
"Raka.." Gita memeluk erat Raka. Raka melepaskan pelukannya lalu melayangkan pukulan ke wajah Devan.
"Raka apa yang lo lakuin?" Devan memegangi pipinya.
"Apakah ini yang dinamakan murid berpendidikan?" Raka emosi.
"Raka, ini bukan masalah berpendidikan atau tidak tapi ini soal perasaan. Gue lebih memilih Qila di bandingkan Gita itu hak gue bukan." Devan masih tidak mau kalah dengan pendapatnya.
"Tidak usah munafik, kalau saja lo harus memilih lo nggak bakalan memilih cewek gendut, bodoh yang bisanya cuma halu." tambah Devan dengan senyum meremehkan.
Buughh! Raka melayangkan pukulan lagi ke perut Devan.
"Ngomong apa lo!" Raka memegang kerah Devan dan melemparkan pukulan ke wajahnya.
Wajah Devan yang putih, bersih menjadi memar dan berdarah.
"Raka.. Raka.. sudah. Jangan lakukan lagi." Gita berjalan lemah menahan Raka agar tidak memukuli Devan.
"Lepasin gue Ta, biar gue kasih pelajaran cowok brengsek yang mulutnya busuk macam dia!" Amarah Raka meluap. Dia ingin sekali membunuh Devan srkarang juga.
Gilang yang sejak tadi diam memperhatikan apa yang terjadi akhirnya memutuskan mendekat setelah dia kedahuluan Raka saat hendak membela Gita.
"Raka berhenti, nanti lo bisa di skors." Gilang menahan Raka. Raka tak mau mendengarkan Gilang dia terus memukuli Devan.
"Ka,.sud..." Gita memegangi kepalanya yang mulai pusing. Pandangan seketika blur dan sekeliling mulai gelap. Gita terkulai lemas Gilang yang baru saja sampai si belakang Gita dengan cepat menahan agar Gita tidak jatuh di lantai.
"Raka Gita pingsan." seru Gilang sambil berlari menangkap Gita.
Raka menoleh sekejab, kemudian dia menerkam kerah Devan lebih erat.
"Kalau sampai ada apa-apa sama adik gue, jangan harap lo bisa hidup tenang. Jauh-jauh lo dari saudara-saudara gue." ancam Raka.
Deg! jantung Gilang serasa berhenti seketika saat mendengar ucapan Raka. Dia melihat kearah Raka.
"Adik?" gumamnya pelan.
"Ingat kalian semua, kalau gue dengar ada yang menggunjingnya, membullynya gue nggak akan segan-segan bunuh kalian!" Ucap Raka sambil menunjuk orang-orang yang ada di sekitarnya.Mereka langsung menunduk takut sama Raka.
"Raka sudah, ayo bawa Gita ke uks." ajak Gilang. Raka bergeggas mengangkat Gita bersama Gilang.
...◇◇◇◇◇...
__ADS_1
Raka mengusap rambut Gita lembut, "Harusnya gue nggak tinggalin lo sendirian." Ada rasa menyesal Raka meninggalkan Gita.
"Ka.." Panggil Gilang pelan.
"Hem.."
"Benarkah Gita itu adik lo?"
"Ya, gue, Gita sama Qila itu sepupu. Gita sama Qila mereka adik kakak kandung."
"Pantesan gue seperti tidak asing melihat foto kecil lo, gue kira itu Qila. Dan lo juga nggak pernah menyuruh Gita pulang, tapi kenapa kalian seolah nggak kenal?" tanya Gilang.
"Gita yang nggak mau, dia meminta agar semua keluarganya tidak mengenalnya kalau di luar rumah. Mereka hanya akan saling kenal di rumah saja." Raka mulai mengenalkan Gita lebih dalam kepada Gilang.
"Kenapa begitu?" Gilang heran.
"Dia bilang tidak mau menyusahkan keluarganya. Sebanarnya dia bukan orang yang pede. Dia sangat pemalu dan takut namun keadaan membuat dia menjadi lebih kuat seperti ini." jelas Raka.
"Maksud lo keadaan yang seperti apa?" Gilang menggeleng kepala karena belum mengerti.
