
Fara melihat ke arah tangannya, dia
tersenyum sendiri. Dia merasa sangat senang, hatinya berbunga-bunga.
“Hah... sekarang gue takut sendiri.
Bagaimana kalau gue jatuh cinta sama Raka tapi dia tidak. Itu hanya akan membuat gue sakit hati.” Gumam Fara sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
“Atau gue yang terlalu serakah dengan
kebaikan dia dengan menganggap kalau dia itu suka sama gue.” Fara semakin bergejolak.
Semenjak kejadian ciuman palsu yang di
buat Raka, hati Fara menjadi campur aduk. Bisa di bilang dia baper. Awalnya dia
sangat biasa saja dengan Raka, namun lama-lama sikap Raka yang peduli, perhatian meskipun harus di awali dengan debat sangat mempengaruhi hatinya.
Fara menelpon Gita untuk curhat, “Halo,
Git lo lagi di mana?” tanya Fara.
“Sedang di rumah, rebahan sambil makan buah apel, sambil main
hp. Ada yang bisa di bantu?” tanya Gita.
“Gue mau curhat.” Kata Fara singkat.
“Ok, kepada saudara Fara, mamah dede
siap mendengarkan.” Kata Gita.
“Bercanda mulu lo ah, gue serius nih.” Kata Fara.
“Iya..iya, emosian banget sih. Buruan
mau curhat apaan?”
“Gue tadi ketemu sama Aldi mantan gue
yang brengsek itu.”
“Terus?”
“Dia mempermalukan gue, untung saja Raka
datang tolongin gue.”
“Kakak gue emang is the best dah.” Gita
memotong omongan Fara. Fara kemudian terdiam dia bingung menceritakan bagian mana lagi.
“Eh.. kok diam. Jadi cuma itu yang mau
lo ceritain. Nggak asik banget.” kata Gita.
“Gue bingung ceritanya?”
“Ah.. gue tahu. Raka datang sebagai pahlawan terus lo terpesona dan jatuh cinta sama Raka gitu kan. Ah hidup lo benar-benar kayak sinetron Far,” Kata Gita.
“Ssst, jangan keras-keras nanti ada yang
dengar. Lo di situ sama siapa?” tanya Fara.
“Eh.. beneran Far kronologinya seperti itu dan lo beneran suka sama Raka?” Gita antara kaget dan heran ucapanya yang ngawur itu ternyata beneran.
“Gue bingung menyimpulkannya, hanya saja
jantung gue jedak jeduk kayak lagi clubbing.”
“Ah benar, lo udah jatuh cinta sama
Raka.” Kata Gita.
“Mungkin. Git, lo jangan ngomong apa-apa
sama Raka. Gue kan malu kalau dia tahu gue suka dan dia nggak. Mungkin gue saja
yang terlalu serakah udah di baikin malah menyukainya. Dikira drama korea orang
berbuat baik langsung jatuh cinta.” Omelnya sendiri.
“Tenang saja. Biarkan gue bekerja
beberapa hari ini.” Kata Gita.
“Maksud lo apa nih Git?” Fara panik.
“Udah lo diam saja nggak usah banyak
__ADS_1
tanya, lo tidur saja yang nyenyak tinggal terima hasilnya.” Gita mematikan
ponselnya.
“Git..Gita... wah kacau nih anak,
bisa-bisa dia ngebongkar perasaan gue sama Raka.” Fara mengacak-acak rambutnya. Harusnya dia tidak curhat sama Gita.
Gita membuka pintu Raka tanpa mengetuk
dulu, kedua matanya langsung mencari keberadaan Raka.
“Cari apaan lo?” Tanya Raka yang baru
saja keluar dari kamar mandi.
“Cari lo.” Gita meringis sambil melompak
ke kasur.
“Udah cuci kaki belum lo, main naik-naik
ke kasur.” Kata Raka menirukan Gita saat ngomel kalau dirinya saat naik ke kasur milik Gita.
“Heh..itu kata-kata gue.” Kata Gita.
“Ada apa?” Raka ikut duduk di kasur
sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Ka, gue mau tanya sama lo.”
“Apa?”
“Lo dekat-dekat sama Fara ada maunya ya?”
“Ada maunya gimana?”
“Lo perhatian banget sama Fara, anak
orang jangan di baperin kenapa?”
