Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Om-Om Mesum


__ADS_3

Gilang memparkirkan mobilnya, dia turun


dari mobilnya lalu memakai kaca mata hitam. Seketika kampus menjadi heboh.


Cewek-cewek langsung teriak histeris dengan kedatangan cowok ganteng,


mengendari mobil mewah selalu menjadi inceran para kaum hawa.


Gilang pergi mencari keberadaan Gita dan


juga sahabat-sahabatnya, dia memang sengaja tidak memberi tahu Gilang agar


menjadi suprize juga buatnya.


Gilang tersenyum melihat gadis yang


masih setia dengan rambut di atas bahu. Dia berjalan mendekatinya, dengan tubuh


yang bergetar. Rasa rindu meluap dia ingin segera memeluknya.


“Gita.” Panggil Farhan membuat Gilang


menghentikan langkahnya. Gita pun melambaikan tangan dan berlari ke arahnya. Ditambah senyuman manis.


Gilang langsung meradang, karena senyuman miliknya itu di berikan kepada orang lain.


“Yakin mau jalan?” tanya Farhan.


“Iya, lagian dekat kan. Hitung-hitung


kita olah raga.” Kata Gita sambil tersenyum. Gilang mengurungkan niatnya untuk langsung menemui Gita, dia membututi dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


“Siapa orang itu, apa itu yang namanya


Farhan.” Ujarnya sambil melonggarkan dasi yang di pakainnya. Mendadak dia merasa gerah body.


Gilang mengekor Gita dan Farhan, dia


mendengarkan pembicaraan Gita dan Farhan.


“Git, apa masih belum ada jawaban untuk


pernyataan cinta gue?” Tanya Farhan. Gita memperlambat langkah kakinya, dia memandang Farhan sebentar lalu berjalan seperti biasa.


“Kenapa Kak Farhan membahas masalah ini


lagi, Gita kan sudah bilang kalau Gita sudah punya pacar. Dan harusnya itu sudah menjadi jawabannya kan.” Kata Gita.


“Pacar atau mantan? Bukankah lo sudah


putus sama dia. Harusnya lo bisa melupakannya, dia sudah jauh dari kehidupan lo. Apa lo nggak pernah berpikir dia sudah bersama yang lain? Sampai kapan lo bakalan menyiksa diri lo dengan cinta yang tak pernah ada yang menyambutnya.”


Ujar Farhan.


“Darimana Kak Farhan tahu kalau Gita sudah putus. Selama Gita belum melihat dia bersama orang lain. Gita masih menganggapnya dia menjadi pacar Gita. Kak Farhan, kita memang sudah berteman.


Tapi bukan berarti Kak Farhan seenaknya berkata mengatur perasaan Gita.”


“Tapi Git, lo hanya akan buang-buang


waktu.”


“Cukup Kak, Gita akan ke toko buku


sendiri. Terima kasih  sudah mengantar


sampai sini.” Gita kesal setiap kali Farhan mengusik perasaanya.


Gita pergi meninggalkan Farhan dengan


sangat kesal, dia punya hak apa mengatur perasaannya. Meskipun dia hampir memiliki kesamaan bidang yang di gemarinya dan juga sama-sama multi talenta tapi tidak bisa membuat Gita beralih hati juga.


Mereka hanya mirip bukan sama, dan di hati Gita masih saja tertera Gilang. Belum mau beralih dan sebisa mungkin tidak beralih.


Gilang yang awalnya kesal ingin memukul


wajah Farhan langsung tersenyum senang, Gita masih sama yaitu orang yang terus


mencintainya. Bahkan cintanya tumbuh lebih besar lagi.


Gilang terus mengikuti Gita, dia


mempercepat jalannya agar sejajar dengan Gita. Gita melirik sekilas lalu menatap depan lagi. Semakin lama dia semakin risih, dia memperlambat jalannya Gilang pun ikut memperlambat jalannya. Ketika dia mempercepat jalannya Gilang juga mengikutinya.


“Hah... siapa sih orang ini rese banget


deh.” Katanya dalam hati. Gilang menambah dirinya makin kesal.


Gita sudah tidak bisa menahannya lagi,


dia berhenti lalu menatapnya dengan marah.


“ Maunya apa sih, kenapa ngikutin gue

__ADS_1


mulu?!” Bentak.


“Gue mau lo.” Kata Gilang sambil


tersenyum. Rupanya Gita sudah tidak mengenali wajahnya lagi.


“Dasar orang sinting, mesum. Pergi nggak


atau gue akan teriak.” Ancam Gita.


“Gita, ini gue..” Gilang melepaskan


kacamatanya lalu merentangkan kedua tangannya.


Deg...jantung Gita serasa berhenti


sekejab lalu berdenyut di atas normal. Tubuhnya sedikit bergetar. Dia mengingat


beberapa hari lalu Fara bercerita tentang orang mesum yang sering menjaili


cewek-cewek yang akan melewati jalan ke toko buku dekat kampusnya. Apalagi


jalan yang akan di lalui Gita menuju jalan yang sedikit sepi.


Melihat senyum Gilang, justru terpikir senyuman-senyuman psikopat di film-film yaitu manis tapi menyeramkan.


“Dia tahu naman gue, apa dia benar-benar


pria mesum. Bagaimana ini?”  batinnya


sambil mencari ide untuk kabur.


 Semakin Gilang melebarkan senyumanya, membuat Gita semakin ketakutan.  Gita membalikan tubuhnya lalu berlari secepat kilat.


