
Gita menuruni tangga perlahan sambil mengerutkan keningnya ketika melihat di
rumahnya sangat rame. Dia kemudian berjalan mendekati mamanya yang sedang
menyiapkan kue. Gita menyelomot satu, dan reflek Wanda menepuk tangan Gita.
“Tangannya bersih nggak?” kata Wanda.
“Bersih.” Gita menunjukan kedua jarinya ke hadapan mamanya. “Mau ada apa sih ma rame-rame begini?” kata Gita sambil melihat sekeliling yang banyak orang bersih-bersih rumahnya.
“Lo gimana sih, kan Gilang mau datang kesini sama keluarganya.” Kata Raka yang
sedang berjalan mendekati Gita dan Wanda.
“Kak Gilang sama keluarganya mau ngapain?” Tanya Gita dengan polosnya sambil makan kue yang masih di pegangnya.
“Ma, yakin mau lanjut acaranya.” Raka duduk di samping Wanda.
“Memangnya ada acara apaan sih? Gita beneran nggak tahu apa-apa.” Gita masih bingung dengan apa yang di bicarakan Raka dengan mamanya.
“Sayang, Gilang kan mau melamar kamu jadi kita masak besar dan juga bersih-bersih
rumah.” Jelas Wanda.
“Kak Gilang mau melamar Gita malam ini?” Gita membelalakan kedua matanya. Dia kaget banget karena Gilang tidak ngomong apa-apa sama dirinya. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi ke kamarnya untuk menghubungi Gilang.
“Gilang memangnya nggak kasih tahu lo?” Kata Raka.
“Nggak.” Jawabnya sembari berlari.
Gita mengetuk-ketukan jari telunjuknya saat Gilang tak kunjung mengangkat telponnya.
“Kak Gilang lagi kemana sih, kok nggak diangkat.” Kata Gita semakin cepat mengetukan jari telunjuknya.
“Iya sayang.” Jawab Gilang.
“Sayang, beneran kamu mau melamar aku malam ini?” Cerocos Gita.
“Iya.” Jawab Gilang dengan santai.
“Kok nggak bilang sih kamu, kan aku perlu siap-siap.”
“Memangnya mau siapin apaan?”
“Ya kan aku perlu merancang kata-kata.” Kata Gita.
“Kan yang perlu merancang kata-kata aku, dan kamu tinggal jawab iya saja.”
“Memangnya hanya satu kata jawabnya?” Tanya Gita.
“Memangnya kamu mau menjawab apa? Kamu nggak mau gitu menerima lamaran aku?”
“Ya nggak tahu, makanya aku harus siap-siap untuk merangkai kata.” Kata Gita.
“Heh! Nyebelin banget kamu ya. Awas saja kalau jawaban kamu tidak iya.” Ancam Gilang.
“Kamu kok maksa, kan nggak boleh memaksa.” Kata Gita menggoda Gilang.
“Jangan macam-macam ya kamu sayang, atau mau aku bawain penghulu sekalian malam ini.” Gilang memberi ancaman lagi.
“Hehehe.. udah ah.. Gita siap-siap dulu.” Gita memutus sambungan telponya lalu kembali turun ke bawah. Padahal Gilang belum selesai bicaranya.
“Ma, Gita pakai baju apaan? Kak Gilang datang jam berapa? Kenapa mama nggak ngasih tahu Gita dulu. Kan jadi belum siap-siap.” Omel Gita.
“Ikut mama.” Wanda bangun setelah menyelesaikan menyiapkan kue.
Wanda meminta Gita untuk memakai pakaian yang sudah dia siapkan untuknya, dan akan
mendandani putrinya itu dengan dandanan yang sangat simpel saja. Karena
kedatangan Gilang kali ini baru meminta persetujuan dari papanya Gita. Dan akan dilaksanakan tunangan yang meriah kalau
__ADS_1
memang Gita setuju menerima pinangan Gilang dan mendapatkan restu dari papanya.
