
Derrt....derrt... deerttt....
Sayup-sayup dia mendengar ponselnya
berbunyi, dia mencari ponselnya dengan mata tertutup. Dia mengucek matanya agar
bisa terbuka dan melihat untuk menggeser tombol hijau.
“Halo, siapa nih. Nggak tahu apa ini
sudah malam.” Omlenya dengan suara khas orang bangun tidur.
“Sorry mengganggu, tapi gue harus
mendengar jawaban lo sekarang juga.” kata Raka.
Fara langsung terduduk dengan
kedua mata yang terbuka lebar, dia memegangi dadanya yang ikut berdetak sangat keras.
“Jam berapa sekarang?” batinya sambil
mengangkat tangan kirinya.
“Ah..lupa gue nggak pakai jam kan.” Gerutunya sambil menghidupkan lampu utama untuk melihat jam di dinding.
“Lima menit lagi Far, kalau lo masih
diam saja berarti lo tolak gue.” Kata Raka memutuskan sepihak.
“Raka tunggu..” Fara mengatur napas
karena dia sangat panik jadi ngos-ngosan.
“Far, lo habis lari kok ngos-ngosan
gitu?” tanya Raka.
“Iya, lo kejar gue mulu kan gue jadi capek.”
Omel Fara. Sebenarnya dia ingin menjawab pertanyaan ini dengan santai dan romantis. Namun Raka mendesaknya membuat dia gugup.
“Ya gimana kalau nggak di kejar nanti lo
hilang lagi.” Raka tertawa kecil.
“Ok, Gue ada satu pertanyaan kalau lo bisa jawab gue bakalan terima lo.” Kata Fara.
“Apa pertanyaanya”
“Gue tahu di dalam hati kecil lo masih
menyimpan rasa sayang untuk Prisil, dan kapan saja dia akan datang menemui lo. Jika suatu hari dia menemui lo lagi dan meminta lo kembali apa yang akan lo
lakukan?” tanya Fara.
“Pertanyaan konyol.” Kata Raka.
“Ini bukan pertanyaanya konyol Raka,
cinta masalalu yang belum selesai akan selalu terbuka lagi dan bisa memikat hati lo lagi. Entah kapan waktunya, pasti akan ada perbincangan yang di awali dengan kata apa kabar.”
“Ok, gue bakal jawab ini kalau memang
ini penting buat lo, dan jawaban gue bisa meyakinkan lo untuk menerima gue.” Kata Raka.
“Katakan.”
“Bagi gue sesuatu yang sudah pergi makan
selamanya tidak ada pintu lagi baginya. Seseorang yang benar-benar menghargai suatu hubungan tidak akan mengkhianatinya dengan alasan apapun.” Jawab Raka dengan serius.
“Bagaimana kalau gue yang pergi?”
“Memangnya mau pergi kemana? Selingkuh?”
“Ya bisa saja gue melakukan hal yang
sama.” Fara mengetes Raka.
“Setelah lo memmutuskan menerima gue,
berarti tidak ada celah sedikitpun lo untuk berpaling bahkan melirik sedikitpun
ke pria lain. Jika itu terjadi gue akan bunuh cowok itu.” Kata Raka semakin serius.
__ADS_1
“Wah lo bahaya juga ya.” Fara bergidik
mendengar ancaman dari Raka. Dan dia merasa jawaban Raka dari dalam hati.
“Pukul dua belas sudah mau habis, apa lo
tidak berniat menjawabnya?” Raka mempertanyakan jawaban Fara lagi.
“Ya gue mau jadi pacar lo.” Kata Fara
lalu mematikan ponselnya. Fara menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil mengentak-hentakkan kakinya di kasur.
Dia senang cintanya ternyata tidak
bertepuk sebelah tangan, bahkan dia tidak mengira kalau Raka juga suka dengan
dirinya.
Dia tidak tahu keputusannya benar atau salah saat menerima Raka, namun dia akan mengusahakan yang terbaik dengan hubungan barunya ini.
Ting.. satu buah pesan masuk ke ponsel
Far
...Raka...
...Berarti mulai sekarang kita pacaran?...
...Fara...
...Ya...
...Raka...
...Baiklah pacarku......
...Tidur gih, besok gue jemput...
