Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menghindar II


__ADS_3

Gilang melihat jam di tangannya sambil


celingukan di parkiran menunggu Gita turun. Dia akan mengantar Gita pulang


sembari menjelaskan serta meminta maaf apa yang telah dia lakukan sama Gita.


Gilang tersenyum melihat Ina dan Nino


sudah keluar dari kantornya, berarti Gita sudah ada di belakang mereka. Gilang


mengerutkan keningnya, sudah hampir sepuluh menit kepergian Ina dan Nino tapi


Gita belum juga keluar.


“Ah.. pasti dia.” Kata Gilang saat melihat Win. Dia langsung berjalan medekati Win.


“Win, tunggu sebentar.” Gilang menahan


Win yang mau pulang.


“Iya Bos, ada yang bisa saya bantu?”


tanya Win.


“Em.. anak baru yang bernama Gita apa


masih di kantor?” Tanya Gilang.


“Gita sudah pulang sama Fara dan Vian.


Ada apa ya bos, apa masalah yang kemarin belum selesai?” Tanya Win.


“Kalau memang belum selesai, saya mohon


biar saya yang menanggungnya biar saya yang bertanggung jawab atas kesalahan


yang di buat Gita.” Samber Win saat Gilang mau bicara.


“Kamu tuh ngomong apa sih, saya cuma mau


ketemu Gita.” Kata Gilang. “Ya sudah lah.” Gilang langsung pergi meninggalkan


Win.


“Bos..” Panggil Win.


“Ada apa?”


“Beneran kan bos Gilang nggak mau


memecat Gita.” Win cemas.


Gilang melambaikan tangannya agar Win


mendekat dengannya, jantung Win deg-degaan tidak karuan. Apalagi melihat wajah Gilang yang terlihat datar dan tatapan tajam.


“Iya bos, ada apa?”


“Perlu kamu ingat ya, sampai kapanpun


saya tidak akan pernah memecat yang namanya Gita. Ingat ya, dan jangan pernah


tanya masalah ini karena saya tidak akan pernah memecatnya.” Gilang memberi


tahu serta menekankan perkataanya kalau dia tidak akan memecat Gita.


Win menggaruk kepalanya, dia mencium


bau-bau aneh dari bosnya itu. Dia memang tidak pernah memecat anak buahnya yang


baru saja membuat kesalahan kecil. Tapi dia rasa ada yang mengganjal dengan


pernyataan Gilang.


“Udah nggak usah bingung gitu, lupain


saja. Saya pergi dulu.” Gilang kembali ke mobilnya. Hari ini dia gagal menemui


Gita di kantor.


“Kenapa bisa begitu ya? Apa bos mulai


suka sama Gita? Masa secepat itu jatuh cinta, nggak ada prosesnya?” Win


menggaruk-garuk kepalanya sambil jalan menuju mobilnya.


Gilang tidak putus harapan, tidak bisa


menemui Gita di kantor dia samperin di rumahnya.


Tok...tok...


“Ya sebentar.” Sahut Bik Nana dari dalam.


“Mas Gilang, cari Mbak Gita ya?”


“Iya Bik, sudah sampai rumah belum?”


“Belum tuh Mas.”

__ADS_1


“Kemana dia, kok nggak langsung pulang?”


Gilang mengambil ponselnya lalu menelpon Gita. Namun Gita langsung merejectnya.


“Eh..kenapa di reject sih.” Gilang mencoba


menelpon lagi dan ponsel Gita sudah tidak aktiv.


“Mas mau tunggu Mbak Gita dulu di


dalam.”


“Tante Wanda atau Om Seno di rumah?”


“Ada kalau ibu, mau ketemu?”


“Boleh deh.”


“Ya, sebentar ya Mas. Mas Gilang masuk


dulu saja tunggu di dalam.” Kata Bik Nana.


“Iya Bik, makasih.” Gilang masuk dan


duduk di sofa.


...Gilang...


...Kamu dimana? Kenapa nggak langsung...


...pulang?...


Sembari menunggu Wanda menemuinya,


Gilang mengirim pesan kepada Gita, meskipun dia tahu kalau Gita tidak akan


menjawabnya.


“Gilang, apa kabar?” sapa Wanda.


“Baik, tante sehat?” tanya Gilang.


“Sehat, Gita belum pulang ya?”


“Belum tante.”


“Kok nggak bareng kamu?”


