
Setelah makan malam Gita dan yang lain duduk di teras menikmati dinginnya malam dengan bermain ponsel. Sedangkan Vian, Bayu dan Gilang bermain gitar sambil nyanyi-nyanyi.
"Ta, pakai." Raka melemparkan jaket ke arah Gita lalu duduk di sebelah Gilang.
"Thanks," Sahut Gita langsung memakainya.
"Raka, lo nggak adil banget sih. Yang di kasih kenapa cuma Gita doang. Kita kan juga dingin." Protes Fara.
"Idiih.. lo kira gue babysiter lo. Ambil sendiri jaket lo."
"Dasar pilih kasih."
"Bodo. Oiya... di pojok desa kata nenek ada pasar malam mau ke sana nggak?" tanya Gilang.
"Ayook, gue udah lama nggak ke pasar malam." Gita antusias.
"Gimana yang lain?" tanya Raka.
"Kita ngikut aja." kata Bayu yang di berikqn anggukan sama Gilang dan Vian.
"Buruan ambil jaket kalian." Kata Raka.
Setelah pamit sama nenek mereka, Gita dan yang lain langsung meluncur ke pasar malam.
Suasana sangat ramai meskipun dingin, Gita langsung mengajak lari Fara dan Anita ke tempat permainan.
"Mau nggak naik itu?" Gita menunjuk kora-kora.
"Nggak ah takut." Jawab Fara.
"Fara mah cuman menang galak doang, main gituan doang nggak berani." ejek Vian.
"Gue bukanya takut ya, tapi itu bikin pusing tahu." Fara mengelak.
"Jago banget ngelesnya." tambah Raka.
"Udah jangan di paksain, gue temani lo kalau mau main." Gilang akhirnya ambil suara setelah beberapa jam hanya dia dan memperhatikan teman-temanya yang pada ribut.
"Beneran Kak?"
"Iya, kayaknya juga nggak ada yang pada mau naik." Gilang melihat satu per satu temannya dan mereka hanya nyengir.
"Ka."
"Jangan ajakin gue, lo tahu kan terakhir gue naik kora-kora langsung nggak punya tenaga." Raka menolak.
"Ya udah gue beli tiket dulu." Gita berjalan ke loket di ikuti Gilang.
"Sial banget gue nggak kuat naik kora-kora, jadi Gilang yang dapat moment." Gerutu bayu dalam hati.
Gita duduk lalu mengambil ponselnya, sebelum di mulai dia mengambil selfi.
"Sini gue bantuin fotonya, biar dapat enggel yang bagus." Gilang mengambil ponsel Gita lalu memfotonya.
__ADS_1
"Nggak usah Ka, Gita selfi aja." Gita hendak meraih ponselnya namun Gilang langsung mengangkat tinggi-tinggi tangannya.
"Kalau Gitu, kita selfi berdua." Gilang ikut berpose. Gita melebarkan kedua matanya karena kaget. Yang dia dengar selama ini Gilang sangat susah kalau diajak foto bareng.
"Kenapa ekspresinya seperti itu? senyum dong." Kata Gilang.
"Ah..iya. Bukanya Kak Gilang nggak suka foto." Gita bertanya sambil berpose.
"Hari ini spesial, dan hanya lo dan orang terdekat gue yang boleh foto sama gue." Gilang memeberikan ponsel Gita.
"Sombong amat, kayak artis aja." Gumam Gita pelan sambil memasukan ponselnya.
"Kenapa?"
"Ah... ini udah mau di mainkan." Kata Gita.
Baru saja di mulai Gita langsung teriak heboh, dia sangat senang karena bisa teriak-teriak dengan bebas. Dia melepaskan segala hal yang hanya bisa dia pendam selama ini.
Gilang hanya fokus melihat Gita, dia tidak menikmati permainannya namun menikmati kecantikan Gita yang beda dari biasanya. Dia melihat Gita yang tanpa beban.
Satu putaran selesai, Gita turun lalu menarik tangan Gilang untuk mencoba permainan yang lain. Gita terlalu asyik sendiri dia lupa dengan yang lain.
Sambil berlari kecil Gilang tersenyum melihat tangannya yang di genggam erat Gita.
"Naik itu ya." Gita menunjuk komidi putar dengan tangan kanannya. Dan tangan kirinya masih menggenggam erat tangan kanan Gilang.
