Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Pukulan II


__ADS_3

“Gimana


keadaan Gita?” tanya Gilang.


“Belum


siuman.” Kata Fara sambil melihat kearah Gita memastikan kembali sahabatnya itu


udah siuman atau belum.


“Kalian


bisa kembali ke kelas biar gue yang jagain Gita. Sekalian izinkan dia gue rasa


beberapa jam tidak akan masuk.” Uca Gilang.


“Ok.


Em.. Raka?” Fara tampak cemas belum melihat Raka.


“Dia


baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan kesini.” Jelas Gilang membuat Fara lega.


Anita dan Fara mengangguk pelan lalu pergi ke kelas.


Gilang


menyeret kursinya pelan, dia melihat wajah Gita yang memar.


“Pasti


sangat sakitkan, kenapa lo sering banget membahayaka diri  untuk orang-orang yang lo sayang. Bisa tidak


untuk berpikir dulu saat bertindak.” Gilang mengusap rambut Gita pelan. Gita


menggeliat, kedua matanya perlahan terbuka.


“Kak


Gilang.” Katanya pelan.


“Akhirnya


siuman juga.” Wajah Gilang yang cemas berubah lega.


“Raka?”


Gita bangun dari tidurnya.


“Gue


disini.” Katanya dari ambang pintu lalu masuk mendekati Gita.


“Lo


nggak apa-apa?” Gita melihat Raka dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Menurut


lo?”


“Ish..


ngeselin. Gue khawatir juga.”


“Makanya


jangan sok-soan lo, lihat wajah lo sekarang jelekkan. Di tinggalin Gilang gue


syukurin.”


Plaaak!


Gilang memukul pundak Raka agar tidak ngomong sebarangan.


“Sakit


masih di bercandain.” Ujar Gilang.


“Weeekk.”


Gita menjulurkan lidah karena di bela Gilang.


“Ya


sudahlah gue cabut saja dari pada jadi kambing congek disini.” Raka keluar


sambil melambaikan tangan.


++


Seperti


permintaan Gilang, Gita menunggunya di dekat Garasi saat Gilang mengambil


barang yang ketinggalan di kelas.


“Gita.”


Panggil Devan.


“Devan,


ada apa?” Mata Gita membelalak melihat wajah Devan yang babak belur. “Kenapa


wajah lo? Apa lo sama Rak berantem?”  Gita


hendak memegang pipi Devan namun dia urungkan langsung.


Devan


hanya terdiam memandangi Gita dengan tatapan penuh penyesalan, dia menarik


tangan Gita lalu memeluknya.


“Gita


maaf, gue nggak bermaksud melakukan ini semua. Gue tidak sengaja menyakiti lo.”


Gita


terdiam membeku, angannya kembali ke masalalu saat dirinya memeluk Devan ketika


dia di buly oleh teman-temannya.


“Gue

__ADS_1


hanya rindu sama kalian, gue nggak tahu  caranya dekat dengan kalian berdua. Gue seperti ini untuk mendapat


perhatian kalian.”


“Tapi...”


Ucapan Gita tertahan sebentar, rasanya tidak kuat membuka luka lama. “Kenapa lo


dulu menghina gue? Apakah itu juga rasa kangen?” Katanya dengan berat.


“Gue


baru sadar gue khilaf, memang mulut gue ini suka tidak bisa di atur.”


“Kalau


gue masih gendut, tidak mengurus badan apakah kita akan sedekat ini?” Tanya


Gita dengan mata berkaca-kaca.


Gilang


berdiri di samping Devan dan Gita, dia menarik tangan Gita hingga pelukan Devan


terlepas.


“Sayang


saatnya pulang.” Gilang menarik tangan Gita. Dada gilang rasanya panas, ingin


sekali memukul Devan namun dia terus memendam dan bersikap cool di depan Devan.


Gilang menarik tangan Gita sampai ke parkiran, dia membukakan pintu lalu


menutup dengan agak keras membuat Gita kaget. Gilang masuk lalu menghidupkan


mesin, wajahnya berubah menjadi dingin.


“Kak,


gue bisa jelaskan semuanya. Ini bukan seperti yang Kak Gilang lihat.” Gita


mencoba menjelaskan kejadianya.


“Memangnya


apa yang gue lihat.” Kata Gilang dengan dingin dan terlihat cuek sama Gita.


“Devan


datang dan meminta maaf, dia menyadari kesalahannya.”


“Apa


setiap orang meminta maaf harus berpelukan?” Kata Gilang semakin dingin. Gita


melihat kearah Gilang, dia merasa penjelasaanya akan sia-sia karena Gilang


sedang marah.


