Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Harapan Gita


__ADS_3

Gita   menjatuhkan tubuhnya di kasur sebelah Raka


yang sedang rebahan sambil main game. Raka melirik ke arah Gita yang


cengar-cengir sambil melihat ponselnya.


“Kesambet


apaan lo Ta, senyum-senyum kayak orang gila?” tanya Raka sambil kembali fokus


ke ponselnya.


“Kesambet


cogan.” Jawabnya sambil cengengesan.


“Lo


udah mulai ada hati sama Gilang.” Kata Raka dengan mata yang fokus ke


ponselnya.


“Sembaranga!”


Gita menepuk lengan Raka.


“Biasa


aja kali nggak usah pakai pukul-pukul segala.” Gilang meringis sambil mengelus


lengannya yang terasa pedas karena pukulan Gita yang lumayan keras. “Terus


cowok ganteng mana yang bikin lo gila?”


“Devan.


Ya ampun makin dewasa makin ganteng banget sih lo.” Gita memuju Devan sambil


terus menscrol layar ponselnya.


“Tunggu,


Devan siapa nih?” Raka berhenti memainkan gamenya.


“Devan


teman SMP kita dulu, lo ingat dia nggak?” Gita menunjukan foto Devan di


postingan intagram milik Devan.


“Masih


aja lo ingat sama dia, belum tentu juga dia masih ingat kita.” Raka pasang


posisi yang nyaman lagi lalu melanjutkan gamenya.


“Pastilah


ingat, kita kan sahabatnya dulu. Lagian dia bilang kalau pulang dari luar


negeri mau tembak gue menjadi pacarnya.”


“Halah,


itu cuman bualan anak SMP aja lo percaya. Lagian dia nggak bakalan pulang.


Mending lo sama Gilang aja lumayan juga dia.” Raka tiba-tiba memilih Gilang


dari pada Devan cowok yang membuat Gita jatuh hati bahkan tidak mau menerima


siapapun. Karena dia akan setia menunggu Devan menembakknya. Da dia percaya


kalau Devan akan menepati janjinya.


“Jangan


sembarangan ngomong lo, nih ya Devan posting foto dan dia bilang sedang otw ke


rumah. Lagian kenapa lo tiba-tiba memihak Gilang?” Gita mengerutkan kening


sambil memanyunkan bibirnya.


“Dia


pulang juga nggak ngabarin lo kan, gini ya logikanya itu manusia pergi sejak


umur empat belas tahun tanpa kabar, apa yang lo harapkan coba. Lihat Gilang dia


berusaha mati-matian mengejar lo dan pastinya dengan jelas dia itu cinta sama


lo. Ta gue bilangin sama lo lebih baik lo pilih yang pasti-pasti aja.” Raka


menasehati Gita.


“Ngomong


apa sih lo, nggak jelas.” Gita pergi meninggalkan Raka memilih pergi ke


kamarnya.


“Ye..


di kasih tahu juga. Awas aja lo nanti kalau nangis-nangis kalau patah hati sama


dia!” teriak Raka.


+++++++


“Raka.”

__ADS_1


Panggil Gita dengan nada pelan.


“Hhmm.”


“Sebelum


ke sekolah kita mampir ke rumah Devan yuk.” Ajak Gita.


“Ngapain,


lagian di sana cuma ada pembantunya doang.” Jawab Raka ogah-ogahan.


“Nggak,


Devan itu pulang. Jadi gue mau cek dia beneran udah sampai rumah atau belum.”


Kata Gita.


“Mau


minta oleh-oleh lo ya.” Raka menatap Gita dengan senyum curiga.


“Raka


yang bener deh, masa iya gue datang kerumahnya mau minta oleh-oleh.”


“Terus


lo mau ngapain?”


“Udah


di bilang mau cek dia, beneran pulang nggak.” Kata Gita.


“Ya


udah buruan siap-siap, nanti telat kena hukuman lagi kita.” Raka berdiri dan


menaikkan tali tas ke bahu kanannya.


“Iya.”


Meskipun


dia nggak suka Gita mengharapkan Devan, namun dia tidak bisa menolak permintaan


sepupunya itu.  Raka menghentikan


motornya di depan rumah Devan yang masih satu komplek dengan mereka. Gita turun


tanpa melepas helmnya, dia tengak-tengok rumah Devan yang sepi seperti


biasanya.


“Sepikan,


Kata Raka sambil menghidupkan motornya.


“Tapi


dia foto di bandara.” Katanya sambil naik di belakang Raka.