...♤♡♡♤...
Gilang sudah ketar-ketir saja dari rumah, dia takut kalau papa Gita tidak
menyetujuhinya dan menyuruh dirinya untuk meninggalkan putrinya. Gilang baru
beberapa kali bertemu dengan Seno itupun tidak lama. Jadi Gilang tidak tahu
bakalan dapat restu atau tidak.
“Lang, lo tegang amat?” tanya Andini sambil terkekeh melihat wajah adiknya.
“Gue takut Kak, gimana kalau papanya Gita tidak setuju. Karena kemarin pas ngobrol
sama mamanya semua keputusan ada di papanya jadi gue harus minta ijin sama
papanya.” Gilang melihat Andini dengan sangat cemas.
Rima memegang tangan Gilang, “Kamu jangan cemas, yakin saja. Keluarga Gita itu
sangat baik. Dan kalau mama lihat itu mereka tidak terlalu memaksakan
kehendaknya sendiri seperti orang-orang jaman dulu. Pasti mereka memikirkan
kebahagiaan putrinya. Dan tentu akan
mendengarkan pendapat anak-anaknya.” Jelas Rima. Rima menenangkan Gilang, dia percaya kalau keluarga Gita akan menerima putranya dengan kedua tangan yang terbuka.
Rima memang belum pernah ketemu keluarganya Gita secara langsunng namun dia bisa melihat dari keseharian Gita tahu kalau keluarganya sangat baik dan sederhan meskipun mereka orang berpunya.
Gilang menghembuskan napas panjang, kemudian memejamkan mata sebentar untuk mengurangibkegugupannya. Rima menggandeng tangan putranya sambil tersenyum, mengisyaratkan kalau semuannya akan baik-baik saja.
“Selamat malam.” Rima menyapa Wanda dan Seno yang sudah menunggu kedatangan keluarga Gilang.
“Selamat malam, selamat datang di rumah kami.” Wanda menjawab sapaan dari Rima.
“Ayo, langsung masuk saja.” Kata Seno. Dia tidak membiarkan tamunya lama berdiri di depan pintu. Dengan sambutan yang hangat dari orang tua Gita terutama papa Gita
Setelah lumayan mengobrol, Gilang belum juga melihat Gita dia mengirim pesan pun tidak dibalas.
“Begini Mama Gita dan Papa Gita, tujuan saya datang kesini ada maksud untuk melamarkan Gilang putra saya untuk Gita putri kalian.” Rima membuka pembicaraan yang serius.
“Benar seperti itu Nak Gilang?” Seno menatap Gilang. Seketika Gilang menegang dan memegang tangan mamanya erat.
“Iiya, Pa..ah maksud saya om.” Gilang gugup sampai salah menyebut Seno. Tububnya berkeringat.
“Saya tidak bisa memutuskan untuk menerima atau menolak lamaran kamu, tapi sebagai orang tua berhak mengetahui calon suami untuk putrinya. Jadi apa boleh Om
mengajukan pertanyaan untuk kamu?” Kata Seno.
“Iya Om, tentu saja om boleh menanyaka apapun.” Kata Gilang dengan cepat meskipun dengan nada yang masih bergetar.
“Dari banyaknya wanita di dunia ini kenapa kamu memilih putri om, dia nggak pandai
masak, belajar juga nggak pinter juga, kadang ceroboh, dan beberapa hal lain
yang mungkin akan membuatmu kesal.” Seno menggambarkan keseharian dari putrinya.
“Memang yang om katakan benar, memang dia beda dari kebanyakan cewek saya. Tapi Gita itu sangat baik dan tulus, dia selalu saja memikirkan orang lain daripada
dirinya sendiri. Dia menolong tanpa memandang siapa yang dia tolong, dia juga
mau berteman dengan siapa saja. Dan sejak saat melihatnya saya sudah mencintai
putri om, dari sebelum mengenalnya sampai harus berjuang mendapatkannya. Dan
untuk menyempurnakan memiliki Gita, saya meminta restu sama om untuk meminang
Gita.” Dengan tegas Gilang berucap meminta restunya.