“Maaf.”


Kata Gita pelan sambil menatap lurus ke depan. Apapun yang dia katakan saat ini


akan percuma karena respon Gilang akan sangat dingin.


rumah mereka berdua saling diam sesaat, biasanya Gilang akan turun membukakan


pintu kini dia diam saja dengan menatap lurus ke depan. Rasanya enggan menatap


Gita. Gita membuka sabuk pengamannya.


“Gue


masuk dulu, Kak Gilang hati-hati.” Katanya sambil turun. Setelah turun dan


menutup pintu Gilang langsung tancap gas pergi dengan kecepatan lumayan tinggi.


Gita


berjalan masuk dengan lemas, dia mendorong pintu rumah dengan malas.


“Ta.”


Panggil Raka.


“Hem..”


“Lemes


amat kenapa?” Raka menyerutup es teh buatan Bik Nana. Gita memasang wajah sedih


lalu merebut es teh dari tangan Raka.


“Eh..


kenapa, efek di hantam Devan ya lo jadi otak lo agak-agak  geser gimana.”


“Ish..”


Gita mengembalikan gelas ke Raka. Raka melihat gelas di tangannya lalu berjalan


mengikuti Gita.


“Kak


Gilang, marah.”


“Marah


kenapa?”


“Tadi


pas mau pulang kan gue tungguin Kak Gilang tiba-tiba Devan datang dan peluk


gue.” Bola mata Gita menatap ke atas, bibir bawahnya di majuin dengan mimik


wajah yang sangat sedih.


“Ha..


ya jelas lah Gilang marah. Lagian lo kenapa juga peluk-pelukan sama manusi


nggak tahu diri itu.” Raka duduk di samping Gita.


“Siapa

__ADS_1


yang peluk-pelukan, dia yang peluk gue. Katanya dia itu kangen sama kita. Dia


melakukan seperti ini juga untuk dekat sama kita.” Gita menceritakan apa yang


di katakan Devan.


Tak!


Raka menyentil kening Gita lumayan keras.


“Aduh,


sakit tahu,” Omel Gita.


“Makanya


jadi cewek jangan polos-polos banget. Itu Cuma bualan Devan saja. Devan yang


sekarng itu bukan Devan yang kita kenal dulu lagi. Jauhi.. dia itu berbahaya.”


Kata Raka.


“Berbahaya?”


“Hem,


pokoknya lo jauhin saja Devan. Nggak usah dekat-dekat sama dia dan jangan


pernah percaya sama omongan dia.” Raka melarang keras Gita berdekatan dengan


Devan.


“Iya.


Terus ini gimana Kak Gilang.”


“Telpon


saja dia, minta maaf.”


“Ok.”


Gita


langsung menelpon Gilang seperti yang di sarankan Raka, “Gue ke atas dulu.”


Gita menempelkan ponsel ke telingannya, dia berjalan sabil menyeret tasnya.


Gita


melepar tasnya bersamaan dengan tubuhnya di kasur, Gita melihat layar ponselnya


saat panggilannya tidak terjawab.


“Kak,


please dong jangan gini.” Kata Gita sambil guling-guling.


Gita


Kak,


please  angkat telpon Gita


Kak..


Gita minta maaf, Gita bisa jelasin semua


Kak


jangan gini dong


Karena


kesal Gita melempar ponselnya, lalu tidur terungkap dia sudah tidak tahu harus


membujuk Gilang dengan cara apa.


“Apa


iya gue harus samperin kerumahnya.” Gita langsung duduk sambil melihat jam di


tangannya.


“Raka!”


Teriak Gita sambil berlari turun.


“Apaan


sih lo teriak-teriak, ngefek banget ya pukulan Devan.” Raka geleng kepala


sambil kembali fokus ke game di ponselnya.


“Raka,


anterin gue ke rumah Kak Gilang.” Gita turun tangga sambil berlari.


“Nggak


ah, ganggu aja. Lagi asyik nih mainnya.”


“Ihh..


Raka.” Gita menggoyangkan tubuh Raka.


“Ta..


diem. Mati nih nanti game gue.”


“Makanya


ayok anterin gue.”


“Hah!”


Raka melirik tajam ke arah Gita. Gita menatap Raka dengan wajah memelas.


“Buruan


ganti baju.”


“Ok,


makasih Raka ganteng.” Gita mencium Raka lalu lari keatas.


“Kalau

__ADS_1


ada maunya aja baik.” Gerutu Raka.


__ADS_2