
Gilang membuka koper, dia mulai mengemasi barang-barangnya. Dia melihat barang-barang akan dia bawa untuk menemaninya waktu di luar negeri.
"Wah.. akhirnya adik gue tercinta ini bakalan pergi jauh. Kangen banget gue pastinya." Andini masuk kamar Gilang tanpa mengetuk pintu.
"Bisa nggak Kak kalau datang itu ketuk pintu dulu. Jangan main nyelonong." Kata Gilang datar.
"Galak amat lo biasanya juga lo langsung main masuk aja ke kemar gue. Wajah lo kenapa serem begitu sih." Andini mengerutkan keningnya. Sedangkan Gilang diam saja tidak memperdulikan ocehan kakaknya itu.
"Ya elah di tanya diem saja, Lang ngomong-ngomong kenapa lo jadi mau pergi. Lo emang nggak sedih pisah sama Gita?" Andini duduk tepat di depan Gilang.
Gilang menghentikan aktifitas tangannya yang sibuk menata pakaiannya.
"Gue pergi atau nggak juga nggak juga ada pengaruhnya." jawabnya ketus sambil kembali merapikan pakaiannya.
"Kalian berantem?"
"Kita putus." Jawab Gilang dengan nada marah.
"Putus? Pasti lo kan yang menyakiti Gita. Makanya di pergi. Lo jadi cowok jangan suka menang sendiri makanya." Andini menuduh Gilang.
"Jangan asal deh Kak, dia tuh yang sakitin gue. Dia punya cowok lain. Selama ini dia anggap gue cuma mainanya." jelas Gilang.
"Dan lo percaya begitu saja?" Tanya Andini. Dia merasa ada yang janggal. Karena menurut Andini Gita itu sangat baik dan sayang sama Gilang mana mungkin dia selingkuh.
"Jelas-jelas di bilang sama pacarnya kalau gue ini hanya teman. Dia bawa itu cowok sialan di depan gue. Apa masih kurang tuh alasan buat gue putus sama dia." Gilang semakin kesal.
Rima yang mendengarkan pembicaraan kedua anaknya itu merasa sedih. Maksud yang di katakan Rima sama Gita itu hanya membujuk bukan memutuskan hubungan dengan putranya.
...♤♡♡♡♤...
"Makan Ta, dari kemarin lo sudah nggak makan." Raka memberikan satu mangkuk soto ayam.
"Gue nggak ***** makan." Gita menggeser mangkuknya.
"Kalau lo nggak mau makan, gue bakalan ngomong yang sebenarnya sama Gilang." Ancam Raka. Gita mengdengus kesal, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Jangan, gue makan iya gue makan." Gita langsung menyantap soto di hadapannya. Dia nggak mau Gilang membatalkan keberangkatannya.
"Lagian lo dapat ide itu darimana coba?" omel Fara.
"Ya dari otak gue, lo baru aja beberapa hari jadi calon kakak ipar gue ngomelnya lebih parah dari biasanya." Gita menggerutu karena sejak kemarin ngomel terus.
"Cowok mana yang lo sewa, bayar berapa?"
"David, kakak sepupu gue sama Raka. Lo mau kenalan nggak lebih ganteng loh dari Raka. Lebih romantis dan nggak songong lagi." kata Gita sambil senyum-senyum.
"Ta, kebangetan lo ya. Pacar gue mau di jodoh-jodohin orang." Raka nggak terima.
__ADS_1
"Ya kalau Fara mau nggak masalah dong, mumpung belum lama sama lo." Gita terkekeh. Raka menyentil kening Gita.
"Coba saja kalau berani, gue bongkar sekarang juga." Raka manyun.
"Ngancamnya itu mulu, nggak asyik banget." Gita memasukan soto ke dalam mulutnya sampai penuh.
"Gita." panggil seseorang dari belakang tapi Gita tak begitu mendengarnya.
"Ssst." Fara mengkode Gita dengan matanya.
"Siapa?" tanya Gita tanpa bersuara. Gita menelan nasi yang ada di dalam mulutnya lalu menoleh.
"Tante Rima." Gita bergegas menghampiri Rima. "Maaf Gita tidak tahu." Gita mencium tangan Rima.
