Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Aku Tidak Salah


__ADS_3

"Itu nggak adil, lo menyimpulkan semua ini karena lo suka sama dia." Monika memasang wajah memelas tak berdosa.


"Dan lo melelakukan ini karena benci sama Gita kan." Perkatan monika di balik sama Gilang.


"Ada apa ini?" tanya Qila yang baru saja masuk. Dia melihat ke arah Gita lalu kearah Monika sama kedua sahabatnya.


"Kalian berantem?"


"Iya Kak, tapi dia dulu yang mulai. Dia menyerang gue." kata Monika masih saja membela dirinya sendiri dengan wajah di bikin sedih agar di kasihani.


"Ok Monika, jadi ini pilihan lo." Gilang pergi keluar ruangan osis. Gita, Qila, Monika, Vida dan Aurel hanya menatap kepergian Gilang. Mereka tidak tahu maksud ucapan Gilang.


"Kak... benar gue nggak bohong. Mereka berdua saksinya kalau gue di aniaya sama Gita." Rengek Monika dengan wajah yang sangat melas. Dan mulai akting menangis.


"Jangan mengada-ada deh lo, jelas-jelas lo dan kedua teman lo yang menyerang gue." Gita angkat bicara.


"Nggak ngaku lo! lo masih mau menyangkal dengan adanya dua saksi." Aurel menunjuk-nunjuk wajah Gita.


"Santai nggak usah tunjuk-tunjuk gitu." Gita mulai tersulut emosi.


"Cukup!!" Qila memgebrak meja agar mereka diam tidak saling adu mulut. "Apa pokok masalah disini?" Qila menatap Gita lalu beralih ke Monika.


"Gue nggak tahu, mereka langsung menyerang gue tanpa alasan yang jelas." jawab Gita dengan kesal namun nadanya malas. Dia benar-benar malas untuk berdebat.


"Lo jangan sembarang, bukanya lo yang guyur gue pakai air satu ember." Monika berjalan mendekati Qila. "Lihat baju gue kak, basah semua."


Krreekkk... pintu terbuka kasar, Gilang datang bersama Pak Rudi. Vida dan Aurel saling berpandangan, mereka takut kalau ketahuan.


"Ada apa ini?" tanya Pak Rudi.


"Ini Pak, Gita membully Monika. Dia menyiram Monika dengan air satu ember lalu mendorongnya sampai terjatuh." Kata Aurel.


"Benar begitu Gita?" tanya Pak Rudi.


Gita menghela napas panjang sambil mengangguk, "Benar Pak."


"Gita?" Gilang terkejut karena Gita tidak menyangkal.


"Kenapa kamu melakukan itu, bukankah itu membahayakan orang lain." Pak Rudi menasehati Gita. Gita masih enggan menjawab. Sedangakan Monika, Aurel dan Vida merasa menang.


"Saya tahu Pak, tapi apa salah kalau saya melakukan itu untuk membela diri saat orang lain membahayakan hidup saya. Mereka menyerang saya dulu, memegang saya lalu menyiram mendorong sampai saya juga terjatuh. Selain itu mereka mencaci saya semaunya. Apa saya tidak boleh membalas?" Ujar Gita dengan menatap Pak Rudi dengan tatapan lekat. Dia ingin guru BKnya mengerti dengan kondisinya saat ini.

__ADS_1


"Saya mengerti, Gilang ajak dia keluar." Pak Rudi meminta Gilang membawa keluar Gita.


"Loh Pak kok Gita di biarin keluar nggak dapat hukuman?" tanya Aurel.


"Diam kamu, kalian bertiga saya hukum membersihkan toilet di sekolah ini. Qila awasi mereka bertiga." Kata Pak Rudi lalu pergi keluar ruangan osis.


"Pak..Pak.. ini nggak adil." Vida lari mengejar Pak Rudi di ikuti Aurel dan Monika.


"Lakuin saja, atau saya akan tambah hukumannya."


"Nggak-nggak Pak."


...◇◇◇◇◇...


