Edo menyambut tanngan Vian.


Deg! Jantung Vian serasa mau berhenti. Tubuh rasanya langsung melemas, mendengar kata tunangan. Seperti ada benda berat menimpa kepalanya.


“Oh tunangannya, gue temannya. Kalau begitu gue balik dulu ya sudah malam.” Kata


Vian dengan hati yang sangat dongkol kenapa bisa Bella tidakmengataka kalau


dirinya sudah memiliki tunangan.


“Vian..” Bela ingin menjelaskan sama Vian.


“Gue duluan Bel.” Vian langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Dia tidak ingin mendengarkan apapun dari Bella.


Bella tak tahu harus bagaimana sekarang, dia tahu Vian pasti marah saat tahu Edo itu


adalah tunangannya.


“Ayo masuk, mama sama papa sudah menunggu.”


“Iya.” Kata Bella masih dengan tengok ke belakang.


...♡♡◇◇◇♡...


Bugh...bughh.... Vian menepuk-nepuk kemudinya dia sangat kesal.


“Tega lo Bella, jadi ini alasanya kenapa lo nggak menjawab pernyataan cinta gue.


Jahat lo Bella. Gue benci sama lo!” Vian kembali menaikan laju mobilnya. Beberapa kali orang menlaksonnya karena dia mengemudi dengan ugal-ugalan.


‘”Aaaaaa...!!! kenapa lo nggak bilang sejak awal Bella. Kenapa?!” Teriak Vian di dalam mobil. Air mata menetes, dia kecewa berat sama Bella.


Bella menjatuhkan tubuhnya lemas, dia merasakan sakit banget hatinya. Kenapa Vian datang begitu terlambat dalam hidupnya. Dia memang mulai mencintai Vian tapi dia sudah terpaut dengan Edo. Dia sudah di jodohkan sama Edo oleh orang


tuannya.


“Maafin gue Vian.” Bella mulai menangis. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Andai dia tahu akan bertemu dengan Vian dia pasti tidak akan setuju dengan perjodohan.


“Sayang, kamu kenapa?” mamanya masuk ke kamar Bella.


“Ma..” Bella memeluk mmanya.


“Kenapa sayang? Apa ada yang salah?” tanya Mamanya.


“Ma bisakah aku membatalkan perjodohan ini?” Kata Bella.


“Kenapa tiba-tiba sayang, kamu jangan gila sayang.” kata mamanya sembari mengusap air mata milik Bella.


“Ma, aku mencintai orang lain.” Kata Bella dengan sangat jujur kepada mamanya.


“Mencintai orang lain?” Mamanya kaget.


“Iya ma, aku sangat mencintai dia.” Kata Bella memohon.


“Siapa dia?”


“Orang yang selama ini menjaga Bella, selalu membela Bella. Dia juga yang membuat Bella semangat sampai sekarang. Bisa nggak ma kalau pertunangan ini di


batalkan?” Bella meminta kepada mamanya.


“Sayang, ini nggak mungkin pertunangan kamu sama Edo sudah sangat dekat. Kenapa kamu tidak mengatakan sejak dulu.”


“Bella nggak tahu kalau bakalan mencintainya Ma. Tolong Bella ma.”


“Kamu nggak bisa sekuka hati kamu speerti itu Bella. Kita sudah banyak di bantu sama


keluarga Edo bagaimana kita bisa membatalkan pernikahan dengannya.” Papanya Bella masuk ke kamar.


“Tapi aku tidak mencintai Kak Edo, aku hanya menganggapnya sebagai Kakak saja. Pa tolong lakukan sesuatu.” Bella merengek.


“Nggak sayang, papa nggak bisa.” Papa Bella sebenarnya kasian sama Bella hanya saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Bella menangis sesenggukan, semua sudah terjadi dan tidak bisa di batalkan sepihak


begitu saja.


“Kamu cepat cuci muka, dan bergegas turun kita akan makan malam.” Kata ayahnya.


“Ayo sayang, kasihan Edo sudah menunggu dari tadi.


Bella beranjak mencuci muka, dan langsung turun untuk makan malam bersama. Awalnya dia sangat bersemangat bertemu dengan Edo, namun saat mengingat Vian dia


berubah menjadi sangat sedih. Dia tidak nafsu makan lagi. Yang ada di pikirannya sekarang Vian yang marah sama dirinya.


