
Liburan Gita, Gilang, Fara dan Raka tinggal sehari semalam saja. Mereka berempat akan menghabiskan waktu untuk berkeliling pantai serta ke pusat perbelanjaan. Dan yang wajib di kunjungi yaitu kulinernya.
"Git, gimana tadi malam?" Bisik Fara sembari menggandeng tangan Gita.
"Ya tidur, mau apa lagi." kata Gita.
"Ish.. itu gue tahu. Lo jadi malam pertama tidak?" Kata Fara.
"Jadi." katanya pelan sangat.
"Wah.. keren." Fara mencubit gemas pipi Gita .
"Lo sendiri? ah.. kalau di lihat dari ekspresi muka lo ini. Pasti lo sudah melakukannya bahkan sangat bar-bar kan." Tebak Gita. Dan benar tebakannya tidak meleset karena Fara memang sangat bersemangat.
"He.. jangan di kata bar-bar lah. Katakan saja lebih bersemangat. Aku di buatnya tidak berdaya semalaman. Ah bahkan nih ya sebelum malam dia sudah menggodaku." cerita Fara.
"Wah. Memang nggak apa-apa kita membahas seperti ini." Gita malu-malu.
"Tak apalah, memangnya kenapa? kita melakukanya sama suami sendiri ini."
"Malu lah."
"Lo seperti sama siapa saja. Oiya gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya loh menikmatinya nggak? masih takut nggak?"
"Em, lumayan.."
" Lumayan apa?"
"Ya lumayan pokoknya, gue nggak bisa jelasin."
"Kalau gue sih sangat menikmati, dan rasanya yang orang-orang kata itu tidak benar. Bahkan nih gue menyesal kenapa tidak dari dulu gue menikah." Fara meringis.
"Dasar lo nya aja mesum."
"Ini bukan mesum namanya, tapi menikmati. Raka bilang karena hari ini terakhir disini dia bakalan melakukan semalaman."
"Wah kalian benar-benar gila." Gita melongo sambil geleng kepala.
"Ya karena dia bilang tujuannya ke sini memang untuk itu. Hah.. liburan kali memang beda, jadi lebih sedikit menikmati keindahan alam, makanan dan shoppingnya. Kita menikmati sesuatu yang baru."
"Benar juga, Kak Gilang pun bilang seperti itu."
"Kan, memang tujuan kita itu. Jadi nikmati saja. Dam nanti malam nih gue yang pertama akan menggodanya." jawab Fara sambil tertawa kecil.
"Issh... kenapa lo agresif sekali." kata Gita.
"Ya biarin saja, semalam kan sudah dia yang menggoda jadi kini giliran gue sekarang. Gue bakal buat dia tidak berdaya."
"Dasar sinting. Sok-soan lo, gayanya mau menggoda. Lihat saja nanti lo bakalan menyesal menggodanya."
"Git, harusnya lo nanti malam menggoda Gilang saja lebih dulu. Biar berbeda nuansanya begitu." Fara memberi tahu Gita seperti seorang yang sudah sangat berpengalan.
"Lo terlihat sangat ahli ya sekarang, sampai sudah bisa mengajariku." kata Gita.
"Fara gitu loh, semua itu udah di luar kepala."
"Ngobrolin apaan sih seru banget?" tanya Gilang sembari menggandeng tangan Gita.
"Nggak aneh-aneh kan?" Raka merangkul Fara.
"Negatif aja deh, kita ini selalu membicarakan sal yang biasa dan tidak melanggar aturan." cerocos Fara.
"Iya, kita hanya membahas hal-hal yang indah saja. Seperti seblak, bakso dan menu-menu lainnya.
__ADS_1
"Makan mulu kamu ya." Gilang mengusap kepala Gita.
"Baiklah, mari kita makan sepuasnya." Kata Raka saat mereka sampai di tempat makan dekat pantai.
Gilang menarik kursi lalu menyuruh Gita duduk, begitu pula dengan Raka. Gita dan Fara seperti seorang putri sangat di manjakan sama suami-suami mereka.
Benar apa kata orang, kalau perempuan itu akan menjadi seorang ratu ketika bertemu dengan lelaki yang tepat.
"Pesan yang banyak." Kata Raka.
"Tentu saja, kita akan pesan yang banyak karena makanan sini enak-enak semua."
"Iya, makan yang banyak biar bertenaga." kata Raka membuat Gita dan Fara saling berpandangan.
"Ayoo makan." Kata Raka saat makanan mulai datang satu persatu.
"Sepertinya mereka memang mau melakuka nya sampai pagi malam ini." Bisik Fara.
"Kenapa gue rasa mereka seperti mau menerkam dan tak akan melepaskan saat sudah mendapatkannya." balas Gita dengan sangat pelan.
"Benar juga, kok gue mendadak jadi takut ya."
"Tadi katanya mau menggoda dulu, kenapa kadi takut." ledek Gita.
"Gimana nggak takut, kalau dari sore sampai pagi gue nggak kuat kali ya." jawab Gita.