"Ok, apapun yang lo mau gue bakalan ikutin." Kata Gilang.
"Janji ya."
"Lo tidak bermain?"
"Gue tungguin disini."
"Baiklah."
Gita langsung komidi putar, dia melebarkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya. Malam ini dia hanya memikirkan bermain dan bermain.
"Nyata bukan gue idola lo, tapi lo idola gue. Gue hanya bisa menghalukan lo. Gue nggak tahu usaha kita ini akan berhasil atau nggak. Hati lo terlalu tertutup untuk bisa menerima seseorang." Batin Gilang sambil terus memandangi Gita.
"Kak!" Gita menepuk pundak Gilang sampai dia kaget.
"Astaga Gita, lo ngagetin gue aja." Gilang memegang dadanya.
"Hehe.. lagian dari tadi gue lihat, Kak Gilang bengong aja. Mikirin apaan sih?"
"Mikirin lo, kapan jadi pacar gue." Kata Gilang sambil tertawa.
"Apaan sih, nggak lucu bercandanya. Kita main lagi yuk." Gita menarik tangan Gilang lagi.
Gita tiba-tiba berhendi mendadak sampai Gilang sedikit menabrak tubuh Gita.
"Kenapa?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Bingung mau main apa lagi." Gita menggaruk kepalanya sambil melihat sekeliling.
"Kalau gitu, sekarang gantian ya gue yang main." Gilang berbalik yang menarik tangannya Gita. Dia mengajak ke permainan lempar gelang.
"Mau yang mana?" Tanya Gilang.
"Mana apanya?" Gita bingung.
"Hadiahnya."
"Em.. apa ya?" Gita bingung.
"Mau semua?" Gilang melihat ke arah Gita.
"Emang bisa?" Gita meremehkan Gilang.
"Lo nggak percaya gue bisa melakukan ini? Kalau gue bisa mengambil semua hadiahnya lo mau cium gue?" Gilang memnerikan tantangan, dia menatap Gita dengan serius.
Gita mendelik, "Kak Gilang orangnya cerdik, pasti dia bisa melakukannya." Batin Gita.
"Gita bukan nggak percaya, tapi kasihan kalau di ambil semua. Gita pilih coklat itu sama boneka besar." Gita menunjuk dia benda.
"Ok."
Dan benar apa yang di pikirkan Gita, Gilang satu lemparan langsung masuk.
"Yeee!" Seru Gita saat Gilang mendapatkan coklat.
"Gue bakal dapatkan boneka itu." Katanya sambil melempar. Lemparan pertama Gilang gagal.
"Yaah..." Gita kecewa. Gilang melirik sekilas ke arah Gita lalu fokus memasukan lagi gelangnya.
"Yeeee!" Gita melompak kegirangan. Dia pun tanpa sadar langsung memeluk Gilang. Gilang terpaku, detak jantungnya berubah tidak teratur. Pelukan yang tanpa paksan, dorongan dari siapapun yang terasa sangat nyaman.
Gita mulai mencium bau wangi yang maskulin, dia mulai tersadar. Gita melepaskan pelukannya.
"Maaf, Ka." Katanya sambil memalingkan wajahnya. Wajanya memerah, dia malu dengan kelaukuannya. Dia jadi salah tingkah, bingung.
"Ini Mbak coklat, sama bonekanya." Kata penjualnya.
"Makasih Pak."
"Iya, semoga langgeng ya hubungannya. Kalian sangat serasi loh." tiba-tiba penjualnya mendo'akan Gilang dan Raka.
"Amin." jawab Gita dalam hati.
"Kita bukan pasanga Pak." Kata Gilang.
"Oalah, saya kira pacaran maaf ya. Bapak sok tahu." Penjual itu merasa malu.
"Bapak emang nggak sok tahu. Kita berdua itu memang belum berteman. tapi sahabat til janah kalau kata yang ngetres sekarang mah." Gilang melihat kearah Gita sambil tersenyum. Wajah Gita semakin merona karena malu.
Penjual itu tertawa, "Bisa-bisanya, tapi ya nggak apa-apa bapak do'ain kalau kalian nggak berjodoh ya syukur, tapi kalau memang nggak berjodoh ya nanti bapak ngeyel lah biar di kabulin.
__ADS_1
"Amin Pak." jawab Gilang sambil tersenyum.