
Vian menghentikan
langkahnya, dan melepaskan tangannya yang sejak tadi dia pegang karena terkena
pukulan dari Roy, meskipun tidak terlalu keras namun lumayan terasa nyeri.
Bella mendekati Vian,
dia menarik Vian berjalan untuk menjauh dari kamar mandi.
“Eh.. lo mau ngapain
sih.” Vian melepaskan tangan Bella.
“Gue cuma mau lihat
luka lo saja.” Bella memegang dagu Vian.
“Gue nggak apa-apa,
cuma memar sedikit saja. Lo nggak usah khawatir.” Katanya.
“Meskipun memar sedikit
biar gue obatin dulu.” Bella menarik Vian kembali dan memintanya dia duduk di
kursi.
Bella tetap saja
mengobati Vian meskipun dia terus menolak dan mengatakan tidak apa-apa.
“Lo kenapa sih ngeyel,
kalau lo mau mengobatin mending Mas Nino tuh yang lukanya lumayan parah.” Kata
Vian.
“Mas Nino sudah di
obatin sama Mbak Ina.” Jawabnya pelan.
“Terus lo kenapa
ngobatin gue? Lo naksir sama gue?” tebak Vian.
“Nggak usah gr, gue
obatin lo cuma sebagai ucapan terima kasih gue sama lo karena bantuin gue dari
kemarin. Dan masalah ini terjadi juga salah satunya karena gue.” Ucap Bella.
“Oo. Bagus deh kalau lo
nggak naksir sama gue.” Kata Vian. Dia langsung berdiri dan pergi setelah Bella
selesai mengobati dirinya.
“Huuh.... nggak bisa
apa basa-basi bilang terima kasih.” Batin Bella.
Vian memperlambat langkahnya
lalu menoleh, “Makasih.” Lalu jalan lagi.
Bella membelalakan
kedua matanya karena Vian mengucapkan terima kasih kepadanya, dia tertawa kecil
dia salah karena sudah terlalu cepat mengumpat.
“Eehhm.. sepertinya ada
yang mearuh hati ni Git sama sahabat kita itu.” Fara dan Gita muncul sambil
tersenyum ke arah Bella.
“Iya nih, syukur deh
akhirnya si jomblo akut itu ada yang suka. Sayangnya dia sok-sokan jual mahal.”
“Siapa yang naksir,
kalian salah sangka. Gue cuma..”
“Cuma apa?” Tanya Fara
sambil duduk dan merangkul Bella.
“Gue cuma mau balas
budi saja, karena dia sudah menolong gue.” Kata Bella menjadi agak gagap.
“Beneran nih, tapi kok
tatapan lo berbeda ya kayak berbinar gitu.”
“Nggak beneran, kalian salah lihat.” Bella mengelak.
“yah sayang banget nih,
padahal gue sudah antusias nih buat bantuin lo agar bisa jadian sama Vian.”
Gita pura-pura kecewa untuk melihat ekspresi Bella.
“Gue cabut dulu deh.”
Bella langsung kabur dari Gita dan Fara.
Bella duduk memandangi
Vian, Gita dan Fara benar kalau dia memang naksir sama Vian. Sejak Vian membela
dirinya dari Catrin dia mulai memperhatikan Vian. Bahkan dia terus
memperhatikan Vian terus, dia sering mengikuti Vian dan selalu duduk berhadapan
dengan Vian meskipun beda meja hanya untuk bisa memandang Vian.
Dia juga ingin sekali
bisa bercanda dengannya seperti Gita dan Fara saat ini, namun untuk mendekatkan
diri bersama yang lain saja dia tidak berani apalagi dengan Vian.
Bella menundukan
kepalanya ketika Vian menatap dirinya, dia pura-pura sibuk dengan komputernya.
“Vian, kalau lo suka
__ADS_1
bilang saja jangan sok-sokan nolak.” Kata Gita.
“Apaaan sih lo, siapa
yang suka sama siapa?”
“Lo sok ngeles, nggak
bersyukur banget lo ada yang suka. Buruan gas dari pada nanti ada yang
ngambil.” Ujar Fara.
“Lumayan loh ada cewek
cantik yang suka sama cowok muka pas-pasan kayak lo.” Celetuk Gita sambil
tertawa diikuti Fara.
“Nggak jelas lah
kalian, pakai ngatain segala.” Vian cabut dari kursinya karena di godain sama
Gita dan Fara terus.
Langit sore sudah mulai
gelap, hampir seluruh karyawan sudah pulang hanya team Win yang terakhir karena
mereka menyiapkan diri untuk pindah ke pabrik.
Vian memperhatikan
Bella yang sejak tadi memandangi jam di tangannya, wajahnya terlihat cemas.
Gitayang tahu Vian sedang memperhatikan Bella langsung saja beraksi.
“Bella, lo cemas banget
ada apa?” tanya Gita.
“Em ini, orang rumah
nggak ada yang bisa di hubungi.” Bella.
“Oh.. ini Vian
nganggur, dia bisa kok nganterin lo.” Gita mendorong Vian agar bersebelahan
dengan Bella. Vian mendelik kearah Gita, sedangkan Gita membalas dengan
menjulurkan lidah.
“Nggak usah ngerepotin,
nanti juga di jemput kok.” Kata Bella, dia tidak enak kalau harus minta diantar
sama Vian. Apalagi Vian sendiri tidak ada niatan untuk mengantar dirinya.
“Nggak repot, dia jomblo
nggak ada kerjaan. Buruan Vian anterin Bella kasian tahu.” Fara menarik Vian,
dan Gita bagian menarik Bella agar mau diantar Vian.
