
Gita di bonceng Raka sambil senyum-senyum membayangkan mimpi yang dialaminya.
"Kenapa lo Ta, pagi-pagi sudah senyum-senyum kayak orang gila." Raka melihat Gita dari spion.
"Nggak apa-apa lagi mimpi indah aja." Gita memeluk erat Raka.
"Jelas mimpi indah, makanya lo buruan jadian sama Gilang biar mimpi indah terus." Ujar Raka sambil menambah kecepatan mengemudi motornya.
"Memangnya apa hubungannya sama Kak Gilang?!" Gita teriak agar di dengar Raka.
"Ya mana gue tahu, kan kalian yang menjalani masa tanya hubungannya sama gue."
"Dasar nggak jelas, gue tanya apa lo jawab apa. Ya Tuhan kenapa sudara gue begini amat." kata Gita.
Raka menstandarkan motornya setelah Gita turun dari motornya.
"Raka ini susah." Gita kesulitan melepas helmnya.
"Sini." Raka membukakan helm milik Gita. Anda mereka tidak saudaraan mungkin saja akan menjadi saingan terberat Gilang.
"Gita." Seru Fara dan Anita dari gerbang. Mereka berlari menghampiri Gita. Fara dan Anita menggandeng Gita.
"Raka, kita duluan." ujar Fara sambil membawa Gita.
"Ok."
"Cie.. lagi berbunga-bunga nih." Fara mencolek dagu Gita dengan tangan kirinya.
"Berbunga-bunga kenapa?" Gita bingung.
"Nggak usah sok pura-pura nggak tahu deh, lo kan lagi tranding di sekolah." Kata Anita.
"Tranding kenapa?" Gita masih tidak mengerti.
"Nggak asik banget emang ini bocah." Fara berhenti sambil melepaskan gandengan tangannya.
"Apa sih."
"Buka hp lo, lagian lo punya hp buat apaan sih?" Fara gemes.
"Buat bantal tidur." Gita ambil ponselnya dari tasnya. Dia kemudian buka whatsapp, dia hanya memperhatikan pesan nomor baru yang masuk.
"Buka grub dong sayangku,cintaku." Anita memencet grub sekolah.
Dia membaca sedikit lalu melirik kearah Fara dan Anita.
"Ini beneran gue?" Dia menunjuk foto dirinya dengan Gilang.
"Git, lo amnesia atau gimana sih." Fara melihat aneh Gita. Dia seperti tidak tahu apa-apa.
"Lo nggak lagi sakit kan?" Anita memegang jidat Gita.
"Gue sehat. Ya gue rasa semua itu mimpi jadi ya gue nggak terlalu memikirkan." jawabnya. "Eh tunggu kalau gue nggak mimpi berarti gue beneran dansa sama Kak Gilang dong?" Gita berubah jadi panik sambil melihat Fara dan Anita bergantian. Mereka mengangguk bersamaan.
"Aduh.. gimana ini ya." Gita jadi bingung.
__ADS_1
"Gimana apanya?"
"Ya kan harusnya Kak Qila yang dansa bukan gue."
"Tenang, impian kakak lo juga udah terpenuhi. Lo jangan mikirin orang lain aja. Sekarang wujudkan mimpi lo, cinderella berhak bahagia bukan." Anita menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Bisa aja lo."
"Hai, lo Gita kan?" seseorang menyela pembicaran Fara, Gita dan Anita.
"Ya."
"Kenalin gue Ardan, dari kelas dua belas." Ardan mengulurkan tangannya.
"Gita Saquena anak pak Seno, sudah sarapan dan no wa tidak untuk di miliki sembarang orang. Minggu ini tidak bisa keluar karena ada acara padat." Gita menjawab sambil menyambut uluran tangan Ardan.
Ardan tampak tersipu malu dengan jawaban Gita. Gita sudah tahu semua pertanyaan yang akan dia tanyakan.
Fara dan Anita menahan tawa, Gita bisa menjadi orang sekonyol itu.
"Ok, gue pergi dulu." Kata Ardan.
"Pergi yang jauh, jangan coba-coba dekat." Seru Fara.
"Keren lo Ta." Anita mengangkat jempol kanannya.
"Buaya memang harus di gituin." kata Gita sambil terkekeh.
Mereka berdua melanjutkan jalannya, baru sampai di lorong sudah ada yang menghalangi mereka.
