Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Fara Ngambek


__ADS_3

Fara mengaca di cermin kecil yang selalu dia bawa kemana-mana, dia menunggu Raka di


taman kampus yang sedang mengumpulkan tugasnya. Dia sudah tidak sabar untuk pergi


ke bioskop.


Beberapa cowok yang melihatnya terus memuji Fara yang tampak cantik, dan dandananya lebih feminim.  Dia memakai kaos dan rok diatas lutut agak jauh dari lututnya hingga menunjukan kakinya yang lumayan jenjang.


“Waaahhh... cantik banget lo Far. Kayak bidadari turun dari atap.” Vian terpesona melihat kecantikan Fara.


"Kalau mau memuji sekalian, jangan memuji tinggi-tinggi habis itu di jatuhin." Fara menabok lengan Vian.


"Kan...kan... gue kena lagi. Di puji salah nggak di puji salah lagi." Omel Fara.


“Tapi benerankan gue cantik?” tanya Fara. Vian mengangkat dua jempolnya.


"Andai lo bukan pacarnya Raka, udah gue tikung." Katanya sambil menggerak-gerakka kedua alisnya.


"Lo nggak bohong kan?" tanya Fara.


"Lo mah nggak percayaan sama gue." Ujar Vian.


"Ya habisnya muka lo.. muka-muka penipu."


"Ya Tuhan.. apalah dosa hambamu ini. Sudah begitu baik masih saja di curigai." ujarnya.


Raka sedikit berlari nyamperin Fara dan Vian yang asik ngobrol. Raka membuka matanya lebar saat melihat dandanan Fara. Dia sedikit melongo lalu mengkondisikannya


lagi sebelum Fara dan Vian melihatnya.


“Ayo.” Ajak Raka.


“Sudah?” tanya Fara.


“Iya, Vian kita cabut dulu.” Raka mengandeng tangan Fara, dan tangan kirinya menepuk pundak Vian.


“Benar-benar nasib gue jomblo, nggak bisa uwu..umu. Ya Tuhan  kalau memang jodoh setiap orang sudah di atur sejak dari dalam kandungan, apa emaknya jodoh gue keguguran ya jadi nggak ketemu-ketemu sampai sekarang.” Katanya sambil pergi.


...♡♤♤♤♡...


Fara berjalan sambil melirik kearah Raka, dia melihat tangan Raka yang terus

__ADS_1


menggenggamnya. Raka yang sadar lalu ikut melihatnya.


“Kenapa?” tanya Raka. Fara tersenyum sambil menggelengkan kepala cepat.


“Em...Apa tidak ada yang ingin kamu katakan sama aku?” Tanya Fara, Raka menggelengkan kepala lalu melepas tangan Fara untuk membeli tiket dan juga popcorn untuk Fara.


Fara mendengus kesal, “Tidak romantis banget, Vian saja yang sering katarak bisa


bilang gue cantik kenapa Raka tidak. Atau mungkin terlalu sering melihat gue


jadi dia rasa gue biasa saja.” Fara terus mengomel.


Raka memberikan popcorn kepada Fara, kemudian dia melepas kemeja yang di pakainya. Dia mengikatkan di pinggang Fara.


“Kenapa lo dandan seperti ini.” Kata Raka.


“Ini fashion.” Fara awalnya menolak di pakaikan kemeja tapi melihat tatapan tajam Raka yang seperti hendak membunuhnya membuat takut menolak.


“Jangan pernah ulangi pakai baju seperti ini, siapa yang ngajarin lo seperti ini.” Omel


Raka.


“Memangnya kenapa, gue suka berdandan seperti ini. Biar anggun kayak cewek-cewek yang lain." Fara beralasan.


"Ck. gue kan juga pingin terlihat cantik." Fara berjalan di belakang Raka.


