Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
kembali ke kampus


__ADS_3

Pagi ini Gita sudah kembali lagi ke


kampus, dan Gilang menyempatkan untuk pergi mengantar Gita.


“Selamat pagi sayang.” Gita tersenyum


lebar dan memberikan pelukan sama Gilang.


“Selamat pagi. Ayo masuk nanti


terlambat.” Gilang membukakan pintu mobil untuk Gita.


“Sebentar.” Gita membentuk kotak denga


tangannya, dia memejamkan satu matanya lalu menggerakan tangan yang berbentuk


kotak dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Pakai jas seperti ini kenapa kayak


ajjushi-ajjushi sih, dan aku anak masih sekolahan.” Kata Gita sambil tertawa.


“Apa itu ajjushi?”


“Om-om.” Kata Gita sambil masuk ke


mobil. Tangan Gilang langsung mengarah ke atap takut Gita kepala Gita kejedot


dia masuk dengan sembrono. Gilang melihat di kaca spion, apa benar dia mirip


om-om seperti yang di katakan Gita.


Gita terkekeh melihat Gilang yang malah


sibuk ngaca, “Om.. buruan nanti aku terlambat.” Goda Gita.


Gilang masuk kem mobil, dia manyun dan


tak kunjung mengemudi mobilnya.


“Kenapa manyun begitu ih, masih pagi


juga nggak boleh manyun-manyun.” Kata Gita sambil memakai sabuk pengamannya.


“Habisnya kamu ngatain aku om-om, sudah


tua banget dong akunya.” Gilang ngambek.


Gita semakin geli, tawanya makin renyah


melihat Gilang ngambek. Dia mengambil ponselnya lalu membrowsing foto ajjushi


korea.


“Lihat.” Gita menunjukan layar


ponselnya.


“Apa?”


“Ya lihat, ganteng nggak mereka?” tanya


Gita.


“Hem.”


“Kamu itu sebelas dua belas sama mereka,


dan pastinya lebih ganteng sedikit sama mereka.”


“Masa.” Gilang sudah mulai tersenyum.


“Iya, banyak dia.” Katanya pelan sambil


tersenyum.


Gilang mendelik, dia mengambil kotak


bekal seperti biasa kepada Gita.


“Sarapan? Kaka Gilang sudah sarapa


belum?” tanya Gita sambil membuka kotak bekal.


“Sudah.”


Gita dengan lahap memasukan nasi goreng


ke dalam mulutnya, pagi ini Gilang tidak menyiapkan sarapan sandwich dia


membuatkan menu yang berbeda.


“Wah.. ini enak banget nasi gorengnya.”


Kata Gita sambil mengunyah.


“Jelas dong, itu mama sendiri yang


masak.” Kata Gilang.


“Tante yang masak.”


“Iya, masakan mama tuh enak banget.”


“Sayang.”


“Ya.”


“Kalau nanti kita menikah dan aku tidak


bisa masak gimana?” tanya Gita.


“Go food aja.” Jawab Gilang tanpa


berpikir.


“Kamu nggak suruh aku belajar masak?”


tanya Gita.


“Kerjakan apa saja yang kamu suka, aku


tidak akan memaksa kamu melakukan hal yang membuat kamu repot.” Jawab Gilang


dengan pandangan yang masih fokus kedepan.


“Kalau Gita nggak bisa cuci baju


gimana?”


“Kita loundry.”


“Kalau beberes rumah?”


“Kita serahin saja go clean. Beres kan?


Kamu cukup menemaniku saja dan mengurus anak-anak kita nanti.” Gilang


benar-benar tidak menuntut Gita untuk melakukan hal berat seperti itu.


Gita menertawakan dirinya sendiri,


karena tak becus sekali menjadi cewek.


“Kamu menertawakan apa? Memangnya ada


yang lucu?” Gilang memberhentikan mobilnya di depan kampus Gita.


“Aku menertawakan diriku sendiri, aku


tuh sebenarnya tidak mampu atau malas ya. Kenapa jadi tidak bisa mengerjakan

__ADS_1


apa-apa. Bagaimana kalau nanti mama kamu tidak suka aku yang seperti itu?”


