Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Sandra


__ADS_3

Gita meregangkan kedua tanganya, lalu mengacak-acak rambutnya. Kakinya dan tangannya diatas badan Fara ketika Gita pindah posisi.


Dan Fara pun bergantian menggeliat mendorong tangan dan kaki Gita, kini Giliran dia pindah posisi dan tangannya berada di wajah Anita.


"Fara, kebiasaan banget sih lo." kata Anita pelan dengan suara khas orang yang bangun tidur. Anita mendorong tangan Fara.


Mereka bertiga kembali terlelap setelah mendapatkan posisi yang enak lagi. Namun bau yang sangat enak dari dapur yang masuk ke kamar membuat mereka bertiga membuka mata.


"Baunya enak sekali." Kata Gita sambil duduk.


"Iya, tapi ini masih terlalu pagi untuk membangunkan perut gue." Fara menarik selimutnya sampai ke dada.


"Benar, tapi gue nggak tahan ingin melihat dan memakan masakan nenek." Anita ikut bangun.


"Kita ke dapur yuk, tinggalin aja Fara. Nanti kalau makananya udah siap semua langsung kita habiskan. Fara nggak usah di bagi." Kata Gita sambil turun dari kasur.


"Iya, biarin." Fara tidak memperdulikan ocehan Gita dan Anita, dia tetap memilih tidur.


"Pagi Nek." sapa Gita dan Anita bersamaan.


"Pagi, udah bangun?"


"Iya Nek, masakan nenek buat kita berdua bangun." Gita nyengir.


"Ya sudah sana cuci muka dulu."


"Ok Nek." Gita dan Anita bergegas ke kamar mandi.


"Git, gue kayaknya nggak berani deh cuci muka." Anita memeluk diri sendiri.


"Kenapa?"


"Dingin banget, emang lo nggak ngerasain apa?" Anita bergidik.


"Ya dingin sih, masa nggak cuci muka jorok ah." Ujar Gita.


"Ya udah lo dulu sana." Anita meminta untuk Gita yang cuci muka duluan.


"Ya, atau mau barengan aja biar cepat kelarnya."


"boleh lah."


Gita menghidupkan keran, dia menadahkan tangannya lalu mengangkatnya.


"Suweer.. dingin banget ini air."


"Masih dingin mana sama gebean lo?"


"Dingin dia." Jawab Gita sambil tertawa yang di sahut oleh Anita.


Selesai cuci muka mereka berdua kembali lagi ke dapur, rencana sih mau bantuin tapi nenek tidak memperbolehkan.


"Sudah jangan ganggu nenek masak, kalian nikmati saja suasana pagi di kampung nenek."


"Nggak apa-apa nih Nek kita nggak bantuin?" tanya Gita basa basi.


"Iya, susah sana pergi. Datang kembali kalau semua sudah siap.


Gita dan Anita mengambil jaketnya sebelum jalan-jalan.


"Far, mau ikut nggak?" Gita menggoyangkan tubuh Fara.

__ADS_1


"Eemm, kemana?" tanya Fara dengan mata masih tertutup.


"Keliling kampung."


"Nggak ah, kalian berdua saja. Gue masih mau tidur."


"Ok, jangan nyesel ya." Anita menggandeng Gita.


"Nggak akan." Jawabnya dengan suara menuju tidak jelas.


Pagi yang sangat sejuk, sepi dan terasa sangat nyaman. Beda dengan kota yang setiap hari bising dan panas.


Gita mengambil napas dalam-dalam, "Sejuk banget nggak sih."


"Sangat, kerasan banget gue tinggal disini." Anita menghirup dalam-dalam sama yang di lakukan Gita.


"Lo cari suami orang sini, biar bisa tinggal disini."


"Ide bagus Git, kalau gitu kita jalan yang jauh siapa tahu ada cogan yang bisa gue pacarin." Anita menggandeng tangan Gita.


...♡◇◇◇♡...


Gilang dan Raka juga sudah pergi duluan untuk jogging mengelilingi kampung.


"Lang, sepeda itu kayaknya nggak beres deh?" Raka menunjuk sepeda yang sesang berjalan turun ke arahnya.


"Sepertinya, dia mengemudi belok-belok gitu."


"Awas minggir-minggir rem blong!" teriaknya. Dia tidak bisa mengendalikan sepedanya.


"Aaaaaaa...." Teriak cewek itu dan... Bruuugh.... dia dan sepedanya jatuh setelah Gilang dan Raka menghindarinya.


