
Vian
sudah berada di depan rumah Bella, dia mengikuti saran Gilang untuk meminta
maaf sama Bella. Dia akan merubah sikapnya dan juga mengikuti permainan dari
Bella. Dan dia juga harus menunjukan perhatannya yang kecil-kecil tanpa dia
minta dan dia sadari.
“Pagi.”
Sapa Vian saat Bella keluar rumah dengan senyuman yang tidak biasanya.
“Pagi.”
Jawan Bella dengan sangat pelan, heran, dan juga bingung kenapa Vian datang
lagi menjemputnya.
“Pagi-
pagi kok bengong sih, udah sarapan belum?” Tanya Vian.
“Belum,
eh..udah.” Bella gugup.
“
Yang benar udah apa belum?” Vian
memastikan.
“Belum..
eh.” Bella memnutup mulutnya, dia
gelepotan ngomongnya.
“Kalau
gitu kita cari sarapan dulu yuk.” Vian menarik tangan Bella dan membawanya ke
mobil. Vian membawa Bella mencari sarapan di sekitar jalan menuju kator.
“Mau
makan apa?” tanya Vian.
“Terserah.”
Jawab Bella.
“Jangan
terserah dong, nggak ada tuh makanan terserah. Bubur mau?”
“Iya.”
Jawab Bella cepat.
“Atau
nasi uduk?” Vian kembali memberikan pilihan kepada Bella.
“Itu
juga boleh.” Jawab Bella lagi, dia hanya bisa mengiyakan apa yang di katakan
Vian.
“Sebenarnya
lo mau makan bubur apa nasi uduk?” Vian menatap Bella.
“Gue
ikut lo aja, mau apa aja gue ikut.” Bella bingung memutuskan apa yang mau dia
makan.
Berarti
kalau pagi ini gue bawa lo ke KUA lo juga bakalan ikut dong?” goda Vian.
“KUA,
nggak lah nggak mau ikut.”
“Lohtadi
katanya apa saja ikut, kan aku maunya ke KUA sama lo.”
“Iya
udah aku mau nasi uduk.” Jawab Bella cepat.
“Nah
begitu kan enak jadinya.” Kata Vian.
Vian
memarkirkan mobilnya di satu tempat makan di pinggir jalan, dia segera memesan
dua porsi nasi uduk sama teh hangat.
“Kenapa
lagi Vian, kenapa jadi baik banget lagi. Apa dia lupa kemarin udah marah-marah
begitu.” Batin Bella.
“Bengong
mulu sih, masih pagi kok kebanyakan bengong. Memang apaan sih yang lo pikirin?”
Vian memberikan piring berisikan nasi uduk yang lumayan banyak untuk porsi
Bella.
“Ini
banyak banget?” Bella tidak menjawab pertanyaan Vian, dia langsung mengalihkan
ke nasi uduk.
“Biar
kamu sehat, makan yang banyak.”
“Tapi
ini banyak banget loh, kalau gue nggak habis gimana coba?” Bella masih saja
menatap piring nasi uduk, tak kunjung memakannya.
“Makan
saja dulu.”
Bella
pun mengangguk dan melahap sarapan yang bisa di bilang istimewa, karena baru
kali ini dia diajak sarapan bareng sama seseorang cowok yang notabennya sedang
mendekati dirinya. Biasanya kalau sarapan kalau tidak sama orang tuannya ya
sama anak-anak panti.
Bella
makan dengan lahap, sampai nggak sadar makannya gelepotan. Vian mendekat kearah
__ADS_1
Bella. Dia membersihkan gelepotan di arean bibir Vian dengan ibu jarinya.
Bella
sedikit memudurkan wajahnya, dia deg-degana tidak karuan di buat oleh Vian.
“Lo
grogi ya? Sampai keringetan begitu.” Vian mengambil tisu lalu mengelap keringat
Bella yang menetes di area kening. Bella pun langung memiminta tisu dari tangan
Vian namun tidak di berikan sama dia.
“Gue
nggak bakalan modusin lo, begini lalu mencium lo tenang saja.” Kata Vian.
“Gue
juga nggak kepikiran kayak begitu kok, orang ini keringetan karena nasi uduknya
pedas.” Bella beralasan.
“Ah..
pedas.” Vian mengangguk-angguk sambil tersenyum jelas-jelas makanannya sama
sekali tidak pedas membuat Vian semakin yakin kalau Bella gugup.
“Aih..
Bella kenapa lo bilang makananya pedas jelas-jelas tadi gue minta yang nggak
pedas.” Batin Bella sambil menepuk jidatnya saat Vian tidak melihat ke arahnya.
Selesai
sarapan Vian dan Bella melanjutkan perjalannaya ke kantor, dan seperti kemarin
Bella pergi lebih dulu ke ruangannya.
“Barengan
lagi nih.” Kata Fara.
“Bareng
tadi dari depan.” Jawab Vian lebih dulu. Bella heran kenapa Vian menjawab seperti itu padahal dirinya mau jujur
kalau sebenarnya mereka berangkat bareng.
“Apa
dia sudah tidak marah soal kejadian kemarin?” batin Bella.
“Hey..
Bella, bengong aja masuk nanti di ketabrak orang loh.” Kata Gita.
“Ah..
iya.” Bella langsung buru-buru duduk di kursinya.
“Oiya,
besok kita ada syuting kan di perkemahan.” Kata Ina.
“Iya,
malas banget gue lagi pingin mager-mageran malah kerjaan di luar ruangan.” Kata
Fara.