Gilang merangkul Gita, membawa ke koperasi. Gita tidak menolak saat di rangkul dia merasa nyaman.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Gita.


"Baju lo basah kalau nggak ganti nanti bisa sakit."


"Bajunya udah mau kering kok, jadi nggak perlu beli baju lagi." Gita menolak membeli baju baru.


"Kering gimana, orang basah begitu. Nggak bagus kalau ada yang lihat orang." Kata Gilang.


"Apa lo lihat sesuatu?" katanya pelan.


"Nggak, gue cuma jaga-jaga aja kalau sampai ada yang melihat makannya gue kasih jaket gue." Gilang tersenyum sambil melirik kearah Gita.


Gita tersenyum salting, dia memegang tengkuknya karena malu.


"Masuk dulu gih, lo pilih size yang pas gue pergi sebentar ya."


"Mau kemana?" tanya Gita.


"Ke kantin sebentar, nggak akan lama kok." katanya sambil melepaskan tangannya.


Gita tersenyum serlah kepergian Gilang. Dia merasa aneh dengan dirinya mendapat perhatian dari Gilang.


"Kenapa jadi senyum-senyum gini sih." Gumam Gita sambil menggeleng kepala.


Gita keluar setelah selesai ganti baju, langsung menemui Gilang yang sudah menunggu di luar.

__ADS_1


"Nih minum biar hangat." Gilang memberikan teh hangat.


"Makasih." Gita menerimanya lalu duduk di samping Gilang.


"Sama-sama."


Gita menyeruput perlahan, sesekali dia mencuri pamdang kearah Gilang yang sedang bermain ponsel.


"Dia benar-benar baik banget sama gue, padahal gue udah sering bikin dia sakit hati." batin Gita.


"Kenapa menatap gue seperti itu?" Gilang tahu kalau Gita sedang memerhatikannya meskipun dirinya fokus ke layar ponselnya.


"Ah.. nggak." Jawabnhya gelagapan.


"Apa lo udah mulai suka sama gue?" tanya Gilang dengan pedenya. Dia memasukan ponselnya dalam saku lalu menatap Gita lekat.


"Apaan sih lo." Gita membuang muka karena malu.


"Baikalah, nggak apa-apa kalau belum suka. Nanti lama-lama lo juga akan cinta sama gue." kata Gilang semakin pede.


"Mungkin lama-lama gue bisa cinta, namun gue semakin merasa kalau gue nggak pantas buat lo. Jadi lebih baik kalau gue tidak menanamkan benih cinta sama lo." batin Gita. Dia merasa kalau tidak pantas buat Gilang yang sangat baik padanya. Selain itu dia sangat tampan, pintar, bijaksana mana mungkin dia bisa mengimbanginya.


"Kenapa diam aja, lo lapar nggak?" Gilang menyentuh hidung Gita.


"Ah.. iya lapar."


"Ayo ke kantin sebelum bel masuk bunyi." ajak Gilang. Gita mengangguk.


Gita dan Gilang yang baru saja masuk kantin langsung di samperin Fara dan Anita.


"Yang di tunggu dari tadi sampai kering, ternyata pacaran." goda Fara.


"Apaan sih, siap juga yang pacaran." Gita jalan untuk memesan makan.


"Kalau nggak pacaran kenapa kalian dua-duaan saja. Mana pakai jaket Kak Gilang." Fara menatap Gilang.


"Tadi Monika membuat masalah sama Gita, dia menyirap pakai air. Jadi dia basah kuyup." Gilang menjelaskan agar tidak salah paham. Meskipun dia senang kalau kesalahpahaman itu terjadi.


"Ah.. nenek sihir itu mau gitu gue kutuk jadi ikan lele." Fara naik pitam.


"Jangan lele, jadiin aja belut listrik tapi yang listriknya sudah tidak berfungsi." kata Anita.

__ADS_1


"Ngomong apaan sih lo Nit, nggak jelas banget." Fara menggeleng kepala sambil senyum. Sedangkan Gilang menahan agar tidak tertawa ataupun tersenyum sekalipun.


__ADS_2