“Mama akan suka denga apa yang aku


pilih, lagian aku akan membuat rumah sendiri buat kamu sehingga kamu bebas


melakukan apapun. Sudah sekarang turun belajar yang benar.” Gilang


mengacak-acak rambut Gita.


“Siap bos.” Gita turun dari mobil di


ikuti Gilang.


“Kak.. boleh nggak kalau hari ini aku


bolos kuliah?” Gita meringis.


“Heh! Mau ngapain?”


“Bosan, mau ikut kak Gilang kerja.” Kata


Gita asal.


“Belajar yang giat, nanti kamu masuk


perusahaan aku.”


“kalau nilai Gita jelek gimana? Apa


nggak bisa masuk ke kantor kamu?” tanya Gita dengan was-was. Mau serajin apa


dia belajar hasilnya tetap sama saja.


“Tentu saja, orang yang masuk ke


perusahaan aku itu tidak sembarangan meskipun itu kamu.”


“Baiklah, kalau emang aku nggak bisa


lolos masuk perusahaan kamu, seengaknya jadiin cleaning servis juga nggak


apa-apa.” Canda Gita.


“Lebih baik kamu drakoran di rumah dari


pada aku lihat kamu bebersih kantor.” Gilang mencolek hidung Gita. “Sudah


buruan masuk.”


“Kamu hati-hati, da..da..” Gita


melambaikan tangan lalu berlari masuk ke kampus.


“Dasar bocah konyol, bisa-bisanya aku


cinta mati sama dia.” Gilang menggelengkan kepalanya.


Gilang kembali ke mobilnya, namun di


cegat sama Imel yang sejak tadi memperhatikan Gilang.


“Ya, ada yang bisa gue bantu?” Tanya


Gilang.


“Em... kakak ini yang datang bersama tim


sara kan?” Imel mengingat wajah Gilang.


“Iya, kenapa?”


“Benar kan, Kak aku mau terima kasih


karena sudah menolongku. Kakak yang menemukan ku pertama kali.” Imel sangat


antusias.


permisi dulu.”


“Tunggu Ka, boleh minta nomor


whatsappnya?” Imel mengeluarkan ponselnya.


“Maaf, gue udah punya calon istri dan


sebentar lagi gue akan menikah. Jadi tidak baik memberikan nomor whatsapp


sembarangan kebada orang yang tidak dikinal. Permisi.” Gilang langsung kabur


saja, sebelum dia meminta hal-hal yang lain.


“Hah... sayang sekali. Ketika ketemu


orang lain selain Farhan dan gue suka udah punya calon istri.” Katanya lalu


masuk ke kampus.


Gita berlari berkumpul dengan


sahabat-sahabatnya yang sudah dulu asyik ngobrol.


“Pagi.” Sapa Gita.


“Pagi juga.” Jawab Vian, Raka dan Fara


bersamaan.


“Wah.. pagi-pagi wajahnya sudah ada yang


bersinar-sinar nih, sepertinya matahari memang sangat kuar energinya sehingga


cahayanya sampai ke wajah Fara.” Kata Gita.


“Yah nggak cerah bagaimana, orang mereka


sudah mendapatkan  suntikan kekuatan.”


Kata Vian dengan julid.


“Suntikan kekuatan, kalain sudah


baikan?” Gita menatap Fara dan Raka bergantian. Fara tersenyum sambil


mengangguk.


“Wah.. akhirnya.” Gita senang banget


karena Fara aan tetap menjadi kakak iparnya.


“Nggak ada traktiran-traktiran nih?”


tanya Vian.


“Cabutlah ke kantin nanti siang, lo bisa


makan sepuasanya sampai perut lo meledakpun nggak masalah.” Kata Raka.


“Let’s go.”


Seperti janji Raka, mereka langsung ke


kantin saat kelar makul. Dan benar Vian memesan hampir semua menu yang ada di


kantin.


“Vian..Vian nggak bisa lihat kata gratis


ya, langsung lo embat semua menu yang ada di sini.”


“Ini namanya mengambil kesempatan.”