__ADS_1
“Apa yang bisa kamu berikan kepada putri om?”
“Apapun yang Gilang punya, bahkan kalau harus nyawa Gilang pun bersedia untuk
memberikannya.”
“Baiklah Gilang, Om memberikan restu sama kamu dengan beberapa syarat.” Kata Seno serius membuat Gilang yang sempat menghela napas lega menjadi cemas lagi takut tak mampu menyanggupi persyaratan dari papa Gita.
“Apa Om?” tanya Gilang.
“Kamu harus menyayangi Gita sepenuh hati, dan jangan pernah membuat Gita menangis. Om tidak segan mengambil dari kamu lagi kalau sampai kamu melukai anak om, dan
menghianati dengan kamu pergi sama perempuan lain.”
“Iya Om, Gilang janji anak selalu membahagiakan Gita selamanya.” Jawab Gilang denganbpenuh keyakinan.
“Ma, panggil Gita kesini.” Pinta Seno.
“Iya Pa.” Wanda pergi ke kamarnya lalu mengajak Gita keluar untuk menemui Gilang beserta keluarganya.
Gilang tersenyum lebar melihat Gita keluar dan berjalan menuju sofa, matanya berbinar bahagia melihat gadis pujaan hatinya sebentar lagi akan menjadi miliknya
seutuhnya.
“Yaampun manis banget sih calon mantu mama.” Puji Rima.
“Iya, Gita malam ini lo cantik banget.” Puji Andini.
“Makasih Ma , Kak.” Gita malu-malu.
“Gita, Gilang datang kemari untuk meminang kamu. Apa kamu mau menerimanya atau
menolak?” Tanya Seno.
“Tentu saja Gita akan menerimanay.” Kata Gita dengan sangat cepat membuat Gilang danbjuga Rima dan Andini berapas lega lebih cepat. Gita tidak mau mengulur-ngulur
waktu untuk mengerjai Gilang, dia tidak tega melihat wajahnya yang sudah pucat
karena cercaan dari papanya.
Setelah pinangan Gilang di terima, mereka lanjut makan malam dan membahas pertunangan serta pernikahan Gita.
Gita yang sejak tadi duduk di dekat mama dan papanya berjalan mendekati Gilang.
“Sayang..” panggilnya pelan.
“Em..” Gilang menaruh piringnya lalu memutar sedikit tubuhnya sehingga menghadap ke arah Gita.
“Kita ngobrol di depan yuk.” Kata Gita dengan pelan agar tak di dengar sama yag lain. Gilang menganggguk lalu berjalan mengikuti Gita keluar.
“Ada apa sayang.” Gilang memegang pipi Gita setelah mereka berdua ada di teras.
“Kamu mau datang kok nggak bilang sama aku sih?”
“Ya kan suprize. Lagian kamu juga sering banyak alasan kan kalau aku mau melamar
kamu.”
“Hehehe..” Gita merenges.
“Kamu cantik banget sih malam ini.” Gilangmencubit pipi Gita.
“Iya dong, kan ini malam spesial jadi harus cantik.” Gita berpose sok imut.
“Bisa aja.” Gilang menyentuh hidung Gita lalu menarik Gita ke dalam pelukannya.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Gilang.
"Senang banget." jawabnya dengan wajah sumringah.
"Nggak nyangka ya hari ini udah tiba, kemarin-kemarin rasanya masing belum terbayang sedikit pun." Ujar Gilang.
__ADS_1
"Iya, akhirnya kita akan menikah."
Malam yang luar biasa bagi Gita dan Gilang, satu langkah ke depan sudah terlaksana, langkah menuju janji suci sehidup semati.