"Waktu kecil Qila merasa malu mempunyai adik seperti Gita. Dia sering marah karena dia di bully punya adik seperti Gita. Hingga akhirnya Qila meminta Gita pindah sekolah, dan dia lakuin. Dari situ Gita tidak pernah mau mengakui semua keluarganya di tempat umum." Jelas Raka.
"Gita beranjak SMP mulai gendut, dia juga tak pandai di akademis. Dia sering banget di ejek bahkan ada yang sampai memukulnya. Gue juga nggak tahu kenapa mereka suka sekali membully Gita." Raka menceritakan cerita menyedihkan Gita semasa SMP.
"Em.. pantas saja lo selalu sayang sama Gita." Gilang mulai paham.
"Yah.. dia selalu cantik di mata gue. Dia baik hanya saja kadang orang memanfaatkan kebaikannya. Makanya gue menanamkan sifat acuh padanya terhadap orang baru agar dia tidak di sakiti. Dan gue kecolongan hari ini."
"Tentang Devan?"
"Dia sahabat kami semasa SMP, dia murid pindahan yang tidak punya teman dan tidak bisa bergaul. Gue sama Gita menjadikan dia teman. Hingga suatu saat dia bilang sama Gita saat dia kembali pindah tempat. Dia akan menjadikan Gita pacarnya dan menikahinya. Dan Gita menggenggam janji itu terlalu erat." jelas Raka sambil menatap Gita yang sangat lemah.
"Raka.." Panggil Gita lemah dengan mata masih terpejam.
"Ya. Gue disini." Raka mendekati Gita.
Gita membuka matanya perlahan, "Apa ini beneran lo? atau cuma halusinasi gue saja." Gita memegang pipinya.
"Ini beneran gue." Raka menarik Gita dalam pelukannya.
"Jangan tinggalin gue lagi atau gue akan mati." Kata Gita sambil menangis.
__ADS_1
"Heh.. ngomong apa lo. Gue ada disini, nggak akan ada yang berani menggangu adik kesayangan gue ini."
...◇◇◇◇◇...
Gilang duduk menatap lampu-lampu yang di pasang di tamannya. Dia mulai mengingat kata-kata Gita saat dia mencoba mendekati Gita. Tentang Raka tentang perasaanya dan tentang dirinya yang selalu saja dia tampakan tak menarik.
"Hai.. bengong saja. Mikirin apa sih?" tanya Andini.
"Nggak." jawab Gilang ragu.
"Pasti masalah Gita kan." tebak Andini.
"Em.. ternyata gue nggak tahu apa-apa tentang dia. Bahkan gue telah menyakitinya." Jelas Gilang.
"Makanya kalau suka sama orang itu cari tahu dulu karakter, keluarga, lingkungannya biar lo nggak salah menilai." Andini menasehati Gilang.
"Hah.. jatuh cinta itu berat sekali. Sekarang justru gue takut untuk mendekatinya." Gilang kehilangan kepercayaan dirinya untuk kembali mengejar Gita.
"Kenapa bisa begitu, apa dia masih terus bersama teman lelakinya itu."
Gilang mengangguk, "Dia itu sepupuan."
"Sepupu?"
"Ya, mereka menyembunyikan identitas karena permintaan Gita."
"Lalu apa yang membuat lo takut? Justru lo bahagia karena dia itu saudaraan."
"Nggak tahu, hanya saja gue rasa dia semakin susah gue gapai. Raka sangat melindungi Gita dan gue sering menyakitinya. Kak, apa mungkin saudara sepupu bisa saling mencintai?" Gilang menanyakan hal aneh.
"Mana boleh saudara saling cinta. Ada-ada saja lo." Andini mengacak-acak rambut Gilang.
"Ya kan siapa tahu." Kini Gilang mulai cemburu lagi dengan Raka.
"Kenapa gue jadi galau begini sih." Batin Gilang. Dia bangkit lalu masuk ke dalam.
"Hai.. mau kemana?"
"Tidur." jawab Gilang datar. Dia sudah tak mampu lagi berpikir jadi memilih untuk tidur.
"Dasar, ditemenin malah kabur." Andini manyun.
__ADS_1