
Dalam hati Fara terus mengumpat kepada
dirinya sendiri yang terus mencoba untuk lepas kepada Raka padahal dalam
hatinya dia masih sayang. Dia ingin meminta Raka tinggal, namun saat berhadapan
dengan Raka dia terus mengomel mengatakan kalau dirinya jomblo dan tidak ada
hubungan sama sekali dengan Raka.
“Fara...Fara.. tunggu.” Raka menarik
tangan Fara.
“Lepasin aku!” Fara menepis tangan Raka.
“Fara dengarin dulu, aku akan
menjelaskan semuanya.” Raka memegang tangan Fara.
“Masalah apa? Kita nggak punya masalah
dan tidak punya urusan. Ah... kita sudah tak saling kenal bukan. Jadi berhenti
mengejar aku untuk menjelasakan sesuatu hal yang nggak penting buatku.” Fara
menepis tangan Raka untuk yang kedua kalinya.
“Fara, please dengarin gue sebentar
saja. Selama ini aku emang salah karena tidak berpikir jernih dan membuat
keputusan gegabah. Aku tidak memikirkan perasaan kamu.” Meskipun Fara marah dan
berusaha mengindari penjelasannya Raka tetap menjelaskan. Raka benar-benar
memohon agar Fara mau mengerti.
“Dan sayangnya sekarang pikiran aku yang
sudah berubah jernih. Semua penjelasan kamu tidak ada artinya lagi. Semua
perasaan dalam hati ini sudah menghilang.” Fara menatap Raka dengan nanar.
“Bohong, mana mungkin perasaan itu
hilang dengan begitu cepat.” Raka tidak percaya dengan omongan Fara. Dia tahu
kalau kekasih hatinya sangat mencintainya, sebelum setelah dia memutuskan
memilih orang tuaya daripada Fara dia hampir setiap hari mengikuti kemana pun
Fara pergi. Dia juga tahu kalau Fara terus menangis karena dirinya disaat
sendiri. Tak hanya itu dia juga sering terlihat pura-pura tegar di hadapan Gita
dan Vian.
“Kenapa tidak mungkin, bukan kah di
dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Satu dekit saja bisa mengubah dunia
apalagi hanya hati yang sudah tertinggal lama. Itu bukan hal yang sudah.”
“Baiklah, aku memang sadar kalau aku
salah dan tak pantas lagi untuk mendapatkan hati dan kepercayaan kamu. Tapi aku
minta katakan sama aku sambil melihat mataku kalau kamu memang tidak mau
bersamaku lagi.” Kata Raka. Dia ingin melihat kesungguhan Fara kalau memang
sudah tidak ingin bersamanya lagi.
Tangan Fara bergetar, mana mungkin dia
bisa mengatakan semua itu sembari menatap mata Raka. Dia sangat lemah jika
harus menatap kedua bola mata Raka yang selalu saja membuatnya terhipnotis. Bibirnya yang selalu saja menyejukan ketika
dia tersenyum.
“Kalau kamu tidak bisa melakukannya
berarti perasaan untuk atu itu masih ada, bahkan tidak berkurang sedikit pun.”
Kata Raka.
__ADS_1
“Siapa bilang aku tidak bisa
melakukannya.”
Fara melipat kedua tangannya di dada,
lalu mengangkat kepalanya, mereka berdua saling bertatap dan masing-masing
melihat rindu yang tercermin dari kedua mata mereka.
“Aku sudah tidak cinta lagi sa..emmmp.”
Fara mendelik, kaget Raka menarik
dirinya dalam pelukannya dan mencium bibirnya. tangannya lemas, dan lipatanya
terbuka hingga posisi lurus. Fara sedang mencerna apa yang sedang dia rasakan.
Sebuah ciuman pertama yang baru saja Raka berikan setelah mereka berpacaran
beberapa tahun. Raka menarik dirinya, berhenti memberikan ciuman kepada Fara.
“Apa yang kamu lakukan, padahal kita
sudah tidak berhubungan.” Ucapnya dengan nada datar dan pandangan menjadi
kosong karena shock.
“Karena kita tidak ada hubungan makanya
aku menjalin hubungan ini lagi. Aku sudah mencuri lebih dulu dan kamu tidak
akan bisa moolakku lagi.” Raka mengusap bibir Fara dengan ibu jarinya.
