
Gilang melihat jam di tangannya sambil
celingukan di parkiran menunggu Gita turun. Dia akan mengantar Gita pulang
sembari menjelaskan serta meminta maaf apa yang telah dia lakukan sama Gita.
Gilang tersenyum melihat Ina dan Nino
sudah keluar dari kantornya, berarti Gita sudah ada di belakang mereka. Gilang
mengerutkan keningnya, sudah hampir sepuluh menit kepergian Ina dan Nino tapi
Gita belum juga keluar.
“Ah.. pasti dia.” Kata Gilang saat melihat Win. Dia langsung berjalan medekati Win.
“Win, tunggu sebentar.” Gilang menahan
Win yang mau pulang.
“Iya Bos, ada yang bisa saya bantu?”
tanya Win.
“Em.. anak baru yang bernama Gita apa
masih di kantor?” Tanya Gilang.
“Gita sudah pulang sama Fara dan Vian.
Ada apa ya bos, apa masalah yang kemarin belum selesai?” Tanya Win.
“Kalau memang belum selesai, saya mohon
biar saya yang menanggungnya biar saya yang bertanggung jawab atas kesalahan
yang di buat Gita.” Samber Win saat Gilang mau bicara.
“Kamu tuh ngomong apa sih, saya cuma mau
ketemu Gita.” Kata Gilang. “Ya sudah lah.” Gilang langsung pergi meninggalkan
Win.
“Bos..” Panggil Win.
“Ada apa?”
“Beneran kan bos Gilang nggak mau
memecat Gita.” Win cemas.
Gilang melambaikan tangannya agar Win
mendekat dengannya, jantung Win deg-degaan tidak karuan. Apalagi melihat wajah Gilang yang terlihat datar dan tatapan tajam.
“Iya bos, ada apa?”
“Perlu kamu ingat ya, sampai kapanpun
saya tidak akan pernah memecat yang namanya Gita. Ingat ya, dan jangan pernah
tanya masalah ini karena saya tidak akan pernah memecatnya.” Gilang memberi
tahu serta menekankan perkataanya kalau dia tidak akan memecat Gita.
Win menggaruk kepalanya, dia mencium
bau-bau aneh dari bosnya itu. Dia memang tidak pernah memecat anak buahnya yang
baru saja membuat kesalahan kecil. Tapi dia rasa ada yang mengganjal dengan
pernyataan Gilang.
“Udah nggak usah bingung gitu, lupain
saja. Saya pergi dulu.” Gilang kembali ke mobilnya. Hari ini dia gagal menemui
Gita di kantor.
“Kenapa bisa begitu ya? Apa bos mulai
suka sama Gita? Masa secepat itu jatuh cinta, nggak ada prosesnya?” Win
menggaruk-garuk kepalanya sambil jalan menuju mobilnya.
Gilang tidak putus harapan, tidak bisa
menemui Gita di kantor dia samperin di rumahnya.
Tok...tok...
“Ya sebentar.” Sahut Bik Nana dari dalam.
“Mas Gilang, cari Mbak Gita ya?”
“Iya Bik, sudah sampai rumah belum?”
“Belum tuh Mas.”
__ADS_1
“Kemana dia, kok nggak langsung pulang?”
Gilang mengambil ponselnya lalu menelpon Gita. Namun Gita langsung merejectnya.
“Eh..kenapa di reject sih.” Gilang mencoba
menelpon lagi dan ponsel Gita sudah tidak aktiv.
“Mas mau tunggu Mbak Gita dulu di
dalam.”
“Tante Wanda atau Om Seno di rumah?”
“Ada kalau ibu, mau ketemu?”
“Boleh deh.”
“Ya, sebentar ya Mas. Mas Gilang masuk
dulu saja tunggu di dalam.” Kata Bik Nana.
“Iya Bik, makasih.” Gilang masuk dan
duduk di sofa.
...Gilang...
...Kamu dimana? Kenapa nggak langsung...
...pulang?...
Sembari menunggu Wanda menemuinya,
Gilang mengirim pesan kepada Gita, meskipun dia tahu kalau Gita tidak akan
menjawabnya.
“Gilang, apa kabar?” sapa Wanda.
“Baik, tante sehat?” tanya Gilang.
“Sehat, Gita belum pulang ya?”
“Belum tante.”
“Kok nggak bareng kamu?”
