Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pelatihan Pacaran


__ADS_3

Gita berdiri di depan Gilang, dan menatap dalam-dalam orang yang sejak dia masuk ke seoolah terus meyatakan cinta dan dia tolak berkali-kali.


“Kenapa lo berdiri? Mau main lagi?” tanya Gilang.


Gita menggelengkan kepalanya, “Coba deh lo lihat baik-baik diri gue, memangnya apa yang menarik dari cewek gendut macam gue. Pinter nggak, good looking juga nggak kenapa lo nggak coba mencintai orang lain yang sepadan sama lo. Lo ganteng popular pasti banyak kan yang ngantri.” Jelas Gita.


“Kenapa lo selalu membahas masalah fisik, bagi gue itu nggak penting.” Gilang menekankan kalau dirinya tidak memandang fisik Gita.


“Yah meskipun semua orang bilang hati lah yang nomor satu namun kenyataannya tetap saja penampilan yang utama. Yang cantik, yang ganteng, yang good looking, tinggi, putih. Jadi kalau jaman sekarang membahas hati yang utama itu bulsit dan sangat munafik.” Gita duduk dan kembali menyeruput kelapa mudanya.


“Tapi tidak semua orang berpikiran seperti itu.” Gilang menatap Gita dia benar-benar tak memandang apapun dia tulus mencintainya dan menerima apa adanya.


“Yah tidak semua, tapi sebagian besar. Mungkin cinta memang tidak berlaku untuk orang jelek, gendut, pendek.” Gita tertawa Getir.


“Tidak ada orang jelek di dunia ini, hanya tergantung dengan pemikirn mereka sendiri. Dia akan cantik kalau pede dan tak merendah diri.” Gilang mengeluarkan pendapatnya.


“Terlalu munafik.” Gita tertawa getir lagi.


“Apa karena Devan merubah pemikiran tentang diri lo sendiri?”


“Maksud lo?”


“Gita yang gue kenal itu sangat percaya diri. Lo sama sekali tidak peduli dengan omongan orang. Tapi setelah patah hati lo jadi minder."


"Lo nggak pernah merasan patah hati jadi lo bisa ngomong seperti itu." Gita menyangkal.


"Meskipun gue belum merasakan tapi gue sudah mempelajari dari berbagai hal seseorang yang patah hati. Saat patah hati orang-orang akan membandingkan dirinya dengan orang lain, melist semua kekurangannya. Memandang orang yang jauh dari dirinya tanpa melihat sisi-sisi positif yang dia dapatkan. Dan yang lebih membuat tidak mudah move on, mendengarkan lagu galau.” Kata Gilang membuat Gita terdiam menyimak, dia belum bisa memberikan tanggapan.


“Padahal di setiap kejadian pasti ada positifnya, contohnya kisah lo dari situ harusnya lo bersukur bisa tahu orang seperti apa yang lo cintai. Bahkan lo harusnya lebih bersyukur karena tahu lebih awal. Coba saja tahu setelah menikah apa tidak lebih sakit lagi. Patah hati itu memberikan pelajaran bagi kita, agar kita bisa menghargai hatiorang lain, agar kita lebih hati-hati agar tidak mudah memberiakan kesembarangan orang.”


“Pada bahas apaan nih serius amat?” Raka duduk di samping Gita.


“Pembahasan yang sangat berat, lo nggak akan kuat.” Kata Gita sambil menyenderkamn kepalanya di bahu Raka.


“Apa tentang asmara kalian?” Raka menatap Gita dan Gilang gantian.


“Asmara apaan?” Gita mencubit Raka.


“Ta.. kenapa kalian tidak mencoba lebih dekat dulu, syukur-syukur cocok. Yah kalau nggak anggap saja kalian tidak jodoh.” Raka memberikan ide.


“Ngomong apaan sih lo, lihat Kak Gilang ini dia tampan, pinter, tajir, baik kasihan lah nanti dia di gunjing orang kalau dekat sama gue. Lagian Kak Gilang juga sudah dekat sama Kak Qila.”


“Gue nggak masalah kok di gunjingkan orang, lagian gue yang jalani tahu apa mereka. Dan satu hal lagi, gue nggak ada hubungan apa-apa sama Qila.” Gilang mejelaskan kesalahpahaman tentang dirinya dan Qila.