Raka kembali menarik Fara dalam pelukannya,
dia memberikan ciuman lagi. Dia ingin membuat Fara semakin tidak bisa
meninggalkan dirinya.
Vian menghentikan langkahnya saat
berjalan mendekati mobilnya di parkiran karena melihat Fara sedang berciuman
dengan Raka. Dia melongo dengan wajah bingung, malu dan salah tingkah sendiri.
“Tuhan, cobaan apa lagi ini. Kenapa aku
oleh Raka dan Fara hingga membuat mereka
menari diri.
Vian merenges sampai deretan gigi
putihnya terlihat semua, dia membalikan badannya lalu mengangkat tangan
berbentuk V.
“Gue nggak melihat apa-apa, sumpah.”
Kata Vian.
“Memangnya lo buta kalau tidak melihat
apa-apa, jelas-jelas disini ada gue sama Fara.” Raka menggandeng tangan Fara
lalu berjalan mendekati Gita.
“Kenapa ciuman di parkiran, seperti tidak
punya duit saja untuk mencari tepat yang lebih bagus.” Ujar Vian saat Raka berdiri
di sebelahnya.
Raka melirik Vian karena mendengar
ucapannya, Vian pura-pura melihat ke tempat lain agar tidak terkena serangan
dadakan dari Raka.
“Gue bukannya tidak punya duit, karena
keadaan genting.” Ujar Raka pelan.
“Sudahlah, gue mau balik dulu. Kalian
mau bareng atau tidak?”
__ADS_1
“Nggak, kita masih ada urusan.” Kata
Raka.
“Baiklah.”
Fara melihat ke arah tangannya yang di
gandeng sama Raka, “Kenapa gue tidak menghindar?” tanyanya pada dirinya
sendiri.
“Kenapa? Bukannya kamu paling suka kalau
di gandeng tangannya seperti ini setiap kita jalan berdua?” Raka sadar kalau
Fara terus melihat ke arah genggaman tangannya.
Fara mencoba memalingkan wajahnya,
sembari berusaha melepas tangannya dari genggeman Raka. Namun Raka tak akan
membiarkan terjadi begitu saja. Dia yang beberapa hari di buat sedih dan
ketakutan gara-gara hilangnya Fara membuatnya tersadar kalau memang Raka harus
selalu ada di sampingnya.
“Semua sudah berubah, jadi jangan pikir
aku masih sama seperti kemarin.” Kata Fara dengan sedikit bergetar. Dia sedang
berakting utuk tidak menyukai Raka lagi. Dia tidak mau terlalu bahagia dengan
apa yang di lakukan Raka hari ini. Karena mau buat dia bahagia ataupun sedih sama-sama akan di tinggal
pergi juga.
“Apanya yang berubah, kamu itu tetap
Fara yang sama. Fara yang suka ngambek, emosian tapi imut sih. Fara yang selalu
melindungi sahabat-sahabatnya dan yang pasti sayang sama aku. Dan yang tidak
akan pernah berubah Fara itu pacar gue.” Raka memegang tangan Fara lalu
menciumnya.
“Raka sudahlah, jangan buat aku terlalu
banyak berpikir. Aku capek di permainkan sama kamu, kemarin minta putus
sekarang kamu bilang aku ini pacar kamu. Sebenarnya apa mau kamu?” Fara
benar-benar tidak tahu jalan pikiran Raka.
“Maafin aku, selama ini membuat kamu
kacau. Setelah kehilangan kamu, aku baru tersadar kalau aku tidak bisa hidup
tanpa kamu. Mungkin terdengarnya bulsit tapi kenyataannya aku hampir di buat
gila saat kamu tidak kunjung di temukan.” Jelas Raka.
“Lalu?”
“Aku tetap mau hubungan kita ini di
lanjut. Berikan satu kesempatan untuk gue Far.”
“Aku pergi pasti akan kembali, aku tidak
akan pergi selamanya hanya beberapa saja. Rumahku disini aku hanya berwisata
saja ke sana.” Jelas Raka. Dia akan bilang sama mamanya kalau membatalkan untuk
menetap tapi dia mau berkujung saja.
“Kamu nggak bohong kan?” Fara mulai
luluh.
“Tentu saja, kalau sampai bohong kamu
boleh benci aku seumur hidup dan juga tak perlu kita saling mengenal.” Kata
Raka.
__ADS_1
Fara memeluk Raka,
“Janji ya, jangan pergi lagi.”