Terpaksa Vian mengantar
Bella pulang, dan mereka hanya diam saja tanpa bicara setelah Vian menanyakan
alamat rumah Bella. Mobil terasa sunyi hanya lagu yang di putar itupun pelan
sekali.
menepi kalau ada penjual martabak?” Tanya Bella hati-hati.
“Hhm.” Jawabnya
singkat.
Vian langsung menepikan
mobilnya tak selang lama dari Bella memintanya, Bella turun dan Vian hanya
menunggu di dalam mobil.
“Udah?” tanya Vian saat
Bella masuk ke mobil.
“Iya, lo kelihatanya
bete banget nganterin gue. Daripada lo nggak iklas mending gue turun aja
disini.” Bella kembali melepas sabuk pengamannya yang baru saja di pasang.
“Siapa yang bete.” Vian
langsung memasangkan lagi sabuk pengamannya saat dia merasa bersalah. Vian
hendak menarik diri setelah memasangkan sabuk pengaman, wajahnya bertatapan
sangat dekat dengan Bella.
Bella sedikik
memundurkan tubuhnya padahal sudah mentok di sandaran kursi, jantungnya
deg-degan nggak karuan.
“Kenapa lo yang jutek
ini justru semakin buat gue deg-degan sih.” Batin Bella. Vian buru-buru menarik
diri dan kembali mengemudi, dan lagi mereka hanya diam tak ada obrolan. Bella
juga tidak berani memulai obrolan.
Vian kaget saat alamat
yang di tuju Bella sebuah panti asuhan, dia melihat Bella lalu melihat ke depan
lagi.
“Lo tinggal disini?”
tanya Vian.
“Iya. Gue turun dulu
ya. Makasih udah mau nganterin, dan maaf juga udah ngerepoti lo.” Bella membuka
sabuk pengamannya.
“Ya.”
“Teman-teman, Kak Bella datang.” Serunya salah
__ADS_1
satu anak panti yang langsung menyamperin Bella.
“Eh.. siapa dia,
pacarnya Kak Bella ya?” Kata seorang gadis kecil yang manis dia menatap Vian
sambil tersenyum.
“Eh bukan, dia teman
kerja Kak Bella.” Bella merasa tidak enak sama Vian.
“Bohong. Selama ini
juga nggak ada yang datang itu semua teman Kak Bella. Ibu..! Kak Bella dianterin
pulang pacarnya.”
“Lala..!” seru Bella. “Vian
, sorry ya dia memang suka mengada-ada.” Bella semakin nggak enak sama Vian.
Lala anak berumur enam
tahun itu menarik ibu panti untuk menemui Vian. Mengetahui hal itu Bella
meminta Vian agar buru-buru pulang.
“Lo buruan pulang deh.”
“Eh.. kenapa di suruh
buru-buru, turun dulu yuk nak.” Kata wanita separuh baya yang terlihat sangat
anggun.
“Buk, Vian buru-buru
mau pulang soalnya sudah malam.” Kata Bella, dia mencegah Vian untuk turun dari
mobilnya.
“Ooo, Kak Vian namanya.”
“Lala..” Bella mendelik
ke arah Lala.
Vian turun dari mobil,
dia langsung mencium tangan ibu panti. Ibu panti menatap Vian sambil tersenyum.
Dia melihat Vian itu anak baik, dan merasa bisa menjaga Bella.
“Buk..” Bella
menyenggol lengannya.
“Ah.. Nak Vian masuk
yuk.” Ajak Ibu panti.
“Ibuk, Vian buru-buru pulang karena capek mau istirahat.” Bella
mengkode ibu panti agar tidak mengajak Vian mampir.
“Oh iya Buk.” Vian
mengiyakan ajakan ibu panti. Bella melebarkan kedua matanya, dia sudah susah
payah sejak tadi membuat cara agar Vian bisa pulang.
Bella mengajak
anak-anak untuk masuk sembari membagikan oleh-oleh yang dia belikan tadi.
Setelah itu dia buru-buru keluar lagi takutnya ibu panti ngobrol yang
tidak-tidak sama Vian.
“Nak Vian, makasih ya
sudah mengantar pulang Bella. Kalian sudah lama pacaran?”
“Ibuk.. siapa yang
pacaran.”
“Maaf ibu..”
“Fatimah.”
“Ibu Fatimah, saya sama
Bella hanya teman kerja. Kita juga baru beberapa minggu ini kenal.” Kata Vian.
“Oh, ibu kira kamu
pacarnya Bella, selama ini tidak pernah ada cowok yang datang mengantarnya.
Jadi ibuk pikir kamu pacarnya, maaf ibu lancang.” Kata Ibu Fatimah.
“Nggak apa-apa ibuk
nggak perlu minta maaf.”
Hari sudah mulai malam,
Vian pamit pulang Bella dan Ibu Fatimah mengantar Vian sampai di depan.
“Ganteng ya dia.” Kata
Ibu Fatimah.
“Ibuk ih, kenapa tadi
tanya kayak begitu kan Bella jadi nggak enak nanti kalau ketemu di kantor.”
Bella manyun.
“Ya maafin ibu, tadi di
kiranya pacar kamu habisnya kamu nggak pernah ngenalin pacar kamu.”
“Mau di kenalin gimana
memang Bella nggak punya pacar, memangnya siapa yang mau pacaran sama Bella
yang hanya anak panti.” Kata Bella.
“Bella, kamu nggak
boleh bilang seperti itu. Memangnya apa salahnya anak panti?”
“Kita nggak sederajat
__ADS_1
ibuk. Udah ah.. Bella mau bebersih sama mandi dulu.” Kata Bella sambil masuk
meninggalkan Ibu Fatimah.