Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Bakti sosial II


__ADS_3

Gita memeluk Genta lalu mencium


tangannya, dia meminta tas  yang di bawa  Genta.


“Hati-hati ya.” Genta mengusap kepala


Gita. Gita bukan baru sekali saja pergi menginap namun kali ini dia merasa


berat.


“Pasti Kak, hhm..oiya Kak sebentar lagi


kakak akan menikah mau hadiah apa dari Gita?”


“Kenapa bahas sekarang, memangnya kamu


akan mencari hadiah di sana.” Kata Genta.


“Entah Gita tiba-tiba kepikiran saja.”


Katanya meringis.


“Gita!” panggil Fara.


“Kak, gita pergi dulu ya.” Gita berlari


sambil melambaikan tangan.


“Hati-hati!” teriak Genta lagi, Gita


mengangkat jempolnya.


Gita menaruh tas yang berisikan baju


ganti dan makanan sesuai arahan Gilang ke bagasi kemudian naik ke dalam bus,


Gita duduk di samping jendela bersebelahan dengan Fara.


Farhan masuk ke bus lalu mengecek satu


per satu peserta yang di bawa lalu memangggil namanya. Setelah selesai mereka langsung berangkat.


Hampir empat jam mereka di dalam bus,


perjalanan sangat panjang. Jalanann pun tidak memadai. Gita dan yang lain turun


dari bus langusng meregangkan kedua tangannya.


“Wah.. ini luar biasa capeknya.” Keluh


Fara.


“Lumayan pegal ya badan kalau perjalan


jauh.” Kata Gita.


“Sudah jangan mengeluh saja, buruan


kumpul.” Kata Imel yang baru saja melewati dirinya.


“Dasar mak lampir, kenapa sih kemana


pun kita berada pasti ada satu nenek lampir ngeselin.” Omel Fara.


“Yah.... biar jadi tantangan buat lo


pemburu mak lampir.” Kata Vian sambil terkekeh, Gita pun ikut tertawa memang


benar selama sekolah dulu Fara selalu saja menganggap cewek-cewek judes dan


suka mengangggu mereka jadi kata mak lampir. Dan Fara juga yang terus berantem


dengan mereka.


“Lagian dari semua banyak fakultas,


kenapa kita harus jadi satu sama mak lampir sih.” Fara melirik tajam kearah Imel yang sok asyik ngobrol dengan Farhan dan yang lain.


“Vian, lo nggak mau gabung sama yang


cowok-cowok?” tanya Gita. Dia baru sadar sejak berangkat sampai mereka sampai


di temapt terus berada di samping dirinya dan Fara. Bahkan di bus pun dia duduk


di belakang mereka berdua.


“Sama mereka nggak asik. Asyik juga


bareng kalian gue punya hiburan.” Katanya sambil tertawa yang menjadikan Gita

__ADS_1


dan Fara pelototan mata.


Sebenarnya alasan Vian berada di situ di


tugaskan sama Gilang. Semalam setelah menelpon Gita, Gilang menelpon Vian minta


tolong agar menjaga pacarnya dan juga Fara. Dia takut ada lelaki yang mencuri


kesempatan untuk mendekati pacarnya dan juga calon kakak iparnya.


“Hey.. disuruh kumpul masih saja diam


disitu. Dasar tukang menghambat pekekrjaan.” Omel Imel. Gita, Fara dan Vian


sedikit berlari lalu untuk bergabung sama yang lain.


“Selamat siang, teman-teman di sini kita


akan membantu warga dalam menangani kendala yang ada. Setiap tahun ajaran baru


pasti setiap fakultas mendatangi desa yang sudah di tetapkan. Dan untuk


fakultas kita tercinta mendapatkan Desa Candi. Nanti kita akan tidur di rumah


yang sudah di sediakan dekat bakai desa.” Farhan memberikan sambutan.


“Desa apapun terserah, yang penting


bukan desa kkn. Takut gue.” Celetuk Vian membuat Fara dan Gita menoleh


kearahnya.


“Kenapa melihat gue seperti itu,


memagnya kalian berdua nggak takut?” Vian merasa di pandang remeh dengan Gita


dan Fara. Gita dan Fara lalu menggeleng bersamaan dan kembali mendengarkan


ceramah Farhan.


Semua bubar menuju ke rumah yang sudah


di tentukan, jadi ada dua rumah yang memang khusus buat anak-anak yang


melakukan pkl ataupun bakti sosial di desa itu.