“Gita tunggu!” teriak Gilang sembari


mengejar Gita.


“Ya Tuhan kenapa orang itu terus


mengejar gue, dari mana juga dia tahu nama gue.” Gita sekuat tenaga lari. Dia


melambaikan tangan saat ada taksi yang lewat. Cepat-cepat dia langsung masuk ke


taksi.


“Pak, tolong ya cepat.” Minta Gita.


“Baik Mbak.” Sopir taksi pun langsung


Gilang ketinggalan, dia menundukkan


tubuhnya sambil mengatur napasnya yang terengah-enggah. Hampir tiga tahun tidak


bertemu kini Gita bisa lari secepat itu.


“Kenapa dia tidak mengenali gue.”


Katanya masih dengan napas ngos-ngosan.


Gilang kembali ke parkiran mengambil


mobilnya, dan segera mengejar Gita.


“Memangnya apa yang beda dari gue,


kenapa dia bisa lupa sama gue.” Gilang mengaca lewat ponselnya.


“Ah... jangan-jangan Gita sudah


melupakan gue. Tapi bagaimana bisa melupakan jelas-jelas tadi dia masih


mengakui gue sebagai pacarnya.” Kata Gilang.


Gilang mempercepat laju mobilnya, dia


berharap bisa sampai di depan rumah Gita lebih dulu.


Setengah jam Gilang sudah sampai di


depan rumah Gita, dia menyenderkan tubuhnya di mobilnya sambil melipat kedua


tangannya.


Gita yang baru saja turun dan membayar


ongkos taksi langsung menelan ludah. Melihat orang yang berpakaian jas hitam


dengan kacamata hitam berada di depan rumahnya.


“Benarkan itu om..om yang tadi, kenapa


dia bisa tahu rumah gue.” Kata Gita pelan. Dia bingung mau jalan masuk atau

__ADS_1


putar haluan berlari meminta bantuan.


“Gimana kalau dia mau culik gue, dan


menjual gue ke luar negeri. Kasihan kan nanti keluarga gue sama sahabat-sabahat


gue kalau kangen.” Ucapannya mulai ngelantur tidak jelas. Dia masih bisa bercanda dengan dirinya sendiri di saat ketakutan.


“Gita.” Panggil Gilang sembari


melepaskan lipatan tangannya. Gilang berjalan mendekati Gita.


Dan apa yang terjadi Gita berlari menghindari Gilang. Dia tidak bisa berpikir jernih, dengan menanyakan siapa orang itu. yang ada dalam pikiranya hanya om-om mesum pengganggu. Gita memukul Gilang saat tepat di depanya.


“Raka...! tolong....!” Gita berteriak


sekeras mungkin sambil lari masuk ke dalam. Dia mengunci semua pintu rapat-rapat takut dia orang yang mengenalnya itu masuk ke dalam rumah.


“Ada apa Ta?” tanya Raka heran.


“Raka...raka di luar ada orang mesum.


Dia mengikuti gue dari kampus sampai rumah. Dia juga tahu nama gue.” Kata Gita


sambil memegangi dadanya karena jantunynya berdegup kencang.


“Git.. yang ngejar laki-laki muda tau


tua?” tanya Fara.


“Om..om.” Jawab Gita.


“Ih.. kenapa lo malah kabur. Lumayan kan


kalau dapat om-om keren, tajir cepat kaya raya tanpa kerja lo." Fara tertawa renyah.


“Dasar nggak peratian sama gue. Gimana kalau gue di jual sama om-om, apa lo nggak kangen gue. Oiya, dia masih ada di depan.” Tunjuk Gita.


"Ya kalau lo di jual, lumayan kan gue dapat penghasilan. Buat tabungan nanti gue menikah sama Raka." Fara terkekeh. Gita melirik sambil berdesisi.


“Biar gue lihat.” Raka berjalan keluar


untuk bertemu orang mesum yang mengejar Gita.


Raka membuka pintu perlahan lalu


berjalan mendekati mobil yang ada di depan rumahnya. Dia menoleh kanan kiri


tapi tidak ada siapapun. Gilang memegang pundak Raka, dia langsung menarik


tangannya dan siap membanting ke lantai.


“Raka ini gue.” seru Gilang.


Raka melepaskan tangannya, lalu melihat


secara jelas orang yang ingin dia hajar itu.


“Gilang?” Raka kaget.


“Iya ini gue, lo nggak bisa kenalin gue?”


Gilang menggelengkan kepala, nggak adik nggak kakak sama saja.


“Kapan lo pulang?” Raka menarik Gilang


dalam pelukanya.


“Semalam.” Katanya sambil membalas pelukan Raka.


“Lo benar-benar berubah drastis.” Raka


melepaskan pelukannya lalu melihat Gilang dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Bagaimana, keren kan gue.” Kata Gilang


sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya. Raka mengangkat dua jempolnya, dia


pikir Gilang masih sama seperti dahulu namun kini dia terlihat seperti ceo


muda.


“Gita..” tanya Gilang sambil melihat ke dalam.


“Ah.. jadi lo yang dia maksud om-om


mesum.” Raka tertawa terbahak-bahak.


“Om..om mesum?” Gilang mengerutkan


keningnya.


“Yah, beberapa hari ini ada orang yang

__ADS_1


sering di gangguin om-om jadi dia ketakutan sendiri.” Jelas Raka.


“Ah.. Gita..Gita ada-ada saja lo. Sebentar, gue pangggilkan Gita.” Raka kembali masuk untuk membawa Gita keluar.


__ADS_2