Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Gilang Cemburu II


__ADS_3

“Gita, Raka.” Panggil Devan sambil melambaikan tangan.


“Ya,” Gita bergegas menuju ke tempat Devan.


“Apa?” tanya Raka.


“Gue traktir makan yuk, udah lama loh kita nggak makan bareng.” Ajak Devan.


“Iya..kita sudah lama emang nggak makan bareng.” Gita memandang Raka agar dia mensetujuinnya. Raka mengangguk pelan menyetujuhi ajakan Devan.


Gilang hanya bisa terdiam, dia merasa tidak punya kesempatan sama sekali untuk mendekati Gita. Dia merasa kalau di hati Gita sama sekali tidak ada namanya.


“Sudahlah Lang, lo jangan sakiti diri lo sendiri. Kalau memang dia bukan jodoh lo mau lo kejar dengan cara apapun nggak bakalan dapet deh. Mending tuh sama Monika sejak dulu setia banget deketin lo.”  Bayu


menasehati Gilang, dia tidak tega melihat sahabatnya itu terus galau karena tidak bisa mendapatkan Gita. Padahal baginya Gita itu cewek biasa yang tidak


ahli dalam segala bidang.


“Gilang, lo harus berjuang sekali lagi. Kalau sebulan ini gagal lo baru menyerah. Semangat Gilang.” Kata Gilang dalam hati. Meskipun otak menyuruh dirinya berenti namun hatinya terus mendorong agar dia terus mengejar Gita sampai dapat.


“Tunggu!” Panggil Gilang sambil lari mendekati mobil milik Devan.


“Ada apa Lang?” tanya Raka.


“Bisa nggak gue nebeng sampai sekolah saja.” Gilang memohon agar dia bisa satu mobil.


“Tapi kita mau makan dulu?”


“Ya nggak apa-apa, gue juga lapar kalau boleh gue nebeng.” Gilang berharap-harap cemas di bolehkan nebeng.


“Memangnya Bayu nggak bawa mobil sendiri?” Tanya Gita dengan muka di tekuk. Dia sebenarnya tak ingin ada Gilang. Dia hanya ingin bersama dua cowok kesayanganya yaitu Devan dan Raka. Bukan cowok yang selalu membuatnya kesal dan marah.


“Bayu mau menjeput ceweknya, jadi ya kalau ada yang balik duluan gue mau ikut.” Gilang ngarang alasan agar bisa ikut mobil Devan dan bisa makan bersama mereka.


Agar dirinya tak kalah langkah dengan Devan.


“Van, tambah satu penumpang gimana?”


“Boleh, justru tambah seru nanti." Devan tidak keberatan.


Sepanjang perjalanan menuju tempat makan yang di pilih Devan, Gita duduk menoleh ke samping Devan. Dia terus memandangi wajah tampan lelak idamannya itu. Sedangkan Gilang yang di belakang terbakar cemburu.


Devan memarkirkan mobilnya di sebuah restauran, dia kemudian turun membukakakn pintu untuk Gita. Gita merasa seperti ratu kali ini. Sudah lama sekali dia


mengharapkan hal yang ini kepada Devan. Akhirnya dia bisa mendapatkannya.

__ADS_1


“Makasih.” Kata Gita dengan manis.


“Sama-sama.” Jawab Devan dengan manis juga membuat Gilang ingin muntah, nampol wajah Devan.


  “Sabar.” Raka memegang pundak Gilang lalu berjalan


lebih dulu.


Devan menarikkan kursi untuk Gita lalu dia duduk di sebelah Gita, Gita menatap Devan semakin terpesona. Dia memenarik rambutnya ke belakang telinga. Dia tersanjung dengan perlakuan Devan. Ingin sekali dia teriak dan lompat-lompat karena kegiranga.


“Mau makan apa?” tanya Devan.


“Em.. cumi asam manis.” Kata Gita.


“Udah itu aja?” tanya Devan.


“Iya.” Jawab Gita malu-malu. Gilang menghela napas sambil berdecak, kenapa Gita bisa seanggun itu dengan Devan.


“Van, kenapa lo nggak tawarin kita makan juga. Kalau lo cuma mau makan berdua biar kita pergi deh.” Kata Raka sambil menyolek Gilang agar berdiri dan ikut pergi bersamanya.


