
Vian menaruh ponsel di meja Bella, “Nih hp lo jatuh di mobil gue.” Kata Vian lalu
kembali ke tempat duduknya.
“Makasih.” Jawab Bella.
“Hem.”
“Idiih... jutek banget lo Vian sama Bella.” Kata Fara.
“Bukanya emang gue seperti ini.” Jawabnya.
“Jangan jutek-jutek ntar lo nggak ada yang mau loh.” Gita menempeleng kepala Vian.
“Kenapa harus yang lain kalau ada lo sama Fara.” Jawabnya sambil mengangkat satu kakinya lalu di tumpukan di kaki.
“Berani lo deketin gue?” Gita melipat kedua tangannya sambil menatap Vian dengan
songong.
“Yah.. kalau mau siap-siap lo hilang dari permukaan bumi ini sih boleh-boleh saja.”
Tambah Fara.
“Heh.. nggak seru kalian.” Kata Vian.
Bella menatap iri dengan kedekatan Gita dan Fara, Bella menggelengkan kepalanya.
“Bella, sebenarnya perasaan lo gimana sih. Kenapa gue lebih kesal saat Vian bercanda
sama yang lain. Bahkan gue sama sekali tidak senang saat mengatakan mencintai
Bos Gilang.” Katanya dalam hati.
Bella membuka ponselnya, dia melihat chat yang masuk dari semalam.
Catrin
Bella, kenapa lo belum datang
Bella
Datang kemana?”
Catrin
Lo udah pikun? Gue bilang datang ke cafe dekat kantor lo dan ajak Gita sekalian.
Gue bawa Devan ke sini.
Bella
Ok
“Lagian kapan dia ngomongnya, capek gue lama-lama begini.” Katanya dengan kesal.
Bella bergegas pergi untuk menemui Catrin dan Devan di cafe dekat kantor mereka,
Bella yang di minta datang bersama Gita namun dia datang sendirian.
“Mana Gita?” tanya Catrin sembari melongok kanan kiri.
“Nggak ada.”
“Nggak ada? Maksud lo apa nggak ada?” Catrin mendorong tubuh Bella keras sampai dia oleng mau jatuh.
“Sabar Catrin.” Kata Devan. “Kalau desain yang baru lo bawa kan?” tanya Devan pelan.
“Nggak ada.” Jawab Bella lagi.
“Wah... lo udah mulai berani ya.” Kata Catrin dengan wajah marah.
“Gue nggak peduli lagi dengan ancaman lo, kalau lo memang dendam dan benci sama orang. Jangan pernah libatkan gue lagi. Gue muak dengan semua ini gue nggak peduli dengan apa yang akan lo lakuin sama gue.” Bella menangis ,tubuhnya gemetar karena sebenarnya dia sangat takut. Hanya saja dia nekat karena selalu jadi kambing hitam, selain itu dia juga merasa sangat bersalah karena menyakiti Gita. Sedangkan dia sudah baik kepada dirinya.
Catrin semakin di buat marah sama Bella, dia siap menampar Bellla. Bella sudah mempersiapkan diri untuk menerima perihnya sakit saat tangan Catrin mendarat di pipinya.
__ADS_1
Sudah hampir satu menit Bella memejamkan matanya, namun tak terasa apa-apa. Perlahan dia membuka matanya, dia menoleh dengan sedikit mengangkat dagunya.
“Vian…” katanya pelan.
Vian melepaskan tangan Catrin dengan kasar, kemudian dia menarik Bella mundur sedikit hingga berdiri sejajar dengan dirinya.
“Kasar banget sih lo jadi perempuan.” Kata Vian dengan suara yang lembut dan senyuman yang manis.
“Vian, nggak usah ikut campur lo.” Kata Catrin.
“Ikut campur? Tentu saja tidak. Gue cuna tidak suka ada yang menyakiti teman gue.”
Kata Vian yang membuat Bella melebarkan kedua matanya. Dia tidak menyangka Vian
menganggapnya teman.
“Sudah..sudah, gue minta maaf Vian karena telah menyakiti teman lo.” Devan memegang pundak Catrin lalu mengkode agar Catrin tenang. “Oiya Vian, gue lihat lo masih seperti ini saja.”
“Maksud lo?”
“Yah.. lo masih saja menjadi bawahan Gilang, apa lo nggak bosan menjadi kacung Gilang.” Devan berusaha mempengaruhi Vian.
“Kacung?” Vian terkekeh.
“Vian, apa lo nggak sadar kalau lo itu hanya di jadikan karyawan biasa sama dia.
Harusnya sebagai sahabat lo bisa mendapatkan lebih dong. Ya seenggaknya
menager.” Devan mendekati Vian.
“Kalau lo mau kehidupan lo berubah, dan tidak hanya menjadi kacung Gilang.
Bergabunglah sama kita, kita rampas semua ide milik Gilang lalu kita hancurkan
perusahaan Gilang. Lo akan mendapat banyak harta dan pastinya lo akan menjadi
bos bukan karyawan biasa yang gajinya tak seberapa.”
“Terima kasih Devan, tapi gue sangat tidak tertarik sama tawaran receh lo ini.” Jawab
Vian dengan senyuman menghina.
“Vian, memangnya lo mau sampai tua menjadi kacung mereka. Yang hanya disuruh-suruh.”
