
Pagi ini Gita sudah kembali lagi ke
kampus, dan Gilang menyempatkan untuk pergi mengantar Gita.
“Selamat pagi sayang.” Gita tersenyum
lebar dan memberikan pelukan sama Gilang.
“Selamat pagi. Ayo masuk nanti
terlambat.” Gilang membukakan pintu mobil untuk Gita.
“Sebentar.” Gita membentuk kotak denga
tangannya, dia memejamkan satu matanya lalu menggerakan tangan yang berbentuk
kotak dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Pakai jas seperti ini kenapa kayak
ajjushi-ajjushi sih, dan aku anak masih sekolahan.” Kata Gita sambil tertawa.
“Apa itu ajjushi?”
“Om-om.” Kata Gita sambil masuk ke
mobil. Tangan Gilang langsung mengarah ke atap takut Gita kepala Gita kejedot
dia masuk dengan sembrono. Gilang melihat di kaca spion, apa benar dia mirip
om-om seperti yang di katakan Gita.
Gita terkekeh melihat Gilang yang malah
sibuk ngaca, “Om.. buruan nanti aku terlambat.” Goda Gita.
Gilang masuk kem mobil, dia manyun dan
tak kunjung mengemudi mobilnya.
“Kenapa manyun begitu ih, masih pagi
juga nggak boleh manyun-manyun.” Kata Gita sambil memakai sabuk pengamannya.
“Habisnya kamu ngatain aku om-om, sudah
tua banget dong akunya.” Gilang ngambek.
Gita semakin geli, tawanya makin renyah
melihat Gilang ngambek. Dia mengambil ponselnya lalu membrowsing foto ajjushi
korea.
“Lihat.” Gita menunjukan layar
ponselnya.
“Apa?”
“Ya lihat, ganteng nggak mereka?” tanya
Gita.
“Hem.”
“Kamu itu sebelas dua belas sama mereka,
dan pastinya lebih ganteng sedikit sama mereka.”
“Masa.” Gilang sudah mulai tersenyum.
“Iya, banyak dia.” Katanya pelan sambil
tersenyum.
Gilang mendelik, dia mengambil kotak
bekal seperti biasa kepada Gita.
“Sarapan? Kaka Gilang sudah sarapa
belum?” tanya Gita sambil membuka kotak bekal.
“Sudah.”
Gita dengan lahap memasukan nasi goreng
ke dalam mulutnya, pagi ini Gilang tidak menyiapkan sarapan sandwich dia
membuatkan menu yang berbeda.
“Wah.. ini enak banget nasi gorengnya.”
Kata Gita sambil mengunyah.
“Jelas dong, itu mama sendiri yang
masak.” Kata Gilang.
“Tante yang masak.”
“Iya, masakan mama tuh enak banget.”
“Sayang.”
“Ya.”
“Kalau nanti kita menikah dan aku tidak
bisa masak gimana?” tanya Gita.
“Go food aja.” Jawab Gilang tanpa
berpikir.
“Kamu nggak suruh aku belajar masak?”
tanya Gita.
“Kerjakan apa saja yang kamu suka, aku
tidak akan memaksa kamu melakukan hal yang membuat kamu repot.” Jawab Gilang
dengan pandangan yang masih fokus kedepan.
“Kalau Gita nggak bisa cuci baju
gimana?”
“Kita loundry.”
“Kalau beberes rumah?”
“Kita serahin saja go clean. Beres kan?
Kamu cukup menemaniku saja dan mengurus anak-anak kita nanti.” Gilang
benar-benar tidak menuntut Gita untuk melakukan hal berat seperti itu.
Gita menertawakan dirinya sendiri,
karena tak becus sekali menjadi cewek.
“Kamu menertawakan apa? Memangnya ada
yang lucu?” Gilang memberhentikan mobilnya di depan kampus Gita.
“Aku menertawakan diriku sendiri, aku
tuh sebenarnya tidak mampu atau malas ya. Kenapa jadi tidak bisa mengerjakan
__ADS_1
apa-apa. Bagaimana kalau nanti mama kamu tidak suka aku yang seperti itu?”
