Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Part Vian-Bella


__ADS_3

Vian


sudah berada di depan rumah Bella, dia mengikuti saran Gilang untuk meminta


maaf sama Bella. Dia akan merubah sikapnya dan juga mengikuti permainan dari


Bella. Dan dia juga harus menunjukan perhatannya yang kecil-kecil tanpa dia


minta dan dia sadari.


“Pagi.”


Sapa Vian saat Bella keluar rumah dengan senyuman yang tidak biasanya.


“Pagi.”


Jawan Bella dengan sangat pelan, heran, dan juga bingung kenapa Vian datang


lagi menjemputnya.


“Pagi-


pagi kok bengong sih, udah sarapan belum?” Tanya Vian.


“Belum,


eh..udah.” Bella gugup.



Yang benar udah apa belum?”  Vian


memastikan.


“Belum..


eh.”  Bella memnutup mulutnya, dia


gelepotan ngomongnya.


“Kalau


gitu kita cari sarapan dulu yuk.” Vian menarik tangan Bella dan membawanya ke


mobil. Vian membawa Bella mencari sarapan di sekitar jalan menuju kator.


“Mau


makan apa?” tanya Vian.


“Terserah.”


Jawab Bella.


“Jangan


terserah dong, nggak ada tuh makanan terserah. Bubur mau?”


“Iya.”


Jawab Bella cepat.


“Atau


nasi uduk?” Vian kembali memberikan pilihan kepada Bella.


“Itu


juga boleh.” Jawab Bella lagi, dia hanya bisa mengiyakan apa yang di katakan


Vian.


“Sebenarnya


lo mau makan bubur apa nasi uduk?” Vian menatap Bella.


“Gue


ikut lo aja, mau apa aja gue ikut.” Bella bingung memutuskan apa yang mau dia


makan.


Berarti


kalau pagi ini gue bawa lo ke KUA lo juga bakalan ikut dong?” goda Vian.


“KUA,


nggak lah nggak mau ikut.”


“Lohtadi


katanya apa saja ikut, kan aku maunya ke KUA sama lo.”


“Iya


udah aku mau nasi uduk.” Jawab Bella cepat.


“Nah


begitu kan enak jadinya.” Kata Vian.


Vian


memarkirkan mobilnya di satu tempat makan di pinggir jalan, dia segera memesan


dua porsi nasi uduk sama teh hangat.


“Kenapa


lagi Vian, kenapa jadi baik banget lagi. Apa dia lupa kemarin udah marah-marah


begitu.” Batin Bella.


“Bengong


mulu sih, masih pagi kok kebanyakan bengong. Memang apaan sih yang lo pikirin?”


Vian memberikan piring berisikan nasi uduk yang lumayan banyak untuk porsi


Bella.


“Ini


banyak banget?” Bella tidak menjawab pertanyaan Vian, dia langsung mengalihkan


ke nasi uduk.


“Biar


kamu sehat, makan yang banyak.”


“Tapi


ini banyak banget loh, kalau gue nggak habis gimana coba?” Bella masih saja


menatap piring nasi uduk, tak kunjung memakannya.


“Makan


saja dulu.”


Bella


pun mengangguk dan melahap sarapan yang bisa di bilang istimewa, karena baru


kali ini dia diajak sarapan bareng sama seseorang cowok yang notabennya sedang


mendekati dirinya. Biasanya kalau sarapan kalau tidak sama orang tuannya ya


sama anak-anak panti.


Bella


makan dengan lahap, sampai nggak sadar makannya gelepotan. Vian mendekat kearah

__ADS_1


Bella. Dia membersihkan gelepotan di arean bibir Vian dengan ibu jarinya.


Bella


sedikit memudurkan wajahnya, dia deg-degana tidak karuan di buat oleh Vian.


“Lo


grogi ya? Sampai keringetan begitu.” Vian mengambil tisu lalu mengelap keringat


Bella yang menetes di area kening. Bella pun langung memiminta tisu dari tangan


Vian namun tidak di berikan sama dia.


“Gue


nggak bakalan modusin lo, begini lalu mencium lo tenang saja.” Kata Vian.


“Gue


juga nggak kepikiran kayak begitu kok, orang ini keringetan karena nasi uduknya


pedas.” Bella beralasan.


“Ah..


pedas.” Vian mengangguk-angguk sambil tersenyum jelas-jelas makanannya sama


sekali tidak pedas membuat Vian semakin yakin kalau Bella gugup.


“Aih..


Bella kenapa lo bilang makananya pedas jelas-jelas tadi gue minta yang nggak


pedas.” Batin Bella sambil menepuk jidatnya saat Vian tidak melihat ke arahnya.


Selesai


sarapan Vian dan Bella melanjutkan perjalannaya ke kantor, dan seperti kemarin


Bella pergi lebih dulu ke ruangannya.


“Barengan


lagi nih.” Kata Fara.


“Bareng


tadi dari depan.” Jawab Vian lebih dulu.  Bella heran kenapa Vian menjawab seperti itu padahal dirinya mau jujur


kalau sebenarnya mereka berangkat bareng.


“Apa


dia sudah tidak marah soal kejadian kemarin?” batin Bella.


“Hey..


Bella, bengong aja masuk nanti di ketabrak orang loh.” Kata Gita.


“Ah..


iya.” Bella langsung buru-buru duduk di kursinya.


“Oiya,


besok kita ada syuting kan di perkemahan.” Kata Ina.


“Iya,


malas banget gue lagi pingin mager-mageran malah kerjaan di luar ruangan.” Kata


Fara.


