
“Gimana
keadaan Gita?” tanya Gilang.
“Belum
siuman.” Kata Fara sambil melihat kearah Gita memastikan kembali sahabatnya itu
udah siuman atau belum.
“Kalian
bisa kembali ke kelas biar gue yang jagain Gita. Sekalian izinkan dia gue rasa
beberapa jam tidak akan masuk.” Uca Gilang.
“Ok.
Em.. Raka?” Fara tampak cemas belum melihat Raka.
“Dia
baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan kesini.” Jelas Gilang membuat Fara lega.
Anita dan Fara mengangguk pelan lalu pergi ke kelas.
Gilang
menyeret kursinya pelan, dia melihat wajah Gita yang memar.
“Pasti
sangat sakitkan, kenapa lo sering banget membahayaka diri untuk orang-orang yang lo sayang. Bisa tidak
untuk berpikir dulu saat bertindak.” Gilang mengusap rambut Gita pelan. Gita
menggeliat, kedua matanya perlahan terbuka.
“Kak
Gilang.” Katanya pelan.
“Akhirnya
siuman juga.” Wajah Gilang yang cemas berubah lega.
“Raka?”
Gita bangun dari tidurnya.
“Gue
disini.” Katanya dari ambang pintu lalu masuk mendekati Gita.
“Lo
nggak apa-apa?” Gita melihat Raka dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Menurut
lo?”
“Ish..
ngeselin. Gue khawatir juga.”
“Makanya
jangan sok-soan lo, lihat wajah lo sekarang jelekkan. Di tinggalin Gilang gue
syukurin.”
Plaaak!
Gilang memukul pundak Raka agar tidak ngomong sebarangan.
“Sakit
masih di bercandain.” Ujar Gilang.
“Weeekk.”
Gita menjulurkan lidah karena di bela Gilang.
“Ya
sudahlah gue cabut saja dari pada jadi kambing congek disini.” Raka keluar
sambil melambaikan tangan.
++
Seperti
permintaan Gilang, Gita menunggunya di dekat Garasi saat Gilang mengambil
barang yang ketinggalan di kelas.
“Gita.”
Panggil Devan.
“Devan,
ada apa?” Mata Gita membelalak melihat wajah Devan yang babak belur. “Kenapa
wajah lo? Apa lo sama Rak berantem?” Gita
hendak memegang pipi Devan namun dia urungkan langsung.
Devan
hanya terdiam memandangi Gita dengan tatapan penuh penyesalan, dia menarik
tangan Gita lalu memeluknya.
“Gita
maaf, gue nggak bermaksud melakukan ini semua. Gue tidak sengaja menyakiti lo.”
Gita
terdiam membeku, angannya kembali ke masalalu saat dirinya memeluk Devan ketika
dia di buly oleh teman-temannya.
“Gue
__ADS_1
hanya rindu sama kalian, gue nggak tahu caranya dekat dengan kalian berdua. Gue seperti ini untuk mendapat
perhatian kalian.”
“Tapi...”
Ucapan Gita tertahan sebentar, rasanya tidak kuat membuka luka lama. “Kenapa lo
dulu menghina gue? Apakah itu juga rasa kangen?” Katanya dengan berat.
“Gue
baru sadar gue khilaf, memang mulut gue ini suka tidak bisa di atur.”
“Kalau
gue masih gendut, tidak mengurus badan apakah kita akan sedekat ini?” Tanya
Gita dengan mata berkaca-kaca.
Gilang
berdiri di samping Devan dan Gita, dia menarik tangan Gita hingga pelukan Devan
terlepas.
“Sayang
saatnya pulang.” Gilang menarik tangan Gita. Dada gilang rasanya panas, ingin
sekali memukul Devan namun dia terus memendam dan bersikap cool di depan Devan.
Gilang menarik tangan Gita sampai ke parkiran, dia membukakan pintu lalu
menutup dengan agak keras membuat Gita kaget. Gilang masuk lalu menghidupkan
mesin, wajahnya berubah menjadi dingin.
“Kak,
gue bisa jelaskan semuanya. Ini bukan seperti yang Kak Gilang lihat.” Gita
mencoba menjelaskan kejadianya.
“Memangnya
apa yang gue lihat.” Kata Gilang dengan dingin dan terlihat cuek sama Gita.
“Devan
datang dan meminta maaf, dia menyadari kesalahannya.”
“Apa
setiap orang meminta maaf harus berpelukan?” Kata Gilang semakin dingin. Gita
melihat kearah Gilang, dia merasa penjelasaanya akan sia-sia karena Gilang
sedang marah.