Sesampai di dalam Raka berhenti lalu menyuruh Fara jalan lebih dulu. Hari ini Fara sengaja menonton film romantis. Berharap dengan apa yang di tonton mendorong Raka untuk bisa romantis.


Gita menyenderkan tubuhnya ke pundak Raka sambil menikmati popcorn. Adegan per adegan romanti mulai mereka tonton. Gita mengangkat kepalanya da bahu Raka. Dia tersenyum sambil menoleh ke arah Raka.


Fara berdesisi, ternyata Raka tidur. Semua sia-sia semua adegan romantis terlewatkan. Selesai film di putar Fara berjalan kelaur lebih dulu meninggalkan Raka.


"Sayang, tunggu." Raka berlari mengejar Fara. Raka menarik tangan Fara, dan dia bingung melihat Fara yang manyun.


"Kenapa? filmnya nggak bagus?" tanya Raka.


"Atau pemeran utamanya mati?" tebak Raka lagi.


"Penontonya mau mati kali." jawab Fara semakin kesal.


"Kok bisa?"

__ADS_1


"Pikir aja sendiri." Fara melepaskan genggaman tangan Raka.


"Kenapa lagi ini, udah pms lagi?" tanyanya pada diri sendiri.


Raka menghela napas panjang saat Fara ditanya mau makan apa hanya ngomong terserah.


Raka menaruh buku menu lalu menatap Fara lekat, mungkin ada yang salah dengan dirinya sampai Fara mengabaikan dirinya.


"Kamu kenapa?" tanya Raka.


"Nggak apa-apa." Kata Gita.


"Ya Tuhan, kenapa lagi ini pacar aku. Dari tadi nggak papa, terserah. Pusing kalau sudah begini." Batin Raka sembari menggaruk pelipisnya.


Daripada serba salah Raka memesankan manakan yang biasanya di pesan Fara. Fara hanya diam saja, tidak berkomentar dan tidak juga mau bicara sama Raka.


...♤♡♡♡♤...


Sepanjang perjalan pulang Fara melihat ke arah luar terus, dia cuekin Raka meskipun Raka terus ngajak dia ngobrol.


Mobil Raka sudah terparkir di depan rumah Fara. Dia melepas sabuk pengamannya.


"Sayang... kamu kenapa sih hari ini marah-marah terus?" tanya Raka pelan.


"Kamu tuh emang nggak peka ya, masih saja tanya aku kenapa?"


"Sayang, memangnya aku salah apa?" Raka benar-benar nggak mengerti.


"Udahlah.. capek sama kamu." Fara turun dari mobil. Raka buru-buru turun dan mengejar Fara.


"Sayang...sayang... please jangan gini donk." Raka menahan Fara dengan memegang kedua tangannya.


"Raka, akhir-akhir ini kamu sibuk sendiri, mengabaikan aku. Dan hari ini pun kamu sama sekali tidak memuji aku cantik atau apa. Kamu bosan ya sama aku?" Kata Fara dengan kesal.


"Fara, kenapa kamu berpikir seperti itu. Aku belajar giat agar kamu nggak menderita saat nanti menjadi istriku. Dan kamu itu selalu cantik di mataku. Fara kita itu sudah dewasa bukan anak SMA lagi, bukan waktunya lagi bukan untuk main-main." Jelas Raka.


"Menjadi dewasa memang sangat rumit ya. Sampai meminta perhatian pun terlihat seperti kekanak-kanakan." Fara melepaskan genggaman tangan Raka. Dia berlari masuk ke rumahnya.


"Hah....." Raka menghela napas panjang sambil menyenderka tubuhnya di mobil.


Fara melempar tasnya lalu duduk di kasur sembari tanganya menyambar tisu yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa lo jahat banget sekarang." Katanya dengan sesenggukan. Fara mengusap air matanya dengan tisu. Sesekali dia mengusap ingusnya.


"Kalau aja menjadi dewasa tidak enak, lebih baik stay jadi remaja saja." katanya.


__ADS_2