
“Gashu..gashu....” Gita dan Fara menirukan
marsha an the bear saat hendak mau makan.
“Apaan tuh gashu?” Win menoleh ke arah
Gita dan Fara.
“Makan Mas Win.” Jawab Vian.
“Ah.. bahasa anak-anak jaman sekarang
memang tidak bisa di mengerti. Makan di bilang gashu.” Win merasa sangat tua
karena sudah tidak tahu bahasa anak sekarang.
“Itu mah bukan bahasa anak sekarang Mas,
tapi bahasa anak bayi.”
“Ha?”
“Tonton saja serial marsha and the bear
di tv nanti akan tahu.” Jawab Vian.
“Ada-ada saja. Yuk buruan makan.”
“Yuhu...”
Mereka semua langsung pindah tempat dari
ruangan yang membuatnya jadi pusing tujuh keliling ke tempat surga dunia yaitu
kantin.
“Hah.. males banget dimana-mana
ketemunya manusia-manusia itu lagi.” Kata Ina.
“Kalau mau nggak ketemu yan pindah
kantor sih Mbak.” Sahut Vian.
“Nggak usah provokasi.” Gita menabok
punggung Vian.
“Ya kan benar.”
Gita mengelus perutnya yang sudah
keroncongan, dia nyelonong maju duluan memmesan makannya.
“Buk..” Gita dan Catrin memanggil ibu kantin dengan bersamaan.
“Gue dulu.” Kata Catrin.
“Mana bisa, orang yang maju gue duluan.”
Gita nggak mau kalah.
“Dimana-mana yang menjadi team unggulan
itu yang duluan.” Catrin membawa-bawa kerjaan saat mau memilih makanan pun.
“Apa hubungannya beli makanan sama
kerjaan. Katanya pinter tapi suka nggak jelas.” Jawab Gita.
“Yang nggak jelas tuh lo, minggir
kenapa?” Catrin menyenggol Gita hingga dia bergeser dan menabrak Nino.
“Woi.. bisa santai nggak lo, anak baru
juga sudah berlagak. Sepintar apasih lo?” Nino menarik Gita ke belakang
sedangkan dia menghadapi Catrin.
“Yang pasti lebih pintar daripada anak
buah kalian bertiga.” Catrin berani menjawab.
“Benar, dia lebih segelanya. Bahkan nih
ya kalau ketiga anak baru lo melawan Catrin seorang diri pasti akan kalah.” Roy
ikut membantu Catrin.
“Sudah.. kenapa jadi berantem sih. Kita
kesini mau makan bukan mau debat. Roy bawa pergi itu anak buah kamu dan jangan
buat masalah.” Ina menasehati Roy.
“Buat masalah, kalian tuh yang bikin
__ADS_1
masalah. Orang-orang loser kayak kalian kenapa masih di pertahanin di
perusahaan in.” Roy tersenyum mengejek.
“Jaga ya omongan lo, harusnya perusahana
itu membuang manusia-manusia sok pintar seperti kalian.” Fara maju sambil
berkacak pinggang.
“Sok pintar.” Roy tertawa di ikuti sama
Catrin. “Hey nona, kita itu sudah memenangkan banyak proyek dan juga bonus mana
mungkin kita yang memberikan keuntungan lebih buat perusahaan akan di buang.”
Jelas Roy.
“Itu sebelum ada kami datang, jadi
siap-siap tuh beli tisu yang banyak.” Kata Vian.
“Jangan terlalu berarap tinggi, nanti
kalau jatuh sakit lo.”
“Jangan terlalu meremehkan, kalau kalah
sama orang yang biasa aja seperti kita lebih sakit lo.” Sahut Gita.
“Baiklah, kita buat kesepakatan kalau
kalian menang bisa meminta apa saja sama team gue. Tapi kalau kalian yang kalah
aku minta kalian resign dari perusahaan ini.” Roy memberi tantangan kepada team
Win.
Mereka saling bertatapan, Win
menggelengkan kepalanya bukannya dia takut kepada tantangan Roy. Tapi memang
kwalitas team sebelah lebih unggul daripada team mereka jadi lebih baik
mengalah sekarang daripada harus resign perusahaan.
“Deal.” Gita maju sambil mengulurkan
tangannya.
memegang tangan Gita sedikit lalu pergi ke mejanya kembali.
