Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menang Proyek


__ADS_3

“Gashu..gashu....” Gita dan Fara menirukan


marsha an the bear saat hendak mau makan.


“Apaan tuh gashu?” Win menoleh ke arah


Gita dan Fara.


“Makan Mas Win.” Jawab Vian.


“Ah.. bahasa anak-anak jaman sekarang


memang tidak bisa di mengerti. Makan di bilang gashu.” Win merasa sangat tua


karena sudah tidak tahu bahasa anak sekarang.


“Itu mah bukan bahasa anak sekarang Mas,


tapi bahasa anak bayi.”


“Ha?”


“Tonton saja serial marsha and the bear


di tv nanti akan tahu.” Jawab Vian.


“Ada-ada saja. Yuk buruan makan.”


“Yuhu...”


Mereka semua langsung pindah tempat dari


ruangan yang membuatnya jadi pusing tujuh keliling ke tempat surga dunia yaitu


kantin.


“Hah.. males banget dimana-mana


ketemunya manusia-manusia itu lagi.” Kata Ina.


“Kalau mau nggak ketemu yan pindah


kantor sih Mbak.” Sahut Vian.


“Nggak usah provokasi.” Gita menabok


punggung Vian.


“Ya kan benar.”


Gita mengelus perutnya yang sudah


keroncongan, dia nyelonong maju duluan memmesan makannya.


“Buk..”  Gita dan Catrin memanggil ibu kantin dengan bersamaan.


“Gue dulu.” Kata Catrin.


“Mana bisa, orang yang maju gue duluan.”


Gita nggak mau kalah.


“Dimana-mana yang menjadi team unggulan


itu yang duluan.” Catrin membawa-bawa kerjaan saat mau memilih makanan pun.


“Apa hubungannya beli makanan sama


kerjaan. Katanya pinter tapi suka nggak jelas.” Jawab Gita.


“Yang nggak jelas tuh lo, minggir


kenapa?” Catrin menyenggol Gita hingga dia bergeser dan menabrak Nino.


“Woi.. bisa santai nggak lo, anak baru


juga sudah berlagak. Sepintar apasih lo?” Nino menarik Gita ke belakang


sedangkan dia menghadapi Catrin.


“Yang pasti lebih pintar daripada anak


buah kalian bertiga.” Catrin berani menjawab.


“Benar, dia lebih segelanya. Bahkan nih


ya kalau ketiga anak baru lo melawan Catrin seorang diri pasti akan kalah.” Roy


ikut membantu Catrin.


“Sudah.. kenapa jadi berantem sih. Kita


kesini mau makan bukan mau debat. Roy bawa pergi itu anak buah kamu dan jangan


buat masalah.” Ina menasehati Roy.


“Buat masalah, kalian tuh yang bikin

__ADS_1


masalah. Orang-orang loser kayak kalian kenapa masih di pertahanin di


perusahaan in.” Roy tersenyum mengejek.


“Jaga ya omongan lo, harusnya perusahana


itu membuang manusia-manusia sok pintar seperti kalian.” Fara maju sambil


berkacak pinggang.


“Sok pintar.” Roy tertawa di ikuti sama


Catrin. “Hey nona, kita itu sudah memenangkan banyak proyek dan juga bonus mana


mungkin kita yang memberikan keuntungan lebih buat perusahaan akan di buang.”


Jelas Roy.


“Itu sebelum ada kami datang, jadi


siap-siap tuh beli tisu yang banyak.” Kata Vian.


“Jangan terlalu berarap tinggi, nanti


kalau jatuh sakit lo.”


“Jangan terlalu meremehkan, kalau kalah


sama orang yang biasa aja seperti kita lebih sakit lo.” Sahut Gita.


“Baiklah, kita buat kesepakatan kalau


kalian menang bisa meminta apa saja sama team gue. Tapi kalau kalian yang kalah


aku minta kalian resign dari perusahaan ini.” Roy memberi tantangan kepada team


Win.


Mereka saling bertatapan, Win


menggelengkan kepalanya bukannya dia takut kepada tantangan Roy. Tapi memang


kwalitas team sebelah lebih unggul daripada team mereka jadi lebih baik


mengalah sekarang daripada harus resign perusahaan.


“Deal.” Gita maju sambil mengulurkan


tangannya.


memegang tangan Gita sedikit lalu pergi ke mejanya kembali.