“Jadi lo setuju?” tanya Raka.

__ADS_1


“Gue sih setuju, tapi ya tergantung sama Gita.” Gilang menatap Gita.


“E..em.. gue.”


“Setuju, gue wakilin jawaban dari Gita. Jadi mulai sekarang kalian memasuki fase pelatihan pacaran.” Kata Raka.


“Pelatihan pacaran?” Gita merasa sangat aneh dengan perkataan Raka.


“Iya, jadi kalian harus latihan tuh sebelum nanti pacaran beneran. Chat, telponan, Makan bareng, berangkat pulang sekolah barenga dan nih latihan senderan jangan nyender gue mulu.” Raka memindah kepala Gita ke bahu Raka. Gita kaget langsung mengangkat kepalanya dia memukul Raka keras-keras. Sedangkan Gilang senyam-senyum saja.


...◇◇◇◇◇...


Setelah sampai rumah Gita langsung merebahkan tubuhnya di Kasur, dia baru memikirkan tentang pelatihan pacaran.


“Kenapa gue tiba-tiba setuju aja?” Gita duduk bersila.


Ting! Satu pesan masuk di ponsel Gita.


...Gilang...


...Ini nomor gue Gilang, gue yakin lo belum save nomor gue kan?...


“Bagaimana dia tahu gue nggak save nomornya?” Gumam Gita tanpa membalas.


...Gilang...


“Gue harus jawab apa? Atau gue abaikan saja.” Gita menaruh poselnya. Namun beberapa saat dia kembali mengambil dan membukanya.


...Gilang...


...Sepertinya lo belum siap untuk pelatihan pacaran kita...


...Gita...


...Ya, apa tidak terlihat seperti pelampiasan buat lo kalau tiba-tiba kita dekat?...


...Gilang...


...Memang terlihat seperti pelampiasan sih...


...Gita...


...Kalau gitu kita tidak usah memulainya...


“Gue hanya akan terlihat memanfaatkannya.” Gita manyun.

__ADS_1


...Gilang...


...Kita mulai saja, anggap saja ini sebuah awalan buat kita lupakan itu kata pelampiasan. Jadi apa boleh gue panggil nama lo Ta seperti orang-orang terdekat lo?...


...Gita...


...Ya, jadi mulai hari ini kita akan memulai pelatihannya?...


...Gilang...


...Iya, sekarang lo istirahat. Gue akan jemput besok buat berangkat sekolah. Good night...


...Gita...


...Good night...


Gita tersenyum , dia merasa lebih baik skarang. Dia seperti telah menemukan obat untuk lukanya meskipun belum menyembuhkan dengan sempurna.


“Apa tidak terlalu cepat dia menjemput kesekolah besok pagi?” Gita mulai berpikir.


Gilang tersenyum lebar mala mini, doa yang sering dia panjatkan, usaha yang dia kerjakan membuahkan hasil meskipun baru satu persen saja.


“Gue akan buat lo jatuh cinta sama gue Ta. Dan gue akan memperlakukan lo sebaik mungkin sampai Devan menyesal telah menyampakan lo.” Kata Gilang.


Gilang kembali melihat chat sama Gita, meskipun masih singkat dan belum ada hal romantic namun sudah membuatnya berbunga-bunga.


“Eheeemmm.. senyam-senyum sendiri kesambet lo?” Tanya Andini yang sudah memeperhatikan adiknya beberapa saat karena Gilang tidak sadar kalau Andini masuk ke kamarnya.


“Kagak kesambet, tapi dapat berkah.” Jawab Gilang.


"Berkah apaan?"


"Gue bisa dekat sama Gita sekarang." Gilang senyum-senyum.


"Oiyaaa.... ajak dia kesini. Kakak akan siapin makanan yang enak buat Gita."


"Em.. besok gue tanya."


"Ok, hhm seneng banget bisa ketemu dia lagi." Andini senang Gilang bisa dekat lagi dengan Gita.


"Kalau gue pacaran sama Gita apa Kakak menerima dia?"


"Tentu, dia baik dan cantik. Di tambah lagi dia nggak pernah jaim. Jadi punya adik ipar seperti Gita itu pasti menyenangkan." jawab Andini terlalu bahagia.


"Syukurlah."

__ADS_1


__ADS_2