
Gita memeluk Genta lalu mencium
tangannya, dia meminta tas yang di bawa Genta.
“Hati-hati ya.” Genta mengusap kepala
Gita. Gita bukan baru sekali saja pergi menginap namun kali ini dia merasa
berat.
“Pasti Kak, hhm..oiya Kak sebentar lagi
kakak akan menikah mau hadiah apa dari Gita?”
“Kenapa bahas sekarang, memangnya kamu
akan mencari hadiah di sana.” Kata Genta.
“Entah Gita tiba-tiba kepikiran saja.”
Katanya meringis.
“Gita!” panggil Fara.
“Kak, gita pergi dulu ya.” Gita berlari
sambil melambaikan tangan.
“Hati-hati!” teriak Genta lagi, Gita
mengangkat jempolnya.
Gita menaruh tas yang berisikan baju
ganti dan makanan sesuai arahan Gilang ke bagasi kemudian naik ke dalam bus,
Gita duduk di samping jendela bersebelahan dengan Fara.
Farhan masuk ke bus lalu mengecek satu
per satu peserta yang di bawa lalu memangggil namanya. Setelah selesai mereka langsung berangkat.
Hampir empat jam mereka di dalam bus,
perjalanan sangat panjang. Jalanann pun tidak memadai. Gita dan yang lain turun
dari bus langusng meregangkan kedua tangannya.
“Wah.. ini luar biasa capeknya.” Keluh
Fara.
“Lumayan pegal ya badan kalau perjalan
jauh.” Kata Gita.
“Sudah jangan mengeluh saja, buruan
kumpul.” Kata Imel yang baru saja melewati dirinya.
“Dasar mak lampir, kenapa sih kemana
pun kita berada pasti ada satu nenek lampir ngeselin.” Omel Fara.
“Yah.... biar jadi tantangan buat lo
pemburu mak lampir.” Kata Vian sambil terkekeh, Gita pun ikut tertawa memang
benar selama sekolah dulu Fara selalu saja menganggap cewek-cewek judes dan
suka mengangggu mereka jadi kata mak lampir. Dan Fara juga yang terus berantem
dengan mereka.
“Lagian dari semua banyak fakultas,
kenapa kita harus jadi satu sama mak lampir sih.” Fara melirik tajam kearah Imel yang sok asyik ngobrol dengan Farhan dan yang lain.
“Vian, lo nggak mau gabung sama yang
cowok-cowok?” tanya Gita. Dia baru sadar sejak berangkat sampai mereka sampai
di temapt terus berada di samping dirinya dan Fara. Bahkan di bus pun dia duduk
di belakang mereka berdua.
“Sama mereka nggak asik. Asyik juga
bareng kalian gue punya hiburan.” Katanya sambil tertawa yang menjadikan Gita
__ADS_1
dan Fara pelototan mata.
Sebenarnya alasan Vian berada di situ di
tugaskan sama Gilang. Semalam setelah menelpon Gita, Gilang menelpon Vian minta
tolong agar menjaga pacarnya dan juga Fara. Dia takut ada lelaki yang mencuri
kesempatan untuk mendekati pacarnya dan juga calon kakak iparnya.
“Hey.. disuruh kumpul masih saja diam
disitu. Dasar tukang menghambat pekekrjaan.” Omel Imel. Gita, Fara dan Vian
sedikit berlari lalu untuk bergabung sama yang lain.
“Selamat siang, teman-teman di sini kita
akan membantu warga dalam menangani kendala yang ada. Setiap tahun ajaran baru
pasti setiap fakultas mendatangi desa yang sudah di tetapkan. Dan untuk
fakultas kita tercinta mendapatkan Desa Candi. Nanti kita akan tidur di rumah
yang sudah di sediakan dekat bakai desa.” Farhan memberikan sambutan.
“Desa apapun terserah, yang penting
bukan desa kkn. Takut gue.” Celetuk Vian membuat Fara dan Gita menoleh
kearahnya.
“Kenapa melihat gue seperti itu,
memagnya kalian berdua nggak takut?” Vian merasa di pandang remeh dengan Gita
dan Fara. Gita dan Fara lalu menggeleng bersamaan dan kembali mendengarkan
ceramah Farhan.
Semua bubar menuju ke rumah yang sudah
di tentukan, jadi ada dua rumah yang memang khusus buat anak-anak yang
melakukan pkl ataupun bakti sosial di desa itu.
