
Gilang memparkirkan mobilnya, dia turun
dari mobilnya lalu memakai kaca mata hitam. Seketika kampus menjadi heboh.
Cewek-cewek langsung teriak histeris dengan kedatangan cowok ganteng,
mengendari mobil mewah selalu menjadi inceran para kaum hawa.
Gilang pergi mencari keberadaan Gita dan
juga sahabat-sahabatnya, dia memang sengaja tidak memberi tahu Gilang agar
menjadi suprize juga buatnya.
Gilang tersenyum melihat gadis yang
masih setia dengan rambut di atas bahu. Dia berjalan mendekatinya, dengan tubuh
yang bergetar. Rasa rindu meluap dia ingin segera memeluknya.
“Gita.” Panggil Farhan membuat Gilang
menghentikan langkahnya. Gita pun melambaikan tangan dan berlari ke arahnya. Ditambah senyuman manis.
Gilang langsung meradang, karena senyuman miliknya itu di berikan kepada orang lain.
“Yakin mau jalan?” tanya Farhan.
“Iya, lagian dekat kan. Hitung-hitung
kita olah raga.” Kata Gita sambil tersenyum. Gilang mengurungkan niatnya untuk langsung menemui Gita, dia membututi dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
“Siapa orang itu, apa itu yang namanya
Farhan.” Ujarnya sambil melonggarkan dasi yang di pakainnya. Mendadak dia merasa gerah body.
Gilang mengekor Gita dan Farhan, dia
mendengarkan pembicaraan Gita dan Farhan.
“Git, apa masih belum ada jawaban untuk
pernyataan cinta gue?” Tanya Farhan. Gita memperlambat langkah kakinya, dia memandang Farhan sebentar lalu berjalan seperti biasa.
“Kenapa Kak Farhan membahas masalah ini
lagi, Gita kan sudah bilang kalau Gita sudah punya pacar. Dan harusnya itu sudah menjadi jawabannya kan.” Kata Gita.
“Pacar atau mantan? Bukankah lo sudah
putus sama dia. Harusnya lo bisa melupakannya, dia sudah jauh dari kehidupan lo. Apa lo nggak pernah berpikir dia sudah bersama yang lain? Sampai kapan lo bakalan menyiksa diri lo dengan cinta yang tak pernah ada yang menyambutnya.”
Ujar Farhan.
“Darimana Kak Farhan tahu kalau Gita sudah putus. Selama Gita belum melihat dia bersama orang lain. Gita masih menganggapnya dia menjadi pacar Gita. Kak Farhan, kita memang sudah berteman.
Tapi bukan berarti Kak Farhan seenaknya berkata mengatur perasaan Gita.”
“Tapi Git, lo hanya akan buang-buang
waktu.”
“Cukup Kak, Gita akan ke toko buku
sendiri. Terima kasih sudah mengantar
sampai sini.” Gita kesal setiap kali Farhan mengusik perasaanya.
Gita pergi meninggalkan Farhan dengan
sangat kesal, dia punya hak apa mengatur perasaannya. Meskipun dia hampir memiliki kesamaan bidang yang di gemarinya dan juga sama-sama multi talenta tapi tidak bisa membuat Gita beralih hati juga.
Mereka hanya mirip bukan sama, dan di hati Gita masih saja tertera Gilang. Belum mau beralih dan sebisa mungkin tidak beralih.
Gilang yang awalnya kesal ingin memukul
wajah Farhan langsung tersenyum senang, Gita masih sama yaitu orang yang terus
mencintainya. Bahkan cintanya tumbuh lebih besar lagi.
Gilang terus mengikuti Gita, dia
mempercepat jalannya agar sejajar dengan Gita. Gita melirik sekilas lalu menatap depan lagi. Semakin lama dia semakin risih, dia memperlambat jalannya Gilang pun ikut memperlambat jalannya. Ketika dia mempercepat jalannya Gilang juga mengikutinya.
“Hah... siapa sih orang ini rese banget
deh.” Katanya dalam hati. Gilang menambah dirinya makin kesal.
Gita sudah tidak bisa menahannya lagi,
dia berhenti lalu menatapnya dengan marah.
“ Maunya apa sih, kenapa ngikutin gue
__ADS_1
mulu?!” Bentak.
“Gue mau lo.” Kata Gilang sambil
tersenyum. Rupanya Gita sudah tidak mengenali wajahnya lagi.
“Dasar orang sinting, mesum. Pergi nggak
atau gue akan teriak.” Ancam Gita.
“Gita, ini gue..” Gilang melepaskan
kacamatanya lalu merentangkan kedua tangannya.
Deg...jantung Gita serasa berhenti
sekejab lalu berdenyut di atas normal. Tubuhnya sedikit bergetar. Dia mengingat
beberapa hari lalu Fara bercerita tentang orang mesum yang sering menjaili
cewek-cewek yang akan melewati jalan ke toko buku dekat kampusnya. Apalagi
jalan yang akan di lalui Gita menuju jalan yang sedikit sepi.
Melihat senyum Gilang, justru terpikir senyuman-senyuman psikopat di film-film yaitu manis tapi menyeramkan.
“Dia tahu naman gue, apa dia benar-benar
pria mesum. Bagaimana ini?” batinnya
sambil mencari ide untuk kabur.
Semakin Gilang melebarkan senyumanya, membuat Gita semakin ketakutan. Gita membalikan tubuhnya lalu berlari secepat kilat.
“Gita tunggu!” teriak Gilang sembari
mengejar Gita.
