Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Curhatan Fara


__ADS_3

Fara membuka lembaran buku dengan keras, dia sesekali melirik kearah Raka yang masih


fokus dengan tugasnya. Dia sudah mulai bosan sejak berangkat kuliah sudah di


cuekin Raka. Raka yang sekarang beda dengan yang dulu.


Sekarang dia lebih fokus dalam belajarnya di bandingkan dulu, jadi dia lebih sering juga


menghabiskan waktu untuk belajar daripada duduk ngobrol sama dirinya saat di kampus.


“Kenapa?” tanya Raka. Sebenarnya dia peka dan tahu kalau Fara sudah bosan ketika mulai membuka buku bersuara dengan nada keras. Tapi dia diam saja karena kerjaanya nanggung tinggal sedikit.


“Masih saja tanya kenapa, sebanrnya gue ini apa sih disini pajangan.” Fara menutup bukunya kemudian menaruhnya ke dalam tas. Dia memberesi barang-barangnya.


“Tunggu sebentar, sebentar lagi kelar tugas aku. Jangan ngambek terus cantik .” Raka memegang tangan Fara sebelum dia kabur.


“Gue lapar, gue mau ke kantin dulu.” Fara melepaskan tangan Raka.


“Baiklah nanti gue samperin kesana kalau udah kelar.” Kata Raka. Fara berdecak karena dia tidak mengikutinya, Fara berjalan sambil menggerutu Raka yang menjengkelkan, dan tidak asyik lagi.


“Eh.. nona kenapa jalanya merengut macam tuh, dimana tuan muda Raka?” sambut Vian


sembari berjalan berjajar dengan Fara.


“Noh masih sibuk sama kerjaanya, dari tadi pacarnya dianggurin. Di kiranya gue


gantungan kunci yang di bawa kemana-mana tapi nggak di perhatikan sama sekali.” Omel Fara.


“Uluh..uluh... kasian banget lo. Gita kemana?”


“Lagi kencan.” Jawabnya ketus.


“Kencan? Sama siapa? Udah move on dari Gilang?” Vian kepo.


“Ya tentu saja tidak bisa move on, orang dia kencannya juga sama Kak Gilang.” Jelas


Fara.


“Gilang pulang? Kapan? Kok gue nggak tahu?” Vian ribut.


“Dari kemarin, lo jangan ribut saja Vian gue sedang kesal. Sekaran lo pesan makanan


yang banyak buat gue. Gue mau makan.” Fara menyuruh Vian.


“Lo bukanya lagi diet, kenapa pesan makanan banyak.”


“Bodo amat sama diet, gue mau makan pokoknya.” Seru Fara di telinga Vian.


“Awas saja besok ngelu karena berat badan lo naik.” Gerutu Vian sambil pergi memesankan makanan untuk Fara.


Vian agak ngeri melihat cara makan Fara, dia makan seperti orang kesurupan. Bahkan


***** makanya menjadi menurun. Bisa di kata dia sudah kenyang tanpa makan


melihat Fara makan.


“Far, lo pelan-pelan saja kenapa makanya. Nggak ada yang minta ini." Kata Vian.

__ADS_1


“Diem, brisik.” Kataya dengan makanan yang penuh di mulutnya.


“Far, lo makan sebanyak ini kalau nanti sakit perut bagaimana?” tanya Vian.


“Lebih sakit lagi kalau di abaikan.” Fara tidak mendengarkan omongan Vian.


“Susah banget sih ngomong sama cewek, nanti kalau sakit aja nangis.” Gerutu Vian


pelan.


...♤♡♡♡♤...


Fara melempar tasnya ke kasur lalu dia menjatuhkan tubuhnya juga, dia memegangi perutnya yang terasa begah.


“Kenapa tiba-tiba perut gue sakit begini.” Kata Fara. Fara berlari ke kamar mandi ketika merasa perutnya mual dan ingin muntah.


“Wooooekkk...wooeeekkkk..." Semua makanan yang sudah masuk dengan sempurna di perutnya kini di buang lagi.


“Hah....” Fara mencuci mulutnya. Dia duduk di lantai merasakan tubuhnya yang mendadak lemas. Setelah sedikkit membaik dia kembali ke kasurnya. Dia masuk ke dalam


selimutnya.


Deertttzzz...deeertzzz.... ponselnya berdering.


“Halo..” kata Fara lemas.


“Lo kok lemas begitu Far, sakit?” tanya Gita.


“Iya, gue sedikit tidak enak badan.”


“Gue dirumah.”


