Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kisah Vian dan Bella


__ADS_3

Vian menghentikan


langkahnya, dan melepaskan tangannya yang sejak tadi dia pegang karena terkena


pukulan dari Roy, meskipun tidak terlalu keras  namun lumayan terasa nyeri.


Bella mendekati Vian,


dia menarik Vian berjalan untuk menjauh dari kamar mandi.


“Eh.. lo mau ngapain


sih.” Vian melepaskan tangan Bella.


“Gue cuma mau lihat


luka lo saja.” Bella memegang dagu Vian.


“Gue nggak apa-apa,


cuma memar sedikit saja. Lo nggak usah khawatir.” Katanya.


“Meskipun memar sedikit


biar gue obatin dulu.” Bella menarik Vian kembali dan memintanya dia duduk di


kursi.


Bella tetap saja


mengobati Vian meskipun dia terus menolak dan mengatakan tidak apa-apa.


“Lo kenapa sih ngeyel,


kalau lo mau mengobatin mending Mas Nino tuh yang lukanya lumayan parah.” Kata


Vian.


“Mas Nino sudah di


obatin sama Mbak Ina.” Jawabnya pelan.


“Terus lo kenapa


ngobatin gue? Lo naksir sama gue?” tebak Vian.


“Nggak usah gr, gue


obatin lo cuma sebagai ucapan terima kasih gue sama lo karena bantuin gue dari


kemarin. Dan masalah ini terjadi juga salah satunya karena gue.” Ucap Bella.


“Oo. Bagus deh kalau lo


nggak naksir sama gue.” Kata Vian. Dia langsung berdiri dan pergi setelah Bella


selesai mengobati dirinya.


“Huuh.... nggak bisa


apa basa-basi bilang terima kasih.” Batin Bella.


Vian memperlambat langkahnya


lalu menoleh, “Makasih.” Lalu jalan lagi.


Bella membelalakan


kedua matanya karena Vian mengucapkan terima kasih kepadanya, dia tertawa kecil


dia salah karena sudah terlalu cepat mengumpat.


“Eehhm.. sepertinya ada


yang mearuh hati ni Git sama sahabat kita itu.” Fara dan Gita muncul sambil


tersenyum ke arah Bella.


“Iya nih, syukur deh


akhirnya si jomblo akut itu ada yang suka. Sayangnya dia sok-sokan jual mahal.”


“Siapa yang naksir,


kalian salah sangka. Gue cuma..”


“Cuma apa?” Tanya Fara


sambil duduk dan merangkul Bella.


“Gue cuma mau balas


budi saja, karena dia sudah menolong gue.” Kata Bella menjadi agak gagap.


 


 


“Beneran nih, tapi kok


tatapan lo berbeda ya kayak berbinar gitu.”


“Nggak beneran, kalian salah lihat.” Bella mengelak.


“yah sayang banget nih,


padahal gue sudah antusias nih buat bantuin lo agar bisa jadian sama Vian.”


Gita pura-pura kecewa untuk melihat ekspresi Bella.


“Gue cabut dulu deh.”


Bella langsung kabur dari Gita dan Fara.


Bella duduk memandangi


Vian, Gita dan Fara benar kalau dia memang naksir sama Vian. Sejak Vian membela


dirinya dari Catrin dia mulai memperhatikan Vian. Bahkan dia terus


memperhatikan Vian terus, dia sering mengikuti Vian dan selalu duduk berhadapan


dengan Vian meskipun beda meja hanya untuk bisa memandang Vian.


Dia juga ingin sekali


bisa bercanda dengannya seperti Gita dan Fara saat ini, namun untuk mendekatkan


diri bersama yang lain saja dia tidak berani apalagi dengan Vian.


Bella menundukan


kepalanya ketika Vian menatap dirinya, dia pura-pura sibuk dengan komputernya.


“Vian, kalau lo suka

__ADS_1


bilang saja jangan sok-sokan nolak.” Kata Gita.


“Apaaan sih lo, siapa


yang suka sama siapa?”


“Lo sok ngeles, nggak


bersyukur banget lo ada yang suka. Buruan gas dari pada nanti ada yang


ngambil.” Ujar Fara.


“Lumayan loh ada cewek


cantik yang suka sama cowok muka pas-pasan kayak lo.” Celetuk Gita sambil


tertawa diikuti Fara.


“Nggak jelas lah


kalian, pakai ngatain segala.” Vian cabut dari kursinya karena di godain sama


Gita dan Fara terus.


Langit sore sudah mulai


gelap, hampir seluruh karyawan sudah pulang hanya team Win yang terakhir karena


mereka menyiapkan diri untuk pindah ke pabrik.


Vian memperhatikan


Bella yang sejak tadi memandangi jam di tangannya, wajahnya terlihat cemas.


Gitayang tahu Vian sedang memperhatikan Bella langsung saja beraksi.


“Bella, lo cemas banget


ada apa?” tanya Gita.


“Em ini, orang rumah


nggak ada yang bisa di hubungi.” Bella.


“Oh.. ini Vian


nganggur, dia bisa kok nganterin lo.” Gita mendorong Vian agar bersebelahan


dengan Bella. Vian mendelik kearah Gita, sedangkan Gita membalas dengan


menjulurkan lidah.


“Nggak usah ngerepotin,


nanti juga di jemput kok.” Kata Bella, dia tidak enak kalau harus minta diantar


sama Vian. Apalagi Vian sendiri tidak ada niatan untuk mengantar dirinya.


“Nggak repot, dia jomblo


nggak ada kerjaan. Buruan Vian anterin Bella kasian tahu.” Fara menarik Vian,


dan Gita bagian menarik Bella agar mau diantar Vian.


