
Gita perlahan membuka matanya, di mengedipkan kedua matanya yang terasa berat karena ada bulu mata palsu.
Dia melihat Fara dan Anita tersenyum, "Far, Nit bisa ambilin cermin kecil di atas meja situ nggak?" kata Gita tanpa bergerak. Dia terus menatap lurus kecermin sambil memegangi pipinya.
"Buat apa, itu kan udah ada yang besar." Ujar Fara.
"Kok di kaca nggak ada gue, takutnya gue udah end." Katanya.
"Otaknya konslet nih, itu di kaca ada bayangan kita bertiga."
"Eh.. beneran itu yang tengah gue?" Gita menatap Fara lalu Anita.
"Ya iyalah.. itu lo masa cinderella pakai sepatu kaca. Udah buruan ganti bajunya." Fara memberikan bajunya.
"Gila.. ini mah berasa gue ngaca sama cinderella emang, masa gue bisa seperti ini." Gita masih terpesona dengan dirinya sendiri.
"Gimana hasil make over gue keren kan." Anita menggerakan kedua alisnya sambil senyum-senyum.
"Lo emang jago Nit, sayang lo belum punya pacar." Ujar Gita sambil tertawa.
"Lagak lo, emangnya lo udah punya pacar."
"Ada Kak Gilang, weekk." Gita melet.
"Gaya lo, beraninya ngomong juga sama kita-kita doang. Coba ngomong langsung berani nggak?" Tantang Anita.
"O...tentu saja, tidak berani." Kata Gita sambil tertawa.
"Udahlah Nit, Gita mah bisanya ngaku-ngaku, halu doang."
"Bodo amat."
"Wahai para gadis buruan keluar, pesta sudah mau di mulai." Seru Raka.
"Ok," Fara lari membuka pintu. "Ka, gue bakalan tunjukin sesuatu sama lo."
"Apaan?"
"Tutup mata lo dulu."
"Kenapa harus tutup mata, lo mau kasih suprize gue. Terus nyatain cinta sama gue? nggak perlu gue udah punya cewek." Kata Raka pede.
"Idih, najis. Siapa juga yang mau nyatain cinta sama lo. Kalau di dunia ini cuma ada lo sama ucup gue bakalan pilih.."
__ADS_1
"Pilih ucup?" potong Raka.
"Ya lo lah, yakali ucup."
"Dasar otaknya kebalik ini anak."
"Apaan sih kalian berdua malah berantem, lo lagi Fara katanya mau kasih Raka kejutan."
"Ya habisnya ngeselin." Fara membuka pintu lebar-lebar.
"Oh my god, ini beneran Gita adik gue yang kalau dandan sendiri kayak ondel-ondel." Raka memutari Gira. Dia terpesona dan tak percaya dengan
Plaaakk!
"Sembarangan lo ngomong." Gita memukul punggung Raka karena kesal di katain.
"Sorry..sorry.. ayo kita turun." Raka menggandeng Gita, Fara dan Anita mengikuti dari belakang.
Gita memasuki tempat pesta, semua mata langsung terpana. Gilang yang berdiri di samping Qila tak berkedip sedikitpun.
"Ka, kenapa mereka bengong ngelihatin gue? apa gue aneh kayak ondel-ondel?" bisik Gita.
"Iya." jawab Raka singkat dengan nada ngeledek. Gita memutar badannya hendak balik namun di tahan sama Raka. "Tapi bohong. Lo cantik banget malam ini, lihat semua orang terpana sama lo. Nggak usah cemas, gandeng aja terus gue." Kata Raka.
"Pacar lo Ka?" tanya Devan. Dia terus memperhatikan Gita, dia merasa tidak asing dengan wajah Gita yang sudah di poles make up.
"Cantik banget, cuman gue rasa nggak asing."
Gita mengulurkan tangan kanannya, "Kenalin gue Gita Saquena."
