
Gita mendorong pintu ruangan Gilang, dia langsung manyun saat melihat ruangan masih kosong. Gita masuk lalu duduk di kursi milik Gilang. Dia kemudian menaruh
kepalanya di meja dengan kedua tangan untuk bantalan kepalanya.
Dia merasa capek, bingung dan pikirannya penuh sampai-sampai air matanya menetes.
Dia di buat overthingking dengan dengan keadaan yang sedang terjadi padanya.
Gilang yang tidak tahu ada Gita di dalamnya membuka pintu dengan keras, “Lila bawakan
berkas-berkas yang saya minta ke ruangan saya.” Pinta Gilang.
“Baik Pak.” Jawab Lila lalu bergegas ke mejanya.
Gilang berhenti kaget melihat Gita, dia berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara yang membuat Gita terbangun.
“Pak ini berkasnya.” Kata Lila. Dengan cepat Gilang memutar tubuhnya lalu menaruh
jari telunjuknya agar Lila tidak bicara lagi. Kemudian Gilang menunjuk mejaagar
Lila menaruh berkasnya di meja. Lila mengangguk tanda megerti, dia berjalan
sangat pelan sesuai intruksi Gilang.
“Lila, kalau ada yang mau ketemu saya bilang saya sedang tidak bisa di ganggu. Kalau ada perlu kamu tangani saja dulu kalau memang sangat penting telpon saya,
jangan ada yang boleh masuk ruangan saya.” Kata Gilang.
“Baik Pak.” Lila mengangguk tandanya mengerti.
Gilang mendekati Gita, lalu menggendongnya memindahkan Gita ke sofa. Dia melepas jas buat menyelimuti Gita. Gilang berjongkok, dia mengelus rambut Gita lalu mengecup lembut kening Gita.
“Ya Tuhan, sampai lupa kalau ada orang yang harus aku perhatikan dan juga kasih
kabar.” Katanya sambil mengusap pipi Gita yang masih basah.
“Maafin aku sayang.” Gilang mencium Gita kembali.
Dada Gilang rasanya nyesek melihat Gita sampai tidur di ruangannya, ditambah dengan box yang ada di meja membuat dia semakin sedih.
“Makasih sayang, kamu udah bawaain sarapan buat aku meskipun sekarang sudah menjelang sore pasti akan aku makan kok.” Kata Gilang sembari membuka boxnya. Dia memakan sandwich dengan lahap.
Gitavmenggeliat lalu merenggakan kedua tangannya dengan mata yang masih
terpejam. Gita mengacak-acak rambutnya
sembari perlahan membuka matanya. Gita menatap atas lekat, kemudian dia bangun
melihat jam di tangan krinya.
“Ya ampun, aku ketiduran lagi di ruangan Kak Gilang. Mana sudah sore lagi pasti
sudah pada pulang. Ih.. pasti kena marah Mas Win nih karena pergi ngggak pamit.
Gita kenapa lo teledor banget sih bisa-bisanya ketiduran.” Gerutunya.
Saat Gita bangkit jas yang untuk menyelimuti dirinya terjatuh, Gita menundukan kepalanya lalu mengambil jasnya.
“Kak Gilang..” katanya sambil menoleh ke meja milik Gilang. Dia mendekati ke mejanya
lalu mengangkat box yang di bawanya sudah kosong.
“KakbGilang sudah datang, tapi dimana sekarang? Apa meeting lagi?” Katanya pelan.
“Sayang, cariin aku ya?” Gilang memeluk Gita dari belakang.
Gita langsung memutar tubuhnya, matanya berkaca-kaca dan langsung saja meluncur
mulus di pipinya Gita.
“Hey.. kenapa kok malah menangis?” Gilang mengusap air mata Gita.
__ADS_1
“Kak Gilang jahat banget sih, nggak ngasih kabar sama Gita. Memangnya Gita sudah
tidak di anggap lagi? Kak Gilang bosan ya sama Gita.” Cerocos Gita sambil
memukul dada Gilang yang bidang.