“Eh... nggak gitu Ka. Pesen gih apa aja biar gue yang bayarin.” Kata Devan tersenyum salah tingkah.


“Gue pesan cumi asam manis, Kerang saus tiram, sama lemon tea dua.” Gilang pesan dengan porsi besar seperti waktu Gita waktu jalan sama dirinya.


“Ok.”


Sambil menunggu pesan datang Gita dan Devan kembali bersenda gurau membahas masa lalu semasa SMP. Dan Gilang sama Raka menjadi penonton mereka.


“Oiya... ngomong-ngomong gue belum kenalaan sama lo.” Kata Devan sambil mengulurkan tangan setelah beberapa jam baru sadar belum saling kenal.


“Gue Gilang.” Gilang menyambut tangan Devan. Dia menggenggam sangat erat karena kesal.


“Devan.” Katanya sambil menahan rasa sakit. Setelah merasa puas Gilang baru melepaskan tangannya.


“Satu kelas sama kita juga?” tanya Devan lagi.


“Bukan, dia kakak kelas kita.” Jawab Gita cepat.


"Oh.. kakak kelas kita." Devan mengangguk.


“Iya, dia kakak kelas. Tapi nggak tahu tuh tumben ikut nimbrung.” Gita melirik tajam kearah Gilang dengan tatapan tidak suka.


“Ya kalau nggak boleh nimbrung gue balik.” Gilang berdiri mengambil tasnya.


“Disini aja, udah pesan makanan mau pergi siapa yang mau makan." Raka menyuruh Gilang duduk lagi.

__ADS_1


“Kalau mau pergi-pergi aja.” Kata Gita.


“Ta.”


“Apa?”


“Lo nggak boleh kayak gitu, gue nggak suka.” Raka marah sama Gita karena mengusir Gilang yang tak bersalah.


“Sorry Kak.” Gita tiba-tiba minta maaf ke pada Gilang, dan Gilang hanya bengong tak menjawab. Dia bingung kenapa Gita tiba-tiba minta maaf padanya setelah Raka menegur.


“Sebenarnya mereka berdua itu hubunganya apa?’ batin Gilang.


Setelah makan datang mereka langsung diam dan makan, tidak ada yang saling bicara hanya Devan dan Gita yang masih saling berpandangan. Seakan mereka berdua itu sedang kasmaran. Sama-sama memiliki perasaan suka.


“Cobain deh makanan milik gue.” Devan hendak menyuapi Gita, Gita lalu membuka lebar


mulutnya. Gilang langsung menarik tangan Devan sebelum udang itu mendarat di mulut Gita.


“Gilang apa yang lo lakuin?” Tanya Devan kesal.


“Kak, lo punya masalah hidup apa sih sama gue, lo kayaknya sengaja banget dari tadi ngeganggu gue sama Devan.”


“Siapa yang ganggu, gue cuma mau..”


“Cuma mau apa, lo mau ngrecokin gue sama Devan kan. Kak yang namanya perasaan itu nggak bisa di paksa kenapa sih lo terus gangguin gue.” Gita marah besar.


Gilang menghela napas panjang, “Baiklah gue pergi saja, gue cuma mau lo sakit. Lo terlalu senang jadi nggak lihat bahaya yang ada di depan lo.” Gilang mengambil tasnya lalu pergi.


“Ngomong apaan sih, nggak jelas banget.” Gita yang tadi sempat berdiri saat memaki Gilang langsung duduk lagi.


“Van, lo mau suapin Gita apaan?” tanya Raka.


“Udang, memangnya kenapa?” Devan bingung.


“Nggak apa-apa, terusin makannya aja.” Kata Raka.


Gilang berjalan cepat dia kesal kenapa di mata Gita dia selalu salah. Sekali pun apa yang dia lakukan tidak menjadi sesuatu yang membuat dia terkesan padanya yang ada membuat dia terus marah.


Gilang duduk di depan restauran menunggu taksi yang di pesannya. Tangannya di memukul-mukul kursi yang di dudukkinya.


“Lo kesal?” Raka datang dan langsung duduk di sebelah Gilang.


Gilang diam tidak menjawab pertanyaan Raka. Rasanya Gita sama Raka sama aja, dia berpuikir Raka


datang pasti hanya akan mengejek dirinya.

__ADS_1


__ADS_2