“Bella, kenapa makanannya diaduk-aduk saja? Kamu nggak enak badan?” tanya Edo.


“Nggak kok, Bella Cuma capek saja habis perjalanan jauh.” Kata Bella.


“Bella lebih baik kamu resign kerja saja, nanti setelah menikah kamu masuk ke


perusahaan aku di surabaya. Atau kamu tidak usah bekerja, mengurus rumah


tangga.” Kata Edo.


“Bella ke atas dulu ya, mata Bella udah nggak kuat nih.” Kata Bella sambil beranjak


dari kursinya.


“Bella, duduk.” Kata Papanya.


“Bella ngantuk Pa.” Jawabnya menahan tangis.


“Kamu nggak sopan, Edo sudah menunggu kamu lama.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa Om, memang Bella lelah jadi biarkan saja tidur.”


“Maaf Kak.”


“Nggak apa-apa Bella.”


Bella langsung bergegas masuk ke kamarnya, dia langsung mengunci pintu rapat-rapat. Bella mengambil ponselnya untuk menelpon Vian.


“Maaf, nomor yang anda huungi sedang tidak aktif, Silahkan hubungi beberapa saat lagi.”


“Vian, lo kemana sih kenapa lo nggak aktif.” Kata Bella sambil menangis.


“Aku kan belum sempat menjelaskan kenapa lo langsung pergi Vian.” Bella menangis


sesenggukan. Karena pesan lewat wa pun hanya cetang satu.


“Gue sayang sama lo Vian, tapi gue juga bingung. Kenapa lo harus datang terlambat di hidup gue. Kenapa Vian..”


Bella mencoba menlpon Gita, yang dia tahu kalau Vian kesal pasti akan mengadu sama


Gita.


“Halo Gita.”


“Iya Bella, ada apa?”


“Em.. apa Vian ada disitu?” tanya Bella hati-hati.


“Vian, nggak bukannya tadi nganterin lo pulang?” tanya Gita.


“Iya, tapi sekarang ponselnya kok nggak aktif ya.” Bella mulai cemas.


“Oh, mungkin habis batrai. Dia kan memang malas kalau carger hp sebelum batrainya


habis.” Kata Gita.


“Begitu ya.”


“Iya, em.. apa ada masalah?” Gita mulai curiga dengan suara Bella yang seperti orang yang sedang menangis.


“Nggak,btadi lupa ngucapin terima kasih. Gue wa sama gue telpon kok nggak aktif. Gitu saja kok.” Bella ngeles, dia tidak mau memberi tahu Gita dulu kalau mereka


berdua ada masalah sebelum menyelesaikan dengan Vian.


“Kalua memag ada masalah, lo bisa hubungin gue ya.” Kata Gita.


“Iya, makasih ya. Maaf  ganggu malam-malam.” Bella tidak enak malam-malam mengganggu Gita.


“Iya,bnggak apa-apa tenang saja. Nggak usah sungkan.” Kata Gita dengan santai. Dia tidak pernah merasa terganggu kalau temannya menghubunginya sekalipun


malam-malam untuk meminta bantuan.


Bellabmenutup sambungan telponnya, dia kemudian mondar-mandir kayaknya tidak mungkin kalau baterainya mati. Dia merasa Vian sengaja mematikan sambungan telponnyabagar tidak bisa di hubungi sama dirinya.


“Sekarang gue harus apa?” katanya. Benar-benar dia di buat tak karuan. Pikiranya terus melayang memikirkan Vian.


...♡♡♡♡♡...


Tiiiinnnnnn!!!!!!


Bruuughh!!!


Mobil Vian menabrak pohon karena berusaha menghindari orang yang tiba-tiba menyeberang. Dia lepas kendali dan tak bisa menguasai mobilnya. Matanya kunang-kunang, tubuh Vian terasa kaku dan berat saat hendak bangun untuk menyelamatkan diri. Darah di kepalanya sudah mengucur, tangannya pun tidak bisa bergetar tidak bisa mendorong pintu. Semua terasa sudah berakhir.


Telinganya remang-remang mendengar orang menggedor-gedor kaca mobilnya, namun semakin lama semakin menghilang suara dari telinganya dan semua terasa gelap, dingin dan lenyap.


“Vian.. Vian..” Gita menangis melihat Vian tergeletak tak berdaya dengan perban di


kepalanya.