“Ya


siapa tahu dia mau ke Simbabue atau Afrika, emang kalau dia ke bandara


tujuannya satu doang.” Omel Raka.


Gita


hanya manyun saja ketika Raka terus nerocos, meskipun dia kecewa karena


harapannya yang terlalu tinggi tentang kembalinya cinta pertamanya itu. Namun


ada keyakinan tersendiri di hati kecilnya kalau Devan pulang dan segera menemui


dirinya.


“Oiya


Ta, ngomong-ngomong gimana keadaan Gilang?” tanya Raka.


“Nggak


tahu!” jawabnya jutek karena kesal sama Raka.


“Galak


amat, Ta lo itu harus tanggung jawab tahu nggak karena udah buat dia sampai


masuk rumah sakit.”


“Lo


kerasukaan apaan sih tiba-tiba membela Gilang. Lagian kemarin gue juga udah


jenguk dia.”


“Kerasukan


nasi satu piring, sayur bening bayam sama tempe goreng di tambah satu sendok


sambal bawang.”


“Bodo


amat!” Gita turun dari motor saat Raka sudah parkir dengan rapi.


 “Lo harus merawat sampai dia benar-benar

__ADS_1


sembuh, itu baru namanya tanggung jawab. Gue nggak mau adik gue yang cantik


jadi anak yang nggak bertanggung jawab. Ya meskipun lo nggak suka sama dia


bukan berarti lo harus membenci kan.” Raka memegang kedua pipi Gita.


Gilang


yang baru turun dari mobilnya panas melihat pemandangan di pagi hari yang


membuat moodnya rusak. Dia memakai tongkatnya lalu berjalan pergi ke dalam


kelasnya.


“Pagi-pagi


udah sangar aja itu wajah.” Kata Bayu.


“Diem!”


“Idih..


pms lo ya? Gimana kaki lo Lang, kita seminggu lagi mau tanding nih.” Kata Bayu


. Dia cemas kalau sampai kaki Gilang nggak sembuh dia akan kehilangan pemain


terbaik mereka.


“Pasti


udah sembuh, kalau belum sembuh lo kan bisa ambil pemain cadangan.” Katanya


santai.


“Ya


nggak bisa gitu dong, lo kan pemain inti dan paling bagus diantara kita. Gue


harus minta pertanggung jawaban cewek gila itu.” Katanya dengan wajah kesalnya.


“Emang


lo mau minta pertanggung jawaban yang bagaimana? Lagian ini tidak sepenuhnya


salah dia kok.” Gilang masih membela Gita. Meskipun sudah di buat kesal namun


dia tidak rela kalau Bayu bakalan mengganggu Gita.


“Terus


aja bela dia, bukannya dukung sahabat sendiri malah bela orang lain.” Bayu


merajuk. Dia pergi keluar kelas berniat mau bertemu Gita tanpa ngomong Gilang.


Nanti yang ada dia pasti tidak akan di bolehkan.


+++++


“Gita,”


Panggil Bayu.


“Apa?”


“Lo


harus tanggung jawab,”


“Tanggung


jawab apaan? Emangnya Gita menghamili anak siapa?” Sambar Fara yang langsung


mendapat pukulan di lengan kanan dan kiri bersamaan oleh Gita dan Anita.


“Lo


udah buat Gilang cedera kakinya, seminggu lagi kita ada lomba basket jadi lo


harus tanggung jawab buat dia sembuh sebelum hari H.”


“Ya


nggak bisa gitu, itukan musibah bukan maksud Gita membuat Gilang cedera.” Anita


membela Gita.


“Gue


nggak mau tahu, semua penyebabnya itu Gita. Kalau sampai lomba ini kita kalah


gara-gara Gilang nggak ikut main gue bakalan buat hidup lo nggak tenang di sini


dan buat lo keluar dari sekolah ini.” Gertak Bayu sambil pergi meninggalkan


Gita dan kedua temannya.


“Sekate-kate


aja Bayu kalau ngomong. Sebelum lo bikin Gita keluar lo dulu yang bakalan gue


depak dari sekolah!” teriak Fara.


“Jangan dengerin omongan Bayu, dia


emang suka seenaknya.” Anita menenangkan Gita yang tampak gelisah. Dia bukan


takut dengan gertakan Bayu hanya saja dia menjadi tidak enak kalau sekolahnya


gagal mempertahankan piala kejuaraan gara-gara dirinya.

__ADS_1


__ADS_2