Devan menyambut tangan Gita, "Dev.. ha.. Gita Saquena kan berarti lo.." Kedua mata Devan membelalak karena tak percya jika cewek cantik di depannya itu Gita. Gita hanya tersenyum membuat Devan semakin di buat terpana.
"Selamat malam semua, gue akan mulai acaranya." Kata Qila. Raka pun membawa Gita mendekati Qila. Sedangkan Devan masih bengong saja, dia seperti terhipnotis dengan Gita malam ini.
Gita berdiri di kanan Qila, lalu bersebelahan dengan Raka. Gilang dari sebelah kanan terus memandangi Gita. Dia juga tak kalah terpananya dengan Devan. Namun dia tetap bersikap cool dan berusaha untuk tidak menyapa malam ini.
Gita pun sesekali mencuri pandang untuk melihat Gilang yang dandan sangat tampan dia mamakai hem dengan sweater dan sepatu sneaker.
Satu persatu acara telah selesai, sampai akhirnya potong kue. Qila memotong lalu memutar ke arah Gilang dia memberikan suapan pertama untuk Gilang.
"Aaaa." Qila meminta Gilang membuka mulutnya. Gilang tak menolak, dia mengikutin semua kemauan Qila malam ini. Semua orang bersorak melihat romantisnya Qila dan Gilang. Gita menunduk, dadanya rasanya sakit. Matanya berubah berkaca-kaca.
"Ah.. potongan kedua gue buat adik terkecil gue, yang malam ini sangat cantik." Qila menyuapi Gita.
__ADS_1
"Makasih Ta, ulang tahun ini sangat istimewa meski mama dan papa nggak ada di samping kita." Qila memeluk Gita.
"Kan masih ada kakak lupa ya?" Ujar Genta.
"Iya ada gue juga, begini-begini gue bisa kalian andalkan." Gita melepaskan paskan pelukan Qila lalu beralih ke Genta dan Raka.
...♡◇◇◇♡...
Dansa segera di mulai, musik sudah di putar dan pasangan dansa pun mulai menggerakan tubuh mereka.
Gita memilih pergi mencari tempat duduk, dia akan menikmati cinderella dan pangeran yang sebenarnya.
Gita dusuk menghadap pesta dansa, matanya terus menyorot Qila dan Gilang.
"Gita.." seru Devan sambil duduk di samping Gita.
"Em.." Gita tersadar dari lamunan.
"Nggak dansa?"
"Nggak."
"Kenapa?" tanya Devan.
"Pertama gue nggak ingin, kedua nggak bisa." Jawab Gita datar.
"Dan ketiga karena lo yang ngajakin, gue maunya Kak Gilang." batin Gita.
"Lo benar-benar cantik malam ini." Devan memuji Gita.
"Ya gue sangat cantik malam ini." jawab Gita sambil berdiri untuk mengawasi Qila dan Gilang.
"Dansa yuk." ajak Bayu yang baru datang.
"Eh.. lo baru datang udah ngajakin dansa. Gue yang dari tadi bujuk belum mau." protes Devan.
"Itu bukan urusan gue." Ledek Bayu.
"Kenapa sih kalian berdua ribut aja, lagian gue juga nggak bakal mau dansa sama kalian.
Gita pindah posisi, dia menemukan tempat yang cocok untuk mengawasi Qila dan Gilang.
Semua yang di katakan Raka hampir benar, Gita melihat Qila menaikan kedua tangannya di leher Gilang. Mereka sangat menikmati dansanya itu. Mereka berdua saling berpandangan.
__ADS_1
Mereka berdua menebarkan senyuman, meskipun banyak orang yang menyukai Gilang, namun mereka seakan menyetujuhi kalau Gilang dan Qila itu pacaran.
"Gue memang kalah jauh kalau sama Kak Qila." Gumam Gita perlahan. Dia pergi ke kursi yang agak jauh dari pesta sehingga dia tidak akan terlalu sakit melihat Gilang menyatakan cinta sama Qila.