Win, Ina dan Nino mendelik saat melihat


Gita menyepakati tantanga dari Roy. Benar-benar keputusan yang membuat mereka


jantungan, bagaimana bisa dia mempertaruhkan pekerjaanya yang mereka susah


payah di dapatkan.


“Gita, kenapa lo ambil keputusan konyol


ini?” Tanya Win terlihat kesal tapi pasrah dia tidak bisa marah.


“Mas Win tenang saja. Semuanya akan


baik-baik saja.” Jawab Gita tanpa rasa dosa.


“Tenang, Gita lo itu mempertaruhkan masa


depan kita.” Ina juga tidak setuju dengan kesepakatan Gita.


“Batalkan sekarang Gita.” Nino juga


meminta Gita membatalkan perjanjian dengan Roy.


“Mas Win, Mas Nino sama Mbak Ina tenang


saja nggak usah cemas, ada kita semuannya bakalan beres.” Vian membela Gita.


“Kalian terlalu main-main, cari kerja


itu susah. Dan yang mereka bilang team unggulan memang benar. Apa kalian mau


menanggung kalau kita kalah, please kalau mau memutuskan sesuatu pikir efek


panjangnya jangan hanya karena emosi sesaat.” Ina memarahi Gita, Fara dan Vian


yang menganggapnya semua itu masalah sepele.


“Kita sudah memikirkannya. Mbak Ina


sudah lama kerja disini tapi kenapa masih tak memiliki kepercayaan diri dengan


keampuan yang Mbak miliki.”


“Pantes saja kalian sering gagal, karena

__ADS_1


kalian tidak berani melangkah dan membiarkan mereka mengambil star dulu.”


Tambah Fara.


Ketiga seniornya itu terdiam, selama ini


memang mereka hanya diam tidak berani mengambil resiko. Selalu merasa


kemampuannya di bawah dari team Ratna. Sejak kegagalannya dalam menyelesaikan


produk mereka hanya bisa mengambil proyek yang sangat kecil.


“Gue sebagai ketua sangat malu, karena


tidak bisa memberikan arahan yang terbaik buat team.”


“Mas Win, bagaimana kalau sekarang kita


rubah semua itu. Kita buktikan sama mereka kalau team kita ini lebih unggul


dari mereka.” Kata Vian.


“Kita lawan apa saja yang membuat kita


down, termasuk manusia-manusia songong itu.” Tunjuk Fara dengan dagunya.


“Ya sudah ayo kita pesan makan dulu, jam


istirahat hampir habis.” Kata Win.


Win, Nino dan Ina seperti mendapatkan


suntikan semangat dari juniornya. Mereka memberikan energi positif kepada para


senior yang hampir putus asa.


Pengumuman pemenag proyek akan segera


diumumkan, mereka di suruh berkumpul lagi ke ruangan meeting.


“Baik teman-teman, terima kasih sudah


bekerja sangat keras konsep kalian sangat menarik. Catrin kamu belajar sangat


cepat bisa menyesuaikan team kamu.”


“Terima kasih Pak.” Jawan Catrin sangat


bangga di puji Gilang.


“Gita apa ini tandanya konsep Catrin


yang akan di pilih?” bisik Fara.


“Entahlah, kalau di lihat dari cara kak


Gilang bicara sih iya.”


“Terus apa yang akan kita lakukan, kita


harus resign semua dari kantor sini.”


Gita menoleh kearah ketiga seniornya


yang menundukan kepala pasrah, kerjasama mereka di perusahan GG entertaiment


berhenti sampai disini karena senior yang sangat gegabah.


Gita mengaitkan kedua tangannya, lalu


memejamkan matanya dia berdo’a agar Gilang memberikan kesempatan ini dan


menyelamatkan semua team.


“Saya akan berikan proyek ini kepada


team Win.” Gilang menunjuk ke Win. Seketika team Win bersorak kegirangan.


“Yang benar bos saya nggak salah dengar


kan?” tanya  Win.


“Tidak, konsep ini memang jarang di


ambil sama orang. Dan saya minta ini di buat pakai model anime saya yang lebih


efesien waktunya.” Kata Gilang.


“Baik Pak terima kasih.” Kata Win.


Gita menatap Gilang sambil tersenyum,


Gilang membalas senyuman Gita sembari memberikan jempol kepada Gita. Gita


sangat bahagia, bukan karena mendapatkan proyeknya tapi karena bisa


menyelamatkan seniornya.

__ADS_1


__ADS_2