
Pagi yang mendung, langit sangat hitam
pekat hari ini. Tidak seperti dua hari lalu yang cerah dan panas. Gita membereskan pakaiannya agar saat sore tiba dia tidak buru-buru packing dan langsung menaruhnya di bagasi bus.
Gita mengambil baju cardigen warna
abu-abu tua, dia keluar bersama Fara dan Vian. Dia tidak mau jauh-jauh dari
mereka berdua dan tak mau memandang wajah Farhan. Dia masih trauma dengan Farhan.
Farhan sesekali mencuri pandang sama
Gita, dia menyesal sekali dan ingin meminta maaf sama Gita. Vian yang tahu Farhan mencuri pandang sama Gita langsung menyuruh Gita berada di belakangnya.
Farhan kembali menoleh untuk memandang Gita, namun yang dia dapatkan tatapan tajam dari Vian. Kedua pasang mata yang memancarkan kebencian dan hasrat untuk membunuh.
Farhan menelan ludah, dia mulai tak tenang. Dalam hatinya mengatakan jika Gita sudah bercerita kepada teman-temannya.
Selesai brifing mereka siap melaksanakan
tugas yang terakhir, yaitu makan bersama warga dan pemberian sumbangan kepada
desa yang sudah di kumpulkan sebelum mereka pergi.
Semua mahasiswa berbaur dengan warga
untuk membantu membuat makan bersama. Mereka masak besar hari ini, dengan
memotong kambing yang sudah di siapkan oleh lurah desa Candi.
“Gita.” Panggil Farhan pelan. Gita
menoleh perlahan, lalu kembali menatap ke depan. Tubuhnya kembali gemetar, saat Farhan memanggilnya dan mencoba mendekatinya.
“Gita, gue mau ngomong sama lo sebentar.
Please, setelah itu lo boleh mau tidak berbicara lagi sama gue.” Farhan berarap
banget dia bisa ngobrol sama Gita kali ini.
Gita bingung, dia takut tapi dia tidak mau terus di rundung ketakutan saat melihat Farhan. Gita akhirnya mengangguk pelan. Farhan mengajak Gita ngobrol di tempat yang sedikit menjauh dari warga agar pembicaraan mereka tidak di dengar orang lain.
Gita menyetujuhinya, dia harus menyelesaikan masalahnya sebelum pulang. Dan setelah itu dia tidak akan pernah menemui Farhan lagi saat sudah kembali.
Farhan berubah menjadi canggung,
sebenarnya dia sudah tidak ada muka lagi ngobrol langusng dengan Gita. Namun setiap detik dia terus di kejar rasa bersalah membuatnya memberanikan diri untuk ngobrol sama Gita.
“Gita, gue tahu lo pasti marah sama gue. Lo boleh membenci gue atau kalau lo mau memukul pun gue terima. Tapi please, maafi gue yang bodoh ini." Kata Farhan penuh penyesalan.
“Iya Kak, Gita maafin. Gita harap kedepanya Kak Farhan tidak melakukan ini lagi sama orang lain. Cukup Gita yang merasakan ketakutan ini." Kata Gita.
“Iya Gita, gue pasti belajar dari kejadian ini. Gue janji." Farhan mengangkat kedua jarinya berbentuk V.
"Tapi kita masih bisa berteman kan?" tanya Farhan ragu-ragu.
"Maaf Kak, untuk saat ini Gita belum bisa berteman sama Kak Farhan." Ujar Gita.
"Gita.. please.." Farhan meraih tangan Gita. Gita langsung menarik tangannya.
__ADS_1
"Gue mohon, beri kesempatan sekali lagi. Gue janji akan memperbaiki semuanya." Farhan kembali meraih tangan Gita.
Buuughhhhh......!!!
Vian berlari lalu memukul wajah Farhan,
dia menarik kerah baju Farhan dan kembali melayangkan pukulan di perut Farhan.
"Jangan pernah berani mengganggu orang-orang gue, atau lo mau mati!" Kata Vain dengan amarah yang mengebu-gebu.
“Vian..Vian.. hetikan.” pinta Gita
sambil menahan Vian yang masih mau menghajar Farhan.