“Ya Kak.”
“Ta, ke rumah dulu ya. Gue capek banget.”
Kata Fara. Gita menganggukkan kepala.
“Em.. perjalanannya gimana?” tanya
Farhan. Dia datang lebih dulu dengan rombongan panitia jadi naik mobil pribadi.
“Menyenangkan cuman ya, lumayan capek
tempatnya jauh.” Kata Gita.
“Kalau gitu istirahat dulu gih, kita
nanti malam akan ada sosialisasi dengan warga.” Kata Farhan.
“Sini gue bantu.” Dia berinisiatif ingin
membawakan tas yang ada di tangan Gita.
“Nggak usah Kak, Gita bisa kok.” Gita
menolak.
“Enggak apa-apa, beratkan.” Farhan
memaksa Gita. Dan Gita pun hanya bisa menghela napas panjang karena nggak bisa
menolak Farhan.
“Tunggu Gita.” Farhan menghentikan
jalannya yang baru beberapa langkah itu. Farhan berjongkok hendak membenarkan
tali sepatu Gita yang terlepas.
Gita langsung memundurkan kakinya, “Biar
Gita sendiri saja Kak.”
“Nggak perlu sungkan, nanti kamu jatuh
__ADS_1
lo kalau tali sepatunya terlepas begini.” Farhan berusaha merapikan tali sepatu
milik Gita. Vian yang tahu modus Farhan langsung menarik tangan Gita.
“Ta, lo di tunggu juga mana tasnya? Carger
gue ada di tas lo kan?” kata Vian. Gita menunjuk tasnya yang di bawa Farhan dengan wajah bingung. Dia tidak merasa bahwa Vian menitipkan carger di tasnya.
“Maaf Kak, tasnya ya biar gue saja yang
bawa buru-buru baterai hp gue udah merah mau mati.” Vian mengambil tas dari
tangan Farhan. Farhan dengan berat hati lalu memberikan tas milik Gita.
“Ta.. diam saja lo, benerin tuh tali
sepatu lo.” Vian menujuk ke arah sepatu Gita.
“Oiya lupa.” Gita langsung mengikat
sepatunya dengan cepat.
Gita langsung berdiri setelah selesai
mengikat sepatunya, dan Vian pun langsung menggandenga tangan Gita.
“Permisi ya Kak kita dulua.” Vian
menarik Gita pergi dari Farhan yang berusaha memodusi Gita.
Farhan merasa kesal, usaha yang baru
saja di mulai sudah gagal. Kesempatan untuk dekat dengan Gita menjadi sedikit
berkurang. Hanya punya waktu tiga hari agar dia bisa menunjukan kerennya
dirinya dan juga pesonanya.
“Dasar penganggu, haruskah kita
pulangkan cowok itu.” Kata Jordan sambil merangkul Farhan.
“Tidak perlu, dia sahabat Gita makanya
gue juga harus mendapatkan hati sahabat-sahabatnya bukan.” Kata Farhan sambil berjalan.
“Kenapa harus?”
“Kalau gue dimata sahabat-sahabatnya
baik, makan mereka akan menceritakan tentang gue kan atau akan cenderung
mendorong Gita juga dekat dengan diriku.” Kata Farhan dengan percaya diri.
“Gue sama sahabat-sahabatnya Imel dekat
kenapa nggak jadian-jadian?” kata Jordan.
“Ya derita lo.” Kata Farhan sambil
meninggalkan Jordan.
“Farhan tunggu.. lo harus bantu gue.”
Jordan berlari mendekati Farhan.
“Jordan lo kan laki-laki, harusnya bisa
menciptakan kesempatan. Atur saja disini kita bisa membuat semua hal yang
dilakukan menjadi kesempatan. Lo sudah dua tahun masih saja belum bisa
mendapatkan Imel sih.”
“Makanya lo buruan punya pacar biar dia
nggak mengharap sama lo terus.” Omel Jordan.
“Kalau begitu, lo bantu gue dulu
mendapatkan Gita. Setelah itu gue akan bantu mendapatkan Imel.” Kata Farhan.
“Baiklah, nanti malam akan ada kelompok
dan gue akan buat lo sama Gita satu team.” Jelas Jordan.
“Baiklah, akan gue gunakan sebaik
mungkin usaha lo kali ini.” Kata Farhan.
__ADS_1