...Selamat malam...
“Ah jadi begini rasanya punya pacar yang
benar-benar pacar.” Fara cengar-cengir. Hatinya sedang berasa campur aduh, senang, berbunga-bunga, dan rasa tidak percaya.
Fara merenggangkan kedua tangannya, dia
mengambil ponselnya yang getar terus.
...Raka...
...Pagi sayang.....
...Bangun udah, siang setengah jam lagi gue...
...jemput...
Fara tersenyum lebar membaca pesan dari
Raka.
"Ya ampun sayang, rasanya kok krenyes-krenyes gini ya di panggil sayang." kata Fara sambil senyam-senyum. Dia beranjak dari kasurnya lalu bergegas menuju kamar mandi untuk siap-siap.
“Untuk hari pertama menjadi pacar
Raka, gue harus tampil yang sangat cantik.” Ujarnya sambil menghidupkan shower.
Setelah selesai mandi Fara langsung
memilih baju yang akan dia bawa pergi.
“Ngomong-ngomong Raka bakalan bawa gue
kemana ya?” Fara mengambil kaos warna putih polos dan rok jeans diatas lutut.
“Fara, ada teman kamu.” Teriak Mamanya
dari lantai bawah.
“Ya Ma, sebentar.” Fara buru-buru
mengambil tas ransel kecil. Dia berlari turun dari tangga.
“Hati-hati kenapa Fara, kalau jatuh kan
sakit.” Kata Mamanya.
__ADS_1
“Kalau sekarang jatuhnya lagi nggak
sakit kok ma.” Jawabnya sambil mencium mamanya. “Fara pergi dulu.”
Mamanya mengerutkan kening mencerna apa yang di katakan Fara.
"Dasar anak aneh." katanya sambil menempelkan ponsel di telinganya melanjutkan obrolan yang terputus saat memanggil Fara.
“Hai.” Sapa Fara saat sampai di ruang
tamu.
“Hai.”
“Kita pergi sekarang?” tanya Fara.
“Ok, nyokap lo mana?” Raka mau pamit sama mamanya Fara.
“Tadi gue udah pamit sekalian, mama
sedang menerima telpon.” Kata Fara.
“Baiklah.”
Raka mengajak Fara pergi ke pantai,
sejak dulu dia ingin sekali mengajak pacarnya ke pantai tapi tak pernah
kesampaian. Mereka berdua jalan diam dengan pikiran masing-masing karena masih
canggung.
Raka meraih tangan Fara lalu
menggenggamnya, “Bolehkan gue gandeng tangan lo sekarang?” Tanya Raka.
Fara tersenyum sambil mengangguk. Mulutnya rasanya kaku. Biasanya dia bicara dengan Raka dengan nada tinggi, dan selalu saja debat. Dan sekarang dia bingung harus
bagaimana.
“Kenapa diam saja, apa lo terpaksa
menerima gue?” tanya Raka.
“Nggak terpaksa.” Jawabnya cepat.
“Terus?”
“Gue masih belum terbiasa saja, kita
biasanya tidak seperti ini.” Kata Fara pelan.
“Ok mulai sekarang kita harus
membiasakan diri. Kamu sekarang adalah pacar dan sabahat aku.” Raka menatap
Fara sambil tersenyum.
“Aku, kamu.” Bibir Fara mengembang,
wajahnya memerah saat Raka memanggilnya dengan sebutan aku kamu.
“Kamu nggak suka ya, atau mau ganti
panggilan?” tanya Raka.
“Nggak-nggak, aku kamu saja. Ini sangat
romantis.” Fara malu-malu.
“Benarkah?”
Fara menganggu, “Sangat romantis.”
Raka mengajak Fara berjalan-jalan di
tepi pantai sambil sesekali menarik Fara bermain ombak.
Dua sejoli yang tak pernah berpikir mereka berdua akan bersama. Tidak ada kesan menarik saat mereka bertemu, setiap kali bertemu di kelas ataupun main hanya ribut.
Namun dengan berjalannya waktu saat
salah satu dari mereka tidak hadir, menimbulkan rasa rindu di hati. Dan mulai
cemburu saat salah satu dari mereka bersama dengan teman lawan jenis.
__ADS_1