“Sayang, sabar kamu ya jangan nangis terus.” Gilang menanangkan Gita.


“Tapi kasian Vian, kenapa bisa seperti itu. Harusnya dia tadi bareng sama aku pasti dia tidak akan ada disini." Gita menangis sesengukan.


“Tenang sayang. Semua itu sudah takdir. Dengar, Vian tidak apa-apa." Gilang memeluk Gita untuk menenangkan Gita.


Gilang adalah orang pertama yang mendapat telepon dari karyawanya saat melihat kejadian itu. Dia langsung menelpon Gilang Vian itu sangat dekat dengan bosnya.


“Gita..Gita, bagaimana Vian?” Seru Fara dari kejauhan.


“Masih di cek sama dokter.” Kata Gita dengan terbata-bata.


“Kenapa bisa begini sih, pasti dia ngebut ya sampai nabrak.” Kata Fara.


“Kalian jangin nangis begitu dong, doakan yang terbaik buat Vian.” Raka menenangkan


istrinya sekaligus adiknya.


“Vian pasti sembuhkan.” Gita menatap Gilang.


“Iya sayang, Vian pasti sembuh kok.”


“Kenapa dari tadi dokter nggak kelua-keluar, kenapa Vian nggak sadar-sadar.”  Gita sudah tidak sabar mendengar Vian selamat.


“Kamu sabar dong sayang, kan dokter juga butuh proses. Makanya kamu berdoa.”


Mereka menunggu hampir satu jam, dan dokterpun selesai memeriksa Vian. Mereka boleh masuk menemui Vian yang masih belum sadar.


“Vian, buruan dong bangun, nanti kalau lo bangun cepat gue beliin deh makanan kesukaan lo yang banyak.” Kata Gita.


“Iya, gue nggak akan minta kok sama lo. Beneran, gue beliin buble tea dua deh atau


berapa deh.” Kata Fara.


“Kalian kenapa berisik sih, gue mau tidur.” Ucap Vian dengan lirih.


“Vian..lo udan bangun.” Gita buru-buru mengusap air matanya.


“Iya, sayang... Vian udah bangun loh.” Fara memberi tahu Raka yang duduk di sofa.


“Kalian kenapa menangis, hey.. gue belum mati kali.” kata Vian lagi.


“Lo ya, bisa-bisanya bercanda seperti itu. Kita sudah di buat ketar-ketir sama lo.” Gita menabok lengan Vian.


“Aaaa.. sakit tahu Git, main tabok aja lo.” Vian meringis.


“Habisnya ngeselin lo.” Gita manyun.


“Vian. Kenapa bisa menabrak? Lo nggak mabuk kan?” tanya Fara.


“Mabuk darimana coba. Negatif mulua. Gilang, Raka bisa bawa pulang nggak nih


istri-istri kalian ini.” Pinta Vian.


Gilang sama Raka tertawa, “Biarin aja, mereka berdua disini kalau pulang lo nanti


kesepian kali.”


“Gue bercanda, makasih ya kalian udah mau temani gue disini, khawatirin gue.” Kata

__ADS_1


Vian.


“Sama-sama. Vian, kalau boleh tahu kenapa bisa menabrak?”


“Gue lost control. Nggak bisa menahan emosi gue. Gue mengemudi diatas rata-rata


sampai akhirnya gue menabrak pohon karena ada orang tiba-tiba lewat.”


“Udah gue duga, lo pasti ngebut-ngebut kan. Kan udah gue bilang jangan ngebut-jangan ngebut. Kenapa sih bandel banget.” Fara ngomel.


“Apa ini ada hubungannya sama Bella?” tanya Gita tiba-tiba membuat mereka langsung memandangi Vian.


“Nggak.”


“Jujur saja deh Vian, sebelum gue dapar kabar lo kecelakaan Bella menlpon gue


menanyakan keberadaan lo. Apa benar Vian ini ada hubungannya dengan Bella?” Gita mendesak untuk mendapatkan jawaban dari Vian.


Vian menghela napas, dia tidak bisa menyangkal lagi dari Gita.


“Benar, gue kesal karena selama ini Bella sebenarnya mempunyai tunangan. Dia nggak bilang sama gue. Kalau saja dia bilang memiliki tunangan gue nggak bakalan


mengejar dia. Dan juga gue nggak akan mencintainya.” Kata Vian dengan penuh


emosi.


