
Gita berpangku tangan sambil tersenyum
membayangkan jalan-jalan yang di janjikan Gilang setelah pulang sekolah. Sebenarnya dia kangen banget sama Gilang, hanya saja gengsi jadi dia hanya bisa uring-uringan dan cemburu kalau Gilang dekat sama cewek lain.
Fara dan Anita saling berpandangan saat
melihat Gita sudah sumringah. Bibirnya pun terus tersenyum.
“Roman-romannya ada yang udah baikan nih. " Kata Fara sambil mengkode Anita dengan matanya.
“Mungkin, lihat saja udah kayak orang
gila gitu.” Jawab Anita.
“Nggak usah pada gibahin, gue denger
nih.” Kata Gita masih dengan posisi yang sama.
“Lo udah baikan?” Fara memastikan kebahagiaanya itu karena udah baikan sama Gilang atau karena hal lain.
“Udah.” Katanya cengar-cengir.
“Sekarang aja senyum-senyum kayak orang
gila, kemarin ..”
“Bukanya kemarin lebih gila.” Anita momotong pembicaraan Fara. Beberapa hari saat masih marahan dengan Gilang, Gita galau berat dia terlalu negatif thingking kalau sebentar lagi Gilang akan meninggalkan dirinya.
“Fara, Anita. Please, jangan rusak
kebahagiaan gue hari ini. Yang kemarin lupain aja anggap aja sebagai masalali dan sekarang ini menuju masa depan.” Kata Gita sambil menaikan kedua alisnya.
“Untung lo teman gue, jadi gue iyain
aja. Kalau nggak udah gue hujat lo.” Omel Fara.
“Idih.. dasar netijen.” Kata Gita .
“Udah ah.. bel udah bunyi waktunya gue jalan-jalan sama pacar gue yang ganteng banget. Daaaaaa.” Gita melambaikan tangannya kepada dua sahabatnya.
“Dasar Gita. Nit, pergi cari makan yuk.”
Ajak Fara.
“Heehee.. gue ada janji sama pacar gue
juga. Lo pergi sendiri dulu ya.” Anita merenges.
“Emang dasar ya pada nggak setia kawan,
sekarang gue di tinggal sendiri.” Fara melipat kedua tangannya di dada mulutnya
manyun.
“Raka.” Panggil Anita.
“Hem.” Jawab Raka namun masih asyik
dengan ponselnya.
“Tolong temani Fara, kasian sendirian gue
sama Gita mau kencan.” Kata Anita sambil berjalan meninggalkan Anita.
“Nita.” Fara mendelik.
“Ok.” Raka langsung memasukan ponsel ke
kantong celananya.
“Ayo, mau kemana?” Tanya Raka lagi.
“Hee...” Fara cengar-cengir bingung mau
kemana. Dia jadi canggung saat ketemu Raka. Dia belum bisa melupakan kejadian itu.
Seperti biasa Gita yang harus nunggu
Gilang di depan kelas, karena jam keluar lebih duluan dirinya. Gita menjijitkan
kekinya untuk melihat Gilang yang masih di dalam kelas.
“Pacar gue mau di lihat darimana saja
tetap ganteng. Ah.. rasanya masih tidak percaya gue yang begini saja bisa
pacaran sama cowok ganteng, pinter seperti Kak Gilang.” Gita tersenyum.
Melihat Gita yang berjinjit mengintai ke
__ADS_1
dalam kelas Bayu menyenggol Gilang, sambil menunjuk dengan dagunya kalau Gita
ada di depan.
“Pujaan loh tuh.”
Gilang menoleh lalu melambaikan tangannya, “Gue cabut dulu ya.” Bisik Gilang sambil menggantung tasnya di bahu kirinya. Bayu mengangkat jarinya membentuk lambang ok.
“Udah lama ya nunggunya?” Gilang mengacak-acak rambut Gita.
“Nggak kok, baru aja dateng.” Katanya sambil tersenyum manja.
“Ok. Sekarang mau kemana?” Tanya Gilang.
“Makan.” Kata Gita semangatm
“Ok, ayo kita cari makan.” Gilang
merangkul Gita.
Gita menggosok kedua tangannya saat makanan yang dia pesan berdatangan. Bibirnya tersenyum lebar. Hatinya sangat bahagia melihat makanan.
“Mau makan yang mana dulu ya.” Katanya
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Matanya melihat dari ujung ke ujung meja.
Gilang hanya tersenyum melihat Gita yang
antusia sambil menikmati lemon tea.
“Pelan-pelan sayang makannya.” Kata Gilang. Gita hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan.
“Aaaaaa...” Gita menyuapi Gilang.
Gilang membuka mulutnya lebar, dan
segera melahap makanan yang di suapi Gita.
“Enak kan?” tanya Gita.
“Enak. Setelah ini mau kemana?” tanya
Gilang.
“Nonton.” Jawab Gita dengan tangan yang
masih sibuk memasukan makanan ke dalam mulutnya.