“Hey.. ngomong apa sih kamu sayang. Maafiin aku ya, kemarin aku sibuk sampai lupa memberi kabar kamu.” Gilang menarik Gita ke dalam pelukannya. Gita semakin
sesenggukan dalam pelukan Gilang. Dia kangen banget sama Gilang.
“Kamu jangan berpikir aneh-aneh, aku nggak macam-macam. Aku minta maaf dan janji tidak akan mengulanginya lagi.” Kata Gilang sembari memberikan kecupan di kepala Gita.
“Janji?”vKata Gita sembari mengulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.”vGilang pun menyambutnya. “Udah ya jangan menangis lagi.” Gilang menyeka air mata Gita lagi.
Gita memegangi perutnya yang bunyi sangat keras, membuat Gilang tertawa kecil.
“Kamu lapar?” tanya Gilang yang di jawab anggukan sama Gita.
“Yuk, kita cari makan.” Gilang menggandeng tangan Gita.
“Em.. kamu sudah nggak ada kerjaan?” Gita memastikan kalau Gilang benar-benar free.
“Nggak.” jawabnya dengan yakin.
“Beneran? Kalau memang masih ada kerjaan kamu selesain aja dulu. Aku tungguin disini.” Kata Gita.
“Nggakbsayangku, kerjaan sudah selesai. Sekarang saatnya makan dan langsung pulang.” Kata Gilang menggandeng Gita dan mengajaknya bergegas.
Mereka berdua datang ke restauran favorit yang sudah menjadi milik Gita juga. Gita
langsung memesan hampir semua menu, dan Gilang hanya mengiyakan saja. Dia ingin
mengganti beberapa hari lalu dengan menuruti semua permintaan Gita.
“Sayang, kemarin kan aku bilang kalau aku masih bingung sama dua undangan kita. Kamu bantu pilihin ya.” Kata Gita.
“Ok. Mana biar aku lihat?”
“Wah, ini keren semua sampai bingung deh mau pilih yang mana.” Gilang bingung
memilihnya.
“Makanya itu, Gita juga bingung banget mau pilih yang mana.”
“Mana ya?” Gilang melihat undangan bergantian.
“Oiya Sayang, kemarin..” Gilang mengangkat tangannya meminta Gita menghentikan ceritanya karena ponselnya berbunyi.
“Sebentar sayang, ada telpon masuk.” kata Gilang sambil mengangkatnya. Gita mengangguk. Dia di buat kecewa kembali sama Gilang.
“Ada apa Lila?”
“MakasihbMbak.” Kata Gita saat pelayan selesai membawakan makanan yang dia pesan.
Gita menyenderkan tubuhnya ke kursi, dia sebenarnya sudah sangat lapar namun tidak
mau memulai makannya dulu. Dia ingin menunggu Gilang sampai selesai telpon sama
Lila. Hanya saja telponnya sangat lama membuat Gita bete dan tidak nafsu makan
lagi.
“Memang harusnya kita nggak pergi.” Ucap Gita dengan wajah yang di tekuk dan melipat kedua tangannya.
Sudah setengah jam lebih Gilang belum juga selesai telponnya, Gita beranjak kemudian
menemui pelayannya. Meminta untuk semua makanan di bungkus untuk mereka bawa
pulang atau di kasih ntuk satpam depan.
__ADS_1
“Sayang.. mau kemana?”
“Pulang.” katanya dengan nada datar di tambah dengan muka bete.
“Kok pulang, ini makanannya juga belum kamu makan sama sekali.” Gilang menurunkan ponselnya dari telingannya.
“Kalau kamu mau makan, makan saja sendiri.” Kata Gita sembari pergi setelah mengambil tasnya.
“Aduh,bkenapa lagi ini.” Gilang bergegas mengejar Gita.
