
Gita pagi ini bangun lebih pagi, dia tidak mau terlambat pagi ini. Dia leluar kamar lalu mendorong pintu kamar Raka. Dia berharap saudara sepupunya itu sudah kembali ke kamarnya. Gita menghela napas panjang melihat kamar yang masih kosong.
"Lo kemana sih Ka?" tanyanya pelan sambil kembali menutup pintu.
Gita semakin lemas saja, dia seperti kehilangan separuh tenaganya.
"Ta, lo sakit?" Qila memegang kening Gita.
"Nggak Gita cuman sedikit demam aja." kata Gita memyenderkan tubuhnya.
"Ya udah sekarang lo nggak usah sekolah dulu." pinta Genta.
"Nggak ah Kak, hari ini ada ulangan matematika." ujar Gita sambil memasukan sarapannya.
"Tumben banget di suruh bolos nggak mau." Genta heran. Biasanya Gita akan sangat bahagia kalau di suruh nggak sekolah.
"Lagi nggak ingin, Gita berangkat dulu ya."
"Nggak bareng aja Ta, nanti Gilang mau jemput." Qila menawari Gita bareng.
"Nggak Kak, gue bareng sama Devan." kata Gita langsung pergi keluar. Dia sudah janjian sama Devan.
Baru saja Gita sampai depan mobil Gilang berhenti, dia turun dari mobil lalu memandangi Gita lekat. Gita yang terlihat tidak seperti biasanya. Sia terlihat pucat dan lemas.
Gita yang sempat memandang wajah Gilang langsung memalingkan wajahnya. Dia takut salah tingkah.
Gilang langsung berjalan ke teras tanpa menyapa Gita.
"Gilang sama Kak Qila apa sudah sangat dekat, kenapa Gilang selalu saja nyamperi Kak Qila." gumam Gita sambil berbalik melihat Gilang yang sedang ngobrol sama Qila.
"Kenapa perasaan gue nggak senang mereka dekat." Ujarnya lagi. Gita memasukan kedua tangannya ke jaket yang di pakainya lalu berjalan. Dia lupa kalau pagi ini akan beranhkat bareng Devan.
Tin..Tin...
Gita menoleh saat mendengar klakson mobil, Qila membuka kaca mobil.
"Ta, lo kenapa jalan katanya mau bareng Devan?" tanya Qila.
"Eh.. iya. Kenapa gue lupa ya." Gita menggaruk kepalanya.
"Ya udah buruan bareng kita aja." ajak Qila.
Gita terdiam sesaat, dia melihat ke arah Gilang lalu melihat ke arah Qila.
"Gilang pasti nggak keberatan lo bareng, ya nggak Lang?" Qila menatap Gilang. Gilang menjawab dengan anggukan.
"Ikut..nggak...ikut...nggak." kata Gita dalam hati. Dia masih sakit hati karena Gilang kemarin menolak mengantarnya.
"Mau naik nggak? udah mau telat nih kalai nggak mau naik gue tinggal." Kata Gilang ketus.
"Ya udah jalan aja sana, gue bisa kok berangkat sendiri. Gue nggak mau ngrepotin orang lain." Gita pergi dengan kesal.
__ADS_1
"Ta.. lo mau kemana?!" teriak Qila.
"Ke pasar." Jawab Gita asal-asalan.
"Kenapa lagi tuh anak, pms kali ya dari kemarin uring-uringan aja." Qila menggelengkan kepalanya.
...◇◇◇◇◇...
Gita menaruk kepalanya di atas meja, tubuhnya semakin lemas.
"Gita, lo kenapa tadi ninggalin gue?" tanya Devan.
"Maaf ya lupa, belum terbiasa bateng lo." Kata Gita tanpa mengangkat tubuhnya.
"Besok-besok biasain, karena gue bakalan jemput lo setiap pagi." Kata Devan sambil mengelus rambut Gita.
"Benarkah?" Gita mengangkat kepalanya, senyumnya mengembang dan wajahnya tiba-tiba merona. Kehaluanya meningkat kalah Devan bakalan menjadi pacarnya.
Tubuhnya memang sedang tidak enak, tapi hatinya sangat sehat mendengar ucapan Devan.