“Eh.. nggak jadi. Mau jalan-jalan aja
sama Kak Gilang.” Gita tiba-tiba berubah pikiran dari rencana yang udah dia list sebelum pergi. Dia berpikir kalau nonton film hanya akan fokus kepada layar. Tapi kalau jalan-jalan akan fokus kepada Gilang.
“Baiklah, semua permintaan lo gue
bakalan turuti.” Kata Gilang.
“Makasih.”
...♡♤♤♤♡...
Setelah selesai makan Gita mengajak
Gilang ke sebuah taman kota, dia menarik tangan Gilang menuju penjual gelembung.
“Makasih pacarku sayang.” Gita mencium
pipi Gilang lalu berlari memainkan gelembung yang di belinya.
Gilang tersenyum sambil memegangi
pipinya, rasanya lega setelah beberapa hari menahan rindu dan cemas. Gilang mengambil foto Gita yang berlarian main gelembung seperti anak kecil.
Setelah puas Gita meminta Gilang untuk
membelikan arum manis, ‘Kak, mau yang bebek.” Tunujknya.
“Ya. Pak tolong itu satu.” Kata Gilang.”
“Baik Mas.” Katanya.
“Kak, kita foto dulu ya. Ini lucu
banget.” Kata Gita. Gilang mengangguk lalu berdiri di belakang sambil memeluk Gita.
“Kita duduk di sana yuk.” Gilang
menunjuk kursi panjang di bawah pohon yang lumayan rimbun.
Gilang membersihkan kursi lalu menyuruh
__ADS_1
Gita untuk duduk, sedangkan dirinya tidur di pangkuan Gita. Gita tersenyum lalu
mengelus rambut Gilang.
“Gue mau tidur dulu boleh?” tanya Gilang.
“Boleh, tidur saja biar gue yang jagain
lo. Sambil menikmati arum manis ini biar semakin manis.” Gombal Gita.
“Dasar, udah pandai gombal saja.”
Angin sore yang sangat sejuk, langit
yang sangat cerah. Alam sangat bersahabat dengan Gita dan Gilang. Alam merestui
kedua ingsan yang sedang kencan.
Gita menaruh arum manis yang tinggal
sedikit di samping kirinya.
“Manis banget sih.” Gita memandang wajah
Gilang sambil mengusap rambut Gilang.
“Entah pelet apa yang lo pakai, sampai
gue sekarang bucin banget sama lo Kak.”
Tangan Gita berpindah dari rambut menuju
wajah Gilang, dia mengusap lembut wajah Gilang.
Gita menurunkan wajahnya, dia hendak
mengecup kening Gilang. Namun saat wajahnya tinggal beberapa centi Gilang membuka matanya. Gita kaget lalu menarik kepalanya hingga tegak.
Gilang tersenyum melihat wajah Gita yang
memerah, “Kenapa nggak jadi?” tanya Gilang.
“Ah.. apanya?” Gita sok pura-pura tidak melakukan apa-apa. Gilang duduk, dia memandang wajah Gita dengan lekat. Gita menjadi salah tingkah, dia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Gita.
Gilang membalikan wajah Gita, dia
mencubit kedua pipi Gita. “Gemes banget sih lo, kayak bakpao. Kalau Bisa di
makan udah gue gigit.” Gilang gemas. Dia mendekatkan wajahnya, hidung mereka
berdua saling bersentuhan.
Detak jantung mereka saling beradu, mereka berdua bisa merasahan hembusan napas terkena wajah. Gilang menarik kepalanya sedikit. Dia mengusap lembut bibir Gita dengan tangannya.
Gilang kemudian memajukan wajahnya, Gita
memejamkan matanya. Bibir Gita dan Gilang hanya berjarak beberapa senti saja.
Gilang menarik diri, lalu mengecup
kening Gita. Dia masih belum bisa untuk mencium bibir Gita. Rasanya masih belum
siap untuk merasakan lembutnya bibir Gita. Rasa gugup menyeruak dalam tubuhnya.
Dia takut membuat kesalahan.
Gita membuka mata, lalu memegang
bibirnya yang tak merasakan apa-apa. Dia melirik kearah Gilang yang sedang
menatap dirinya.
“Kak, boleh Gita tanya sesuatu?”
“Apa?”
Gita menggaruk kelapanya, dia bingung
mengatakannya. ‘I..tu.”
Gilang menarik Gita dalam pelukannya, “Jangan berpikir yang aneh-aneh kita belum waktunya.” Kata Gilang.
“Apa Kak Gilang pernah melakukannya sama orang lain?” tanya Gita.
“Tentu saja belum. Kita masih SMA belum
waktunya untuk itu. Dunia kita berbeda dengan drama yang lo tonton. Jadi jangan
berharap gue melakukannya sekarang.” Gilang mengelus lembut kepala Gita. Gita
__ADS_1
mengangguk, meskipun dia sempat berpikir hari ini akan menjadi first kiss mereka.