"Kalian berdua kenapa bisik-bisik mulu sih, ayo mulai makan." kata Raka.
"Kalian bicarain apa sih, serius banget dari tadi bikin curiga saja." Gilang menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Nggak bicara apa-apa, cuma kita tuh lagi ini membicarakan liburan kita yang singkat banget. Besok udah mau pulang saja." kata Fara.
"Iya, masih banyak banget tempat yang ingin aku kunjungi." jelas Gita.
"Ya kalau memang kalian masih ingin liburan, kita tambah seminggu lagi gimana?" Raka memberikan ide untuk memperpanjang liburannya.
"Kenapa?"
"Kerjaan di kantor siapa yang mau mengurus?" Gita bukan tidak mau menambah liburannya. Hanya dia takut jika Gilang meminta itu tiap hari.
"Tenang ada staf yang bisa mengurusnya."
"Benar, kita nikmati saja liburan ini. Lagian kita juga bisa pantau kok kerjaan mereka." jelas Raka.
"Nggak usah sayang, kita atur lain waktu lagi."
"Baiklah, makan gih buruan nanti keburu dingin." Gilang mengusap kepala Gita.
Selesai makan mereka pergi berbelanja, Gita banyak mengambil pernak-pernik buat oleh-oleh.
"Sayang, sini deh." Panggil Gita saat melihat baju couple. Dia ingin membelinya agar bisa di pakai pasangan.
"Apa sayang?"
"Bajunya cocok nih buat kamu." Gita memasangkan ke tubuh Gilang.
"Kamu mau nggak?" tanya Gita.
"kamu jangan cari buat aku, tapi ambil saja yang buat kamu. Semua belanja ini buat kamu. Untuk hadiah kamu." Kata Gilang mengambil baju dari tangan Gita.
"Kamu nggak suka ya, padahal kan aku ingin couple sama kamu." Kata Gita dengan pelan. Gita manyun lalu jalan mencari baju-baju lainnya.
Gilang mengambil baju yang di kembalikan sama Gita.
"Mbak, tolong bungkus ini ya." kata Gilang.
"Baik."
__ADS_1
Gilang membelinya diam-diam, setelah selesai langsung menyimpanya dulu dan kembali lagi sama Gita.
"Kamu mau apa lagi?" tanya Gilang.
"Nggak tahu, bingung mau beli yang mana. Semuanya bagus banget."
"Apa perlu aku beli pusat perbelanjaan ini agar kamu tidak bingung memilihnya?" tanya Gilang.
"Jangan, ih kamu mah main beli-beli saja." Gita menolak.
"Demi kamu apapun akan aku berikan." Katanya sambil tersenyum.
"Benar?"
"Tentu saja, kamu nggak percaya?"
"Kalau aku minta kamu buatin seribu candi dalam semalam apa kamu sanggup?" kata Gita sambil nyengir.
"Yang masuk akal dong sayang, sekarang nggak ada perbantuan buat candi." Gilang gemes, dia mencubit pipi Gita.
"Sayang.."
"Apa?"
"Pulang yuk capek, kaki aq rasanya sudah lemas."
"Mau aku gendong?"
Gita menoleh ke kanan- kekiri, sebelum menjawab tawaran Gilang. Dia mengecek rame atau tidak tempatnya.
Gilang yang nggak sabar langsung menggendong Gita.
"Eh.. sayang, malu aku kalau di lihat orang."
"Kenapa harus malu, kan aku suami kamu nggak perlu lah ngumpet-ngumpet." Gilang menggendong Gita sampai ke mobil.
Gita tersenyum, dia mengecek barang belanjaannya takut ada yang ketinggalan.
"Eh.. ini apa?" tanya Gita saat Gilang masuk ke mobil.
"Buka aja." Kata Gilang sambil menjalankan mobilnya.
Gita dengan gercep langsung membukanya. Bibirnya langsung tersenyum lebar. Ternyata isinya baju couple yang dia mau.
"Sayang kamu beli ini?" Gita menghadap ke arah Gilang.
"Kamu senang?" tanya Gilang.
"Senang banget, kamu kapan belinya kok aku nggak tahu?" Tanya Gita.
"Rahasia."
"Ih, pakai rahasia-rahasia segala."
"Kamu nggak perlu tahu kapan aku membelinya, yang pasti aku akan memenuhi apapun yang kamu mau selagi aku mampu." Kata Gilang. Dia mengelus lembut kepala Gita.
"Makasih sayangku." Gita mencium pipi Gilang.
"Ini beneran mau pulang, atau mau jalan-Jalan kemana dulu?" tanya Gilang.
"Pulang saja deg, Gita mau tidur udah ngantuk banget."
"Ok, siap laksanakan tuan putriku."
"Oiya Kak, besok pas pulang pakai baju ini ya." kata Gita.
"Boleh sayang, atur saja bagaimana senangnya kamu. Aku tahu yang kamu pilih pasti yang terbaik."
__ADS_1
"Ih.. gemes deh, jadi makin cinta tahu nggak." Gita memberikan ciuman lagi di pipi Gilang.