
Bella melipir pergi saat yang lain sedang sibuk mengurus Catrin dan Fajar. Bella
bersembunyi di samping cafe. Dia berjongkok dan menangis sesenggukan.
“Tuhan, kenapa gue diciptakan seperti ini. Menjadi manusia yang tidak berguna dan sangat menyedihkan.” Ucapnya masih dengan air mata yang masih berlinang, air matanya terasa tidak ada habisnya.
Vian jongkok di depan Bella, lalu mengusap kepala Bella. Bella mengangkat, lalu menundukan kepalanya
lagi.
“Berdiri.” Vian memegangi tangan Bella agar dia mau berdiri.
“Ngapain lo kesini? Lo mau bawa gue juga ke kantor polisi?” tanya Bella masih dengan
sesenggukan.
Vian tidak menjawab, dia menarik Bella dalam pelukannya. Mengusap kepala Bella agar
lebih tenang. Dan alhasil Bella menangislebih keras lagi di pelukan Vian.
Setelah Bella berhenti menangis, Vian mengajak Bella masuk ke dalam cafe. Dia
memesankan coklat panas untuk Bella.
“Minumlah.” Katanya. Bella mengambil cangkir lalu meneguk pelan coklatnya.
“Apa lo sudah tenang sekarang?” tanya Vian. Bella menganguk.
“Kenapa lo baik sama gue, bukanya gue sudah jahat sama lo dan jua sahabat-sahabat lo.”
Kata Bella.
“Apa benar lo memang jahat?” Vian tanya balik. Bella selalu di buat bingung kalau
ngomong sama Vian.
“Mungkin, gue juga nggak tahu.”
“Apa yang lo buat hari ini hebat, untuk kedepanya jangan mau lagi lo di peralat orang
lain meskipun dia mengancam lo. Lo bisa mengadu sama gue nanti kalau sampai ada
orang yang menjahati lo.” Kata Vian.
“Benarkah boleh?”
Vian mengangguk, “Kalau lo ada masalah atau apapun lo bisa menghubungi gue dua puluh
empat jam full. Gue pasti akan datang kecuali kalau gue lagi tidur. Tidak mungkin kan gue datang dengan mata tertutup.” Kata Vian yang membuat Bella tersenyum.
“Bisa saja lo. Lo kenapa sih jadi orang sangat baik.”
“Karena gue berteman sama orang-orang yang sangat baik dan sekeliling gue juga
orang-orang yang sangat baik.”
“Gue jadi malu sama lo dan juga yang lain. Gue akan mengajukan resign saja.”
“Resign?”
“Iya, benar kata lo gue ini orang yang tidak tahu diri. Sudah di bantuin malah
ngelunjak.”
“Minta maaf saja sama Gita dan yang lain, mereka pasti akan memaafkan lo.”
“Apa masih ada maaf untuk orang seperti gue.” Bella pesimis.
__ADS_1
“Coba saja dulu, lo tidak akan tahu kalau lo belum mencoba. Lagian gue kenal banget
sama mereka. Percaya sama gue.” Vian memegang tangan Bella. Bella langsung
tertuju ke arah tangannya.
Jantungnya berdegup kencang, “Aduh, kenapa jantung gue deg-degan. Rasa ini kenapa timbul
lagi sih. Jantung gue selalu saja di buat berdebar begini.” Batin Bella.
“Yok, kita balik lagi ke kantor. Mereka pasti sudah menunggu kita.” Vian beranjak
sambil menggandeng tangan Bella.
“Kenapa tangan gue pakai di gandeng begini sih. Bikin jantung gue semakin mau lepas
saja.” Batin Bella.
“Tangan lo berkeringat, apa lo grogi?” Vian menghentikan langkahnya. Bella menarik
tangannya cepat, dia malu karena ketahuan kalau tubuhnya sedang di buat adem
panas sama Vian.
Bella berjalan lebih dulu dengan sangat cepat, dia bahkan sedikit berlari karena
saking groginya.
