
Gita berjalan menunduk , tidak ada semangat lagi untuk pergi ke sekolah. Matanya yang sembab terasa perih setelah semalaman dia menangis sampai air matanya terasa kering.
Gita duduk menaruh tasnya lalu menelungkapkan kepalanya di meja, dia kembali mengingat obrolannya
bersama mamanya Gilang.
Gita memainkan tangannya, sesekali dia menoleh ke arah pintu masuk. Dia terlalu gugup hanya berdua bersama mamanya Gilang.
“Tenang saja, tante tidak akan memarahi atau mengintrogasi kamu. Tante hanya mau kenal lebih dekat sama kamu.” Rima memegang tangan Gita. Rima sedikit kaget saat menyentuhtangan Gita yang begitu dingin.
“Kamu satu kelas sama Gilang?” Tanya Rima lagi.
“Tidak tante, saya adik kelasya.” Jawab Gita pelan.
“Ah.. apa sudah lama kalian pacaran?" tanya Rima sambil ngangguk-ngangguk.
“Lumayan tante, satu tahun lebih.” Suara Gita masih terdengar ketakutan.
“Pasti Gilangbsayang banget sama kamu, baru kali ini Gilang memiliki pacar dan di bawa pulang bahkan di perkenalkan sama tante.” Rima melepaskan tangan Gita.
“Gita apa kamubtahu soal beasiswa Gilang ke Australia?” tanya Rima.
“Iya tante.”
“Kamu juga tahu kalau Gilang tidak mengambil beasiswanya karena nggak mau jauh sama kamu?” tanya Rima lagi.
“Iya tante, Gita juga tahu itu.” Gita mengangguk, dia mulai paham arah pembicaraan Rima.
“Tante tidak akan melarang ataupun berusahan memisahkan hubungan kalian berdua, tapi Gita bisakah tante minta tolong bujuk Gilang untuk mengambil beasiswa itu. Beasiswa itu adalah impian Gilang sejak lama, dia sudah belajar keras untuk mendapatkan itu. Dan ketika sudah di
depan mata dia melepaskannya itu membuat tante sedih.” Kata Rima.
Gita sudah tidakbbisa berkata-kata lagi, dia sudah berusaha membujuk Gilang dan yang terjadi justru mereka bertengkar karena Gilang gigih tidak mau pergi.
“Gita tante mohon, ini demi masa depan Gilang dan juga masa depan kamu bukan. Tante akan merestui kamu bersama Gilang sepenuhnya.” Rima memohon sama Gita.
“Baik tante,bGita akan usahakan. Gita pastikan Kak Gilang akan pergi mengambil beasiswa ke Australia.” Kata Gita. Meskipun dia belum menemukan caranya namun dia akan mengusahakan agar Gilang mau pergi mengambil beasiswanya.
“Gita kamu bilang setelah ujian berakhir ya, tante takut kalau dia marah akan merusak
ujian dia.”
“Iya tante, Gita akan lakukan apapun demi Kak Gilang.” Mata Gita berkaca-kaca.
“Makasih Gita,dan maaf tante banyak permintaan. Kamu akan menjadi mantu kesayangan tante besok.” Rima memeluk erat Gita, menurut Rima hanya Gita yang bisa membawa Gilang pergi mencapai impiannya itu.
__ADS_1
“Gita.” Fara memegang pundaknya.
“Ah.” Gita buru-buru menghapus air matanya agar Fara tidak tahu.
“Mata lo kok sembab, habis nangis ya?” Fara menunjuk area mata Gita.
“Iya, tadi malam gue begadang nonton drakor sampai hampir pagi. Mana gue nangis lagi gue semalaman.” Gita mengganti alasanya.
“Lo mulai begadang lagi, nanti ketahuan Kak Gilang di marahin loh.” Kata Anita.
“Tenang, aman. Nggak bakal lago ada yang marahin gue.” Kata Gita sambil tersenyum lebar.
“Lo udah dapat ijin sepenuhnya buat begadang, atau mentang-mentang Kak Gilang sudah nggak ada di sekolah ini lo bebas bohong ya.” Tuduh Fara.
“Nggak juga, mau di sekolah ini pun dia nggak bakalan ngelarang gue.” Kata Gita sambil mengeluarkan buku pelajarannya.