“Mama akan suka denga apa yang aku
pilih, lagian aku akan membuat rumah sendiri buat kamu sehingga kamu bebas
melakukan apapun. Sudah sekarang turun belajar yang benar.” Gilang
mengacak-acak rambut Gita.
“Siap bos.” Gita turun dari mobil di
ikuti Gilang.
“Kak.. boleh nggak kalau hari ini aku
bolos kuliah?” Gita meringis.
“Heh! Mau ngapain?”
“Bosan, mau ikut kak Gilang kerja.” Kata
Gita asal.
“Belajar yang giat, nanti kamu masuk
perusahaan aku.”
“kalau nilai Gita jelek gimana? Apa
nggak bisa masuk ke kantor kamu?” tanya Gita dengan was-was. Mau serajin apa
dia belajar hasilnya tetap sama saja.
“Tentu saja, orang yang masuk ke
perusahaan aku itu tidak sembarangan meskipun itu kamu.”
“Baiklah, kalau emang aku nggak bisa
lolos masuk perusahaan kamu, seengaknya jadiin cleaning servis juga nggak
apa-apa.” Canda Gita.
“Lebih baik kamu drakoran di rumah dari
pada aku lihat kamu bebersih kantor.” Gilang mencolek hidung Gita. “Sudah
buruan masuk.”
“Kamu hati-hati, da..da..” Gita
melambaikan tangan lalu berlari masuk ke kampus.
“Dasar bocah konyol, bisa-bisanya aku
cinta mati sama dia.” Gilang menggelengkan kepalanya.
Gilang kembali ke mobilnya, namun di
cegat sama Imel yang sejak tadi memperhatikan Gilang.
“Ya, ada yang bisa gue bantu?” Tanya
Gilang.
“Em... kakak ini yang datang bersama tim
sara kan?” Imel mengingat wajah Gilang.
“Iya, kenapa?”
“Benar kan, Kak aku mau terima kasih
karena sudah menolongku. Kakak yang menemukan ku pertama kali.” Imel sangat
antusias.
permisi dulu.”
“Tunggu Ka, boleh minta nomor
whatsappnya?” Imel mengeluarkan ponselnya.
“Maaf, gue udah punya calon istri dan
sebentar lagi gue akan menikah. Jadi tidak baik memberikan nomor whatsapp
sembarangan kebada orang yang tidak dikinal. Permisi.” Gilang langsung kabur
saja, sebelum dia meminta hal-hal yang lain.
“Hah... sayang sekali. Ketika ketemu
orang lain selain Farhan dan gue suka udah punya calon istri.” Katanya lalu
masuk ke kampus.
Gita berlari berkumpul dengan
sahabat-sahabatnya yang sudah dulu asyik ngobrol.
“Pagi.” Sapa Gita.
“Pagi juga.” Jawab Vian, Raka dan Fara
bersamaan.
“Wah.. pagi-pagi wajahnya sudah ada yang
bersinar-sinar nih, sepertinya matahari memang sangat kuar energinya sehingga
cahayanya sampai ke wajah Fara.” Kata Gita.
“Yah nggak cerah bagaimana, orang mereka
sudah mendapatkan suntikan kekuatan.”
Kata Vian dengan julid.
“Suntikan kekuatan, kalain sudah
baikan?” Gita menatap Fara dan Raka bergantian. Fara tersenyum sambil
mengangguk.
“Wah.. akhirnya.” Gita senang banget
karena Fara aan tetap menjadi kakak iparnya.
“Nggak ada traktiran-traktiran nih?”
tanya Vian.
“Cabutlah ke kantin nanti siang, lo bisa
makan sepuasanya sampai perut lo meledakpun nggak masalah.” Kata Raka.
“Let’s go.”
Seperti janji Raka, mereka langsung ke
kantin saat kelar makul. Dan benar Vian memesan hampir semua menu yang ada di
kantin.
“Vian..Vian nggak bisa lihat kata gratis
ya, langsung lo embat semua menu yang ada di sini.”
“Ini namanya mengambil kesempatan.”