“Sayang..sayang.. tunggu. Kamu kenapa sih? Lagi PMS?”
“Sayang, kamu sadar nggak sih kamu itu sejak tadi sibuk banget. Buat apa coba kita makan bareng tapi kamunya sibuk sama telpon kamu dan aku di cuekin. Kita udah
beberapa hari loh nggak ketemu nggak juga berkabar. Sekalinya bertemu kamu
masih saja sibuk, ini juga sudah malam.” Gita kesal.
“Sayang, maafin aku. Kasus ini memang harus segera di atasi jadi aku tidak bisa
bersantai. Please, ngertiin aku ya. Nanti kalau semua sudah beres pasti aku
akan berikan semua waktu aku buat kamu. Seperti kemarin-kemarin.” Kata Gilang.
Gita hanya diam tidak membarikan jawaban, sebenarnya dia ingin cerita banyak tentang
datangnya lagi Devan, Bella yang terlihat mencurigakan dan beberapa cerita yang
sepele seperti biasanya.
“Sayang...jangan marah dong please.” Ucap Gilang.
“Gita nggak marah kok, Cuma capek saja.” Gita masuk lebih dulu ke mobil. Gilang hanya
bisa menghela napas panjang, meskipun Gita berkata tidak tapi wajahnya menyiratkan kalau dia sangat marah kepadanya.
Gita menatapa keluar jendela, dia tidak mau menatap wajah Gilang. Bahkan dia mengabaikan Gilang yang mengajak ngobrol dirinya.
“Sayang..” panggil Gilang pelan.
Gita pura-pura memejamkan mata agar Gilang tidak mengajaknya bicara.
“Sayang,baku tahu kamu pasti mendengarkan aku. Aku hanya minta pengertiannya sedikit lagi. Aku tidak menghubungi kamu, aku sibuk bukan karena aku mau tapi keadaan yang membuat aku seperti ini.” Jelas Gilang. Gita tidak memperdulikan penjelasan Gilang, dia masih saja mengunci mulutnya rapat-rapat.
“Sebenarnya aku ingin saat aku capek bekerja, pusing karena masalah kantor tuh bisa fres dan kembali bersemangat karena bertemu atau mendengar suara kamu saja. Bukan begini, membuat aku semakin pusing.” Kata Gilang.
“Jadi ini salah aku?” Gita menatap Gilang dengan kedua mata yang nanar.
“Aku tidak menyalahkan kamu, aku hanya..”
“Berhenti..” Gita meminta Gilang menghentikan mobilnya.
“Kamu mau apa?”
“Aku bilang berhenti Kak Gilang.” Ucap Gita dengan nada yang semakin meninggi.
“Nggak, aku nggak akan menghentikan mobilnya. Kamu jangan bertindak aneh-aneh. Kamu boleh marah atau apa tapi kamu tetap harus di mobil ini sampai tujuan.” Kata Gilang.
“Gita nggak mau.” Ucapnya dengan menangis.
“Sayang kamu kenapa, apa yang salah.” Gilang masih saja tidak peka dengan kemarahan Gita.
“Nggakbada yang salah, hanya aku yang ingin melakukan ini.” Kata nya dengan sangat emosi.
Bukannya menghentikan laju mobilnya, Gilang justru menambah kecepatan mobilnya sampai Gita memejamkan matanya karena ketakutan.
Gilang memarkirkan mobilnya di depan rumah Gita, Gita yang masih terengah-engah napasnya saking ketakutannya. Dia langsung turun dari mobil dan menutupnya dengan sangat keras.
“Dasar gila.” Gerutunya sembari berlalu pergi.
Gilangbmengusap rambutnya ke belakang, tiba-tiba dia menyesal dengan apa yang terjadibdi perjalanan mengantar Gita.
__ADS_1
“Hah! Tuhan kenapa jadi begini.” Katanya
sambil membenturkan pelan di tempat kemudi.