__ADS_1


Tawa Gita pudar saat melihat Farhan


berjalan mendekati mejanya, dia memegang baju Raka dengan gemetar. Meskipun dia


sudah menyelesaikan masalahnya dan memberinya maaf tapi melihat Farhan dia


langsung terulang dengan kejadian waktu itu.Raka menoleh kearah yang di lihat


Gita.


“Ada apa?” Tanya Raka. Gita tak


menjawab, dia terus mengeratkan tangannya saat Farhan melewati mejanya.


Raka kemudian melihat Vian yang tampa


menahan emosi, dia terus melihat ke arah Farhan.


“Gita, bisa kita ngobrol sebentar?”


Tanya Farhan.


“Nggak!” jawab Fara dan Vian bersamaan.


Jawaban itu membuat Raka menjadi curiga,


kalau terjadi sesuatu dengan Gita saat pergi bakti sosial.


“Pasti ada yang tidak beres.” Batin


Raka.


“Gue hanya..”


“Sudah...sudah... lo jangan lagi dekati


Gita.”


“Eh... Farhan baik-baik kesini lo jangan


nyolot.” Jordan tersulut emosi.


“Kebaikan dia sudah tidak ada harganya


di mata kita, jadi lebih baik sekarang lo pergi jauh-jauh.” Usir Vian sambil


melihat ke arah Farhan lekat.


“Jordan..jordan sudah ayo kita pergi.”


Ajak Farhan.


“Tapi dia kurang aja.”


“Sudah ayo kita pergi.”


Raka menarik kaos Vian, saat mau masuk


kelas, “Eh... kenapa lo tarik kaos gue sih?”


“Ada apa?” tanya Raka.


“Maksud lo?”


“Kenapa kalian menolak dengan tegas saat


Farhan ingin mengajak Gita ngobrol, dan Gita juga ketakutan banget.”


“Ah.. itu.. em.” Vian bingung dia


menggaruk kepalanya karena bingung harus bilang apa,


“Itu kenapa?”  Raka terus mengejar penjelasan kepada Vian.


Vian berbisik di teling Raka agar dia


agar orang lain tidak mendengarkan. Raka meradang, dia langsung pergi mencari


Farhan.


“Raka...Raka... lo mau kemana?”


Raka tidak bergeming dia langsung kabur


mencari Farhan.


“Waduh... bahaya nih.”


“Farhan!” Panggil Raka.


“Heh.. lo tuh junior yang sopan sedikit


sama senior.”


“Sopan?”  Raka tertawa terbahak-bahak ketika dia di suruh sopan Sama Jordan,.


“Untuk manusia biadap seperti dia gue


nggak perlu yang namanya sopan.” Kata Raka. Raka berjalan mendekati Farhan lalu


menari kerah bajunya dia memberikan pukulan kepada Farhan.


“Gara-gara lo, adik gue trauma.” Raka


memukul wajah Farhan. Dan Farha tidak sedikitpun berniat untuk melakukan


perlawanan daia tahu kalau dia salah.


“Maafin gue Raka, gue sadar kemarin gue


salah.” Jelasnya.


“Maaf, tiada maaf. Gue tidak terima.”


“Raka! Berhenti!” Gita berlari menahan


Raka. Bisa-bisa Farhan mati karena dia ngamuk.


“Lepasin gue Gita, biarkan orang ini


lenyap dari bumi.”


“Raka-Raka sadar, lo nggak boleh emosi.


Biar yang sudah-sudah, aku sudah belajar melupakannya.” Gita memeluk Raka.


“Sebenarnya apa yang Farhan lakuin?”


tanya Jordan.


“Tanya sediri sama sahabat lo itu.” Vian


merangkul Gilang dan membawanya pergi.


“Raka lo kenapa sih?”


“Apanya yang kenapa jelas-jelas aku


ingin membunuhnya.” Katanya masih dengan dada yang meradang.


“Jangan begitu, Raka please jangan beri


taku Kak Gilang. Kita sudahi saja semua ini. Aku nggak mau kalian berkelahi


tanpa kontrol seperti ini. Kalian hanya akan merugi.”


“Benar yang di kataka Gita sayang, kamu


harus lebih menahan diri jangan gegabah nanti kamu bisa di laporkan polisi.”


Fara mengelu pundak Raka.

__ADS_1


__ADS_2