“Siapa yang baperin. Ah.. emangnya dia
baper sama gue?” Raka berubah antusias mengetahui kalau Fara baper sama dirinya.
“Bisa di bilang gitu.” Kata Gita. Raka tersenyum mendengar ucapan Gita.
perhatian lebih sama Fara kalau lo itu juga suka sama dia. Jangan kasih dia harapan lebih terus lo tinggalin. Gue nggak suka ya, lo nyakitin sahabat gue. Meskipun lo saudara gue kalau lo berani nyakitin Fara berarti kita musuhan.” Omel Gita.
“Ngomong apaan sih lo, nggak jelas.”
Raka memeluk Gita.
“Raka, gue beneran nih.”
“Iya, adikku sayang. Kapan sih gue
baperin anak orang.” Raka mencium pipi Gita.
“Ka, saran gue mending lo perjelas deh.
Lo maunya pacaran atau cuma anggep Fara seperti gue.”
“Kenapa lo heboh banget sih, udah ah
sana keluar.” Raka mendorong Gita utuk keluar dari kamarnya.
“Ingat ya, jangan sakitin Fara.” Kata
Gita sebelum pintu di tutup.
“Iya, bawel.”
Raka kembali ke kasurnya, dia mengambil
ponselnya lalu menghubungi Fara.
“Halo.” Sapa Raka saat Fara mengangkat
ponselnya.
“Iya, ada apa Ka. Tumben nih telpon gue.”
Kata Fara dengan jantung yang deg-degan. Dia merasa ini pasti ulah Gita.
“Iya, ada barang gue yang ketinggalan
sama lo tadi pas nganterin lo pulang.” Kata Raka.
__ADS_1
“Barang apa?” Fara bingung. Perasaan dia
turun dari mobil Raka hanya membawa tasnya, bahkan Raka tidak mampir di
rumahnya.
“Masa lo nggak tahu sih.”
“Iya emang nggak tahu memangnya apaan?”
Fara penasaran.
“Hati gue.” Jawab Raka sambil terkekeh. “Tolong ya jagain.” Katanya lagi.
“Dasar lo ya gombal. Ada angin apaanih
lo tiba-tiba telpon dan gombalin gue. Lo nggak sedang mabuk kan?” Tubuh Fara menjadi panas dingin di gombalin Raka.
“Gue sedang mabuk, mabuk cinta.” Raka
terus menggoda Fara.
“Dasar gila. Lo mau apa sih Ka.”
“Mau lo.”
“Raka, kalau lo cuma mau godain gue. Gue
matiin telponnya sekarang.” Ancam Fara.
“Galak banget sih, masih marah sama
mantan lo?” tanya Raka.
“Kenapa marah, lagian dia juga udah
nggak penting bagi gue. Lo sendiri kan yang bilang anggap saja sebagai mimpi
buruk.” Kata Fara.
“Ah.. gadis pinter. Ok kalau begitu
sekarang lo tidur jangan begadang terus. Besok pagi berangkat sekolah gue
jemput, selamat malam.” Raka mematikan ponselnya.
“Raka kesambet apaan sih.” Fara
bergidik.
Fara bergegas keluar rumah untuk
berangkat sekolah, dia agak kesiangan gegara memikirkan sikap Raka kemarin
malam.
“Selamat pagi.” Kata Raka berdiri
bersender di mobilnya.
“Ya Tuhan.” Fara memegangi dadanya
karena kaget. “Lo ngapain disini?”
“Lo lupa, gue kan bilang mau jemput.”
Kata Raka.
“Astaga, jadi omongan semalam dia
sungguh-sungguh. Gue rasa dia Cuma bercanda.” Batin Fara sembari melihat Raka
yang berjalan menuju ke arahnya.
“Kok malah bengong sih, nanti kita
terlambat loh.” Raka menggandeng tangan Fara.
“Ini apa lagi, kenapa lo ngikut aja sih
Fara.” Katanya dalam hati. Raka membukakan pintu mobil, lalu menyuruh Fara masuk.
“Ini mimpi atau apa sih, atau lelucon
apa yang sedang di buat sama Raka.” Gumam Fara.
Raka masuk lalu mengemudi mobilnya, dia
tidak memberikan penjelasan dengan apa yang dia lakukan membuat Fara berpikir
__ADS_1
macam-macam, dari Raka yang mulai mendekati dirinya sampai Raka yang sedang
mempermainkan perasaannya.