“Baiklah, tunggu gue disana sebentar.”


Tak selang lama dari telpon, Gita sudah sampai di kamar Fara membawakan susu hangat dan obat yang dia belinya dari apotik.


“Lo kenapa hamil?” Goda Gita sambil terkekekh.


“Ck.. hamil sama angin.” Jawabnya lemas sambil berusaha duduk. “Gue tadi makan banyak banget di kantin berapa piring ya tadi gue lupa. Sampai rumah langsung mual.” Jelasnya.


“Gila lo ya, memangnya lo lagi ada masalah apa?” Gita memberikan susu hangat. Mereka berdua itu hampir sama saat kesal pasti akan melampiasakan ke makanan.


“Gue bete sama Raka, dia sudah beberapa hari itu mengabaikan gue.” Fara meminum


sedikit demi sedikit susunya. “Apa dia sudah mulai bosan ya sama gue?” tanyanya lagi.


Tak! Gita menyetil kening Fara, “Ngomong sembarangan. Mana ada dia bosan sama lo.”


“Ya terus apa, dia lebih tertarik dengan buku-bukunya daripada gue. Bahkan nih gue


sama dia kan lebih lama pacarannya dibandingkan lo sama Kak Gilang. Kita juga setiap hari bersama tapi tidak terjadi sesuatu.” Katanya dengan kesal.


“Terjadi sesuatu? Lo menginginkan apa?” Gita mendelik.


“Jangan pikir aneh-aneh, gue cuma mau perhatian dia.” Kata Fara.


“Lo pasti begini karena lo mau di ciuman sama Raka kan.” Gita tersenyum jail, dia

__ADS_1


mengerti jalan pikiran Fara. Semenjak Gita bercerita tentang ciumannya Fara merasa tertinggal satu langkah dengannya.


“Ck..” Fara berdecak lalu tersenyum malu, wajahnya memerah seperti tomat matang.


“Benarkan tebakan gue, Far lagian nih ya kalau emang Raka belum juga memberimu ciuman kenapa lo yang nggak berinisiatif menciumnya.” Gita memberikan ide.


“Mana bisa begitu, gue cewek ya lagian gue takut nanti terlihat lebih agresif dari


dia. Saran lo tidak di terima.”  Fara tidak bisa membayangkan nanti pandangan Raka terhadapnya.


“Ya mau gimana lagi, Raka itu tidak terlalu peka. Yah kalau lo tahan sih nggak


apa-apa.”


“Ck! Berlagak banget lo mentang-mentang lo sudah ciuman.” Fara mendengus.


“Fara, gue punya ide. Gimana kalau lo berdandan sedikit mencolok kalau jalan sama Raka.”


“Maksud lo?”


“Cobalah pakai baju yang sedikit feminim, lalu pakai lipstik yang sedikit menggoda gitu.” Gita mulai memberi saran yang agak ekstrim bagi golongan seperti mereka berdua.


“Boleh juga tuh, eh.. tapi lo dapat ide dari mana? Jangan-jangan ini kemarin yang lo


lakukan sampai Kak Gilang mencium lo.” Kata Fara.


“Nggak, idenya gue dapat dari nonton drakor tadi malam.” Gita terkekeh.


“Ada manfaatnya juga ya lo nonton. Dan kenapa gue rasa jadi lebih cupu dari lo ya, begini saja harus meminta saran sama lo


yang lebih polos dari gue.”


“Gue kan sudah lebih berpengalaman.” Jawabnya dengan bangga.


“Baikalah suhu. Tapi warna bibir yang menggoda itu seperti apa?”


“Merah.”


“Merah, nanti gue kayak tante-tante dong.”


“Kan lo emang sudah tante-tante.” Gita meringis.


“Sembarangan, gimana kalau kita pergi ke mall cari baju.”


“Boleh juga, gue juga mau beli buat kencan besok sama Kak Gilang.”


“Kencan lagi?”


“Hari ini gue gagal pergi, Kak Gilang ada kerjaan dadakan.” Gita manyun.


“Kalau begitu kita berdua harus shopping, kalau perlu kita ke salon juga agar kencan


besok kita berhasil.” Fara bediri dengan semangat.


“Sepertinya lo sakit bukan karena penyakit, tapi karena kangen sama Raka.” Kata Gita melihat semangat Fara.”


"Ya begitullah, kangen kan juga penyakit. Bikin nyesek dada dan obatnya juga nggak bisa tuh di beli di apotik." Sahut Fara.

__ADS_1


__ADS_2