“Iya tante, tadi sebenarnya Gilang mau
anterin Gita pulang. Tapi ternyata Gita sudah duluan, terus Gilang samperin
tanyain Gita sekarang dimana sama siapa nggak tante.” Ucap Gilang sambil senyum
malu.
“Iya sebentar biar tante telpon Gita
dulu. Bik, tolong ambilin hp saya di kamar.” Wanda meminta tolong Bik Nana
mengambilkan ponselnya.
“Iya Buk.” Sahut Bik Nana.
Wanda menelpon Gita, dan tidak ada satu
menit Gita sudah menjawab telponnya.
“Halo sayang, kamu lagi mana kok belum
pulang?” tanya Wanda.
“Lagi makan Ma sama Vian sama Fara. Ada
Raka juga kok nanti aku pulangnya bareng Raka.” Jawab Gita.
“Kamu pergi nggak bilang-bilang, oiya
ini Gilang tunggun kamu di rumah dari tadi. Buruan pulang ya.” Kata Wanda.
“Kak Gilang suruh pulang saja Ma, Gita
masih lama.” Kata Gita.
“Nggak boleh gitu ah.”
“Gita masih malas melihat Kak Gilang,
jadi bilang saja Gita nggak pulang mau tidur di rumah Fara.” Jelas Gita. Dia
benar-benar sedang tidak mau bertemu sama Gilang.
“Gita..”
“Udah ya ma, Gita tutup dulu telponnya.
Nanti Gita telpon lagi.” Gita langsung menutup telponnya.
“Anak ini ya..” Wanda menggeleng
__ADS_1
kepalanya.
“Gimana tante?”
“Kamu tenang saja, Gita pergi sama Raka,
Fara dan Vian kok. Cuma Gita masih belum mau ketemu kamu.” Kata Wanda jujur.
Gilang mengangguk sembari melepaskan
napas panjang. Wanda tidak tega melihat Gilang yang tanpak kecewa di tambah dia
terlihat capek sekali. Pasti capeknya akan bertambah karena di cuekin sama
Gita.
“Gilang, yang sabar ya Gita memang
begitu kalau ngambek nanti kalau sudah kangen sama kamu pasti cariin.” Kata
Wanda.
“Iya tante, tapi Gilang takut saja Gita
bakalan tinggalin Gilang karena sikap Gilang kemarin yang terlalu emosi.” Jelas
Gilang.
“Tante tahu, kamu hanya ingin
menyelamatkan semuanya kan. Dan nggak bermaksud berkata kasar sama Gita, tapi
tante berharap sama kamu untuk lebih bijaksana lagi. Dan kamu coba bicara
pelan-pelan jangan langsung emosi dan membuat hati orang lain sakit.” Wanda
mengelus pundak Gilang.
“Iya Tante, Gilang salah kemarin.”
“Ya sudah sekarang kamu pulang dan
segera istirahat. Jangan terlalu pikirin Gita, nanti dia juga baik sendiri.
Gita nggak akan pernah meninggalkan kamu, dia sangat cinta sama kamu.” Wanda
tersenyum ke arah Gilang untuk menyemangati dia.
“Iya Tante, makasih ya udah semangatin
Gilang.” Kata Gilang.
“Iya sama-sama.”
“Oiya tante, hampir lupa. Boleh nggak
Gilang minta nomor rekening tante?”
“Buat apa?”
“Gilang tahu, kemarin Gita mengganti
uang bonus buat anak-anak di kantor. Dan itu meminjam sama tante kan, jadi
biarkan Gilang ganti uangnya.” Kata Gilang.
“Nggak usah, itukan kesalahan Gita
biarkan saja dia belajar bertanggung jawab.” Kata Wanda.
“Gita adalah calon istri Gilang tante,
jadi Gilang bertanggung jawab atas Gita juga.”
“Kamu tuh ya bisa saja.” Menepuk
punggung tangan Gilang.
“Bisa kirim wa ya tante nomor
rekeningnya nanti Gilang transfer ulang.”
“Iya..iya.. menantu kesayangan.” Wanda
terkekeh.
Meskipun usaha Gilang kali ini gagal
lagi setidaknya dia merasa tenang karena Gita pergi sama sahabat-sahabatnya.
...Gilang...
...Aku tahu kamu marah banget sama...
...aku, aku minta maaf kemarin sudah kasar sama kamu. Semoga kamu cepat maafin...
...aku. Aku kangen banget sama kamu, aku pingin dengar suara kamu. Kamu pulang...
...langsung istirahat, jangan begadang....
__ADS_1
...I love you...