“Darimana lo tahu Bella memiliki tunangan?” Tanya Gilang.


“Tunangannya sendiri yang mengatakan saat gue menagntarnya pulang tadi, gue kesal. Gue rasanya tidak menginginkan lagi hidup.”


“Hey, ngomong apaan sih lo. Ada kita disii kenapa lo bisa berpikiran seperti itu.”


Raka mengusap pundak Vian.


“Apa benar nasib gue itu memang seperti ini. Gue bakalan jadi jomblo akut, orang


yang aku cinta selalu saja di rebut orang. Selalu saja menyakitiku.”


“Kamu tenang saja, jangan terlalu memikirkan itu. Bukannya lo kemarin bilang jodoh itu yang menagtur tuhan lalu apa lagi yang kau risaukan?” tanya Gilang.


“Iya, lo jangan bertingkah yang aneh-aneh bestie. Kita sayang sama lo.” Gita memeluk


Vian, diikuti sama Fara.


“Woi..woi.. sakit. Tubuh gue masih sakit.” Seru Vian.


“Ah maaf-maafkan.” Kata Gita dan Fara sambil nyengir.


Bella yang mendapat kabar kalau Vian kecelakaan langsung pergi menemuinya di rumah sakit. Bahkan dia membolos pergi ke kantor demi mau melihat Vian. Bella


berhenti di depan pintu saat melihat Vian sedang di suapin sama Gita.


“Mau gue telpon Bella biar dia kesini?” tanya Gita.


“Nggak perlu buat apa? Nambah sakit saja.” Katanya sambil senyum kecut.


Dada Bella terasa tersayat mendengar ucapan Vian, baru saja kemarin dia baik dan


berlaku manis terhadapnya sekarang berubah kecut dan dingin lagi.


“Kalau begitu jangan sedih terus lah bestie, kalau emang Bella bukan jodoh lo ya usah


cari aja lagi.” Kata Gita untuk menguatkan Vian.


“Iya, tenang nanti gue kenalin sama teman-teman gue. Atau nggak sepupu gue yang ada di luar negeri.” Kata Fara.


“Nggak usah ngibul. Luar negeri mana sepupu lo. Bojong kenyot.” Kata Vian sambil


mengunyah bubur yang baru saja mendarat di mulutnya.


“Vian, pasti tunangan Bella lebih ganteng kan daripada lo. Makanya Bella memilih dia.”


Kata Fara sambil tertawa.


“Memangnya ada orang yang mengalahkan ketampanan paripurna gue.”


“Banyak.” Jawab Gita dan Fara dengan keras.


“Tapi..” Suara Vian melemah.


“Tapi apa? Lo mau nangis ya?" Kata Fara.


“Apaan sih.”


“Vian, kalau mau nangis-nangis aja jangan di simpan tahu. Nanti lo nyesek lagi.” Kata


Fara.


“Tapi gue udah terlanjur sayang sama dia, bagaimana cara gue move on. Sedangkan gue tiap hari ketemu sama dia.” Keluh Vian.


“Em.. bagaimana kalau lo pindah aja ke tempat Raka dulu. Biar gue bilang nanti sama dia.”


“Nggak usah, itu akan merepotkan.Gue mau cabut aja dari kantor.” ujar Vian. Dia ingin meninggalkan kota, dan semua yang berhubungan dengan Bella.


“Jangan begitu lah Vian, lo mau kemana?”


“Pulang


nyusulin ortu gue kali, atau kalau nggak gue mau usaha ikan ******.”


Tuk!


Gita


mengetuk kepala Via dengan sendok yang di bawanya.


“Nggak


usah ngaco lo, cuman masalah seperti ini bukan berati lo bisa menghindar. Lo


harus hadapi, lo harus legowo kalau memang dia buka jodoh lo.”


“Benar


Vian, kalau lo menghindar yang ada sakit hati lo makin bertambah. Tapi kalau lo


iklas. Hati lo akan senang dan tidak akan ada beban.” Fara ikut menennangkan


Vian.


Bella


sudah tidak tahan lagi mendengarnya, air matanya terjatuh lagi. Dia ingin


sekali masuk memeluknya dan menjelasakan kalau dirinya juga sangat mencintainya


tapi dia tidak bisa. Karena tidak mungki membatalkan pertunangannya tanpa


persetujuan dari kedua orang tuannya.

__ADS_1


__ADS_2