“Maaf.”
Kata Gita pelan sambil menatap lurus ke depan. Apapun yang dia katakan saat ini
akan percuma karena respon Gilang akan sangat dingin.
rumah mereka berdua saling diam sesaat, biasanya Gilang akan turun membukakan
pintu kini dia diam saja dengan menatap lurus ke depan. Rasanya enggan menatap
Gita. Gita membuka sabuk pengamannya.
“Gue
masuk dulu, Kak Gilang hati-hati.” Katanya sambil turun. Setelah turun dan
menutup pintu Gilang langsung tancap gas pergi dengan kecepatan lumayan tinggi.
Gita
berjalan masuk dengan lemas, dia mendorong pintu rumah dengan malas.
“Ta.”
Panggil Raka.
“Hem..”
“Lemes
amat kenapa?” Raka menyerutup es teh buatan Bik Nana. Gita memasang wajah sedih
lalu merebut es teh dari tangan Raka.
“Eh..
kenapa, efek di hantam Devan ya lo jadi otak lo agak-agak geser gimana.”
“Ish..”
Gita mengembalikan gelas ke Raka. Raka melihat gelas di tangannya lalu berjalan
mengikuti Gita.
“Kak
Gilang, marah.”
“Marah
kenapa?”
“Tadi
pas mau pulang kan gue tungguin Kak Gilang tiba-tiba Devan datang dan peluk
gue.” Bola mata Gita menatap ke atas, bibir bawahnya di majuin dengan mimik
wajah yang sangat sedih.
“Ha..
ya jelas lah Gilang marah. Lagian lo kenapa juga peluk-pelukan sama manusi
nggak tahu diri itu.” Raka duduk di samping Gita.
“Siapa
__ADS_1
yang peluk-pelukan, dia yang peluk gue. Katanya dia itu kangen sama kita. Dia
melakukan seperti ini juga untuk dekat sama kita.” Gita menceritakan apa yang
di katakan Devan.
Tak!
Raka menyentil kening Gita lumayan keras.
“Aduh,
sakit tahu,” Omel Gita.
“Makanya
jadi cewek jangan polos-polos banget. Itu Cuma bualan Devan saja. Devan yang
sekarng itu bukan Devan yang kita kenal dulu lagi. Jauhi.. dia itu berbahaya.”
Kata Raka.
“Berbahaya?”
“Hem,
pokoknya lo jauhin saja Devan. Nggak usah dekat-dekat sama dia dan jangan
pernah percaya sama omongan dia.” Raka melarang keras Gita berdekatan dengan
Devan.
“Iya.
Terus ini gimana Kak Gilang.”
“Telpon
saja dia, minta maaf.”
“Ok.”
Gita
langsung menelpon Gilang seperti yang di sarankan Raka, “Gue ke atas dulu.”
Gita menempelkan ponsel ke telingannya, dia berjalan sabil menyeret tasnya.
Gita
melepar tasnya bersamaan dengan tubuhnya di kasur, Gita melihat layar ponselnya
saat panggilannya tidak terjawab.
“Kak,
please dong jangan gini.” Kata Gita sambil guling-guling.
Gita
Kak,
please angkat telpon Gita
Kak..
Gita minta maaf, Gita bisa jelasin semua
Kak
jangan gini dong
Karena
kesal Gita melempar ponselnya, lalu tidur terungkap dia sudah tidak tahu harus
membujuk Gilang dengan cara apa.
“Apa
iya gue harus samperin kerumahnya.” Gita langsung duduk sambil melihat jam di
tangannya.
“Raka!”
Teriak Gita sambil berlari turun.
“Apaan
sih lo teriak-teriak, ngefek banget ya pukulan Devan.” Raka geleng kepala
sambil kembali fokus ke game di ponselnya.
“Raka,
anterin gue ke rumah Kak Gilang.” Gita turun tangga sambil berlari.
“Nggak
ah, ganggu aja. Lagi asyik nih mainnya.”
“Ihh..
Raka.” Gita menggoyangkan tubuh Raka.
“Ta..
diem. Mati nih nanti game gue.”
“Makanya
ayok anterin gue.”
“Hah!”
Raka melirik tajam ke arah Gita. Gita menatap Raka dengan wajah memelas.
“Buruan
ganti baju.”
“Ok,
makasih Raka ganteng.” Gita mencium Raka lalu lari keatas.
“Kalau
__ADS_1
ada maunya aja baik.” Gerutu Raka.