“Lo
mah maunya mager-mageran mulu.” Kata Vian.
“Kayak
lo juga enggak..”
artisnya siapa?”
“Katanya
sih Radit sama Aura.” Jawab Bella.
“Wow..
masih nih perusahaan menggunakan mereka.” Kata Fara dengan nada tidak suka.
“Jangan
begitu ah, semua orang punya kesempatan kedua.”
“Vian,
lo tampaknya hari ini bahagia banget?” Gita beranjak dari kursinya dan
mendekati Vian.
“Apaan
sih lo, gue biasa aja.”
“Masa?” Gita menarik dagu Vian, kemudian melihat
dengan sangat jelas garis wajah Vian.
“Bohong
lo.” Katanya sambil melepaskan dagu Vian.
“Gue
rasa Vian sedang jatuh cinta.” Sahut Nino sambil memutar kursinya. Bella yang
tidak ingin terlibat langsung sok sibuk dengan file-filenya.
“Syukur
kalau begitu, gue juga ikut senang kalau lo bahagia.” Kata Ina memberikan
dukungan kepada Vian.
“Makasih
Mbak Ina, semoga mbak Ina juga lekas mendapatkan jodoh yang terbaik. Jangan
sama Mas Win aja, dia nggak ada kemajuan.” Vian mulai menyenggol Win yang sejak
tadi juga nggak ingin terlibat.
“Vian,
lo nggak perlu bawa-bawa gue.” Ujarnya.
“Tentu
saja, aku juga sudah menemukan satu laki-laki yang menyayangi gue. Kapan-kapan
gue kenalin sama kalian.” Kata Ina dengan tersenyum lebar di bibirnya.
Win
hanya berdesis, “Kembali kerja lagi, kerjaan kita banyak jangan ngobrol saja.”
Kata Win dengan nada tegas namun tidak ada satu orang pun yang takut atau
menganggapnya serius. Mereka semua terlalu menistakan ketua teamya.
“Kerja-kerja,
biar bisa halalin anak orang.” Seru Vian.
__ADS_1
“Kerja-kerja
buat jajan.” Sahut Gita.
“Kerja-kerja
buat bayar cicilan.” Nino ikut menyahutnya.
“Dibilang
suruh kerja malah bercanda saja kalian, nggak lihat apa muka gue udah marah
begini?” kata Win.
“Nggak
lihat.” Jawabnya serentak lalu menatap layar laptopnya masing-masing.
“Ya
Tuhan, beri kesabaran mendapatkan team yang bandelnya minta mapun ini.” Omel
Win dan teamnya hanya bisa menahan mendengar omelan demi omelan yang terlontar
dari Win.
“Eh..
kita kan besok mau pergi. Ke supermarket dulu yuk cari makanan buat besok.”
Kata Gita.
“Setuju.”
“Mas
Win, ijin keluar ya mau cari makanan buat besok.” Gita ijin.
“OK.
Vian lo ikut sama mereka.” Suruh Win.
“Siap
Mas.”
“Ikut
ah gue.” Nino nggak mau di tinggal bareng Win doang.
“Lo
temani gue disini kok malah ikut mereka.” Kata Win.
“Gue
juga mau ikut belanja. Jadi gue memutuskan ikut.”
“Serah
lo lah.”
“Ikut
saja kenapa Mas, kan ini juga udah jam pulang kerja sekalian saja kita makan
malam.” Kata Fara.
“Iya
Mas, yuk ikut saja biar seru.” Tambah Bella.
“Baiklah,
gue ikut kalian tunggu saja di bawah gue mau beresin ini dulu.” Kata Win.
“OK.”
Para
cewek-cewek langsung siap mengambil makaan apa saja yang akan di bawanya besok.
Sedangkan para cowok mengikutinya di belakang sambil mendorong troli.
“Kita
mau kerja loh bukan piknik, masa cari makanan sebanyak ini.” Kata Win.
“Justru
kalau kerja persediaan makanan harus banyak, kan kita butuh tenaga extra.
Piknik mah nggak akan memakan tenaga banyak.” Sahut Ina sambil memasukan snack
ke troli.
“Iya,
kita butuh makanan-makanan agar semangat.” Bella juga tak kalah dengan yang
lain memasukan makanan yang dia mau.
Bella
berjalan cepat meninggalkan Vian yang membawa trolinya, dia terlalu exaited
saat untuk memilih makanan. Vian pun akhirnya mempercepat jalannya agar tidak
kehilangan Bella.
Vian
menarik tangan Bella saat dia tidak memperhatikan jalan dan hendak menabrak
troli yang ada di depannya.
“Hati-hati.”
Kata Vian.
“Ah..
iya maaf. Lo mau ini nggak?” tanya Bella sambil mengambil biscuit.
“Boleh.”
“Yuk..
kita kesana lagi.” ajak Bella untuk memilih makanan lagi.
Sebelum
pulang mereka mencari tempat makan dekat supermarket.
“Bakso
aja yuk itu.” Gita menunjuk gerobak di samping supermarket.
“Yuk
siapa yang mau bakso tunjuk jari, kita voting.” Kata Win.
“Lo
mau bakso?” tanya Vian. Bella mengangguk.
“Kalau
lo mau yang lain ngomong saja, gue temani lo makan.” Vian menawari Bella,
takutnya dia tidak berani menyuarakan pilihannya jadi nurut saja orang mau apa.
“Nggak
kok, gue mau bakso.”
__ADS_1
Ayo
kita serbu baksonya saudara-saudara.” Ajak Nino.