“Ya Kak.”


“Ta, ke rumah dulu ya. Gue capek banget.”


Kata Fara. Gita menganggukkan kepala.


“Em.. perjalanannya gimana?” tanya


Farhan. Dia datang lebih dulu dengan rombongan panitia jadi naik mobil pribadi.


“Menyenangkan cuman ya, lumayan capek


tempatnya jauh.” Kata Gita.


“Kalau gitu istirahat dulu gih, kita


nanti malam akan ada sosialisasi dengan warga.” Kata Farhan.


“Sini gue bantu.” Dia berinisiatif ingin


membawakan tas yang ada di tangan Gita.


“Nggak usah Kak, Gita bisa kok.” Gita


menolak.


“Enggak apa-apa, beratkan.” Farhan


memaksa Gita. Dan Gita pun hanya bisa menghela napas panjang karena nggak bisa


menolak Farhan.


“Tunggu Gita.” Farhan menghentikan


jalannya yang baru beberapa langkah itu. Farhan berjongkok hendak membenarkan


tali sepatu Gita yang terlepas.


Gita langsung memundurkan kakinya, “Biar


Gita sendiri saja Kak.”


“Nggak perlu sungkan, nanti kamu jatuh

__ADS_1


lo kalau tali sepatunya terlepas begini.” Farhan berusaha merapikan tali sepatu


milik Gita. Vian yang tahu modus Farhan langsung menarik tangan Gita.


“Ta, lo di tunggu juga mana tasnya? Carger


gue ada di tas lo kan?” kata Vian. Gita menunjuk tasnya yang di bawa Farhan dengan wajah bingung. Dia tidak merasa bahwa Vian menitipkan carger di tasnya.


“Maaf Kak, tasnya ya biar gue saja yang


bawa buru-buru baterai hp gue udah merah mau mati.” Vian mengambil tas dari


tangan Farhan. Farhan dengan berat hati lalu memberikan tas milik Gita.


“Ta.. diam saja lo, benerin tuh tali


sepatu lo.” Vian menujuk ke arah sepatu Gita.


“Oiya lupa.” Gita langsung mengikat


sepatunya dengan cepat.


Gita langsung berdiri setelah selesai


mengikat sepatunya, dan Vian pun langsung menggandenga tangan Gita.


“Permisi ya Kak kita dulua.” Vian


menarik Gita pergi dari Farhan yang berusaha memodusi Gita.


Farhan merasa kesal, usaha yang baru


saja di mulai sudah gagal. Kesempatan untuk dekat dengan Gita menjadi sedikit


berkurang. Hanya punya waktu tiga hari agar dia bisa menunjukan kerennya


dirinya dan juga pesonanya.


“Dasar penganggu, haruskah kita


pulangkan cowok itu.” Kata Jordan sambil merangkul Farhan.


“Tidak perlu, dia sahabat Gita makanya


gue juga harus mendapatkan hati sahabat-sahabatnya bukan.” Kata Farhan sambil berjalan.


“Kenapa harus?”


“Kalau gue dimata sahabat-sahabatnya


baik, makan mereka akan menceritakan tentang gue kan atau akan cenderung


mendorong Gita juga dekat dengan diriku.” Kata Farhan dengan percaya diri.


“Gue sama sahabat-sahabatnya Imel dekat


kenapa nggak jadian-jadian?” kata Jordan.


“Ya derita lo.” Kata Farhan sambil


meninggalkan Jordan.


“Farhan tunggu.. lo harus bantu gue.”


Jordan berlari mendekati Farhan.


“Jordan lo kan laki-laki, harusnya bisa


menciptakan kesempatan. Atur saja disini kita bisa membuat semua hal yang


dilakukan menjadi kesempatan. Lo sudah dua tahun masih saja belum bisa


mendapatkan Imel sih.”


“Makanya lo buruan punya pacar biar dia


nggak mengharap sama lo terus.” Omel Jordan.


“Kalau begitu, lo bantu gue dulu


mendapatkan Gita. Setelah itu gue akan bantu mendapatkan Imel.” Kata Farhan.


“Baiklah, nanti malam akan ada kelompok


dan gue akan buat lo sama Gita satu team.” Jelas Jordan.


“Baiklah, akan gue gunakan sebaik


mungkin usaha lo kali ini.” Kata Farhan.

__ADS_1


__ADS_2