Terpaksa Vian mengantar


Bella pulang, dan mereka hanya diam saja tanpa bicara setelah Vian menanyakan


alamat rumah Bella. Mobil terasa sunyi hanya lagu yang di putar itupun pelan


sekali.


menepi kalau ada penjual martabak?” Tanya Bella hati-hati.


“Hhm.” Jawabnya


singkat.


Vian langsung menepikan


mobilnya tak selang lama dari Bella memintanya, Bella turun dan Vian hanya


menunggu di dalam mobil.


“Udah?” tanya Vian saat


Bella masuk ke mobil.


“Iya, lo kelihatanya


bete banget nganterin gue. Daripada lo nggak iklas mending gue turun aja


disini.” Bella kembali melepas sabuk pengamannya yang baru saja di pasang.


“Siapa yang bete.” Vian


langsung memasangkan lagi sabuk pengamannya saat dia merasa bersalah. Vian


hendak menarik diri setelah memasangkan sabuk pengaman, wajahnya bertatapan


sangat dekat dengan Bella.


Bella sedikik


memundurkan tubuhnya padahal sudah mentok di sandaran kursi, jantungnya


deg-degan nggak karuan.


“Kenapa lo yang jutek


ini justru semakin buat gue deg-degan sih.” Batin Bella. Vian buru-buru menarik


diri dan kembali mengemudi, dan lagi mereka hanya diam tak ada obrolan. Bella


juga tidak berani memulai obrolan.


Vian kaget saat alamat


yang di tuju Bella sebuah panti asuhan, dia melihat Bella lalu melihat ke depan


lagi.


“Lo tinggal disini?”


tanya Vian.


“Iya. Gue turun dulu


ya. Makasih udah mau nganterin, dan maaf juga udah ngerepoti lo.” Bella membuka


sabuk pengamannya.


“Ya.”


 “Teman-teman, Kak Bella datang.” Serunya salah

__ADS_1


satu anak panti yang langsung menyamperin Bella.


“Eh.. siapa dia,


pacarnya Kak Bella ya?” Kata seorang gadis kecil yang manis dia menatap Vian


sambil tersenyum.


“Eh bukan, dia teman


kerja Kak Bella.” Bella merasa tidak enak sama Vian.


“Bohong. Selama ini


juga nggak ada yang datang itu semua teman Kak Bella. Ibu..! Kak Bella dianterin


pulang pacarnya.”


“Lala..!” seru Bella. “Vian


, sorry ya dia memang suka mengada-ada.” Bella semakin nggak enak sama Vian.


Lala anak berumur enam


tahun itu menarik ibu panti untuk menemui Vian. Mengetahui hal itu Bella


meminta Vian agar buru-buru pulang.


“Lo buruan pulang deh.”


“Eh.. kenapa di suruh


buru-buru, turun dulu yuk nak.” Kata wanita separuh baya yang terlihat sangat


anggun.


“Buk, Vian buru-buru


mau pulang soalnya sudah malam.” Kata Bella, dia mencegah Vian untuk turun dari


mobilnya.


“Ooo, Kak Vian namanya.”


“Lala..” Bella mendelik


ke arah Lala.


Vian turun dari mobil,


dia langsung mencium tangan ibu panti. Ibu panti menatap Vian sambil tersenyum.


Dia melihat Vian itu anak baik, dan merasa bisa menjaga Bella.


“Buk..” Bella


menyenggol lengannya.


“Ah.. Nak Vian masuk


yuk.” Ajak Ibu panti.


“Ibuk, Vian buru-buru  pulang karena capek mau istirahat.” Bella


mengkode ibu panti agar tidak mengajak Vian mampir.


“Oh iya Buk.” Vian


mengiyakan ajakan ibu panti. Bella melebarkan kedua matanya, dia sudah susah


payah sejak tadi membuat cara agar Vian bisa pulang.


Bella mengajak


anak-anak untuk masuk sembari membagikan oleh-oleh yang dia belikan tadi.


Setelah itu dia buru-buru keluar lagi takutnya ibu panti ngobrol yang


tidak-tidak sama Vian.


“Nak Vian, makasih ya


sudah mengantar pulang Bella. Kalian sudah lama pacaran?”


“Ibuk.. siapa yang


pacaran.”


“Maaf ibu..”


“Fatimah.”


“Ibu Fatimah, saya sama


Bella hanya teman kerja. Kita juga baru beberapa minggu ini kenal.” Kata Vian.


“Oh, ibu kira kamu


pacarnya Bella, selama ini tidak pernah ada cowok yang datang mengantarnya.


Jadi ibuk pikir kamu pacarnya, maaf ibu lancang.” Kata Ibu Fatimah.


“Nggak apa-apa ibuk


nggak perlu minta maaf.”


Hari sudah mulai malam,


Vian pamit pulang Bella dan Ibu Fatimah mengantar Vian sampai di depan.


“Ganteng ya dia.” Kata


Ibu Fatimah.


“Ibuk ih, kenapa tadi


tanya kayak begitu kan Bella jadi nggak enak nanti kalau ketemu di kantor.”


Bella manyun.


“Ya maafin ibu, tadi di


kiranya pacar kamu habisnya kamu nggak pernah ngenalin pacar kamu.”


“Mau di kenalin gimana


memang Bella nggak punya pacar, memangnya siapa yang mau pacaran sama Bella


yang hanya anak panti.” Kata Bella.


“Bella, kamu nggak


boleh bilang seperti itu. Memangnya apa salahnya anak panti?”


“Kita nggak sederajat

__ADS_1


ibuk. Udah ah.. Bella mau bebersih sama mandi dulu.” Kata Bella sambil masuk


meninggalkan Ibu Fatimah.


__ADS_2