“Iya tante, tadi sebenarnya Gilang mau


anterin Gita pulang. Tapi ternyata Gita sudah duluan, terus Gilang samperin


tanyain Gita sekarang dimana sama siapa nggak tante.” Ucap Gilang sambil senyum


malu.


“Iya sebentar biar tante telpon Gita


dulu. Bik, tolong ambilin hp saya di kamar.” Wanda meminta tolong Bik Nana


mengambilkan ponselnya.


“Iya Buk.” Sahut Bik Nana.


Wanda menelpon Gita, dan tidak ada satu


menit Gita sudah menjawab telponnya.


“Halo sayang, kamu lagi mana kok belum


pulang?” tanya Wanda.


“Lagi makan Ma sama Vian sama Fara. Ada


Raka juga kok nanti aku pulangnya bareng Raka.” Jawab Gita.


“Kamu pergi nggak bilang-bilang, oiya


ini Gilang tunggun kamu di rumah dari tadi. Buruan pulang ya.” Kata Wanda.


“Kak Gilang suruh pulang saja Ma, Gita


masih lama.” Kata Gita.


“Nggak boleh gitu ah.”


“Gita masih malas melihat Kak Gilang,


jadi bilang saja Gita nggak pulang mau tidur di rumah Fara.” Jelas Gita. Dia


benar-benar sedang tidak mau bertemu sama Gilang.


“Gita..”


“Udah ya ma, Gita tutup dulu telponnya.


Nanti Gita telpon lagi.” Gita langsung menutup telponnya.


“Anak ini ya..” Wanda menggeleng

__ADS_1


kepalanya.


“Gimana tante?”


“Kamu tenang saja, Gita pergi sama Raka,


Fara dan Vian kok. Cuma Gita masih belum mau ketemu kamu.” Kata Wanda jujur.


Gilang mengangguk sembari melepaskan


napas panjang. Wanda tidak tega melihat Gilang yang tanpak kecewa di tambah dia


terlihat capek sekali. Pasti capeknya akan bertambah karena di cuekin sama


Gita.


“Gilang, yang sabar ya Gita memang


begitu kalau ngambek nanti kalau sudah kangen sama kamu pasti cariin.” Kata


Wanda.


“Iya tante, tapi Gilang takut saja Gita


bakalan tinggalin Gilang karena sikap Gilang kemarin yang terlalu emosi.” Jelas


Gilang.


“Tante tahu, kamu hanya ingin


menyelamatkan semuanya kan. Dan nggak bermaksud berkata kasar sama Gita, tapi


tante berharap sama kamu untuk lebih bijaksana lagi. Dan kamu coba bicara


pelan-pelan jangan langsung emosi dan membuat hati orang lain sakit.” Wanda


mengelus pundak Gilang.


“Iya Tante, Gilang salah kemarin.”


“Ya sudah sekarang kamu pulang dan


segera istirahat. Jangan terlalu pikirin Gita, nanti dia juga baik sendiri.


Gita nggak akan pernah meninggalkan kamu, dia sangat cinta sama kamu.” Wanda


tersenyum ke arah Gilang untuk menyemangati dia.


“Iya Tante, makasih ya udah semangatin


Gilang.” Kata Gilang.


“Iya sama-sama.”


“Oiya tante, hampir lupa. Boleh nggak


Gilang minta nomor rekening tante?”


“Buat apa?”


“Gilang tahu, kemarin Gita mengganti


uang bonus buat anak-anak di kantor. Dan itu meminjam sama tante kan, jadi


biarkan Gilang ganti uangnya.” Kata Gilang.


“Nggak usah, itukan kesalahan Gita


biarkan saja dia belajar bertanggung jawab.” Kata Wanda.


“Gita adalah calon istri Gilang tante,


jadi Gilang bertanggung jawab atas Gita juga.”


“Kamu tuh ya bisa saja.” Menepuk


punggung tangan Gilang.


“Bisa kirim wa ya tante nomor


rekeningnya nanti Gilang transfer ulang.”


“Iya..iya.. menantu kesayangan.” Wanda


terkekeh.


Meskipun usaha Gilang kali ini gagal


lagi setidaknya dia merasa tenang karena Gita pergi sama sahabat-sahabatnya.


...Gilang...


...Aku tahu kamu marah banget sama...


...aku, aku minta maaf kemarin sudah kasar sama kamu. Semoga kamu cepat maafin...


...aku. Aku kangen banget sama kamu, aku pingin dengar suara kamu. Kamu pulang...


...langsung istirahat, jangan begadang....

__ADS_1


...I love you...


__ADS_2