"Kenapa nggak di tahan sih?" kata Raka.


"Ya udah yuk bantuin."


"Lo nggak apa-apa?" tanya Raka sambil membantu berdiri. Sedangkan Gilang mengambil bunga yang berceceran di samping sepeda.


"Lumayan sakit, tangan sama kaki gue." Dia mencoba berdiri tapi tidak bisa.


"Rumah lo mana?"


"Dekat,"


"Lang, kita antrin dia dulu."


"Ya, lo gendong aja dia biar gue yang bawa sepedanya." Kata Gilang mendirikan sepedanya dan menaruh bunga di keranjang depan.


"Lo.. cowok yang tadi malam kan?" kata cewek. Gilang melihat sekilas kemudian kembali fokus dengan sepeda.


"Kalian kenal?" tanya Raka.


"Ah.. tidak. Hanya gue bikin kesalahan sedikit." Katanya sambil menatap Gilang.


"Sudah beres, dimana rumah lo?"


"Em.. boleh nggak lo yang gendong gue. Gue mau..."


"Nggak." Jawab Gilang dengan tegas.


"Lang, gendong gih. Sekalian kalau ada masalah selesain." Raka menyuruh Gilang yang gendong. Gilang menghela napas kasar, dia akhirnya menggendong cewek itu karena paksaan Raka.

__ADS_1


Cewek itu terus menatap wajah Gilang, baru kali ini dia ketemu cowok yang ganteng, cool dan agak songong membuat dia penasaran.


Setelah berjalan hampir setengah jam, sampailah di rumah cewek itu. Rumah bercat putih dengan halaman luas dan banyak pohon dan tanaman hias.


Gilang menurunkan cewek itu di kursi teras, dia memegang pundaknya karena pegal.


"Terima kasih ya. Oiya kita belum kebalan. Nama gue Sandra." Sandra mengulurkan tangan.


"Gue Raka, dan dia Gilang." Raka menyambut tangan Sandra.


"Kalian bukan dari desa ini ya?"


"Ya, kita hanya liburan di rumah nenek gue noh yang rumahnya paling ujung."


"Nenek Wati?"


"Iya, lo tahu?"


"Ya pasti tahu lah, orang kita tetanggaan gimana sih. Lo masa nggak ingat sih sama gue, dulu kita sering main bareng lo setiap minggu sama siapa itu adik lo yang gendut imut itu." Sandra antusias ternyata Raka adalah teman main semasa kecil. Dulu Raka dan Gita setiap sabtu malam sampai minggi sore pasti datang dan bermain di kampung neneknya.


"Oiya.. lupa gue."


"Masuk dulu yuk, gue buatin minum."


"Nggak usah, kita buru-buru pulang nanti di cari sama nenek dan yang lain. Lo cepetan pulih ya." kata Raka.


"Iya, itu lukanya buruan di obatin nanti infeksi." Kata Gilang.


"Iya, makasih ya. Maaf jadi ngrepotin."


"Nggak kok, kita balik ya. Lo bisa nggak masuknya?"


"Bisa-bisa, nanti gue panggil mbak gue di dalam." ujarnya.


"Eeits... tunggu itu kan Gilang sama Raka, ngapain mereka disana?" Anita nggak sengaja melihat Gilang dan Raka.


"Nggak tahu, mereka ngobrol sama siapa?"


"Gilang! Raka!" teriak Anita.


"Heh.. kenapa teriak-teriak." Gita menabok lengan Anita.


"Hai.." Gilang berjalan duluan meninggalkan Raka yang masih berpamitan dengan Sandra.


"Kak, rumah siapa itu?" Gita penasaran.


Gilang mengangkat dua bahunya, "Nggak tahu, tadi dia jatuh dari sepeda terus gue sama Raka bantuin dia pulang."


"Oh.." jawab Gita dan Anita bersamaan.


Gita menatap lurus, melihat wajah Sandra. Dia memgingat seperti pernah melihat cewek itu.


"Seperti pernah lihat?" katanya.


"Cewek yang tadi malam." Jawab Gilang dengan jujur.


"Oh.. kok bisa ketemu lagi?"


"Entah."


"Jodoh kali." Celoteh Anita tanpa di saring alhasil kena tabokan Gita.

__ADS_1


"Betah banget si Raka, kita pergi dulu yuk." ajak Gilang.


"Ya udah tinggalin aja." Gita, Anita setuju ninggalin Raka.


__ADS_2