“Lo


mah maunya mager-mageran mulu.” Kata Vian.


“Kayak


lo juga enggak..”


artisnya siapa?”


“Katanya


sih Radit sama Aura.” Jawab Bella.


“Wow..


masih nih perusahaan menggunakan mereka.” Kata Fara dengan nada tidak suka.


“Jangan


begitu ah, semua orang punya kesempatan kedua.”


“Vian,


lo tampaknya hari ini bahagia banget?” Gita beranjak dari kursinya dan


mendekati Vian.


“Apaan


sih lo, gue biasa aja.”


“Masa?”  Gita menarik dagu Vian, kemudian melihat


dengan sangat jelas garis wajah Vian.


“Bohong


lo.” Katanya sambil melepaskan dagu Vian.


“Gue


rasa Vian sedang jatuh cinta.” Sahut Nino sambil memutar kursinya. Bella yang


tidak ingin terlibat langsung sok sibuk dengan file-filenya.


“Syukur


kalau begitu, gue juga ikut senang kalau lo bahagia.” Kata Ina memberikan


dukungan kepada Vian.


“Makasih


Mbak Ina, semoga mbak Ina juga lekas mendapatkan jodoh yang terbaik. Jangan


sama Mas Win aja, dia nggak ada kemajuan.” Vian mulai menyenggol Win yang sejak


tadi juga nggak ingin terlibat.


“Vian,


lo nggak perlu bawa-bawa gue.” Ujarnya.


“Tentu


saja, aku juga sudah menemukan satu laki-laki yang menyayangi gue. Kapan-kapan


gue kenalin sama kalian.” Kata Ina dengan tersenyum lebar di bibirnya.


Win


hanya berdesis, “Kembali kerja lagi, kerjaan kita banyak jangan ngobrol saja.”


Kata Win dengan nada tegas namun tidak ada satu orang pun yang takut atau


menganggapnya serius. Mereka semua terlalu menistakan ketua teamya.


“Kerja-kerja,


biar bisa halalin anak orang.” Seru Vian.

__ADS_1


“Kerja-kerja


buat jajan.” Sahut Gita.


“Kerja-kerja


buat bayar cicilan.” Nino ikut menyahutnya.


“Dibilang


suruh kerja malah bercanda saja kalian, nggak lihat apa muka gue udah marah


begini?” kata Win.


“Nggak


lihat.” Jawabnya serentak lalu menatap layar laptopnya masing-masing.


“Ya


Tuhan, beri kesabaran mendapatkan team yang bandelnya minta mapun ini.” Omel


Win dan teamnya hanya bisa menahan mendengar omelan demi omelan yang terlontar


dari Win.


“Eh..


kita kan besok mau pergi. Ke supermarket dulu yuk cari makanan buat besok.”


Kata Gita.


“Setuju.”


“Mas


Win, ijin keluar ya mau cari makanan buat besok.” Gita ijin.


“OK.


Vian lo ikut sama mereka.” Suruh Win.


“Siap


Mas.”


“Ikut


ah gue.” Nino nggak mau di tinggal bareng Win doang.


“Lo


temani gue disini kok malah ikut mereka.” Kata Win.


“Gue


juga mau ikut belanja. Jadi gue memutuskan ikut.”


“Serah


lo lah.”


“Ikut


saja kenapa Mas, kan ini juga udah jam pulang kerja sekalian saja kita makan


malam.” Kata Fara.


“Iya


Mas, yuk ikut saja biar seru.” Tambah Bella.


“Baiklah,


gue ikut kalian tunggu saja di bawah gue mau beresin ini dulu.” Kata Win.


“OK.”


Para


cewek-cewek langsung siap mengambil makaan apa saja yang akan di bawanya besok.


Sedangkan para cowok mengikutinya di belakang sambil mendorong troli.


“Kita


mau kerja loh bukan piknik, masa cari makanan sebanyak ini.” Kata Win.


“Justru


kalau kerja persediaan makanan harus banyak, kan kita butuh tenaga extra.


Piknik mah nggak akan memakan tenaga banyak.” Sahut Ina sambil memasukan snack


ke troli.


“Iya,


kita butuh makanan-makanan agar semangat.” Bella juga tak kalah dengan yang


lain memasukan makanan yang dia mau.


Bella


berjalan cepat meninggalkan Vian yang membawa trolinya, dia terlalu exaited


saat untuk memilih makanan. Vian pun akhirnya mempercepat jalannya agar tidak


kehilangan Bella.


Vian


menarik tangan Bella saat dia tidak memperhatikan jalan dan hendak menabrak


troli yang ada di depannya.


“Hati-hati.”


Kata Vian.


“Ah..


iya maaf. Lo mau ini nggak?” tanya Bella sambil mengambil biscuit.


“Boleh.”


“Yuk..


kita kesana lagi.” ajak Bella untuk memilih makanan lagi.


Sebelum


pulang mereka mencari tempat makan dekat supermarket.


“Bakso


aja yuk itu.” Gita menunjuk gerobak di samping supermarket.


“Yuk


siapa yang mau bakso tunjuk jari, kita voting.” Kata Win.


“Lo


mau bakso?” tanya Vian. Bella mengangguk.


“Kalau


lo mau yang lain ngomong saja, gue temani lo makan.” Vian menawari Bella,


takutnya dia tidak berani menyuarakan pilihannya jadi nurut saja orang mau apa.


“Nggak


kok, gue mau bakso.”

__ADS_1


Ayo


kita serbu baksonya saudara-saudara.” Ajak Nino.


__ADS_2