"Iya nggak apa-apa, Gita bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Rima.
"Iya tante, mau ngobrol disini atau di taman?" tanya Gita.
"Di taman saja." Kata Rima. Dia memilih tempat yang tidak begitu rame agar lebih nyaman ngobrolnya.
Gita menghembuskan napas panjang, dia menjadi gugup lagi.
"Apa kabar Gita?" tanya Rima.
"Baik, Tante sekeluarga baik kan?"
"Mana mungkin Gita menghianati Kak Gilang. Tante tahu kan kalau Gita sayang banget sama Kak Gilang."
"Gita maafin tante ya pasti kamu sekarang ini menderita."
Gita menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum, "Gita tidak akan pernah menderita kalau Kak Gilang sukses dan bahagia."
"Tapi kenapa harus putus?"
"Itu jalan satu-satunya agar Kak Gilang mau pergi. Kak Gilang nggak akan pernah meninggalkan Gita. Jadi Gita yang harus meninggalkannya."
"Cara itu salah Gita, Gilang jadi membenci kamu."
"Tante, lebih baik Kak Gilang membenci Gita. Daripada Kak Gilang mengecewakkan tante hanya untuk Gita orang asing yang baru saja datang ke kehidupan Kak Gilang." Gita memegang tangan Rima.
"Kamu sangat baik, pasti keluarga kamu sangat bangga punya anak seperti kamu. Tante janji saat Gilang pulang nanti akan menjodohkan kalian." Rima memeluk Gita.
"Terima kasih tante, tapi soal itu tante tidak perlu berjanji sama Gita. Gita takut perasaan Kak Gilang berubah saat menemukan orang yang lebih baik dari Gita." Gita melepaskan pelukan Rima.
"Baiklah, kalaupun suatu nanti kalian tidak berjodoh mama tante akan mengangap kamu sebagai putri tante." Rima kembali memeluk Gita. Dalam hati yang terdalam Rima sangat menyayangi Gita. Meskipun Gita tidak mau di janjikan perjodohannya, tapi dia tetap berjanji akan menebus semua ini dengan menjodohkan Gilang dengan Gita.
...♤♡♡♡♤...
__ADS_1
"Gita...Gita..." panggil Fara dengan ekspresi kekepoannya.
"Apa?" tanya Gita.
"Ngobrol apa sama calon mertua?"
"Calon mertua yang tidak jadi." Kata Gita sambil berjalan menuju ke kelas.
"Nyesek banget sih ngomongnya."
"Kenyataanya kan emang begitu."
"Apa nyokapnya Kak Gilang menanyakan hubungan kalian. Atau memberi uang karena lo telah meninggal Kak Gilang?" Fara mencegat Gita.
"Fara please deh, kurangin nonton sinetron. Mamanya Kak Gilang tidak sejahat itu. Tante Rima orang baik, makannya gue nggak bisa menolak permintaannya." Kata Gilang.
"Kisah cinta remaja yang sangat tragis, saling mencinta tapi keadaan yang tak merestui." Kata Fara.
"Hah..." Gita menghala napas berat.
"Kalau kata Bondan Prakoso, apapun yang terjadi ku kan selalu ada untukmu, janganlah kau bersedih cause everything's gonna be okay." Fara merangkul Gita.
"Bisa aja lo." Gita terekeh.
...♤♡♡♡♤...
Gita pergi ke toko accecoris, dia memilih-milih gelang untuk salam perpisahan buat Gilang.
"Ini sangat bagus." Gita mengambil gelang couple. Gilang meletakkan lagi lalu memilih yang lain.
"Ini saja." Gita hendak mengambil gelangan bersamaan dengan orang lain.
"Maaf ini gue duluan." kata seorang cowok yang bebarengan mengambil gelang di cantelan.
"Ambil lah." Kata Gita lalu pergi, dia malas berdebat. Dia lebih memilih cari yang lain.
"Tunggu."
"Ya."
"Ambil. Sepertinya lo lebih membutuhkan gelang ini daripada gue." Kata cowok itu lagi.
"Tapi gue sudah tidak minat." kata Gita sambil pergi.
"Songong banget jadi cewek."
"Gue dengar." kata Gita.
__ADS_1