“Kok bisa.” Fara dan Anita heran.
...♤♡♡♡♤...
Seperti biasa saat bel istirahat bunyi Gita dan sahabat-sahabatnya langsung ke kantin. Gita melipir saat melihat saat melihat Gilang datang ke sekolah, dia menghilang tanpa bilang sama teman-temannya. Gita mengendap-endap lalu menguping di depan pintu.
“Bagaimana Gilang, kamu sudah mengisi formulirnya?” tanya Bu Nisa.
“Bagus, kamu menggunakan kesempatan ini dengan benar. Monika kamu juga sudah mengumpulkan?”
“Iya Buk.”
“Bayu?” Bu Nisa mencari Bayu.
“Bayu memilih kuliah di Jogja bu, jadi tidak jadi mengambilnya.” Jawab Monika.
“Ya sudah, kalian bersiap-siap saja. Minggu besok kalian sudah harus berangkat.” Kata Bu Nisa.
“Baik Buk, kami mengucapkan terima kasih telaha mengantar kami ke gerbang impian kami.” Kata Monika.
“Iya Monika, semoga kalian sukses disana.” Bu Nisa memegang pundak Gilang dan Monika. Bu Nisa sangat bangga kepada dua murid itu.
"Syukurlah, kalau sudah mengumpulkan formulirnya.
Setelah memastikan Gilang mengisi formulirnya Gita langsung kabur sebelum ketahuan Gilang. Gilang menoleh, dia seperti melihat Gita yang melintas. Dia buru-buru keluar untuk melihat.
“Ada apa Lang?” tanya Monika.
“Nggak ada apa-apa?” Gilang pergi meningalkan monika.
__ADS_1
Gita duduk di sebelah Vian lalu mengambil minum sembarangan, dia meneguk sampai hampir habis tinggalsedikit saja.
“Gita lo emang kebiasaan banget, lo kalau mau minum pesan sendiri gue udah antri lama banget malah lo habisin.” Omel Vian. Gita mengambil siomay di depannya lalu menyuapi Vian.
“Jangan berisik nanti gue belikan tiga.” Kata Gita.
“Bohong banget,lo kemarin juga bilangnya begitu.” Omel Vian.
“Nggak usah ngomel Vian, lo kan kemarin yang makan coklat di meja gue.” Gita menunjuk muka Vian dengan jari telunjuknya.
“Ok..ok, mari lupakan. Habiskan saja kalau lo doyan gelasnya juga boleh lo makan." Vian menurunkan jari telunjuk Gita.
"Emangnya gue kuda lumping makan beling." Gita menabok Vian.
“Giliran lo yang salah aja minta di lupakan, dasar!” Bentak Fara.
“Gitu tuh, cowok emang maunya menang sendiri.” Tambah Anita.
“Eh kalian kenapa jadi pada ngeroyok gue, mentang-mentang gue disini menjadi cowok paling ganteng.” Kata Vian sambil cengar-cengir.
“Idih.. punya teman narsisnya kok selangit. Oiya guys, nanti malam kita keluar yuk, gue punya pengumuman penting.” Kata Fara.
“Nggak di sini aja nih pengumumannya, gue lagi mager nih mau pergi.” Ujar Gita. Dia saja kalau tidak berangkat sekolah tidak mempengaruhi nilai dan absennya, dia mau membolos beberapa hari. Dia hanya ingin sendiri merenung di rumah mendengarkan lagu yang galau-galau. Dia ingin menikmati kesedihannya sendiri.
“Nggak bisa, ini moment yang luar biasa
jadi gue mau di tempat yang spesial.” Kata Fara.
“Gue ikut nggak nih?” tanya Vian.
“Terserah lo, ada lo atau nggak juga
nggak penting-penting amat.” Kata Fara. Vian mengangkat gelas kosong ingin
melempar ke wajah tengil Fara.
“Jangan gitu Far, begini-begini uja ada
gunanya.” Kata Gita.
“Lanjut-lanjut, ngomong sama ibuk-ibu
bakalan nggak ada benarnya gue.” Vian beranjak pergi mencari Raka yang satu
frekuensi. Gita, Fara dan Anita tertawa puas.
__ADS_1