"Lo tumben pakai jaket begini, sakit?" tanya Devan sambil memegang keningnya.
Suhu tubuh Gita meninggi saat keningnya di pegang, jantungnya berdetak tak karuan.
"Gita wajah lo kok semakin merah, ke uks yuk." ajak Devan.
"Benarkah merah?" Gita mengambil cermin di tas milik Fara.
"Baguslah kalau nggak kenapa-kenapa, Gita nanti pulang sekolah anterin gue bisa nggak?" tanya Devan.
"Ya, bisa kok. Lo mau kemana?"
"Nanti lo juga bakalan tahu." Kata Devan sambil kembali ke tempat duduknya.
"Far..Nit.. gue senang banget." Gita girang.
"Tanda-tanda ada yang mau jadian nih." Senggol Fara.
"Git, nanti kalau beneran di tembak lo jangan langsung jawab."
"Kenapa?" Gita bingung.
"Ya biar lo terlihat nggak ngarepin dia."
"Ya kan kenyataanya Gita ngarep." Goda Fara.
"Ya tahu tapi kan seenggaknya Gita bilang pikir-pikir dulu atau apa gitu biar dia semakin penasaran sama Gita." Jelas Anita.
"Benar juga tuh, gue setuju mau tahu reaksi Devan seperti apa." Fara akhirnya membenarkan ide Anita.
"Tapi jangan lama-lama juga mikirnya. Karena cowok juga nggak mau nunggu terlalu lama yang ada keburu di gaet perempuan lain." tambah Anita.
__ADS_1
"Ok..ok." Gita memegang tangan Fara.
"Dingin banget tangan lo." Fara tertawa.
"Gue gugup banget." katanya.
"Perhatian, yang tugas piket hari ini harap mengambil buku tugas di ruang guru." seru ketua kelas yang membubarkan obrolan asyik Gita, Anita dan Fara.
"Gue ke ruang guru dulu ya." Gita bangkit dari kursinya Karena Gita yang mendapat bagian mengambil buku tugas. Karena Raka tidak masuk jadi Gita yang mengambil sendiri.
"Ok, gue bantuin yuk." Anita menawarkan diri.
"Ok." jawab Gita dengan senang hati.
Gita dan Fara pergi ke ruang guru untuk mengambilnya.
"Gita gue bawa ini dulu nanti gue balik lagi." kata Fara sambil membawa buku tugas.
"Ok."
Gita awalnya ingin menunggu Fara, namun setelah menunggu beberapa saat Gita memutuskan untuk membawa buku sendiri.
"Ta.." Panggil Qila saat masuk ke ruang guru.
"Eh.. Kak ngambil tugas juga?" tanya Gita sambil membawa buku.
"Iya, mau gue bantuin?" Qila menawarkan diri.
"Nggak usah Kak, lagian Kakak juga bawa tugas." Gita membawa buku yang lumayan banyak sampai dia susah melihat.
Gita dan Qila keluar bersama, Gita berjalan sangat pelan dan Qila pun mengimbanginya. Biar bisa menemani Gita.
"Kak, lo boleh jalan duluan." Kata Gita.
"Lo nggak apa-apa?"
"Qila.." Panggil Gilang.
Gita sama Qila menoleh beramaan, "Ada apa Lang?" tanya Qila.
"Gue bawain buku lo, sekalian kita ke kelas bareng kan searah." Gilang menawarkan bantuan Qila.
"Lo bantuin aja tuh Gita, kasian banyak banget bukunya pasti berat." Kata Qila.
"Kan gue searahnya sama lo." Gilang menolak membawakan buku Gita.
Gita tidak berkomemtar dan langsung pergi. Dia nggak mau merusak suasana hatinya, di tambah tubuhnya yang sedang tidak fit.
"Oiya lupa sebanernya lo di suruh ke osis jadi mau bawain buku lo." Gilang menolak membawakan buku Gita.
"Oh.. ok. Gue langsung ke sana. Tolong ya bukunya." Qila langsung berbalik. Gilang menganggu lalu berjalan cepat dan berjalan sejajar dengan Gita. Mereka saling berpandangan sebentar, lalu Gilang memilih jalan lebih dulu.
__ADS_1
"Dasar manusia nggak punya perasaan." Gerutu Gita.