“Ok, apa yang bisa gue dapat kalau gue bergabung sama lo?” Vian ingin tahu apa yang akan di berikan oleh Devan. Bella kaget, dia yang sudah bertekad memberanikan diri agar tidak jadi penghianat. Namun kini Vian justru tertarik sama ajakan Devan.
“Lo mau apa? Ah.. kalau lo bisa menjadikan Gita istri gue. Apapun akan gue berikan
sama lo.” Kata Devan.
“Hanya itu saja? Bagaimana kalau gue minta satu ginjal lo dan juga satu kaki dan mata lo.” Permintaan Vian membuat semua orang terkejut.
"Vian jangan ngelunjak lo ya. Permintaan lo itu tidak masuk akal." Catrin gemas banget.
"Dia saja meminta sesuatu yang tidak masuk akal apa gue juga tidak boleh." jawabnya dengan senyuman.
“Devan..Catrin..” panggil Fajar yang baru saja datang dan membawa berkas-berkas dari kantorr. Vian menoleh ke belakang, dan dia bertatapan dengan Fajar. Tatapan Vian lebih dalam di bandingkan Fajar. Fajar berhenti, dia kaget bisa ada Vian di cafe itu.
“Fajar, apa yang lo dapat?” tanya Catrin. Fajar tidak mendengarkan ucapan Catrin, dia masih terpaku karena ada Vian. Vian kemudian tersenyum membuat Fajar semakin ketakutan.
“Kenapa diam saja?” tanya Vian.
“Fajar, buruan bawa kesini.” Kata Catrin, Fajar berjalan pelan sembari melihat kearah
Vian.
Fajar memberikan berkas kepada Catrin, dengan cepat dia membukannya namun yang ada di file itu tidak ada isinya hanya kertas kosong.
“Fajar, gimana sih lo. Lihat kerja lo.” Catrin melempar berkas berisikan beberapa kertas.
“Ta-pi aku tadi melihat mereka menyimpan
disini.”
“Dasar bego!”
__ADS_1
“Lo mau ini Catrin?” Gita datang membawa setumpuk kertas.
“Ternyata ini biang keladianya.” Ujar Fara yang berjalan di belakang Gita.
“Bella, apa lo melakukan ini?” Catrin melihat Bella dengan melotot.
“Hai Devan, rupanya lo sangat ingin bersaing dengan gue. Harusnya lo lebih pinter lagi dong.” Giliran Gilang yang datang dengan tersenyum yang membuat Devan,
Catrin dan Fajar menciut.
“Fajar brengsek lo!” Nino datang langsung memukul Fajar hingga terjatu. “Manusia tak tahu diri, sudah di bantuin malah menusuk.” Nino kembali mmeberikan pukulan.
“Nino...Nino cukup!” Win menahan Nino.
“Tapi dia brengsek!”
“Gue tahu, tapi lo harus kontrol emosi lo.”
“Wah.. rame juga ya. Gilang apa lo dengan suka rela mengantar Gita untuk gue.” Devan berjalan maju mendekati Gilang.
“Devan, apa lo benar-benar menginginkan gue?” Gita bergerak dan berdiri di depan
Gilang.
“Tentu sayang, kita kan sudah saling mencinta sejak kecil.”
“Lalu bagaimana dengan calon istri lo?”
“Gampang, kalau lo mau putus sama dia. Gue bakalan melepas calon istri gue demi lo.”
“Apa lo yakin?”
“Sangat yakin.”
“Amelia.” Panggil Gita.
Plaaaakkkkk!!!
Amelia menampar Devan dengan sangat keras, matanya merah karena dia sangat marah. Dia yang sangat tulus mencintai Devan ternyata di khianati.
“Sayang...” Wajah sumringah Devan langsung berubah.
“Jangan sentuh gue! Dan jangan pernah panggil gue sayang lagi. Gue jijik sama lo.”
Amelia menepis tangan Devan.
“Sayang, maafin gue ini semua jebakan dari mereka. Dia yang selalu menggoda gue.”
“Hey.. dasar lelaki mulut lemes bisa-bisanya lo ngomong seperti itu.” Fara langsung
ngegas.
“Sini lo!” Gilang menarik kerah baju Devan lalu memberikan pulukan di perutnya.
“Ini untuk lo, karena memfitna Gita dan juga lo telah mengaco perusahaan gue. Dan
satu lagi ini buat lo karena telah menyakiti calon istri lo sendiri.” Gilang
memberikan dua pukulan di wajahnya dengan sangat keras.
“Ingat ya Devan, lo itu bukan siapa-siapa kalau lo tidak jadi suami gue. Jadi semua
aset yang lo punya akan gue tarik lagi.” Amelia pergi dan Devan lari menyusul
Amelia.
Di tengah keributan Catrin dia berusaha mencari kesempatan untuk kabur, namun Fara langsung menarik rambutnya.
“Mau kemana lo?”
“Fara.. lepaskan rambut gue. Sakit tahu.”
“Sakitan mana sama desain gue yang lo jual sama orang ha!”
“Ampun..”
__ADS_1
“Pak Gilang.. saya minta maaf. Saya sudah salah.”
“Fajar, kamu saya pecat tanpa pesangon. Dan kita akan lanjut dengan jalur hukum. Bawa mereka berdua ke kantor polisi.” Perintah Gilang.