__ADS_1
Tawa Gita pudar saat melihat Farhan
berjalan mendekati mejanya, dia memegang baju Raka dengan gemetar. Meskipun dia
sudah menyelesaikan masalahnya dan memberinya maaf tapi melihat Farhan dia
langsung terulang dengan kejadian waktu itu.Raka menoleh kearah yang di lihat
Gita.
“Ada apa?” Tanya Raka. Gita tak
menjawab, dia terus mengeratkan tangannya saat Farhan melewati mejanya.
Raka kemudian melihat Vian yang tampa
menahan emosi, dia terus melihat ke arah Farhan.
“Gita, bisa kita ngobrol sebentar?”
Tanya Farhan.
“Nggak!” jawab Fara dan Vian bersamaan.
Jawaban itu membuat Raka menjadi curiga,
kalau terjadi sesuatu dengan Gita saat pergi bakti sosial.
“Pasti ada yang tidak beres.” Batin
Raka.
“Gue hanya..”
“Sudah...sudah... lo jangan lagi dekati
Gita.”
“Eh... Farhan baik-baik kesini lo jangan
nyolot.” Jordan tersulut emosi.
“Kebaikan dia sudah tidak ada harganya
di mata kita, jadi lebih baik sekarang lo pergi jauh-jauh.” Usir Vian sambil
melihat ke arah Farhan lekat.
“Jordan..jordan sudah ayo kita pergi.”
Ajak Farhan.
“Tapi dia kurang aja.”
“Sudah ayo kita pergi.”
Raka menarik kaos Vian, saat mau masuk
kelas, “Eh... kenapa lo tarik kaos gue sih?”
“Ada apa?” tanya Raka.
“Maksud lo?”
“Kenapa kalian menolak dengan tegas saat
Farhan ingin mengajak Gita ngobrol, dan Gita juga ketakutan banget.”
“Ah.. itu.. em.” Vian bingung dia
menggaruk kepalanya karena bingung harus bilang apa,
“Itu kenapa?” Raka terus mengejar penjelasan kepada Vian.
Vian berbisik di teling Raka agar dia
agar orang lain tidak mendengarkan. Raka meradang, dia langsung pergi mencari
Farhan.
“Raka...Raka... lo mau kemana?”
Raka tidak bergeming dia langsung kabur
mencari Farhan.
“Waduh... bahaya nih.”
“Farhan!” Panggil Raka.
“Heh.. lo tuh junior yang sopan sedikit
sama senior.”
“Sopan?” Raka tertawa terbahak-bahak ketika dia di suruh sopan Sama Jordan,.
“Untuk manusia biadap seperti dia gue
nggak perlu yang namanya sopan.” Kata Raka. Raka berjalan mendekati Farhan lalu
menari kerah bajunya dia memberikan pukulan kepada Farhan.
“Gara-gara lo, adik gue trauma.” Raka
memukul wajah Farhan. Dan Farha tidak sedikitpun berniat untuk melakukan
perlawanan daia tahu kalau dia salah.
“Maafin gue Raka, gue sadar kemarin gue
salah.” Jelasnya.
“Maaf, tiada maaf. Gue tidak terima.”
“Raka! Berhenti!” Gita berlari menahan
Raka. Bisa-bisa Farhan mati karena dia ngamuk.
“Lepasin gue Gita, biarkan orang ini
lenyap dari bumi.”
“Raka-Raka sadar, lo nggak boleh emosi.
Biar yang sudah-sudah, aku sudah belajar melupakannya.” Gita memeluk Raka.
“Sebenarnya apa yang Farhan lakuin?”
tanya Jordan.
“Tanya sediri sama sahabat lo itu.” Vian
merangkul Gilang dan membawanya pergi.
“Raka lo kenapa sih?”
“Apanya yang kenapa jelas-jelas aku
ingin membunuhnya.” Katanya masih dengan dada yang meradang.
“Jangan begitu, Raka please jangan beri
taku Kak Gilang. Kita sudahi saja semua ini. Aku nggak mau kalian berkelahi
tanpa kontrol seperti ini. Kalian hanya akan merugi.”
“Benar yang di kataka Gita sayang, kamu
harus lebih menahan diri jangan gegabah nanti kamu bisa di laporkan polisi.”
Fara mengelu pundak Raka.
__ADS_1