Win, Ina dan Nino mendelik saat melihat
Gita menyepakati tantanga dari Roy. Benar-benar keputusan yang membuat mereka
jantungan, bagaimana bisa dia mempertaruhkan pekerjaanya yang mereka susah
payah di dapatkan.
“Gita, kenapa lo ambil keputusan konyol
ini?” Tanya Win terlihat kesal tapi pasrah dia tidak bisa marah.
“Mas Win tenang saja. Semuanya akan
baik-baik saja.” Jawab Gita tanpa rasa dosa.
“Tenang, Gita lo itu mempertaruhkan masa
depan kita.” Ina juga tidak setuju dengan kesepakatan Gita.
“Batalkan sekarang Gita.” Nino juga
meminta Gita membatalkan perjanjian dengan Roy.
“Mas Win, Mas Nino sama Mbak Ina tenang
saja nggak usah cemas, ada kita semuannya bakalan beres.” Vian membela Gita.
“Kalian terlalu main-main, cari kerja
itu susah. Dan yang mereka bilang team unggulan memang benar. Apa kalian mau
menanggung kalau kita kalah, please kalau mau memutuskan sesuatu pikir efek
panjangnya jangan hanya karena emosi sesaat.” Ina memarahi Gita, Fara dan Vian
yang menganggapnya semua itu masalah sepele.
“Kita sudah memikirkannya. Mbak Ina
sudah lama kerja disini tapi kenapa masih tak memiliki kepercayaan diri dengan
keampuan yang Mbak miliki.”
“Pantes saja kalian sering gagal, karena
__ADS_1
kalian tidak berani melangkah dan membiarkan mereka mengambil star dulu.”
Tambah Fara.
Ketiga seniornya itu terdiam, selama ini
memang mereka hanya diam tidak berani mengambil resiko. Selalu merasa
kemampuannya di bawah dari team Ratna. Sejak kegagalannya dalam menyelesaikan
produk mereka hanya bisa mengambil proyek yang sangat kecil.
“Gue sebagai ketua sangat malu, karena
tidak bisa memberikan arahan yang terbaik buat team.”
“Mas Win, bagaimana kalau sekarang kita
rubah semua itu. Kita buktikan sama mereka kalau team kita ini lebih unggul
dari mereka.” Kata Vian.
“Kita lawan apa saja yang membuat kita
down, termasuk manusia-manusia songong itu.” Tunjuk Fara dengan dagunya.
“Ya sudah ayo kita pesan makan dulu, jam
istirahat hampir habis.” Kata Win.
Win, Nino dan Ina seperti mendapatkan
suntikan semangat dari juniornya. Mereka memberikan energi positif kepada para
senior yang hampir putus asa.
Pengumuman pemenag proyek akan segera
diumumkan, mereka di suruh berkumpul lagi ke ruangan meeting.
“Baik teman-teman, terima kasih sudah
bekerja sangat keras konsep kalian sangat menarik. Catrin kamu belajar sangat
cepat bisa menyesuaikan team kamu.”
“Terima kasih Pak.” Jawan Catrin sangat
bangga di puji Gilang.
“Gita apa ini tandanya konsep Catrin
yang akan di pilih?” bisik Fara.
“Entahlah, kalau di lihat dari cara kak
Gilang bicara sih iya.”
“Terus apa yang akan kita lakukan, kita
harus resign semua dari kantor sini.”
Gita menoleh kearah ketiga seniornya
yang menundukan kepala pasrah, kerjasama mereka di perusahan GG entertaiment
berhenti sampai disini karena senior yang sangat gegabah.
Gita mengaitkan kedua tangannya, lalu
memejamkan matanya dia berdo’a agar Gilang memberikan kesempatan ini dan
menyelamatkan semua team.
“Saya akan berikan proyek ini kepada
team Win.” Gilang menunjuk ke Win. Seketika team Win bersorak kegirangan.
“Yang benar bos saya nggak salah dengar
kan?” tanya Win.
“Tidak, konsep ini memang jarang di
ambil sama orang. Dan saya minta ini di buat pakai model anime saya yang lebih
efesien waktunya.” Kata Gilang.
“Baik Pak terima kasih.” Kata Win.
Gita menatap Gilang sambil tersenyum,
Gilang membalas senyuman Gita sembari memberikan jempol kepada Gita. Gita
sangat bahagia, bukan karena mendapatkan proyeknya tapi karena bisa
menyelamatkan seniornya.
__ADS_1