“Ya Tuhan kenapa orang itu terus
mengejar gue, dari mana juga dia tahu nama gue.” Gita sekuat tenaga lari. Dia
melambaikan tangan saat ada taksi yang lewat. Cepat-cepat dia langsung masuk ke
taksi.
“Pak, tolong ya cepat.” Minta Gita.
“Baik Mbak.” Sopir taksi pun langsung
Gilang ketinggalan, dia menundukkan
tubuhnya sambil mengatur napasnya yang terengah-enggah. Hampir tiga tahun tidak
bertemu kini Gita bisa lari secepat itu.
“Kenapa dia tidak mengenali gue.”
Katanya masih dengan napas ngos-ngosan.
Gilang kembali ke parkiran mengambil
mobilnya, dan segera mengejar Gita.
“Memangnya apa yang beda dari gue,
kenapa dia bisa lupa sama gue.” Gilang mengaca lewat ponselnya.
“Ah... jangan-jangan Gita sudah
melupakan gue. Tapi bagaimana bisa melupakan jelas-jelas tadi dia masih
mengakui gue sebagai pacarnya.” Kata Gilang.
Gilang mempercepat laju mobilnya, dia
berharap bisa sampai di depan rumah Gita lebih dulu.
Setengah jam Gilang sudah sampai di
depan rumah Gita, dia menyenderkan tubuhnya di mobilnya sambil melipat kedua
tangannya.
Gita yang baru saja turun dan membayar
ongkos taksi langsung menelan ludah. Melihat orang yang berpakaian jas hitam
dengan kacamata hitam berada di depan rumahnya.
“Benarkan itu om..om yang tadi, kenapa
dia bisa tahu rumah gue.” Kata Gita pelan. Dia bingung mau jalan masuk atau
__ADS_1
putar haluan berlari meminta bantuan.
“Gimana kalau dia mau culik gue, dan
menjual gue ke luar negeri. Kasihan kan nanti keluarga gue sama sahabat-sabahat
gue kalau kangen.” Ucapannya mulai ngelantur tidak jelas. Dia masih bisa bercanda dengan dirinya sendiri di saat ketakutan.
“Gita.” Panggil Gilang sembari
melepaskan lipatan tangannya. Gilang berjalan mendekati Gita.
Dan apa yang terjadi Gita berlari menghindari Gilang. Dia tidak bisa berpikir jernih, dengan menanyakan siapa orang itu. yang ada dalam pikiranya hanya om-om mesum pengganggu. Gita memukul Gilang saat tepat di depanya.
“Raka...! tolong....!” Gita berteriak
sekeras mungkin sambil lari masuk ke dalam. Dia mengunci semua pintu rapat-rapat takut dia orang yang mengenalnya itu masuk ke dalam rumah.
“Ada apa Ta?” tanya Raka heran.
“Raka...raka di luar ada orang mesum.
Dia mengikuti gue dari kampus sampai rumah. Dia juga tahu nama gue.” Kata Gita
sambil memegangi dadanya karena jantunynya berdegup kencang.
“Git.. yang ngejar laki-laki muda tau
tua?” tanya Fara.
“Om..om.” Jawab Gita.
“Ih.. kenapa lo malah kabur. Lumayan kan
kalau dapat om-om keren, tajir cepat kaya raya tanpa kerja lo." Fara tertawa renyah.
“Dasar nggak peratian sama gue. Gimana kalau gue di jual sama om-om, apa lo nggak kangen gue. Oiya, dia masih ada di depan.” Tunjuk Gita.
"Ya kalau lo di jual, lumayan kan gue dapat penghasilan. Buat tabungan nanti gue menikah sama Raka." Fara terkekeh. Gita melirik sambil berdesisi.
“Biar gue lihat.” Raka berjalan keluar
untuk bertemu orang mesum yang mengejar Gita.
Raka membuka pintu perlahan lalu
berjalan mendekati mobil yang ada di depan rumahnya. Dia menoleh kanan kiri
tapi tidak ada siapapun. Gilang memegang pundak Raka, dia langsung menarik
tangannya dan siap membanting ke lantai.
“Raka ini gue.” seru Gilang.
Raka melepaskan tangannya, lalu melihat
secara jelas orang yang ingin dia hajar itu.
“Gilang?” Raka kaget.
“Iya ini gue, lo nggak bisa kenalin gue?”
Gilang menggelengkan kepala, nggak adik nggak kakak sama saja.
“Kapan lo pulang?” Raka menarik Gilang
dalam pelukanya.
“Semalam.” Katanya sambil membalas pelukan Raka.
“Lo benar-benar berubah drastis.” Raka
melepaskan pelukannya lalu melihat Gilang dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Bagaimana, keren kan gue.” Kata Gilang
sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya. Raka mengangkat dua jempolnya, dia
pikir Gilang masih sama seperti dahulu namun kini dia terlihat seperti ceo
muda.
“Gita..” tanya Gilang sambil melihat ke dalam.
“Ah.. jadi lo yang dia maksud om-om
mesum.” Raka tertawa terbahak-bahak.
“Om..om mesum?” Gilang mengerutkan
keningnya.
“Yah, beberapa hari ini ada orang yang
__ADS_1
sering di gangguin om-om jadi dia ketakutan sendiri.” Jelas Raka.
“Ah.. Gita..Gita ada-ada saja lo. Sebentar, gue pangggilkan Gita.” Raka kembali masuk untuk membawa Gita keluar.