“Lo.. manusia busuk! Lo itu mahasiswa
teladan tapi kenapa kelakuan seperti bajingan!” Bentak Vian.
Vian semakin tak bisa mengendalikan emosinya saat melihat Farhan yang sudah membuat Gita ketakutan tapi masih punya muka ingin berteman dengan Gita.
“Vian.. tahan jangan emosi apa kata
orang desa nanti.” Ujar Fara yang baru saja datang.
“Gue Nggak peduli. Bahkan nih kalau
memang boleh membunuh orang, gue akan bunuh dia sekarang!” Vian memegang kerah baju Farhan semakin erat.
Farhan sama sekali tidak melawan dan
tidak membantah makian Vian, apa yang dia katakan memang benar. Sekarang dia
“Bangun lo!” Seru Vian setelah dia
mendorong Farhan sampai terjungkal.
“Berhenti!” Teriak Imel dari kejauhan.
Dia berlari dan melindungi Farhan dari pukulan Vian.
“Kenapa kalian mengroyok Farhan, kalian
membuli dia?” Tanya Imel. Dia melihat wajah Farhan yang babak belur.
“Lo jangan sok jago disini, atas dasar
apa lo pukulin sahabat gue!” Jordan mendorong Vian, kemudian dia mendekati Vian dengan wajah Garang, kedua matanya melotot tanyannya mengerat siap memberikan pukulan pada Vian.
Vian tersenyum sinis, dia kembali
mengeratkan tangannya. Dia juga tidak takut bahkan ingin sekali melampiaskan
kemarahannya kepada orang yang membela Farhan.
“Vian..Kak Jordan sudah kalian jangan
berkelahi.” Gita berusaha melerai kedua orang yang sedang tersulut emosi dengan
alasan yang sama yaitu membela sahabatnya.
__ADS_1
“Jordan gue yang salah, lo jangan
melawan mereka.” Kata Farhan denga suara lemah. Dia berusaha berdiri di bantu dengan Imel.
Jordan melepaskan genggaman tangannya,dia menoleh lalu mendekati Farhan.
"Bagaimana lo bisa bilang nggak bersalah jelas-jalas lo yang di kroyok." Kata Imel.
“Benar ini tidak mungkin, lo itu orang yang nggak suka mencari masalah bagaimana bisa lo yang salah. Lo jangan melindungi orang yang bersalah." Ujar Jordan.
“Sahabat lo itu juga manusia, tidak
selalu suci.” Kata Fara.
“Diam mulut lo!” Tunjuk Imel.
"Kenapa nggak terima?!" Fara menurunkan telunjuk Imel.
Perdebatan masih saja terjadi meskipun
Gita sudah melerainya, namun Jordan dan Imel masih tidak terima dan terus mengajak Fara dan Vian berdebat.
Gita menoleh ke kanan dan kekira saat
sayup-sayup terdengar suara gemuruh, yang di ikuti dengan rintikan hujan.
“Vian..Fara..ayo kita kembali.” Ajak
Gita sembari mempertajam pendengarannya.
Gemuruh semakin terdengar jelas, mereka
semua pun akhirnya berhenti berdebat ketika mendengar gemuruh yang sangat dekat,tanah tiba-tiba bergetar. Mereka berenam menjadi panik.
“Gempa...! Gempa...!” teriak orang-orang
yang sedang memasak.
Mereka berenam pun langung lari untuk
menyelamatkan diri, tanah retak, Fara terpeleset dan hendak terjatuh ke tebing.
“Gita!” teriaknya.
“Fara..Fara.. tahan tangan gue.” Gita
mencoba membantu Fara. Dengan getaran yang semakin kuat, gemuruh yang akan segera menyerang Gita berusaha menarik Gita ke atas.
“Lepaskan tangan lo biar gue yang
angkat.” Kata Vian.
Baru saja Fara terangkat, dan mereka
sedang berlari menyelamatkan diri. Tanah tebing longsor mengenai mereka bertiga.
“Fara..! Vian..!” Suara Gita terdengar
tinggi lalu melemah dia terbawa arus tanah turun ke tebing.
__ADS_1