“Hati-hati nanti lo nyungsep.” Kata Vian sambil tertawa.
Bella perlahan masuk ke ruangannya, dia berdiri dengan kepala menunduk tidak berani
melihat wajah teman-temannya.
“Mas Win.” Panggil Bella pelan.
orang langsung duduk menghadap ke Bella.
“Gue mau minta maaf sama kalian.”
“Untuk?” sahut Ina.
“Untuk masalah yang terjadi, tapi Bella tidak melakukannya awalnya gue hanya melihat
kalau Fajar sedang memberikan desain terbaru sama Catrin. Saat gue mau kasih
tahu kalian, mereka mengancap gue.” Jelas Bella dengan hati-hati.
“Ada lagi?”
“Untuk Gita, gue nggak berniat untuk mengambil atau mencintai Bos Gilang. Gue hanya
menyukai kerja kerasnya dan kebaikannya sama gue dan juga karyawan lain. Gue
juga terimakasih karena lo udah bawa gue ke team ini.”
Melihat wajah teman-temannya yang datar dan sepertinya sudah tidak merespon dirinya,
Bella merasa kalau teman satu teamnya itu marah sama dirinya.
“Gue mau mengajukan resign.”
“Ada lagi?” tanya Fara. Bella menggelengkan kepalanya pelan.
“Kalau sudah tidak ada lagi, cepat duduk di kursi lo dan mulai lah bekerja. Deadline
kita sudah sangat dekat.” Kata Win sembari memutar kursinya dan mulai bekerja.
__ADS_1
“Bella boleh gabung sama team ini lagi?” Bella tidak percaya kalau dia masih di
berikan kesempatan sama teman-temannya.
“Duduklah, atau gue akan berubah pikiran.” Kata Win.
“Makasih Mas Win, dan yang lain juga.” Kata Bella sambil duduk.
“Jangan pernah di ulangi lagi ya. Kita itu satu team kalau ada apa-apa lo bilang sama
kita. Nggak usah takut sama ancaman-ancaman nggak penting.” Jelas Ina.
“Benar, kita itu tidak boleh di injak-injak.” Jawab Fara.
“Ok, ngobrolnya lanjut nanti makan siang. Kita sudah di tunggu.” Kata Win.
“Siap, Mas Win bawel.” Jawab mereka serentak.
Bella menoleh kearah Vian, dia tersenyum dan tidak bisa lagi berkata-kata untuk
menggambarkan hari ini. Dia sangat bahagia emiliki team yang sangat menyayangi
dirinya. Dan semua yang dia dapat itu berkat Vian, dia memang selalu jutek sama
dirinya tapi di balik semua itu dia sangat perhatian sama dirinya.
“Heh..kerja.” Kata Vian tanpa bersuara saat dia sengaja menoleh dan melihat Bella sedang
memandanginya sambil tersenyun.
Bella langsung membalikkan badannya, dia malu ketahuan sedang memandangi Vian dengan
senyum-senyum pula.
“Gimana, udah ada benih-benih cinta belum?” Kata Gita.
“Apaan sih lo?”
“Idih, nggak usah malu-malu sama gue. Gue udah lihat semua lo itu kelihatan banget
sayang sama Bella.” Bisik Gita.
“Benar, bahkan nih ya tadi pegang tangannya terus.” Sahut Fara.
“Nggak usah bergosip. Buruan kerja.”
“Ihh... sok malu-malu kucing lo.”
“Mas Win, Fara dan Gita gangguin gue kerja.”
“Gita-Fara fokus sam kerjaan lo.” Sahut Win.
“Idih tukang aduan.”
“Bodo.”
“Gita-Fara.”
“Iya Mas Win.”
Bella tersenyum, sekarang dia sudah tidak iri lagi melihat mereka bertiga
bersendaugurau. Dan memang tidak pantas untuk dicemburuin, Bella akan mengubah
sikap dia yang sangat menyebalkan itu. Dia ingin menjadi orang yang lebih baik
lagi kedeannya bersama orang-orang yang baik.
__ADS_1