"Kagak ada!" jawab Fara ketus.
"Pergi...pergi, masih kalau jauh lo sama Kak Gilang." Fara mengusir orang itu.
"Kemarin pada kemana aja, kenapa sekarang baru pada dekat." Gerutu Anita.
Dari jauh Gita melihat Gilang yang berjalan ke arahnya. Gita menarik Fara dan Anita untuk kabur segera ke kelas.
Gita melepaskan pegangan tangannya, dia duduk dan mengatur napasnya.
"Git.. ada apa?" Anita bingung.
"Iya, kenapa lo tiba-tiba ajak kita lari?" Kata Fara ngos-ngosan. Dia tadi ikut lari kencang takut ada bahaya mengancam.
"Tadi ada Kak Gilang." Jawabnya masih ngos-ngosan.
"Ya ampun Gita, gue kira ada razia dari pak Rudi tahu nggak. Ih.. ngeselin banget sih lo." Fara manyun.
"Hehe.. maaf." Gita mengangkat dia jari berbentik V.
"Lagian lo kenapa lari sih ada Kak Gilang?" Anita penasaran.
"Ya gue belum siap aja ketemu Kak Gilang."
"Git, lo itu cuma mau ketemu bukan di ajak nikah." omel Fara.
__ADS_1
"Ya sama aja. Ujungnya nanti di janjiin nikah, ya kalau benar kalau janjinya sama gue nikahnya sama gue jadinya sama orang lain apa gue nggak patah hati, tulang dan sekitarnya.
"Serah lo!" jawab Fara sewot.
...♡◇◇◇♡...
Pelajaran masih berlangsung, Gita sudah kayak cacing kepanaaan karena lapar. dia tidak bisa duduk dengan tenang. Sedangkan Raka dengan pedenya tidur dengan lelap.
"Fara, berapa jam lagi sih istirahat?" Gita menendang kursi Fara.
"Masih setengah jam lagi." Fara menengok.
"Lama banget sih, gue udah lapar banget." Gita memegang perutnya.
"Sama, mana haus lagi." Keluh Fara.
Setalah mengekuarkan segala keluh kesahnya mereka berdua kesikan ngobrol, sambil bercanda.
"Gita, Fara, kalau mau ngobrol silahkan keluar dari kelas saya!" bentar Pak Sukmo guru Fisika.
"Maaf Pak."
"Kalian keluar, sekalian itu sebelah sebelah kamu ajak di pergi. Di sekolah bukanya memperhatikan pelajaran malah tidur." Pak Sukmo memarahi Gita, Fara dan Raka yang baru saja bangun setelah di bangunkan Gita.
Gita, Fara dan Raka perlahan jalan keluar, mereka berdua di suruh berdiri di depan kelas sambil memegang dua telinga dan mengangkat satu kakinya.
"Kalian bikin ulah apaan sampai bawa-bawa gue." ujar Raka sambil menguap.
"Gita tuh ngajakin gue ngobrol."
"Gue kan cuma tanya, tapi lo yang berlanjut ngajak ngobrol."
"Lagian sih lo Ka, kalau aja lo nggak tidur kita nggak bakalan di hukum keluar. Semua ini salah lo." Fara balik menyalahkan Raka.
"Kenapa jadi gue, enak aja. Selama ini kalau kalian anteng gue nggak pernah tuh yang namanya di hukum gara-gara tidur."
Disaat Raka dan Fara berantem Gita melangkahkan kakinya ke belakang, kemudian dia mendorong pelan Raka agar lebih maju. Dan dia bersembunyi di balik badan Raka.
"Kenapa lo Ta?" Raka menoleh ke belakang.
"Sstt, diam. Itu ada Kak Gilang." Gita menunjuk dengan dagunya ke arah datangnya Gilang.
"Ya terus kenapa lo ngumpet?"
"Dia malu Ka, karena udah dansa sama Kak Gilang." sahut Fara.
"Memangnya kenapa malu?" Raka heran.
"Nggak tahu tuh?"
"Ya kan gue tadi malam lagi mabok, dan mau dansa sama dia. Kan gue jadi nggak enak."
"Mabok kendaraan, gaya banget lo pakai acara mabok-mabok."
"Gini nih kalau kebanyakan nonton drama korea, halunya nggak kira-kira." Fara menggeleng kepala.
__ADS_1
"Biarin, daripada lo hobinya nonton begituan."